
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Verda menjadi satu dari dua orang yang masih bertahan di belakang meja kerjanya sementara karyawan lain sudah pulang sejak pukul lima sore. Verda masih harus mengerjakan laporan yang diminta oleh Pak Handoko, pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh Vedra yang kini diambil alih oleh Verda selama menggantikan pria itu cuti menikah.
Verda jelas harus mengerjakannya karena ketika Verda cuti, pria itu yang mengambil alih pekerjaan Verda. Yah, biar kata pria itu terlihat sewot setiap kali Verda mengambil cuti.
Tiba-tiba rasa kesal menyelimuti Verda lantaran merasa bahwa saat ini pria itu sedang berlaku tidak adil padanya. Di saat Verda harus lembur mengerjakan pekerjaan ganda, pria itu sedang bersantai-santai di rumah.
Brukk..!
"Kesal!" seru Verda sambil memukul keras mejanya.
"Astaga, Verda!" seru Ican.
Pria itu terkejut mendengar keributan yang ditimbulkan oleh Verda.
"Apa sih kau, Verda, bikin kaget saja!" Ican menengok dari kubikelnya.
"Sorry, Can, aku lagi emosi saja!" sahut Verda.
"Yee, jangan emosi-emosi, cepat tua loh!" seloroh Ican.
"Sudah jam segini tapi kerjaan belum kelar juga! Yang punya kerjaan malah sedang santai-santai, bikin kesal saja!" cerocos Verda.
"Yee, Verda, jadi orang tidak boleh julid begitu! Resiko nanggung kerjaan rekan yang lagi cuti ya seperti itu," Ican menanggapi.
"Lagian, Vedra kan juga cuti karena dia menikah. Jadi ya harap dimaklumi saja, orang lagi enak-enak tidak boleh diganggu," lanjut Ican.
"Huh! Dia yang enak-enak, terus harus aku yang jadi tumbal, begitu?!" rutuk Verda.
"Ahaha, ya ampun, Verda! Kau iri ya, Vedra menikah?" tanya Ican seraya terkekeh geli.
"Iih, apa sih, Can!" sungut Verda.
Ican beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri meja Verda. Bagi pria berusia dua puluh delapan tahun itu, ia senang jika menggoda seniornya.
"Makanya, kau menikah juga, biar tidak perlu merasa iri," Ican kembali terkekeh.
"Ahaha! Siapa yang iri sih, Can?" Verda tertawa.
"Ya, habisnya kamu julid sekali hanya gara-gara Vedra cuti! Biasa juga kalau kau cuti, toh Vedra yang mengerjakan pekerjaanmu," tukas Ican.
"Ya, dia memang mengerjakan pekerjaanku, tapi sambil memasang tampang sewot tujuh turunan," cibir Verda.
__ADS_1
"Ahaha, mukanya Vedra kan memang seperti itu! Apa kau sungguh berharap Vedra bisa menjelma menjadi seperti pria-pria idolamu?" tanya Ican.
"Ahaha!" Verda tertawa menanggapi pertanyaan Ican.
"Sudahlah, aku mau pulang, lelah rasanya. Lanjut besok lagi," ucap Verda.
"Ya elah, Verda, tungguin dong! Jangan main pulang saja!" keluh Ican.
"Aku mau pulang, suamiku sudah menunggu di rumah!" tukas Verda sambil membereskan barang-barangnya.
"Yee, ini orang halu bener dah!" cibir Ican. "Verda, sumpah, aku takut lembur sendirian, biasa ada Vedra, biar kata itu orang diam saja, tapi kan masih lebih baik ada orang beneran," sahut Ican.
"Tenang saja, Can, kalau kau takut, tutup mata saja sampai besok pagi! Hehe," Verda terkekeh.
"Huu, dasar kau, Verda! Awas saja kalau kau minta aku menemanimu lembur! Biar kata kau memohon sampai menangis darah, tidak akan kutemani kau, Verda," gerutu Ican.
Verda menanggapi gerutuan Ican dengan tawa yang dibuat-buat.
"Pulang-pulang sudah kau, Can, bagaimana kau bisa dapat pacar kalau dari pagi sampai malam kerjamu di kantor saja! Lama-lama bisa kau pacari itu mesin fotocopy, haha," Verda kembali tertawa.
"Hihh! Dasar kau, Verda, kuat sekali kau itu kalau sudah mengejek! Kuat!" Ican kembali mencibir.
"Yaa, sogok saja aku dengan kopi setelah kau puas mengejekku!" seru Ican mengiringi kepergian Verda.
...*****...
Verda segera memasuki mobil Vedra yang menjemputnya di halte terdekat. Vedra menjemputnya sesuai kesepakatan mereka tadi pagi saat pria itu mengantar Verda pergi kerja.
Verda menyapukan pandangannya pada pria yang saat ini memakai kaus abu-abu, nampak basah oleh keringat.
"Kau dari mana?" tanya Verda.
"Gym," sahut Vedra singkat.
"Oh," Verda ber-oh singkat. "Ngomong-ngomong, apa kau sudah makan?" tanya Verda.
Vedra tidak menjawab.
"Nanti singgah di toko buah yang ada di simpang jalan itu ya," lanjut Verda.
Vedra tidak menyahut namun ia menghentikan mobil yang dikemudikannya begitu tiba di depan toko buah yang dimaksud Verda.
__ADS_1
Verda segera turun ke toko buah langganannya itu. Toko buah yang berkonsep ala supermarket. Pembeli bisa memilih dan menakar sendiri buah yang ingin dibeli. Selain buah-buahan segar, toko itu juga menyediakan sayur-sayuran segar serta sembako.
Vedra hanya menunggu di dalam mobilnya. Saat ini pikiran pria itu benar-benar sedang kacau hanya gara-gara melihat unggahan foto Silvia bersama pria lain. Setengah hari Vedra habiskan dengan menggalau sambil mencari-cari informasi mengenai pria itu. Vedra bahkan belum bisa menerima keputusan Silvia yang membatalkan pernikahan mereka secara sepihak. Lalu kemudian Silvia mengunggah foto pria lain seakan menunjukkan pada Vedra bahwa Silvia sudah menemukan pria baru.
"Vedra!"
Seruan Verda membuyarkan lamunan Vedra.
"Tolong bantu angkat belanjaanku yang ada di kasir, aku tidak bisa membawanya," pinta Verda.
"'Hm, oke," sahut Vedra.
Vedra segera menuju ke kasir dan membawa satu kardus berisi buah-buahan yang dibeli Verda ke bagasi mobilnya.
"Vedra, jadi kapan kau akan masuk kantor?" tanya Verda.
"Empat hari lagi," jawab Vedra singkat.
"'Tidak bisakah kau masuk lebih awal? Pekerjaanmu sungguh banyak sekali. Pekerjaanku juga banyak. Besok pagi jam sembilan Pak Handoko minta laporan sudah ada di mejanya, aku bahkan sudah begitu lelah sampai rasanya tidak bisa berkonsentrasi lagi," keluh Verda.
"Maaf, tapi aku masih cuti," jawab Vedra singkat.
"Waduh, keterlaluan kau, Ved!" sergah Verda.
"Apanya yang keterlaluan? Toh aku memang sedang mengambil hak cutiku dan ingin menikmati masa cuti dengan sebaik-baiknya," sahut Vedra.
Verda mendengus kesal sambil melemparkan tatapan jengkel pada Vedra.
"Verda, kau jangan egois begitu, kau bahkan lebih banyak mengambil cuti daripada aku. Kau mengambil jatah cuti tahunan, dan kau juga mengambil cuti haid setiap bulan. Bandingkan denganku yang selama hampir tiga tahun bekerja, baru ini aku mengambil cuti, itu pun dalam rangka menikah," beber Vedra.
"Apa? Kau iri padaku karena aku mengambil jatah cuti tahunanku? Kau juga iri karena aku mengambil cuti haid setiap bulannya?" Verda mencecar Vedra dengan pertanyaan.
"'Jangan salahkan aku karena mengambil hak cutiku, itu hakku sebagai pegawai. Dan aku sudah memperkirakan kapan waktu terbaik untuk cuti. Lalu saat tiap bulan aku mengambil cuti haid, itu juga hakku, karena aku memang perlu beristirahat ketika tamu bulananku datang. Kalau kau iri karena aku mendapat cuti haid, kau ganti saja kelaminmu jadi perempuan, jadi kau bisa mendapat cuti haid juga," cecar Verda.
Vedra terdiam, ia berusaha untuk tetap fokus berkendara.
Verda melipat tangannya di depan dada dan membuang pandangannya ke luar jendela.
...*****...
Sampai jumpa di episode selanjutnya. Otor sedang berpikir untuk menyiapkan crazy up, dukung terus yaa.. 💜
__ADS_1