Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 012


__ADS_3

Gedung arsip dan perpustakaan kota siang itu menjadi tempat yang tidak terlalu ramai didatangi pengunjung. Yah, zaman sekarang siapa juga orang yang mau mengunjungi perpustakaan untuk sekadar menghabiskan waktu? Terlebih generasi milenial yang lebih doyan membuang waktu mereka untuk nongkrong di kafe dengan wifi gratis, jalan-jalan alias window shopping di pusat perbelanjaan, atau menjadi kaum rebahan yang seharian bersembunyi dalam selimut.


Verda memasuki lobi perpustakaan, di samping pintu masuk terdapat area loker penitipan barang yang langsung dilalui Verda begitu saja. Matanya segera tertuju pada seorang pria yang saat ini sedang mengisi sebuah meja di sudut ruangan lobi dengan laptop dan tumpukan buku tebal yang memenuhi meja beserta kertas-kertas berisi perhitungan matematika rumit.


Verda segera mengambil sebuah kursi dan duduk di depan pria itu. Pandangannya tertuju pada tumpukan buku-buku yang judulnya membuat Verda terkekeh.


"Kunci sukses lolos tes CPNS," ceplos Verda.


Vedra menoleh mendengar ceplosan Verda. Ada nada mencemooh yang membuat Vedra langsung mengakhiri sesi belajarnya. Pria itu segera merapikan buku-buku kemudian memasukkan dalam tasnya.


"Wah, kau sungguh ingin jadi PNS? Bukankah sekarang PNS bukan lagi pekerjaan idaman semua orang? Kau seakan hidup di zaman dua dekade yang lalu saja," tukas Verda masih dengan nada menyindir.


"Di daerah asalku, ketika seorang anak lolos menjadi PNS, yang bangga bukan hanya orang tuanya, satu kampung ikut bangga," Vedra menanggapi sindiran Verda.


"Haha, ya ampun, kau ini berasal dari kampung mana? Apa kau ini dari desa yang penduduknya tinggal dalam gua dan hidup secara primitif?" ceplos Verda lagi.


Vedra menautkan alisnya menandakan ia tidak setuju dengan pendapat Verda mengenai kampungnya. Verda bisa melihat bahwa pria itu nampaknya tersinggung dengan pemikiran Verda.


"Maaf, ya, jangan tersinggung, aku hanya berasumsi saja," Verda terkekeh.


"Jadi, mengapa kau mengajak bertemu di akhir pekan seperti ini?" tanya Vedra.


Pria itu merasa akhir pekan yang harusnya bisa dihabiskan untuk belajar di perpustakaan malah tersita lantaran wanita di hadapannya ini mendadak mengajaknya bertemu. Padahal besok pagi mereka toh bertemu lagi di kantor.


"Ved, sehubungan dengan penawaranmu mengenai ajakan menikah, aku rasa setelah memikirkannya baik-baik, menimbangnya benar-benar, akhirnya aku membuat sebuah keputusan. Aku bersedia menikah denganmu," jawab Verda.


Vedra terdiam, saat ini matanya terfokus memandang wanita yang tengah terlihat bagai sedang menantangnya untuk beradu panco. Kedua tangan wanita itu sudah bertopang di atas meja.


Verda mengulas senyum kecut melihat ekspresi datar pria itu. Apa pria itu sama sekali tidak menghargai keputusan besar dalam hidupnya?


Kenapa pria itu hanya diam dan tidak menanggapi?


Apa dia sedang mempermainkanku?


Batin Verda bergelut karena pria di hadapannya sungguh tidak mengubah ekspresi datarnya.


"Oh, apa kau sudah menemukan wanita yang bersedia menikah denganmu?" tanya Verda.

__ADS_1


"Cih, kalau kau memang sudah menemukan wanita yang akan kau nikahi, harusnya kau katakan padaku lebih awal, jadi aku tidak perlu memikirkan dan menimbang-nimbang hal yang sungguh membuang-buang waktuku!" Verda berdecih, ia mulai bersungut kesal.


Ugh, laki-laki ini menyebalkan sekali, kenapa dia malah jadi patung begini sih?! Verda benar-benar merasa keki.


"Baiklah, kalau begitu lupakan saja, anggap saja kau tidak pernah mengajakku untuk menikah!" Verda segera beranjak dari tempat duduknya.


"Tu-tunggu, Verda," cegah Vedra.


"Aku bahkan belum mengatakan apa pun, mengapa kau tiba-tiba memutuskan seperti itu? Aku bukannya tidak menanggapi jawabanmu, aku hanya masih terlalu terkejut karena kau bersedia menikah denganku," tukas Vedra.


Verda kembali duduk di posisinya, saat ini pria di hadapannya itu masih tetap memasang ekspresi datar yang membuat Verda kembali merasa keki.


"Ya, aku bersedia menikah denganmu tapi tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku yang harus kau penuhi! Makanya aku mengajakmu bertemu untuk mendiskusikan hal tersebut!" kata Verda.


"Memangnya apa syarat dan ketentuan yang ingin kau ajukan?" tanya Vedra.


"Secara garis besar, aku sungguh ingin bahwa pernikahan ini hanyalah sekadar jaminan bahwa kau akan bertanggung jawab penuh atas kerugian materi yang harus kualami yakni sebesar tujuh puluh juta, aku kurang berkenan jika kau hanya memberiku uang ganti rugi, kau harus mendapatkan semua photo card langka itu, seperti saat aku yang dengan susah payah mendapatkan semua itu," jawab Verda.


Vedra mengangguk pelan, bahkan nyaris tidak terlihat.


"Ya, baiklah, aku mengerti," jawab Vedra lagi.


"Kemudian, pernikahan kita benar-benar hanya sekadar jaminan. Jadi, jangan menuntutku untuk menjadi istri idaman yang bertakwa kepada suami," tukas Verda.


"Hmm, ya, tidak masalah," sahut Vedra.


"Lalu, aku rasa satu tahun sudah cukup bagimu untuk memenuhi permintaanku kan?" tanya Verda.


"Satu tahun?" alis Vedra kembali berkerut.


Verda mengangguk cepat.


"Jika terlalu lama, dikhawatirkan kau tidak akan serius mencari semua koleksi photo card itu!" Verda menyampaikan asumsinya.


"Tidak bisakah dua tahun? Bukannya apa, hanya saja, dengan penghasilanku saat ini, ditambah banyaknya pengeluaran akrualku, aku memerlukan perpanjangan waktu," Vedra mencoba bernegosiasi.


"Aku memang berencana untuk mengundurkan diri setelah menikah, namun aku pasti perlu waktu untuk mendapatkan pekerjaan lain," Vedra melanjutkan sambil menghela napas berat.

__ADS_1


"Kau ini bagaimana sih? Sudah berencana untuk mengundurkan diri tapi belum mendapatkan pekerjaan lain? Bukankah harusnya kau mendapatkan pekerjaan lain barulah kau mengundurkan diri?!" tukas Verda.


"Hmm, ya, aku sudah mulai mencarinya, tapi tidak semudah itu bisa mendapatkan pekerjaan baru dengan penghasilan yang lebih daripada pekerjaan saat ini, ada yang menawarkan pendapatan yang sama tapi kebanyakan malah di bawah penghasilan yang kuterima sekarang! Jadi pada intinya saat ini yang bisa kulakukan hanyalah berusaha untuk terus mencari! Terlebih bebanku saat ini harus bertambah lagi, jadi ya, aku harus benar-benar mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih!" beber Vedra.


"Hmm, baiklah, dua tahun!" ucap Verda.


Vedra mengangguk pelan, bahkan nyaris tak terlihat.


"Hmm, lalu apalagi ya?" Verda berpikir. "Ved, catat! Kau harus mencatatnya ya! Catat semua poin sehingga tidak akan ada yang terlewat!"


"Baiklah," sahut Vedra.


Pria itu segera membuka kembali tas dan mengeluarkan lembaran kertas dan alat tulisnya.


"Itu poin-poin utama, selain itu, masih ada poin-poin tambahan lain yang harus kita sepakati sebelum kita memulai pernikahan ini," kata Verda.


"Hmm, ya, aku rasa itu hal yang bagus," Vedra menyahut sambil terus menulis.


"Ya, semuanya harus jelas dari awal agar ke depannya tidak ada hal-hal yang menyulitkan posisi kita berdua," Verda menegaskan.


"Hmm, sebaiknya juga ada poin di mana segala hal yang menyangkut pernikahan ini bisa dinegosiasikan, lebih tepatnya mengenai masalah fleksibilitas," ucap Vedra.


Nada bicara pria itu terdengar penuh pertimbangan.


"Fleksibel seperti apa yang kau maksudkan?" tanya Verda.


"Ya, pernikahan kita memang hanya sekadar jaminan, namun dari sudut pandang orang lain, tentu tidak bisa seperti itu, setidaknya kita mesti terlihat seperti pasangan suami istri pada umumnya," jawab Vedra.


"Oh, hmm, ya, aku rasa kau ada benarnya," sahut Verda.


"Baiklah," kata Vedra. "Pernikahan akan berlangsung minggu depan, jadi aku harap kau bisa menyiapkan dokumen-dokumen untuk kebutuhan administrasi."


"Oh, ya, bagaimana dengan orang tuamu? Perlukah aku datang untuk melamarmu?" tanya Vedra.


"Aku rasa itu tidak perlu, toh mereka tidak akan keberatan jika aku menikah lagi," sahut Verda.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2