
Verda sudah duduk di depan meja kerjanya. Seperti biasa setelah menyalakan komputer, ia selalu membuka media sosialnya untuk sekadar membaca berita-berita terbaru dari member Fancy terutama Jehun sang bias sejuta umat yang langsung menggemparkan seluruh penggemar lantaran memamerkan otot perutnya yang tercetak sempurna.
"Aduh gila! Pagi-pagi bujang ini sungguh meresahkan ya, bund!" ceplos Verda sambil mengetik apa yang diucapkannya di kolom komentar.
"Haha," Teti yang kebetulan lewat di samping meja kerja Verda tertawa melihat kelakuan Verda.
"Verda, heran deh, lelaki itu mana enak kalau cuma bisa dipandangi tapi tidak disenonohi," tukas Teti.
"Benar tuh, Verda, lihat deh, Teti rambutnya masih basah begitu, pasti habis bersenonoh ria kan?!" Nita menimpali.
"Aduh aduh, pagi-pagi obrolan emak-emak ini sungguh meresahkan!" Ican menimpali dari kubikelnya.
"Kalau tidak mau merasa resah, tidak usah didengarkan, Can!" sahut Verda seraya terkekeh.
"Terbaik memang junjunganku ini!" seru Ican sambil bertepuk tangan.
"Huuh, dasar kalian ini! Masa ya kalian kalah dengan anak-anak SD zaman sekarang yang sudah punya pacar!" cibir Teti.
"Sudah, sudah! Aku mau lanjut kerja, jam sembilan laporanku sudah harus ada di meja Pak Handoko!" potong Verda.
Verda membuka e-mail dan menemukan sebuah pesan di kotak masuknya. Mata Verda membulat lebar melihat laporan yang diminta oleh Pak Handoko rupanya sudah dikerjakan oleh Vedra. Verda cepat-cepat mencetak laporan tersebut.
Dalam hati ia bersorak girang karena salah satu dari tugasnya sudah diselesaikan dengan baik. Verda mengulas senyumnya, itu artinya ia punya waktu lebih untuk menyaksikan seputar info-info terbaru Fancy dari akun fanbase Fancy. Itulah kebahagiaan Verda.
Usai menyerahkan laporan ke meja Pak Handoko, Verda kembali ke meja kerjanya. Ican langsung menghampiri meja Verda.
"Verda," Ican menyeringai sambil menyodorkan amplop cokelat ke arah Verda.
"Apa ini, Can?" tanya Verda.
"Yee, dikau jangan pura-pura lupa ya! Kemarin kita sudah sepakat mengumpulkan uang sumbangan kado pernikahan untuk Vedra! Cuma tinggal kau yang belum memberi sumbangan!" jawab Ican.
"Oh," sahut Verda.
"Kau harus memberi banyak, Verda, jadi kalau nanti kau menikah, sumbangannya juga banyak!" tukas Ican. "Kau pasti tidak mau kan, nantinya mendapat kado pernikahan yang murah, meriah, terlebih barang-barang diskonan!" seloroh Ican.
"Hei, Can, dari mana kau sampai punya pola pikir seperti itu?" tanya Verda.
"Nita dan Teti berpesan padaku untuk menyampaikan pola pikir mereka ke semua orang yang kumintai sumbangan!" jawab Ican.
"Haha," Verda tertawa dengan tawa yang dibuat-buat. "Memangnya kalian mau memberi kado pernikahan apa untuk Vedra?" tanya Verda.
"Nah makanya itu, dari dana yang terkumpul, sepertinya cukup untuk membeli TV LED 32 inci," jawab Ican.
"Aku rasa TV tidak perlu, dia sudah punya Smart TV berukuran 50 inci di kamarnya," tukas Verda.
"Hee? Tunggu, dari mana kau tahu Vedra sudah punya Smart TV 50 inci di kamarnya?" tanya Ican penuh selidik.
Verda tersadar bahwa ia sudah mengatakan sesuatu yang harusnya tidak perlu ia katakan alias keceplosan.
"Ican, kau harus tahu ya, untuk ukuran seorang pria yang bisa memakai brand Prada, TV berukuran 32 inci hanya seukuran monitor komputernya saja!" jawab Verda dengan cepat.
Ican masih melemparkan tatapan penuh selidik ke arah Verda.
__ADS_1
"Verda, jujurlah padaku!" teror Ican.
"Apa sih, Can?" tanya Verda.
"Apa jangan-jangan kau dan Vedra...," Ican menggantungkan kalimatnya.
"Aku dan Vedra kenapa?" tanya Verda.
"Kau bahkan sudah mengetahui lebih dulu Vedra akan menikah! Kau dan Vedra sepertinya...."
"Ican, tidak usah menggiring opini publik ya. Aku tahu bahwa Vedra akan menikah karena aku perlu menggantikannya cuti," Verda mencoba mengutarakan pendapatnya.
Terselip kepanikan yang harus disembunyikan oleh Verda karena sudah keceplosan mengenai masalah TV dalam kamar Vedra.
"Verda, maksud aku, kau dan Vedra ternyata tim yang kompak, dan sepertinya diam-diam kau menjadi mata-mata untuk Vedra ya?" Ican kembali bertanya penuh selidik.
"Apa? Aku menjadi mata-mata untuk Vedra? Omong kosong macam apa itu, Can?!" celetuk Verda.
"Yee, biasa saja dong, Verda, tidak perlu ngegas begitu," Ican terkekeh.
Verda membuka dompetnya, rasanya aneh karena ia mengeluarkan uang untuk menyumbang kado pernikahannya sendiri.
"Oh ya, Verda, nanti sepulang kerja kita pergi bersama ya, cari kado untuk Vedra," kata Ican.
"Hah?" Verda terperangah.
"Para Ibu-Ibu menyerahkan tugas suci ini pada kita karena hanya kita yang mereka anggap punya banyak waktu luang!" Ican menjelaskan.
"Astaga, kenapa jadi merepotkan sekali!" gerutu Verda.
...*****...
Pukul lima sore, Verda segera bersiap pergi bersama Ican untuk mencari kado pernikahan. Verda ditunjuk untuk mendampingi Ican selaku seksi sibuk karena mereka berdua dianggap sebagai rekan kantor yang dekat dengan Vedra lantaran mereka bertiga sering terlihat lembur bersama.
Verda mendelik gusar, entah apa reaksi semua orang jika tahu bahwa Verda adalah rekan menikah Vedra. Untunglah pria itu akan mengundurkan diri sehingga tidak perlu ada yang tahu mengenai pernikahan mereka.
"Loh, Verda, kau tidak membawa mobilmu?" tanya Ican begitu mereka tiba di parkiran kantor.
"Tidak, mobilku masuk bengkel," sahut Verda sekenanya.
"Oh, apa kau tidak masalah kubonceng? Tapi aku tidak punya helm lebih," kata Ican.
"Kita naik taksi daring saja," sahut Verda.
"Lah, terus motorku bagaimana?" tanya Ican.
"Motormu kau lipat dan masukkan dalam tas saja!" sahut Verda seraya terkekeh.
"Verda, kau pikir motorku itu jas hujan apa?!" cibir Ican.
"Oh ya, ngomong-ngomong kita mau mencari kado di mana?" tanya Verda.
"Kita ke Plaza C saja, di sana ada Informa," sahut Ican.
__ADS_1
"Oke," sahut Verda.
Verda segera memesan taksi daring dan menuju ke pusat perbelanjaan yang dimaksud oleh Ican.
Plaza C merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang seakan tidak pernah ada sepinya. Terletak di kawasan strategis lantaran lokasinya yang berada di area segitiga emas.
"Verda, aku lapar, sebaiknya kita makan dulu sebelum mencari kado," ajak Ican.
"Aku belum lapar, Can, nanti saja makannya, kita cari kado saja dulu," usul Verda.
"Oke deh," sahut Ican sedikit terpaksa.
Verda segera memasuki toko Informa yang menyediakan seluruh perlengkapan kebutuhan rumah.
"Pajangan-pajangan ini bagus sekali, cocok untuk di kamarku," Ican mengomentari deretan pajangan berbentuk abstrak yang dipajang di etalase depan.
"Ican, kau itu mau cari kado untuk Vedra atau untuk dirimu sendiri?" tanya Verda.
"Ya, ya, lantas barang apa yang akan kita berikan untuk Vedra?" Ican balik bertanya.
"Entahlah," sahut Verda.
"Bagaimana kalau bed cover set? Aku rasa dananya cukup untuk membeli setengah lusin," usul Ican.
"Setengah lusin?" tanya Verda.
"Sudah jadi rahasia umum kalau pengantin baru harus punya banyak bed cover set. Namanya tiap saat mandi keringat terus, ya kan?" sahut Ican sambil menyeringai.
"Ahaha!" Verda tertawa dengan tawa yang dibuat-buat.
Verda melihat-lihat sofa set yang dipajang. Dalam benaknya mungkin sofa itu bagus untuk diletakkan di ruang tamu rumah Vedra.
Tidak, tidak, rumahnya terlalu sempit! Perabot hanya akan makan tempat! pikir Verda.
"Verda, aku sudah lapar nih, kita pergi makan dulu yuk, aku sudah tremor nih!" keluh Ican.
"Ya elah, Ican, baru juga satu jam kita keliling di toko!" gerutu Verda.
"Verda, kau mau aku pingsan di sini gara-gara kelaparan? Tega kau ya," cibir Ican.
"Ya sudah! Ayo kita pergi makan dulu," sahut Verda mengalah.
Verda dan Ican segera memasuki sebuah food court yang ramai dikunjungi pengunjung.
"Aku mau pesan sop janda!" kata Ican.
Verda menatap skeptis stan yang menjual hidangan sop janda. Stan itu terlihat dipenuhi pengunjung yang termakan propaganda berupa hidangan sop janda pedas menggoyang dan menggigit lidah.
Usai memesan makanan, mereka segera mencari tempat duduk yang masih kosong.
"Loh, Vedra?" seruan Ican membuat Verda otomatis menoleh.
Mata Verda menangkap sosok Vedra yang saat ini sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita.
__ADS_1
...*****...