
Pesta ulang tahun Pak Daus hanya dihadiri oleh beberapa kerabat dekat dan teman-teman karib Pak Daus. Acara tersebut bukanlah pesta yang mewah dan meriah dengan hiasan balon aneka warna maupun dihibur oleh badut ultah. Hanya acara makan malam biasa yang dimulai dengan doa bersama.
Verda menunggu Vedra yang belum juga kembali dari toilet. Entah toilet mana yang dikunjungi oleh pria itu.
"Kakak, cari Jehun kw?" tanya Vivie yang bisa membaca gelagat Verda.
"Vie," Verda melotot.
"Tadi aku bertemu dengannya, Kak, tapi sepertinya dia terlalu sungkan untuk bergabung di sini," kata Vivie.
"Aku rasa aku harus menjemputnya," tukas Verda.
"Kak, jangan merusak suasana!" cegah Vivie.
"Vie, apa maksudmu?" tanya Verda.
"Kalau Kakak mengajak Jehun kw kemari dan bertemu dengan Abim, menurut Kakak, kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya?" Vivie balik bertanya.
"'Lihat! Ayah bahkan begitu sibuk bersama Kak Abim!"
Verda mendelik gusar.
"Kalau begitu, lebih baik aku pergi saja," ucap Verda.
"Kak! Jehun kw super itu tidak akan ke mana-mana, dia sudah bilang akan menunggu Kakak!" cegah Vivie.
"Tapi, Vie," keluh Verda.
"Kak! Kenapa Kakak ngotot membawa dia? Padahal sudah tahu ayah tidak akan suka!" tukas Vivie.
"Vie, siapa tahu ayah berubah pikiran," ucap Verda.
"Kak, apa Jehun kw itu memperlakukan Kakak dengan baik?" tanya Vivie.
"Vie, suamiku sungguh pria yang sangat baik," jawab Verda.
"Kak, apa Kakak sungguh mencintai si Jehun kw?" tanya Vivie.
Verda terdiam, ia tidak segera menjawab pertanyaan Vivie. Saat ini perasaannya pada Vedra sungguh tak menentu. Namun saat ini pula Verda ingin hubungan mereka bisa mendapat persetujuan dari ayahnya.
"Vie, saat ini yang terpenting bagiku adalah aku sudah menikah, dan aku tidak ingin rujuk dengan Abim!" sahut Verda tegas.
Abim masih berbincang-bincang dengan Pak Daus beserta beberapa kerabat terdekat yang menyambut baik keinginan Abim untuk rujuk kembali dengan Verda. Abim sungguh berusaha keras untuk mendapatkan kembali dukungan dari kerabat Pak Daus.
Verda segera menghampiri Abim.
"Abim, apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Verda.
"Baiklah," jawab Abim. "Pak, saya permisi sebentar, mau bicara dengan Verda," Abim berpamitan.
"Silakan," sahut Pak Daus sambil mengulas senyum ramah.
Abim segera mengikuti Verda, mereka menuju ke halaman belakang restoran.
"Abim, ada hal yang harus kusampaikan padamu terkait masalah permintaan rujuk. Jujur saja, aku tidak ingin kembali rujuk denganmu," kata Verda.
__ADS_1
Abim terdiam, matanya masih tertuju pada Verda yang menatapnya dingin.
"Verda, kedua orang tuamu, bahkan keluarga besarmu, sudah menyetujui hal tersebut," tukas Abim.
"Abim, orang yang punya kuasa atas hidupku adalah aku! Aku tidak ingin rujuk denganmu! Hubungan kita sudah berakhir sejak lima belas tahun silam!" tandas Verda dengan tegas.
"Verda, kita bisa memperbaiki kembali hubungan kita! Memulai semuanya dari awal lagi dan aku berjanji, aku tidak akan mengulangi kesalahanku! Saat itu kita berdua masih begitu muda, Verda! Aku sadar, bahwa aku salah karena terlalu menuruti egoku dan mengabaikan apa yang menjadi inginmu!" kata Abim.
"Aku masih belum dewasa, belum bisa berpikir bijaksana, dan tentunya masih mengedepankan emosi semata," lanjut Abim.
"Abim, aku tidak bersedia rujuk denganmu!" tukas Verda.
"'Kenapa kau tidak mau rujuk denganku, Verda?" tanya Abim.
"Bukankah aku sudah meminta maaf padamu dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama? Apa lagi yang harus kubuktikan agar kau menerima kesungguhanku?" tanya Abim.
"Aku bahkan membatalkan rencana pernikahanku, demi menunjukkan keseriusanku padamu!" lanjut Abim.
"Abim, aku tidak pernah memintamu untuk memberiku bukti apapun! Lagipula, saat ini aku sudah menikah! Aku sudah berbahagia bersama pria yang kupilih sendiri!" tukas Verda.
"A-apa? Kau sudah menikah?" tanya Abim.
"Ya, aku sudah menikah! Jadi, lebih baik lupakan saja keinginanmu untuk rujuk denganku!" jawab Verda.
"Kenapa Verda?! Kenapa kau tidak memaafkanku?!" sergah Abim.
"'Abim, aku sudah memaafkanmu, tapi aku sungguh tidak bisa melupakan semua perlakuanmu!" lanjut Verda.
"Siapa?! Siapa laki-laki itu, Verda?" tanya Abim dengan nada geram yang tak bisa disembunyikannya.
Verda mengulas senyum dingin. Ia segera meninggalkan Abim yang mematung.
...*****...
Verda kembali ke tempat acara, dengan segenap rasa ingin tahu, Vivie segera menghampiri kakaknya. Vivie sempat melihat sebelumnya Verda pergi meninggalkan tempat acara bersama Abim.
"Kak, apa yang Kakak bicarakan dengan Kak Abim?" tanya Vivie.
"Aku mengatakan dengan tegas padanya bahwa aku menolak rujuk, dan aku sudah menikah," jawab Verda.
Vivie terperangah mendengar pengakuan kakaknya yang memang tipikal orang yang kerap berterus terang.
Mata Verda menangkap sosok Vedra yang msmasuki ruangan. Pria itu segera menghampiri kedua orang tua Verda. Pak Daus dan Bu Eva terkejut melihat kedatangan Vedra. Semua karib kerabat langsung terfokus pada pria itu.
"Saya ucapkan selamat ulang tahun untuk panjenengan, hanya doa-doa terbaik yang bisa saya panjatkan kepada Tuhan untuk panjenengan," Vedra menundukkan kepalanya.
Pak Daus jelas bisa menangkap tatapan penuh tanda tanya yang tertuju pada sang pria misterius.
"Hmm, ya, terima kasih," sahut Pak Daus.
Verda segera menghampiri Vedra. Merangkul lengan pria itu.
"Sayang," Verda mengulas senyum riang.
"Maaf ya, aku terlambat," kata Vedra pada Verda.
__ADS_1
Bu Eva mencium aroma-aroma kurang sedap dari ekspresi wajah Pak Daus yang langsung berubah masam. Bu Eva sungguh harus menyelamatkan situasi.
"Ayo, kemari," Bu Eva segera mengajak Verda dan Vedra meninggalkan Pak Daus.
Mereka bertiga keluar dari ruang VIP melalui pintu belakang.
"Ibu tidak bermaksud untuk mengusir dia, tapi Ibu cemas jika dia ada di sini nantinya akan menimbulkan masalah," kata Bu Eva mengarahkan pandangannya pada Vedra.
"Baik, saya mengerti," jawab Vedra.
"Ved," cegah Verda.
"Verda, tidak apa-apa, aku paham posisiku," kata Vedra.
Verda menatap ibunya.
"Bu, kalau begitu, aku pergi dulu," kata Verda.
"Verda," cegah Bu Eva.
"Bukankah sudah kukatakan bahwa aku akan datang ke acara ayah asalkan bersama suamiku? Bukankah Ibu sudah menyetujuinya?" tanya Verda.
"Tapi, Verda," kata Bu Eva tertahan.
"Verda, jangan begitu, aku sungguh tidak apa-apa, aku bisa menunggumu sampai acara selesai," kata Vedra.
"Tidak, Sayang, aku datang bersamamu, itu berarti kita harus bersama," tukas Verda bersikeras.
Baru kali ini Bu Eva melihat Verda yang seperti itu, terlebih kepada seorang pria. Sepertinya hubungan mereka berdua jauh lebih dalam dari yang disangka oleh Bu Eva. Yah, sungguh hal yang wajar karena mereka berdua adalah pasangan suami istri.
"Ayo kita pergi," ajak Verda.
Vedra menatap Verda yang terlihat kesal.
"Baiklah, Bu Eva, kalau begitu, kami pamit undur diri, salam untuk Pak Firdaus," kata Vedra.
"Ibu, sampai jumpa," Verda memeluk ibunya sebelum pergi.
Bu Eva hanya bisa menghela napasnya melihat kepergian Verda.
...*****...
Abim masih terdiam dengan pengakuan mengejutkan yang diutarakan Verda. Verda menolak ajakan rujuk dan malah telah menikah.
Yang benar saja! Sial! Abim mengumpat dalam hati.
"Ada apa, Pak Abim?" tanya Hengki begitu menghampiri bosnya.
"Hengki, coba kau cari siapa pria yang menikahi Verda!" jawab Abim.
"Bu Verda sudah menikah, Pak?" tanya Hengki keheranan.
"Aku sungguh harus membuat perhitungan pada laki-laki itu! Laki-laki bedebah yang sudah berani merebut milikku!" jawab Abim.
"Baik, Pak Abim, saya mengerti," tutup Hengki.
__ADS_1
...*****...