
Bunyi alarm dari ponsel Vedra membuat pria itu menggeliat pelan, menggapai-gapai rak yang ada di kepala tempat tidurnya.
Masih dalam keadaan setengah terpejam, ia mengambil ponselnya untuk melihat jam. Vedra terbelalak, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat.
"Oh, tidak!"
Ia terkesiap, melompat dari tempat tidur dan langsung menuju ke kamar mandi. Cepat-cepat ia mengguyurkan air dingin yang membuat tubuhnya menggigil seketika.
"Ved," seru Verda.
Vedra membuka pintu kamar mandi, memunculkan kepalanya dari celah pintu.
"Kau lupa membawa handuk," kata Verda mengulas senyum ramah, menyodorkan handuk yang ia ambil dari jemuran.
"Te-terima kasih," jawab Vedra.
Entah mengapa Vedra merasa berdebar-debar. Dalam benaknya saat ini bermunculan potongan-potongan kemesraannya dengan Verda. Entah sejak kapan, Verda menjadi objek mimpi basahnya. Ia kerap bermimpi melakukan hubungan intim dengan Verda.
Semalam bahkan Vedra merasa telah melakukan hubungan intim dengan Verda. Semuanya terasa begitu nyata. Verda yang mendesah dan mengerang di bawah kungkungannya sungguh memporak-porandakan akal sehatnya.
Begitu selesai mandi, Vedra bergegas kembali ke kamarnya untuk berpakaian. Ia segera mengambil kemeja berwarna abu-abu terang dan celana panjang hitam. Ia mematut dirinya di depan cermin, matanya tertuju pada lebam kemerahan yang berada di sekitar tulang selangkanya. Selain itu, terdapat dua lebam lain di sekitar dadanya.
"Apa aku ada salah makan?" tanya Vedra keheranan.
"'Oh, tidak! Aku benar-benar bisa terlambat!" Vedra segera bersiap-siap.
Ia beralih pada tempat tidur yang masih berantakan. Vedra tertegun melihat bercak darah pada seprei putihnya. Ia segera membuka seprei dengan cepat.
"Verda," kata Vedra begitu keluar dari kamar.
"Ada apa, Ved?" tanya Verda yang masih mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut.
"Kau sedang datang bulan ya?" tanya Vedra.
Verda terdiam sambil memandangi wajah Vedra.
"Lain kali, pakai pembalut khusus malam hari, jadi tidak bocor ke mana-mana," kata Vedra sambil memasukkan seprei ke dalam keranjang cucian.
Ekspresi Verda seketika masam.
"Ayo kita pergi sekarang, kita benar-benar akan terlambat," ajak Vedra.
...*****...
Verda masih memandangi wajah Vedra yang nampak serius mengemudikan mobilnya.
"Ada apa, Verda? Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Vedra sambil mencuri pandang ke kaca spion belakang.
Verda masih tetap diam, memasang ekspresi kesal yang tak bisa disembunyikannya.
"Verda, kau mau sarapan apa? Bubur ayam? Nasi kuning? Nasi pecel? Lontong sayur?" tanya Vedra.
Verda mendelik gusar, ia segera membuang pandangannya ke luar jendela.
Begitu sampai di area parkir gedung, Verda bergegas turun dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Vedra memutar bola matanya, bertanya-tanya mengapa Verda tiba-tiba ngambek seperti ini.
Apa dia tersinggung karena aku menyuruhnya pakai pembalut khusus malam hari? Batin Vedra.
"Verda!" sapa Ican begitu melihat Verda memasuki ruangan kerja.
"Oh waw, Verda, kenapa hari ini kau menyusut ya?" tanya Ican mengekori Verda.
Verda hari ini tidak memakai sepatu berhak tinggi dan lebih memilih memakai sepatu flat.
"Haha, ya, kakiku sedang sakit," sahut Verda.
"Sakit kenapa, Verda? Kakimu keseleo?" tanya Ican.
__ADS_1
"Hanya pegal-pegal saja," sahut Verda segera menarik kursinya.
Verda begitu berhati-hati saat meletakkan bokongnya di atas kursi.
"Pagi, Ved!" sapa Nita dan Teti begitu melihat Vedra memasuki ruangan kerja.
"Pagi," sahut Vedra dengan datar, seperti biasanya.
"Oh ya, Ved, jadi hari ini kita makan siangnya apa ya?" tanya Nita.
"Terserah saja, yang penting sesuai dengan budget, pastikan sebelum jam dua belas siang makanan yang dipesan sudah datang," jawab Vedra.
Vedra segera memasuki ruangan kerjanya.
"Jadi, kalian mau makan siang apa?" tanya Teti melemparkan pertanyaan.
"Nasi padang? Ayam bakar? Nasi campur?" tanya Nita.
"Ayo lekas voting, jadi langsung dipesan," kata Teti menambahkan.
"Jadi, Verda, kau mau makan apa?" tanya Ican.
"Aku mau makan orang!" gerutu Verda sambil melemparkan tatapan kesal ke ruangan Vedra.
"Waduh, apa kau pikir kau itu anaconda?" Ican terperangah mendengar gerutuan Verda.
"Hehe, aku ikut kalian pesan apa, tapi jangan ayam geprek," sahut Verda seraya terkekeh.
Verda kembali melemparkan tatapan kesal ke ruangan kerja Vedra.
...*****...
Verda masih berkutat di depan monitor komputernya. Memeriksa data laporan rekonsiliasi yang dikirimkan oleh tim keuangan dari kantor pusat.
Sementara Nita dan Teti keluar dari pantri, keduanya baru saja selesai makan siang.
"Oh ya, sebentar, masih tanggung," sahut Verda.
"Ngomong-ngomong, Ican ke mana ya? Dia nekat keluyuran lagi?" tanya Teti.
"Dasar Ican!" cibir Nita.
"Verda, sebentar lagi jam satu loh," Teti mengingatkan.
"Oke... oke," sahut Verda segera beranjak dari kursinya.
Verda melangkah pelan menuju ke pantri. Nita dan Teti saling melemparkan pandangan melihat cara berjalan Verda yang terlihat aneh.
Verda mengambil satu kotak makan siang yang masih tersisa di meja pantri. Ia segera duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Beberapa pegawai yang sudah selesai makan, segera kembali ke ruangan kerja.
Vedra memasuki pantri, mengambil jatah makan siangnya lalu duduk di sisi meja yang berlainan dari Verda.
"Verda!" seruan Ican memenuhi pantri.
Verda melongo melihat Ican membawa dua buah durian yang masih utuh di kedua tangannya.
"Oh, jadi kau keluar buat beli durian?" tanya Nita yang langsung menghampiri Ican.
"Iya, tadi aku dikabari penjualnya, makanya langsung meluncur," sahut Ican.
"Gila, wanginya sudah ke mana-mana begini," Teti menimpali.
"Ini durian super! Masak di pohonnya! Dijamin mantap!" sahut Ican begitu antusias sambil mencari pisau di lemari penyimpanan.
"Ihiy, Ican mau belah duren!" goda Teti.
"Kalau belah duren aku maunya sama Verda! Bagaimana, Verda?" tanya Ican.
"Haha," Verda menyahut dengan tawanya.
__ADS_1
"Kau mau belah duren sama aku?" tanya Ican.
"Hei, Ican, ajak nikah dulu, baru ajak belah duren!" Nita menjotos kepala Ican.
"Yee, sekarang kan zamannya pecah berarti membeli!" cerocos Ican.
"Ahaha, kiblatmu arahnya ke mana Can?" Nita terkekeh.
"Bagaimana, Ved? Kau aliran pecah berarti membeli, atau beli dulu baru dipecah?" tanya Ican ke arah Vedra.
Vedra yang sedari tadi diam sambil menyantap makan siangnya memilih mengabaikan pertanyaan Ican.
"Ahaha, Ican, kau tidak boleh tanya-tanya urusan ranjangnya orang! Tidak sopan!" Teti mencubit mulut Ican.
"Yee, tanya doang, tidak dijawab tidak masalah, toh tidak memaksa," sahut Ican.
Ican akhirnya menemukan pisau yang ia cari.
"Wohoo, mari kita belah durennya!" seru Ican antusias.
Ican mengerahkan segenap tenaganya untuk membuka kulit durian.
Verda tertawa melihat ekspresi Ican yang persis seperti hendak mengeluarkan BAB yang begitu keras.
Dia bisa tertawa seperti itu, kenapa justru cemberut padaku? Batin Vedra bertanya-tanya.
"Ih gila, susah amat ya ini duren!" keluh Ican.
"Aih, Ican, baru belah duren begini saja kau susah, apalagi belah duren malam pengantin!" ejek Teti.
"Yee, duren yang itu pisaunya lain dong, Tet! Sumpah keras amat ini duren!" keluh Ican.
"Ved, tolong bantu Ican, dia tidak bisa belah duren!" pinta Nita.
Vedra yang sudah selesai menyantap makan siangnya lalu menghampiri mereka.
"Kemarikan pisaunya," kata Vedra.
Vedra dengan cekatan membuat sayatan halus namun dalam, dengan satu hentakan keras, buah durian itu pun terbelah sempurna.
"Wohoo! Bravo, Ved! Luar biasa! Ved, kau jago belah duren!" Nita dan Teti bersorak sambil bertepuk tangan.
"Haha, ya iyalah Ved sudah jago belah duren! Tiap hari duren istrinya dibelah terus!" seloroh Ican.
"Uhuk.. uhuk... ," Verda terbatuk-batuk, air yang diminumnya muncrat mengenai Vedra.
"Waduh! Verda, jorok sekali kau!" seru Teti.
"Ini, Ved, lap pakai tisu!" Nita cepat-cepat menyapukan tisu ke pakaian Vedra.
"Tak apa," kata Vedra menolak bantuan Nita.
Vedra segera mengambil air dari dispenser.
Verda pun segera beranjak dari kursi, sesi makan siangnya telah selesai.
"Verda, ngomong-ngomong cara jalanmu kok aneh begitu?" tanya Nita.
"Yah, namanya juga habis belah duren, Nit! Haha!" sahut Verda seraya tertawa.
"Uhuk..uhukk...," Vedra terbatuk, tersedak air yang diminumnya.
Verda memicingkan matanya ke arah Vedra yang balas memandangnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
Ada apa denganmu, Verda? Batin Vedra bertanya-tanya.
Ada apa denganmu, Ved? Batin Verda bertanya dengan segenap rasa kesal yang berkecamuk dalam dadanya.
...*****...
__ADS_1