Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 067


__ADS_3

"Ved, posisimu salah, kalau seperti itu kau bisa cedera," tegur Ben, instruktur di tempat gym saat menghampiri Vedra yang sedang melakukan latihan beban.


Vedra segera memperbaiki posisinya sesuai dengan instruksi dari Ben.


"Ada apa, Ben?" tanya Vedra pada Ben yang terus memerhatikannya.


"Aku salah fokus nih, melihat jejak cinta di sekitar lehermu," sahut Ben terkekeh.


"Apa? Jejak cinta?" Vedra keheranan.


"Tumben saja melihat ada jejak cinta yang tertinggal," sahut Ben.


Vedra terdiam menatap pantulan dirinya di depan cermin. Bekas lebam di tulang selangkanya terlihat jelas karena ia memakai kaus berkerah lebar.


"Hati-hati loh, jangan asal meninggalkan jejak cinta, ada kasus kematian gara-gara jejak cinta," tutur Ben.


"Ben!" seruan itu membuat Ben pergi meninggalkan Vedra.


Vedra tertegun, mempertanyakan dari mana bekas lebam yang ia dapatkan ini. Dalam benaknya berkelebat potongan-potongan adegan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.


Apakah semalam mimpi yang dialaminya bukanlah mimpi?


Kalau bukan sekadar mimpi, apakah itu berarti kenyataan?


...*****...


Vedra meneguk ludahnya, tenggorokannya tercekat, ia tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Matanya masih tertuju pada bekas lebam yang terlihat begitu kontras dengan kulit Verda yang putih dan mulus. Matanya tertumbuk pada bekas lebam yang berada di sekitar tulang selangka dan di sekitar bukit kembar yang terlihat begitu menantang, jujur saja membuatnya salah fokus.


Verda menutup kembali kemejanya, sementara itu Vedra berputar cepat, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Oh Tuhan! Apa yang sudah kulakukan?! Batinnya menjerit.


Vedra melangkah keluar dari rumahnya. Menghirup dalam-dalam udara dingin yang kini memenuhi paru-parunya.


Bagaimana bisa ia sampai lepas kendali seperti itu?


Bagaimana ia bisa membiarkan dirinya menyentuh Verda seperti itu?


Semua pertanyaan itu berputar-putar dalam benak Vedra. Ia sungguh tak menduga bahwa ia sudah melakukan hal yang seharusnya tidak boleh dilakukannya. 


Ini sungguh pelanggaran! Pelanggaran! Oh Tuhan! Apa yang sudah kulakukan?!


Vedra menengadah, menatap ke langit yang gelap dengan hamparan jutaan bintang yang berkilauan.


Apa yang harus kulakukan?!


Vedra kembali memasuki rumah, ia melihat Verda yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit menutupi dadanya. Lagi-lagi yang menjadi fokus Vedra adalah bekas lebam yang ada di sekitar dada Verda. Ia sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana bisa ia melakukannya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Verda segera memasuki ruangan tempat penyimpanan barang-barangnya.


Ia segera memakai piyamanya. Rasanya sungguh menyebalkan melihat jejak cinta yang ditinggalkan oleh Vedra di tubuhnya. Verda benar-benar merasa kesal dengan sikap Vedra.


Pria itu sungguh seperti orang yang mabuk di bawah pengaruh minuman keras. Melupakan semua yang sudah ia lakukan dan berlagak tidak tahu apa-apa.


Verda segera naik ke tempat tidur, menarik selimut berwajah Jehun hingga sebatas lehernya. Ia mengambil ponselnya dan segera berselancar di dunia maya. Saat ini menyaksikan keseruan anggota Fancy mungkin bisa mengobati rasa kesalnya. 


Dalam acara reality show, Jehun nampak memamerkan otot perutnya yang langsung membuat para penonton menjerit histeris. 


Otot perut Vedra juga seperti itu, Verda membatin.


Astaga, aku memikirkan apa sih?! Sial! Verda mengumpat dalam hati.


Vedra memasuki kamar, entah mengapa ia merasa salah tingkah sendiri. Dengan cepat ia mengambil pakaian yang ada di tumpukan teratas. Piyama bermotif kotak-kotak hitam putih lagi. Punya setengah lusin piyama dengan warna dan motif sama membuatnya terlihat bagai tokoh kartun Doraemon yang pakaiannya hanya itu-itu saja. Ia segera memakai piyama tanpa semangat.


Aduh, apa yang harus kukatakan pada Verda ya? Batin Vedra yang sedari tadi risau, gundah gulana.


Vedra segera duduk di tepi tempat tidur, gelisah, mempertimbangkan apa yang harus dikatakannya.


"A-anu, Verda," Vedra memulai, tergagap.


Verda melirik Vedra yang berputar menghadap ke arahnya.


"Verda, aku sungguh minta maaf. Tolong maafkan aku," ucap Vedra.


Verda mengarahkan pandangannya ke arah Vedra.

__ADS_1


"Sesungguhnya aku merasa bahwa yang aku lakukan terhadapmu, hanyalah dalam mimpiku saja. Aku bermimpi erotis denganmu. Mimpi yang beberapa waktu ini sering kualami, sungguh aku tidak bermaksud menjadikanmu sebagai objek fantasiku, tapi, tapi yah, aku memimpikanmu," Vedra mencoba menjelaskan.


"Aku kerap bermimpi mencumbumu. Entahlah, semua itu terjadi begitu saja, sungguh bukan inginku, tapi semua itu muncul begitu saja."


Ucapan Vedra terdengar tidak jelas, menggambarkan betapa groginya ia saat ini.


Bercinta dengan Verda jelas menjadi hasrat terpendamnya yang entah bagaimana bisa terealisasi.


"Maafkan aku, Verda, aku keluar dari batasku, aku tidak tahu bagaimana bisa hilang kendali seperti itu," kata Vedra.


Verda melihat ekspresi Vedra nampak seperti murid yang dihukum lantaran lupa mengerjakan PR. Nampak jelas di mata Verda bahwa Vedra menyesali perbuatannya.


"Ved, apa kau menyesalinya?" tanya Verda.


Vedra tertegun mendengar pertanyaan dari Verda.


"Apa kau menyesal karena melakukannya denganku?" tanya Verda lagi.


Vedra tertegun, ia menggeleng cepat.


"Verda, sungguh munafik jika aku mengatakan bahwa aku menyesal telah bercinta denganmu," kata Vedra.


"Aku berusaha bersikap jujur, untuk apa menyesalinya, sedangkan aku begitu menikmatinya, sampai-sampai aku berpikir bahwa itu semua hanya mimpi dan tidak mungkin terjadi di antara kita," lanjut Vedra.


"Ved, kemarikan tanganmu," pinta Verda.


Vedra mengulurkan tangannya ke arah Verda. Vedra terkesiap, tangannya dibawa ke wajah Verda.


"Ved, apakah saat ini kau bisa merasakan suhu tubuhku?" tanya Verda.


"I-iya," jawab Vedra tergagap.


Hembusan napas Verda di telapak tangan Vedra membuat bulu kuduk Vedra meremang.


"Ved, aku kecewa padamu karena kau bersikap seakan tidak terjadi apa pun di antara kita!" tukas Verda.


"Seakan kau menyesal karena sudah bercinta denganku. Menyesal karena wanita yang kau tiduri adalah aku," Verda menatap lekat-lekat mata Vedra.


"Itu tidak benar, Verda!" Vedra menggeleng cepat. "Berapa kali harus kukatakan padamu, aku bahkan berpikir bahwa semalam yang terjadi di antara kita hanya terjadi dalam mimpiku saja! Sungguh tidak mungkin terjadi!" Vedra mencoba menjelaskan.


"Apakah jika kita melakukannya lagi, kau masih menganggap bahwa kau hanya sedang bermimpi?" tanya Verda.


Vedra tertegun, mengangkat kepalanya, lalu menatap Verda lekat-lekat.


"Ved, aku tanya kau sekali lagi, apa kau menyesal karena telah bercinta denganku?" tanya Verda.


"Verda, aku sungguh menyesal," jawab Vedra.


Verda merasa kecewa dengan jawaban Vedra.


"Aku menyesal karena hanya menganggap bahwa yang terjadi di antara kita semalam hanyalah mimpiku saja," lanjut Vedra.


"Ved, apa kau tahu, semalam, aku benar-benar sangat menikmatinya. Aku sangat menikmatinya hingga rasanya ingin melakukannya lagi," kata Verda tanpa ada keraguan.


Mereka berdua saling menatap, kobaran gairah terpancar jelas dari sorot mata mereka. Vedra segera mengambil bibir Verda dengan bibirnya.


Verda memejamkan matanya saat bibir mereka saling bertaut. Verda bisa merasakan aroma segar obat kumur yang baru saja digunakan oleh Vedra. Mereka saling menyesap dengan penuh kelembutan. 


Vedra membawa tubuh Verda ke pangkuannya, mereka masih tetap mempertahankan posisi di mana gairah sepenuhnya menguasai mereka.


"Verda, apa kau mengizinkanku untuk membuka kancing piyamamu?" tanya Vedra.


"Apakah perlu persetujuan?" Verda balik bertanya.


Verda kembali menyesap bibir Vedra. Mencecapi rasa manis yang memabukkan keduanya dalam gairah yang makin meninggi setiap detiknya.


Vedra membuka kancing piyama Verda, dengan segera melahap bukit kembar yang menantang dan membuat Verda mendesah lirih.


Verda memejamkan matanya, membiarkan Vedra kembali mengeksplorasi dan mengeksploitasi tubuhnya, seperti yang pria itu lakukan di malam sebelumnya.


Mencari dan sama-sama mendambakan kenikmatan.


Verda mengulas senyumnya, saat pria itu sudah bersiap dalam posisi untuk memanjakannya lagi.


Verda mengerutkan keningnya saat menyatukan miliknya dan Vedra.

__ADS_1


"Verda, apa masih terasa sakit?" tanya Vedra.


"Hmm, sedikit," jawab Verda.


Vedra bergerak lebih pelan agar Verda terbiasa dengan miliknya yang kini tenggelam sempurna dalam kehangatan lembah kenikmatan milik Verda.


"Oh, Ved!" Verda tak tahan untuk mendesah.


"Iya, Verda," Vedra menatap Verda yang nampak hilang kendali.


Saat ini ia benar-benar sedang berada di puncak gairah. Vedra memegangi pinggul Verda yang mulai bergerak liar menarikan tarian yang memabukkan.


Peluh segera membasahi tubuh mereka berdua dalam pergulatan syahdu dan penuh dengan kemanjaan yang tak tertahankan.


"Ah! Ah! Ved!" Verda meracau.


"Hmm, ya, Verda," sahut Vedra.


"Ved, aku tidak tahan! Aku tidak tahan!" Verda menegang.


Bola matanya seakan menghilang, deru napasnya tak beraturan, Verda sudah mendapatkan pelepasannya yang menghangatkan milik Vedra dengan cengkeraman yang seakan memelintirnya.


Vedra mengulas senyumnya melihat Verda yang terengah-engah dalam kungkungannya.


"Verda, kau benar-benar sangat cantik," puji Vedra.


Verda tak menyahut, ia masih menikmati sisa-sisa pelepasannya.


Vedra masih belum mendapatkannya, namun ia sungguh senang melihat Verda nampak puas dengan permainan panasnya.


Vedra mempercepat gerakannya karena merasakan ada yang hendak meledak dalam dirinya.


"Ved! Ah! Ah!"


Tubuh Verda terguncang keras seakan ada gempa bumi lokal dengan skala 7,5 Richter.


"Verda," bisik Vedra sambil menciumi Verda yang seakan kehabisan napas.


"Ved! Ha..."


"Verda, aku keluar! Argh!"


Hosh..


Hosh..


Keduanya mengatur napas yang benar-benar nyaris hilang akibat pergulatan mereka. Keduanya terdiam menikmati sisa-sisa pelepasan. Membiarkan waktu memulihkan tenaga mereka.


"Ved, ini bukan mimpi," kata Verda.


"Iya, Verda," jawab Vedra.


Mereka saling berpandangan dan sama-sama mengulas senyum. Merasa sama-sama terpuaskan.


"Ved, apa kau sangat menginginkanku, sampai-sampai terbawa mimpi seperti itu?" tanya Verda.


"Hmm, sepertinya memang begitu," jawab Vedra malu-malu.


Verda tertawa.


"Verda," kata Vedra.


"Ada apa, Ved?" tanya Verda.


"Sepertinya aku menginginkanmu lagi," jawab Vedra tanpa ragu.


"Ya, aku juga menginginkanmu, Ved," jawab Verda.


Kemudian mereka pun kembali mengulangi permainan panas mereka sepanjang malam.


...*****...


Sampai jumpa di episode selanjutnya 🥰


Acil Otor sayang pembaca setia semua.

__ADS_1


__ADS_2