
Hari sudah menjelang malam saat Vedra memarkirkan mobilnya di pelataran sebuah rumah yang berada di kawasan perumahan elit. Verda segera turun dari mobil.
Vedra menatap sekeliling rumah bergaya modern dan minimalis tersebut, membuatnya merasa insecure. Entah mengapa Vedra merasa sungkan pada Verda karena rumah orang tuanya tidak sebagus rumah orang tua Verda. Ini sama saja seperti membandingkan gubuk dengan istana.
Vedra memang pernah mendengar selentingan berita bahwa Verda adalah anak orang kaya. Beberapa pria yang dulu mendekati Verda kabarnya mundur pelan-pelan lantaran merasa tidak sanggup jika harus meminang Verda. Kebanyakan takut dan tidak mampu jika dimintai uang mahar dengan nominal fantastis.
Ting..tong..
Verda menekan bel rumahnya berkali-kali.
"Bi Sri? Bi Sri!" seru Verda memanggil asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya.
Tak ada sahutan dari Bi Sri membuat Verda menarik kesimpulan bahwa Bi Sri sedang tidak ada di rumah.
"Orang tuamu masih belum kembali?" tanya Vedra.
"Belum, sepertinya mereka sangat menikmati liburan dan tidak ingin diganggu," sahut Verda.
"Oh."
Verda mengeluarkan kunci dari dalam tas untuk membuka pintu rumahnya.
"Ved, aku mau berkemas," kata Verda.
"Ya, aku akan tunggu di sini," sahut Vedra.
"Kenapa kau tidak tunggu di kamarku saja?" tanya Verda.
"Tidak, aku tunggu di sini saja," jawab Vedra dengan cepat.
Verda mencebik, padahal ia bermaksud untuk meminta Vedra membantunya berkemas supaya lebih cepat selesai. Namun pria itu nampaknya tidak bersedia.
Vedra menghela napas berat saat menghempaskan tubuhnya di sofa. Bertanya-tanya mengapa Verda malah mengajaknya ke kamar.
Pikiran Vedra ber-travelling liar. Hanya berduaan di rumah sebesar ini, tentu saja sungguh meresahkan batinnya.
Saat ini ia benar-benar merasa lagi-lagi keimanannya harus mengalami ujian. Verda memang istrinya, tapi hubungan mereka hanya sebatas hubungan antara penjamin dengan apa yang dijaminkan.
Verda begitu menggoda, wanita itu sungguh membuat hasratnya terbakar. Naluri lelakinya meronta-ronta, benar-benar wanita yang sangat berbahaya.
Vedra berusaha menenangkan diri, namun saat melihat Verda menaiki tangga dan memasuki sebuah kamar, Vedra pun tiba-tiba merasa terpanggil. Ia melangkah cepat menaiki tangga dan memasuki kamar wanita itu.
"Vedra?" Verda terperangah karena kemunculan Vedra yang mendadak.
"Verda," Vedra mendekat dan langsung merengkuh Verda.
Tubuh mereka berdua mendarat di atas tempat tidur.
"Verda," Vedra membelai wajah Verda.
Jemarinya menyusuri garis wajah Verda, diusapnya bibir Verda yang tipis dengan rona merah jambu menggiurkan.
Mengagumi wajah Verda dari dekat sungguh membuat jantung Vedra meronta-ronta.
"Ved," suara Verda terdengar lembut dan manis seperti marshmellow.
__ADS_1
Vedra membelai lembut rambut Verda, lalu menghirup dalam-dalam puncak kepala wanita itu. Wangi mint bercampur aroma bunga yang lembut itu membuainya.
Cuping hidung mereka saling bersentuhan, senyum Verda merekah, memamerkan deretan giginya yang rapi.
"Ved, apa kau begitu menginginkanku?" tanya Verda.
"Apa aku perlu menjawabnya dengan kata-kata?" tanya Vedra.
Verda tersenyum lalu menyambut bibir Vedra. Verda meremas rambut Vedra, menandakan bahwa ia begitu menikmati pagutan yang membara.
"Hmmph, Ved," Verda seakan kehabisan napas.
Vedra memberi jeda agar mereka berdua bisa bernapas. Verda mengulas senyumnya lagi sebelum melanjutkan ke adegan berikutnya yang lebih berbahaya.
"Vedra!"
"Vedra!"
Vedra tersentak kaget, matanya segera terbuka.
"Kenapa kau tiduran di lantai begitu?" tanya Verda keheranan.
Vedra baru menyadari bahwa saat ini ia sedang dalam keadaan menelungkup seperti sendok di atas piring. Vedra perlahan bangkit dan kembali duduk di sofa.
Ada apa denganku? Batinnya.
"Kau lelah sekali ya?" tanya Verda.
"Hmm, ya, aku rasa aku kelelahan dan kurang tidur," jawab Vedra menunduk.
Vedra mendelik gusar, wanita ini sungguh tidak sadar telah menjadi sumber utama mengapa Vedra sampai kurang tidur.
Bagaimana jika semalam Vedra khilaf dan benar-benar merealisasikan apa yang menjadi hasrat terpendamnya?
Vedra sungguh bukan lelaki serendah itu yang begitu mudah tergoda meski ia mau tidak mau memang harus mengakui bahwa telah tergoda namun sebisa mungkin ia bertahan untuk tidak terjerumus dalam godaan.
"Sepertinya kau tertidur cukup lama ya, Ved, aku bahkan sempat mandi berendam dengan air hangat," Verda terkekeh lagi.
Vedra kembali mendelik gusar, dalam hati ia benar-benar nelangsa melihat penampilan Verda yang kini hanya mengenakan tank top berwarna merah jambu lembut dan hot pants jeans yang begitu seksi.
Rambut Verda yang panjang masih nampak setengah basah dengan wajah tanpa riasan yang terlihat lebih memesona.
"Aku sudah mengemasi barang-barang yang sementara ini kuperlukan, sisanya bisa kubawa secara parsial," kata Verda.
"Hmm, baiklah kalau begitu, mari kita pergi," sahut Vedra.
"Tolong bawakan kardus itu ya, Ved," pinta Verda sambil menunjuk satu kardus besar yang berada di dekat tangga.
"Baik."
...*****...
Hari sudah sepenuhnya gelap ketika Vedra tiba di rumahnya. Ia segera turun dari mobil dan menuju ke meteran listrik yang terpasang di depan rumah. Tanggal tua dan pulsa listrik di rumahnya sudah habis.
Verda turun dari mobil dan memandang berkeliling area rumah Vedra yang benar-benar gelap gulita.
__ADS_1
Area rumah Vedra jauh dari pemukiman warga karena lahan tersebut kebanyakan berupa lahan investasi yang dibiarkan kosong oleh pemiliknya.
"Ved, apa kau tidak salah tinggal di tempat yang macam jauh dari peradaban begini?" tanya Verda.
"Harga tanah di sini jauh lebih murah daripada membeli rumah di perumahan. Kalau beli rumah di perumahan, kau tidak bisa mendesain sendiri seperti apa rumah yang kau inginkan. Ya memang sih nantinya kau bisa mengubah rumah tersebut sesuai dengan yang kau mau, tapi itu berarti kau harus mengeluarkan dana lagi. Sungguh tidak efisien, kan?" jawab Vedra sambil menekan angka pada panel meteran, memasukkan kode token listrik.
"Ya, tapi bukan berarti kau harus tinggal di kawasan yang tidak ada tetangganya seperti ini," sahut Verda.
"Harga tanah semakin lama semakin naik, mungkin saat ini lokasi ini kurang peminatnya, namun siapa yang akan tahu dalam lima sampai dua puluh tahun yang akan datang, tempat ini akan dipenuhi rumah," ucap Vedra.
"Tanah dan emas merupakan investasi jangka panjang terbaik," lanjut Vedra.
"Ved, apa kau tahu, photo card yang kau buang itu merupakan investasi terbaikku? Harganya semakin lama semakin naik. Jadi kau benar-benar harus bertindak cepat," balas Verda.
Vedra mengerutkan keningnya, sepertinya ia salah sudah menyenggol masalah investasi kepada wanita ini.
Begitu lampu menyala, Vedra segera membuka pintu rumahnya dan mempersilakan Verda untuk masuk.
Verda mengedarkan pandangannya ke rumah berukuran mungil itu, kamar Verda bahkan jauh lebih besar daripada rumah tersebut. Ruangan itu hanya berisi meja makan berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kayu mahogani dengan dua buah kursi.
Vedra mengeluarkan semua barang-barang milik Verda dan meletakkannya di ruangan tersebut.
"Verda, kau bisa menggunakan ruangan itu sebagai kamarmu," Vedra menunjuk ruangan yang berada di bagian depan.
Vedra segera menuju ke kamarnya yang berada di depan dapur. Namun Verda mengikuti Vedra dan ikut masuk ke dalam kamar pria itu. Matanya menyapu kamar berukuran kecil yang dilengkapi dengan tempat tidur, AC, televisi layar datar lengkap dengan sound system.
"Wah, aku rasa lebih baik aku tidur di kamar ini saja!" ceplos Verda.
Vedra tertegun melihat Verda yang langsung naik ke tempat tidurnya.
"Verda, kamarmu ada di depan," kata Vedra.
"Ya, tapi di kamar itu tidak ada tempat tidur dan AC," sahut Verda.
Vedra meneguk ludahnya.
"Vedra, apa kau keberatan berbagi kamar ini denganku?" tanya Verda penuh selidik.
"Hmm, ya, aku memang keberatan, karena biar bagaimana pun aku butuh privasi," jawab Vedra.
"Hmm, tapi bagaimana ya, aku tidak bisa tidur tanpa ada tempat tidur yang layak, tidak ada penyejuk udara. Apa kau serius ingin menjadikan tubuhku sebagai tumbal untuk nyamuk-nyamuk?" tanya Verda.
Vedra kembali meneguk ludahnya. Apa yang harus ia lakukan?
Apa ia memang harus berbagi kamar dengan wanita yang lagi-lagi menguji keimanannya dengan godaan tubuh molek yang begitu mengusik naluri lelakinya?
Apa ini yang dinamakan pesona janda yang begitu menggoda?
Oh tidak, Ved! Tidak! Batin Vedra meronta.
Ingin rasanya ia mencakar-cakar dirinya sendiri agar ia sadar bahwa ia tidak boleh berpikiran macam-macam terhadap Verda.
Diam-diam Verda mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan di kamar itu untuk mencari dan menemukan photo card miliknya yang ia yakini telah disembunyikan oleh pria itu.
...*****...
__ADS_1