Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 100


__ADS_3

Setiap kali melihat Pak Daus, nyali Vedra benar-benar seakan menciut. Pria paruh baya itu sungguh terlihat macam ibunya yang dulu menyambutnya dengan ekspresi penuh kemarahan setiap kali Vedra kecil pulang bermain ketika menjelang magrib. Ibunya akan melotot lalu mengomel, menyeretnya ke kamar mandi lalu mengguyurnya dengan air dingin.


Yah, biar kata ibunya selalu mengomel seperti itu, tetap saja keesokan harinya dan hari-hari berikutnya Vedra kecil akan mengulangi kesalahan yang sama. Harap maklum, namanya juga masih anak-anak.


Namun kali ini Vedra benar-benar merasa gentar dengan mata Pak Daus yang nampak sembap lantaran air mata yang menggenang di pelupuk mata beliau.


Di saat yang sama perhatian Vivie teralih pada sosok pria bertubuh jangkung yang kini menghampiri mereka. Pria itu terlihat asing namun familiar di mata Vivie.


"Jehun kw," Vivie mencoba menebak siapa pria asing itu.


Pria itu mengangguk, "Bagaimana keadaan Verda?"


Vivie beranjak dari tempat duduknya, menghampiri pria itu lalu mendorongnya dengan keras.


"Ke mana saja kau?! Kenapa baru datang sekarang?!" amuk Vivie.


"Vie!" Bian segera meringkus Vivie.


"Bagaimana kakakku bisa sampai kecelakaan seperti ini?!" teriak Vivie.


Vedra hanya bisa menunduk, rasa bersalah seketika menyergapnya.


"Vie, tenang," pinta Bian sambil memeluk erat Vivie.


"Bagaimana aku bisa tenang, Bi?! Laki-laki ini pastilah penyebab semuanya!" cecar Vivie.


"Vivie, cukup!" sergah Pak Daus.


"A-ayah," Vivie tersentak kaget.


"Saat ini mau marah padanya juga percuma! Toh semua sudah terjadi! Yang bisa kita lakukan saat ini adalah berdoa, memohon kepada Tuhan agar Verda segera sadar dari koma," ucap Pak Daus dengan tegas.


Vivie kembali menangis dalam pelukan Bian.


"Vie, tenanglah," kata Bian.


Vedra masih menegang, saat ini pikirannya benar-benar kosong. Matanya menatap pintu ruang ICU yang tertutup rapat. Di dalam sana, Verda sedang terbaring dengan peralatan medis lengkap untuk menopang hidupnya.


"Apa kau tahu, saat ini kakakku sedang berjuang untuk tetap hidup?! Dan kau datang hanya untuk bertanya bagaimana keadaan kakakku?!" Vivie melontarkan ujaran bernada kebencian ke arah Vedra.


Vivie harus meluapkan kemarahannya kepada pria itu. Ia sangat yakin bahwa pria itulah yang menjadi penyebab utama kecelakaan Verda.


"Di mana kau saat kakakku kecelakaan?" tanya Vivie.


"Apa kau sedang bersama wanita lain?" tanya Vivie lagi.


Vedra tertegun, saat ini dalam benaknya berputar dengan cepat perdebatan yang semalam ia lakukan bersama Verda.


Vedra masih mengingat dengan jelas ekspresi kecewa Verda dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata wanita itu.

__ADS_1


"Apa Silvia jauh lebih penting dariku?"


"Apa mengantar Silvia pulang menjadi prioritas utamamu daripada aku?"


"Ved, apakah menurutmu hubungan kita selama ini tidaklah penting?"


Pertanyaan Verda berputar-putar dalam benaknya bak lagu-lagu Korea yang biasa disenandungkan Verda. Ada rasa sesak yang perlahan mencengkeram erat paru-parunya, membuatnya kehilangan kemampuan untuk bernapas seperti biasanya.


"Tebakanku benar ya?!" tanya Vivie.


Vedra seakan kehilangan kemampuannya untuk menjawab pertanyaan Vivie. Ia merasa tak mampu untuk menyangkal bahwa kemarin ia memang bersama wanita lain, yakni Silvia.


"Tega! Kau sungguh tega! Apa kau sungguh senang mempermainkan wanita?!" cecar Vivie.


Ingin rasanya Vivie mencakar dan menjambak rambut pria itu untuk meluapkan rasa kesalnya.


"Vivie, sudah cukup," Bian mempererat pelukannya pada Vivie.


Begitu pintu ruang ICU terbuka, seorang dokter berpakaian APD lengkap keluar dari ruangan tersebut.


"Keluarga Nona Verdanica," kata dokter tersebut.


"Dokter, bagaimana kondisi anak saya?!" Bu Eva menjadi orang pertama yang menyambut dokter tersebut.


"Bapak, Ibu, mari kita sama-sama berdoa, agar Nona Verdanica dapat segera melalui masa kritisnya," kata dokter tersebut singkat.


Bagai tersambar petir di siang bolong, Bu Eva langsung merosot ke lantai sambil menangis.


Pak Daus menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Beliau tak kuasa menahan tangisnya.


Sungguh pemandangan yang menyesakkan, namun saat ini itulah yang harus dihadapi oleh Vedra.


...*****...


Vedra melangkah gontai mengikuti langkah Pak Daus yang mengajaknya untuk bicara. Mereka berdua menyusuri koridor rumah sakit yang mulai sepi begitu jam besuk berakhir.


Pak Daus mengajak Vedra keluar dari gedung rumah sakit, menuju ke taman yang difungsikan sebagai tempat bermain anak-anak untuk menunggu orang tua mereka yang sedang membesuk pasien. Peraturan di rumah sakit tersebut cukup ketat, anak di bawah usia dua belas tahun tidak boleh memasuki gedung kecuali pasien yang sakit.


Pak Daus memegangi salah satu ayunan dari dua buah ayunan yang tersedia. Pria paruh baya itu masih bungkam terhanyut dalam keheningan.


"Setiap kali melihat ayunan seperti ini, saya selalu teringat ketika Verda masih kecil. Saya selalu menemani Verda untuk bermain ayunan, mendorongnya dari belakang dan Verda akan tertawa senang lantaran merasa ia sedang terbang," Pak Daus mulai bercerita.


"Jujur saja, saya ini adalah orang tua yang selalu mengutamakan kebahagiaan keluarga saya, meski kadang apa yang saya lakukan tidak selalu dianggap seperti itu, terutama oleh Verda. Bagi Verda, saya mungkin orang tua yang terlalu kolot, memaksakan kehendak kepada Verda tanpa memikirkan perasaannya. Dianggap menentang keputusan besar dalam hidup Verda, terutama saat Verda memutuskan untuk menikah denganmu," kata Pak Daus.


"Saya memang menentang pernikahan kalian, dan belum menyetujui pernikahan tersebut, karena saya merasa bahwa kau belum mampu untuk menjaga Verda. Dan lihatlah, akibat ketidakmampuanmu, anak perempuan saya yang begitu berharga harus meregang nyawa seperti itu."


"Coba kau posisikan dirimu sebagai saya. Apa yang akan kau lakukan, kalau kau menjadi saya?"


Vedra hanya bisa diam dan mendengarkan.

__ADS_1


"Saya sungguh tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara kalian berdua. Jika apa yang dikatakan oleh Vivie mengenai kau bersama wanita lain itu adalah benar, toh saya bisa berbuat apa?"


"Mau marah percuma, buang-buang tenaga. Tekanan darah tinggi saya bisa naik. Bisa-bisa nanti justru saya yang terkena stroke."


"Mau menuntut pertanggung jawaban darimu? Tapi Verda mengalami kecelakaan tunggal dan kau sedang tidak bersamanya."


Pak Daus tetap menjaga nada bicaranya, santai namun benar-benar menghujam bak seribu sembilu ke ulu hati Vedra.


"Sekarang saya tanya, kau maunya apa?" tanya Pak Daus.


Vedra masih tetap diam lantaran benar-benar merasa sangat bersalah.


"Kalau mau saya sih, lebih baik kalian berpisah baik-baik. Kalau kau merasa sulit berpisah baik-baik, sekarang kau pergi tanpa permisi toh tidak ada masalah bagi saya." 


"Pak Daus," Vedra memberanikan dirinya untuk menyela.


"Saya menyadari bahwa saya telah melakukan kesalahan. Tapi setidaknya tolong beri saya kesempatan untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Verda," kata Vedra.


"Saya rasa tidak perlu," kata Pak Daus.


"Pak Daus, saya adalah suami Verda, Verda adalah tanggung jawab saya," tukas Vedra bersikeras.


"Kalau kau memang merasa suami Verda, harusnya kau berada di sisi Verda, menemani dan melindunginya! Bukannya malah membiarkannya hingga celaka seperti ini!"


"Kalau kau memang sudah merasa bosan, lelah, dan ingin berhenti bermain rumah-rumahan dengan Verda, silakan kembalikan Verda dalam keadaan seperti saat kau mengambil Verda dari saya!"


Vedra merosot, bertumpu pada lututnya di hadapan Pak Daus.


"Pak Daus, tidak masalah jika Anda memang tidak memaafkan saya. Namun setidaknya beri saya kesempatan untuk melakukan yang bisa saya lakukan untuk Verda! Saya mohon!" pinta Vedra.


"Verda adalah istri saya, saya punya kewajiban untuk mendampinginya dalam kondisi apapun. Saya tidak ingin Anda menganggap saya hanyalah pria yang hanya ingin bersenang-senang saja dengan Verda! Saya bukan pria seperti itu!"


Pak Daus menghela napas berat melihat Vedra yang berlutut dan memohon dengan sangat kepadanya. Perasaan Pak Daus saat ini benar-benar campur aduk. Ada rasa marah, kesal, jengkel, sedih, dan juga iba yang memorak-porandakan hatinya.


Hati orang tua yang benar-benar terluka melihat anaknya harus meregang nyawa, berjuang untuk tetap terus bertahan hidup.


"Baiklah, begini saja, semua keputusan ada di tangan Verda! Jika Verda tersadar dan memilih untuk memaafkanmu, saya akan menerimanya. Namun jika tidak, kau harus menerima konsekuensinya," tukas Pak Daus.


Vedra tertegun mendengar pertaruhan yang diberikan Pak Daus. Namun bagi Vedra ini adalah kesempatan yang harus diambilnya untuk menebus kesalahannya terhadap Verda.


"Terima kasih, Pak Daus! Terima kasih!" Vedra menunduk dalam.


Pak Daus meninggalkan Vedra yang mulai meneteskan air mata lantaran merasakan perasaan menyesal yang teramat dalam.


Ini salahnya karena membiarkan Verda pergi begitu saja. Ini salahnya karena tidak bisa menjaga Verda dengan baik.


Ini salahnya dan Vedra harus menebus kesalahannya.


...*****...

__ADS_1


Pembaca kesayangan author, season satu untuk Lelaki Jaminan sudah selesai. Kisah ini akan berlanjut ke season dua yang sekarang masih author garap. Sampai jumpa di season dua ya..


You are my favorite 💜


__ADS_2