Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 009


__ADS_3

"Selamat malam," sapa wanita muda itu pada Vedra.


"Selamat malam, silakan duduk," balas Vedra.


Vedra mengamati wanita muda itu secara saksama. Ia berusaha mengingat data kandidat yang akan ditemuinya. Wanita ini terlihat begitu muda meski riasannya nampak lumayan tebal.


Wanita tersebut berambut hitam panjang yang tergerai indah. Tubuhnya tinggi dan ramping. Matanya bulat, besar, berbinar indah. Dahi yang lebar dan penuh, alis ramping dan rapi, hidung mancung yang mungil, serta bibir tebal yang penuh. Wanita berkulit sebening kristal dan mulus seperti jalan tol.


Ia mengenakan dress terusan berwarna merah muda lembut yang membuatnya terlihat berkilau. Gestur tubuhnya begitu anggun dan jelas memesona.


"Nama saya Alin," wanita itu memperkenalkan dirinya.


Suaranya lembut dan ringan, macam gulali kapas.


"Nama saya Vedra," kata Vedra.


"Saya harus memanggil Anda dengan sebutan Mas, Kakak, atau Abang Vedra, ya?" tanya Alin.


"Cukup Vedra saja," jawab Vedra.


"Oh baik, Vedra," kata Alin nampak malu-malu.


Dari tiga kandidat yang dikirimkan oleh biro jodoh, dua wanita mengundurkan diri karena belum siap jika harus menikah secara mendadak.


Wanita bernama Alin inilah yang pada akhirnya datang menemui Vedra.


Vedra membatin, wanita cantik ini sungguh kandidat potensial untuk menjadi istri pengganti. Cantik, anggun, dan sopan. Ia bisa membayangkan betapa hebohnya para tetangga di kampungnya jika ia membawa pulang wanita secantik ini sebagai istrinya. Sungguh wanita yang akan menaikkan nilai prestisnya hingga ke level tertinggi.


"Kalau kamu dapatnya perempuan yang cantiknya biasa saja, sekolahnya tidak tinggi, untuk apa cari jauh-jauh di kota besar! Di kampung sini juga banyak! Kamu harus cari yang cantiknya, level pendidikannya di atas semua perempuan di kampung ini yang ngebet sama kamu!" 


"Jadi biar mata mereka semua terbuka lebar-lebar dan sadar diri, kenapa mereka semua tidak pantas untuk jadi istri kamu, Vedra!"


"Malu kalau sampai jadi omongan tetangga, kalau sampai kamu tidak dapat wanita yang istimewa!"


"Kamu sudah jadi omongan tetangga karena terlambat sekali menikah! Tidak masalah terlambat, namanya juga cari yang benar-benar bagus dan pantas untukmu!"


Begitulah wejangan yang disampaikan oleh Ibu Vedra agar Vedra benar-benar mencari pendamping hidup yang istimewa. Tingginya kriteria yang diinginkan oleh Ibu Vedra jelas membuat pria itu akhirnya harus menyesuaikan tipe idealnya agar sesuai dengan keinginan ibunya.

__ADS_1


"Alin, terima kasih sudah datang untuk menemui saya. Terus terang, saya bukan tipe orang yang suka berbasa-basi. Oleh sebab itu, saya hanya ingin memastikan kembali, apakah Anda bersedia menikah dengan saya?" tanya Vedra.


Alin terlihat malu-malu, wanita itu mencuri pandang ke arah pria yang terlihat berpenampilan dandy. Kemeja berwarna biru gelap yang digulung sebatas siku menampilkan jam tangan mewah di pergelangan tangan kirinya. Secara keseluruhan pria itu berpenampilan simpel namun terkesan mewah.


"Berapa nominal yang akan saya dapatkan, dan berapa lama masa pernikahan yang akan kita jalani?" tanya Alin.


Vedra tertegun mendengar pertanyaan Alin.


"No-nominal?" tanya Vedra.


"Ya, kan ini cuma kawin kontrak," sahut Alin.


Vedra kembali tertegun.


"Kenapa Anda berpikir ini kawin kontrak?" tanya Vedra lagi.


"Hm, ya, karena siapa yang bersedia menikah dengan orang asing? Tanpa tahu asal usul dan seluk beluknya, terlebih Anda meminta pernikahan yang begitu mendadak," jawab Alin.


Vedra masih terdiam.


Vedra terperangah mendengar penjelasan Alin yang begitu mencengangkan. Tiga ratus juta untuk membayar biaya pernikahan kontrak selama dua tahun?


"Oh, mahal sekali," ceplos Vedra.


"Hmm, itu sudah harga standar yang berlaku di pasaran," kata Alin.


"Begitu ya, tapi saat ini jujur saya tidak menginginkan pernikahan kontrak, saya sungguh mencari istri," kata Vedra.


"Oh begitu, maaf, sepertinya saya bukanlah orang yang Anda cari," tukas Alin.


Vedra tersenyum kecut. 


"Kalau begitu, saya permisi ya," Alin berpamitan.


"Ya, silakan," kata Vedra.


Alin beranjak dari kursi, wanita cantik itu mengumpat dalam hatinya. Nominal tiga ratus juta adalah harga termurah yang bisa ia berikan. Sebagai wanita yang menggeluti profesi sebagai istri kontrak, kesejahteraannya haruslah terjamin. 

__ADS_1


Kalau tidak punya uang, tidak usah sok-sok mencari istri kontrak! Batin Alin.


Sementara itu Vedra menatap kosong gelas es kopinya. Mengapa pernikahan kontrak jauh lebih mahal daripada pernikahan pada umumnya?


Vedra memang sudah menguras uang tabungannya selama ini. Menggelar resepsi pernikahan di dua tempat jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sebagai karyawan dengan status masih kontrak, tanpa mempunyai jabatan, jelas membuat Vedra harus sangat cermat membiayai semua pesta pernikahannya.


Vedra bahkan sudah membayar semua uang muka untuk menggelar acara di kota Silvia. Sungguh sayang uang muka itu harus hangus begitu saja. Meski Pak Haryo berjanji akan mengembalikan uang Vedra, hanya saja Vedra merasa sungkan dan lebih memilih menolaknya.


Vedra juga sudah membayar uang muka untuk menggelar acara ngunduh mantu di daerah asalnya. Menggelar acara yang menelan dana tidak sedikit dan Vedra sama sekali tidak mau menerima bantuan keuangan dari orang tuanya.


Ini pernikahannya, semua biaya menjadi tanggung jawabnya.


Oh Tuhan, apa ini yang namanya sudah jatuh tertimpa tangga?


Cicilan tanah, kredit pembangunan rumahnya, kredit mobilnya jelas menjadi kewajiban yang harus ditunaikan oleh Vedra setiap bulan. Ia tidak mungkin bisa membayar pengantin pengganti jika harus membayar tiga ratus juta. 


Tidak adakah wanita yang bersedia menikah dengannya secara cuma-cuma?


Yah, wanita itu tentu saja haruslah wanita baik-baik dari keluarga baik-baik.


Bukan wanita yang terpaksa menikah dengan Vedra karena sedang mengandung anak orang lain. Bisa-bisa Ibu Vedra terkena serangan jantung lantaran mengira Vedra sudah sembarangan menebar benih.


Orang tua Vedra masih menjunjung tinggi norma agama dan norma sosial. Pantang bagi keluarga besar mereka ada anak yang terlahir dari hasil hubungan sebelum pernikahan resmi. Auto dicoret dari kartu keluarga jika ada yang berani berbuat hal tersebut.


Bahkan ketika Vedra baru saja selesai menjalani proses khitan, ibunya langsung mewanti-wantinya setiap hari.


"Vedra, jangan memang macam-macam kamu ya, sama anak gadisnya orang! Hamil anak orang nanti! Malu kita tujuh turunan! Kamu belum bisa cari uang sendiri! Belum sukses! Jangan sampai kamu kawin tapi menyusahkan orang tua! Orang tua sudah susah, jangan lagi anaknya ikut susah!"


Ya, dulu ibunya selalu mewanti-wanti seperti itu.


"Apa ini ya, yang dinamakan ujian sebelum menikah?" Vedra bertanya-tanya sendiri.


Harus ke mana lagi mencari wanita yang bersedia menikah dengannya?


Yang pasti Vedra tidak bisa sekadar mencari wanita sembarangan. Wanita yang dicarinya jelas harus bisa menaikkan nilai prestis di mata para tetangga di kampungnya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2