Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 039


__ADS_3

"Verda, perkenalkan ini Vedra yang akan membantu pekerjaanmu."


Mata Verda menangkap sosok pria bertubuh tinggi dan terlihat kurus. Pria itu memakai kacamata berbentuk persegi yang cukup lebar. Rambut hitamnya dipotong pendek dan rapi menyesuaikan bentuk wajahnya yang tegas. Pria itu mengenakan kemeja berwarna hijau gelap dan celana kain berwarna hitam.


"Vedra, meja kerjamu di sebelah sana, selamat bekerja," kata Pak Handoko.


Tugas Pak Handoko untuk memperkenalkan anggota barunya telah selesai. Pria paruh baya itu pun segera kembali ke ruang kerja beliau.


"Namamu Vedra ya, wah, nama kita mirip ya," Verda menyambut kehadiran pria yang terlihat dingin dengan ekspresi wajah yang datar.


Verda mengerutkan alisnya, ia merasa keki sendiri karena pria itu terlihat mematung tanpa ekspresi.


"'Oh ya, ngomong, ngomong, berapa usiamu? Jadi saya bisa menyesuaikan untuk memanggilmu Pak, Mas, atau Abang," lanjut Verda.


"Cukup Vedra saja," pria itu menyahut dingin dengan suaranya yang terdengar berat.


Verda menyeringai lagi, ia hanya berusaha bersikap ramah, terlebih pria inilah yang akan membantu pekerjaannya.


"Oh, begitu, ngomong-ngomong, sebelum bekerja di sini, kau punya pengalaman kerja di "mana?" tanya Verda.


"Jadi, pekerjaan apa yang harus kukerjakan?" Vedra balik bertanya.


Verda kembali menyeringai, sepertinya percuma saja ia berusaha bersikap ramah kepada pria ini.


"Baik, kalau boleh tahu, software akuntansi apa yang biasa kau operasikan?" tanya Verda


"SAP, Microsoft Dynamic GP, Accurate, ada juga..,"


"Oke, oke," potong Verda.


Mulut Verda membulat, pria di hadapannya ini rupanya cukup familiar dengan lebih dari satu piranti lunak akuntansi. Yah, biasanya kebanyakan seorang akuntan memang harus menguasai lebih dari satu piranti lunak.


"Catat ya, tugas akuntan di sini tidak hanya sekadar memeriksa laporan jurnal, rekonsil bank. Data yang masuk harus diolah mulai dari input hingga outputnya. Akuntan di sini harus berperan multi fungsi. Semua dikerjakan hingga perpajakan. Kau sendiri punya sertifikat brevet apa?" tanya Verda.


"'Aku punya sertifikat brevet A dan B, sementara ini aku sedang berusaha untuk mendapatkan sertifikat brevet C," jawab Vedra.


Verda kembali menyeringai, untuk mendapatkan sertifikat brevet A dan B saja, rasanya ia mau gila, apalagi sertifikat brevet C yang merupakan brevet pajak tertinggi di kelasnya?


Yah, sungguh hal yang wajar kalau pria kutu buku ini memang pintar. Kalau tidak pintar mustahil bisa diterima bekerja di Valid Corp., terkecuali dengan bantuan dari orang dalam.


"Oh ya, ngomong-ngomong, kau ini rekomendasi dari siapa?" tanya Verda.


"Tidak ada," jawab Vedra.


"Hee? Yang benar?" tanya Verda penuh selidik.


"Itu benar," jawab Vedra singkat.


"Yah, kau tidak jujur juga tidak apa-apa, toh nanti orang dalam yang merekomendasikanmu akan bicara sendiri," sahut Verda.

__ADS_1


Pria itu tidak menanggapi Verda. Pria itu begitu dingin dan kaku. Bicara hanya seperlunya saja dan itu pun hanya mengenai pekerjaan.


Sungguh bukan tipe pria yang asyik untuk diajak bergaul.


...*****...


"Verda!"


Ctik..ctik..


Lamunan Verda buyar tatkala menoleh ke arah Ican yang menjentikkan jarinya tepat di depan mata Verda.


"Haduh, apa yang kau lamunkan, Verda?" tanya Ican.


"Apaan sih, Can?!" cibir Verda sembari menepis tangan Ican.


"Yee, kau itu, seharian ini melamun terus! Awas kesambet dedemit!" Ican balas mencibir.


Verda mengambil ponselnya, jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Verda segera merapikan meja kerjanya, memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas.


"Loh, kau sudah mau pulang, Verda?" tanya Ican.


"Ya," sahut Verda tanpa semangat.


"Matahari masih ada kau sudah mau pulang? Sungguh pelanggaran, Verda!" gerutu Ican.


"Aku mau pulang cepat," ucap Verda.


"Aku mau shopping," sahut Verda sambil beranjak dari kursinya.


"Eh, oh, ayo kita pergi bersama!" Ican melipir ke mejanya.


Pria itu segera menyambar tasnya dan mengikuti langkah Verda.


Dasar pria menyebalkan! Batin Verda, sekilas ia melintas di depan kubikel Vedra yang terlihat mengabaikan semua orang di sekitarnya.


Pria itu sungguh sedang tenggelam dalam pekerjaannya.


Ponsel Verda bergetar, ia membaca notifikasi yang masuk.


Aku masih harus lembur, akan kujemput jam sembilan malam.


Verda merengut, ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


Masa bodoh! Batin Verda.


...*****...


"Verda, kau mau mencari kado untuk Vedra ya?" tanya Ican masih mengikuti langkah Verda.

__ADS_1


"Tidak," jawab Verda.


"Lah, terus kau mau ke mana?" tanya Ican.


"Ican, aku tidak mencari kado untuk Vedra. Jadi, kau kembali saja bekerja," sahut Verda.


"Verda, kau marah pada Vedra ya?" tanya Ican. "Kau marah karena Vedra mendapat promosi?" 


"Ican," kata Verda. "Terus terang kukatakan padamu aku memang kecewa dengan keputusan Pak Handoko dan pihak manajemen! Hanya saja yang lebih membuatku kesal adalah aku harus mengerjakan lagi pekerjaanku yang dulu! Itu artinya aku akan kembali ke zaman dahulu kala!" tukas Verda.


Kalau kembali ke zaman dahulu kala, itu artinya Verda tidak punya banyak waktu kosong untuk melakukan kegiatan fangirling dan bersantai-santai ria.


Kebebasan dan kesenangannya benar-benar terenggut.


"Sudah ya! Sampai besok!" Verda bergegas pergi.


"Ve-Verda, tunggu!" seru Ican tertahan.


Ican menghela napas berat, pria bernama lengkap Juliansyah itu tiba-tiba mendapat telepon dari Pak Handoko.


...*****...


"Ini daftar outstanding purchase order yang belum disetujui dari pihak pusat. Biasanya Pak Handoko meminta progres laporan ini per minggu. Terus, ada juga laporan permintaan barang dari pihak user, laporan kerusakan, hingga laporan barang bekas yang ada di warehouse," Ican menjelaskan laporan yang biasa ia tangani kepada Vedra.


Vedra memerhatikan secara saksama penjelasan Ican untuk memelajari semua hal baru yang ia butuhkan untuk menggantikan posisi Pak Handoko. Ia mencatat semua hal di buku agenda kerjanya.


"Apa ada hal lain lagi?" tanya Vedra.


"Aku rasa hanya itu saja," jawab Ican.


"Baiklah, terima kasih," kata Vedra.


"Oh ya ngomong-ngomong, Ved, istrimu masih ada hubungan keluarga ya dengan Pak Handoko?" tanya Ican.


"Tidak," jawab Vedra.


"Ah, yang benar?" tanya Ican.


Vedra kembali berkutat di depan layar monitor komputernya.


"Kalau kau tidak ada hubungan dengan Pak Handoko, lantas mengapa kau bisa mendapat posisi sebagai pengganti beliau? Kalau dipikir-pikir ya, kau itu juniornya Verda, harusnya Verda yang mendapat promosi itu," ceplos Ican.


"Aku sungguh tidak masalah siapa pun yang mendapatkan promosi. Aku hanya melaksanakan keputusan dari pihak manajemen," jawab Vedra diplomatis.


"Hmm, ya, kau benar. Tapi aku jadi kasihan sekali melihat Verda, sepertinya Verda sungguh kecewa berat dengan keputusan itu," kata Ican.


"Kau begitu peduli pada Verda," kata Vedra.


"Ya, aku memang peduli pada Verda karena jujur saja aku memang suka padanya," sahut Ican dengan tegas.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2