Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 035


__ADS_3

Verda menggeliat pelan sambil membuka matanya. Ia terbangun tanpa ada Vedra di sisinya. Rupanya pria itu sudah terbangun lebih dulu. Verda merasa tubuhnya jauh lebih segar begitu bangun dari tidur siangnya.


Verda turun dari tempat tidur, berpegangan pada dinding kamar saat membuka pintu kamar dengan cara menggesernya.


Vedra sedang sibuk memasak di dapur. Pria itu dengan cekatan mengaduk-aduk isi panci yang aromanya begitu memanjakan penciuman.


"Verda, kau sudah bangun, kau mau mandi dulu?" tanya Vedra.


"Hmm, tadi siang aku sudah mandi," sahut Verda.


"Oh begitu," Vedra mengangguk pelan. "Tapi, aku rasa sebaiknya kau mandi lagi. Tubuhku bau matahari dan pasti sudah mencemari tubuhmu," lanjut Vedra.


"Apa maksudmu, Ved?" tanya Verda berpura-pura tidak paham maksud Vedra.


Vedra meneguk ludahnya, ada rasa bersalah karena ia sudah tertidur sambil memeluk Verda.


"Hmm, Verda, aku sungguh minta maaf, aku tidak bermaksud memelukmu, aku ketiduran. Aku memang gampang sekali tertidur ketika merasakan posisi nyaman," Vedra menjelaskan.


"Kau memelukku? Kapan?" tanya Verda kembali berpura-pura.


"Eh, oh, tidak! Apa kau mau makan sekarang? Akan kusiapkan!" sahut Vedra mengalihkan pembicaraan.


Vedra benar-benar merasa salah tingkah, terbangun dalam keadaan memeluk erat Verda yang juga sedang tertidur tentu membuatnya panik sendiri.


Bagaimana jika Verda menganggapnya lancang? Bagaimana jika Verda sampai melaporkannya ke polisi atas tuduhan pelecehan seksual?


Pikiran itulah yang membuat Vedra berinisiatif untuk meminta maaf duluan. Namun melihat Verda yang terlihat tidak menyadari ulah Vedra yang begitu lancang memeluknya, Vedra jadi malu sendiri.


"Hmm, sepertinya lebih baik aku mandi dulu sebelum makan," ucap Verda.


...*****...


Begitu selesai mandi dan berganti pakaian, Verda segera menuju ke meja makan.


Vedra mengambilkan Verda semangkuk sup tahu dan telur beserta sayuran campur.


"Apa kau mau nasi?" tanya Vedra.


"Boleh, setengah porsi saja," jawab Verda.


Verda mengulas senyumnya, entah mengapa ia merasa senang karena Vedra benar-benar melayaninya seakan pria itu adalah seorang butler alias pelayan pribadi.


Mereka segera makan dengan tenang.


"Kau rupanya pandai memasak ya, Ved," kata Verda sambil mencicipi sup di mangkuknya.

__ADS_1


"Tidak bisa disebut pandai, aku memasak supaya ada yang bisa dimakan saja. Kemampuan memasak adalah skill yang harus dimiliki oleh setiap orang untuk dapat bertahan hidup," Vedra menjelaskan panjang lebar.


"Oh wow, kau menjelaskan hal tersebut seakan kau adalah seorang penyintas yang berhasil lolos setelah terjebak selama puluhan tahun dari pulau terpencil saja," Verda terkekeh.


"Sebagai orang yang sudah merantau sejak lulus SMP, jauh dari kerabat dan orang tua, siapa lagi yang bisa kuandalkan selain diriku sendiri?" ucap Vedra.


"'Oh, waw! Aku terkesan!" Nada bicara Verda terdengar mengejek.


Verda kembali menyuapkan sup ke dalam mulutnya. Seharian ini sepertinya lidahnya dimanjakan oleh masakan yang dimasak oleh Vedra.


"Ved, apa kau juga sering memasak untuk kekasihmu?" tanya Verda.


"Aku tidak pernah memasak untuk kekasihku," jawab Vedra.


"Itu berarti, apakah aku wanita pertama yang memakan masakanmu?" tanya Verda.


"Hmm, ya, sepertinya begitu," sahut Vedra.


Verda mengulas senyumnya, entah mengapa tiba-tiba ia merasa senang.


"Lantas, mengapa kau tidak pernah memasak untuk kekasihmu?" tanya Verda


"Hmm, karena justu mereka yang memasak untukku," jawab Vedra dengan cepat.


Senyum di wajah Verda berangsur-angsur menghilang, perasaan senang yang tadi dirasakannya seketika sirna. Seakan taman bunga yang bermekaran dalam hatinya harus ringsek diinjak gajah yang tersasar.


"Wah, terima kasih untuk makanannya," ucap Verda.


"Verda, makananmu masih tersisa," kata Vedra.


"Aku sudah kenyang," sahut Verda.


"Sayang sekali kalau membuang-buang makanan seperti itu," ucap Vedra.


"Yah, namanya aku sudah kenyang! Kalau dipaksa ya aku bisa muntah!" sahut Verda.


Verda kembali ke kamar sementara Vedra pada akhirnya memakan makanan sisa Verda lantaran merasa sayang dengan makanan yang tidak habis dimakan.


Beras itu dibeli pakai uang, dimasak menjadi nasi di penanak yang mengonsumsi listrik. Belum lagi masakan yang dimasak Vedra bahan-bahannya dibeli pakai uang, tidak bisa minta gratis di pasar. Ditambah waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk memasak. Sungguh rugi jika membuang-buang makanan, itulah prinsip Vedra.


...*****...


Verda masih merengut, entah mengapa ia terus merasa kesal mendengar pengakuan Vedra bahwa pria itu justru kerap memakan masakan yang dimasak kekasihnya.


"Dasar, laki-laki rakus! Tukang makan!" Verda merutuk kesal.

__ADS_1


Mata Verda kembali tertuju pada lemari pakaian pria itu. Beberapa malam ini Verda memang tidak melanjutkan kembali pencarian photo card yang mungkin disembunyikan oleh Vedra.


Verda menghampiri lemari pakaian pria itu lalu memulai kembali penggeledahan. Terakhir kali ia memeriksa lemari tersebut, Vedra memergokinya. Padahal Verda seakan sudah menemukan sesuatu di antara tumpukan baju milik Vedra.


Verda mencoba mengingat-ingat, rak mana yang membuatnya menemukan benda itu. Daripada repot-repot menggeledah dari awal lagi.


Verda menebak-nebak, pilihannya jatuh di rak tengah. Tangannya mulai menyusup di antara tumpukan baju milik Vedra. Verda menyeringai saat tangannya menyentuh sesuatu di dasar rak. Perlahan Verda menarik benda itu, jangan sampai menghambur pakaian yang tersusun rapi.


"Aha!" Verda kegirangan saat berhasil menarik keluar benda yang ditemukannya.


Hanya saja benda tersebut ternyata bukanlah photo card yang dicari oleh Verda. Verda menahan napasnya saat melihat pas foto berukuran 4x6, berlatar biru dengan objeknya yakni Vedra bersama seorang wanita yang tak lain adalah Silvia.


"Cih, sial, kupikir ini photo card Jehun! Ternyata malah foto gandeng pria itu dengan kekasihnya," gumam Verda.


Verda mencebik melihat senyum lebar Silvia yang nampak begitu bahagia. Silvia dan Vedra mengenakan kemeja putih yang biasa digunakan sebagai pakaian untuk foto keperluan administrasi menikah.


"Pria itu hanya meminta pas fotoku, tapi dia masih menyimpan foto gandengnya di lemari pakaiannya. Dasar playboy cap gayung pecah!" gumam Verda.


Verda mengembalikan foto tersebut ke tempatnya. Entah mengapa ia merasa kesal, oleh sebab itu, Verda memindahkan foto tersebut ke rak paling bawah. Namun, kemudian tangan kiri Verda membawa foto itu keluar dari lemari dan memasukkannya ke celah sempit yang ada di bawah lemari.


...*****...


Sementara itu di lain pihak, Vivie sudah menyiapkan oleh-oleh yang diminta oleh kakaknya. Ada dress pantai berwarna jingga cerah, tas, dan sandal model gladiator tanpa hak yang menjadi pilihan kakak Vivie.


"Vie, lihat," kata Bian sambil menunjukan gawainya pada Vivie.


"Ada apa, Bi?" tanya Vivie.


"Di grup kantorku sedang heboh membicarakan masalah Bosku yang sedang cari jodoh," sahut Bian.


"Aduh, Bi, apa kamu sungguh berpikir akan mengikut sertakan Kak Verda?" tanya Vivie.


"Vie, Kak Verda itu begitu seksi. Tipe wanita yang biasa dikencani Bosku," jawab Bian.


"Bi, maaf ya, tapi aku rasa lebih baik tidak perlu mengaturkan  perjodohan untuk Kak Verda."


"Vie, ini Bosku sedang cari istri loh. Bayangkan kalau Bosku memilih Kak Verda menjadi istrinya, aku akan jadi adik ipar Bosku. Tidakkah itu hal yang luar biasa?"


"Bi, bukannya Bosmu itu playboy berat yang mengganti wanita macam ganti pakaian? Masa iya kamu tega menjodohkan Kak Verda dengan lelaki macam itu?" tanya Vivie.


"Vie, Bosku itu bukannya playboy, beliau hanya mencari wanita yang pas untuk mendampinginya," jawab Bian.


Vivie memasang wajah merengut.


"Vie, kita coba saja dulu, toh keputusan ada di tangan Bosku. Anggap saja seperti mengikuti giveaway," pungkas Bian.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2