
Verda memasuki kamar begitu ia selesai mandi. Ia mengenakan piyama set bermotif papan catur yang ia beli sebagai kado pernikahan. Setengah lusin untuknya dan setengah lusin untuk Vedra.
Terlihat Vedra sudah berbaring dalam posisi memunggunginya.
Ada rasa kesal yang masih berkecamuk dalam dada Verda. Perkataan Vedra mengenai dirinya sungguh membuatnya jadi kepikiran.
Verda segera naik ke atas tempat tidur, matanya masih tak melepaskan pandangannya dari Vedra.
"Ved, kau sudah tidur?" tanya Verda.
"Hmm," Vedra menyahut.
"Ved, apa kau berpikir seperti itu, karena statusku adalah janda?" tanya Verda.
Vedra tertegun mendengar pertanyaan Verda. Ia bahkan segera memutar tubuhnya menghadap ke arah Verda.
"Tidak, Verda, maksudku bukan seperti itu," jawab Vedra.
"Kalau bukan seperti itu, lantas seperti apa? Kau berpikir bahwa aku tidak mempermasalahkan saat kau memberiku sentuhan erotis seakan aku adalah wanita yang bersedia disentuh oleh pria yang ingin menyentuhku," Verda menatap lurus ke arah Vedra.
"Ved, aku bukannya tidak mempermasalahkan sentuhan-sentuhan erotis yang kau berikan padaku. Bagiku, untuk apa aku mempermasalahkannya karena aku pun menikmatinya."
Vedra tertegun mendengar perkataan Verda.
"Terus terang kukatakan padamu, bahwa aku menjadi janda karena aku menolak ketika suamiku ingin menyentuhku. Sebagai seorang wanita, aku merasa punya hak untuk menolak hal yang dilakukan secara paksaan!" kata Verda.
"Aku dipaksa menikah, masa iya aku juga harus terima saat suamiku memaksa untuk melayaninya? Meski saat itu, dia adalah suamiku, aku punya hak untuk menolak atas hal yang bukan menjadi keinginanku!" lanjut Verda.
Verda mendekat ke arah Vedra.
"Ved, tubuhku tidak semudah itu untuk disentuh," kata Verda.
Napas Verda menyapu lembut wajah Vedra.
Sejenak, ia merasakan sensasi yang menggelitik perutnya.
"Kau tidak memaksaku, dan aku menikmatinya, sehingga untuk apa aku mempermasalahkannya?" kata Verda.
"Ved, aku hanya ingin menyentuh dan disentuh tanpa ada unsur paksaan. Semuanya murni atas dasar kesepakatan bersama," Verda mengulas senyumnya.
Vedra merasa jantungnya bergemuruh, menggila. Berada sedekat ini dengan Verda, membuat sisi buas dirinya tergugah lagi.
"Maafkan aku, Verda, aku sungguh tidak bermaksud untuk berbuat hal yang kurang senonoh padamu. Aku janji, aku tidak akan melakukannya lagi. Saat itu aku hanya tidak bisa menahan diriku...," ucapan Vedra terhenti.
Ia terdiam karena bibir Verda saat ini sedang membungkam mulutnya. Bibir Verda terasa begitu lembut dan manis, membuat Vedra terhanyut, mengeksplorasi dan mengeksploitasi setiap kenikmatan yang setiap detik makin meningkat.
Ini pasti hanya mimpi, itulah yang ada dalam benak Vedra saat ia mengubah posisinya. Kini Verda ada di bawah kungkungannya, wanita itu mengambil napas sebanyak-banyaknya begitu Vedra melepaskan ciumannya.
Mata mereka saling bertemu, kilatan dan kobaran gairah benar-benar meletup-letup. Membuncah dan menyeruak mencari jalan keluarnya.
Mimpi ini terlalu manis jika benar-benar menjadi kenyataan, batin Vedra bergejolak.
"Verda, maaf, sepertinya kita tidak perlu melanjutkannya. Aku harus menahan diriku, Verda!" ucap Vedra.
"Untuk apa menahan diri, Ved?" tanya Verda.
"Aku harus menahan diriku demi kebaikan kita bersama," jawab Vedra.
Mereka saling menatap lama. Saat ini di hadapan Vedra sedang tersaji hidangan yang menggugah naluri lelakinya.
"Ved, tapi kau menginginkanku kan?" tanya Verda.
__ADS_1
Vedra terdiam.
"Kau menginginkanku kan?" Verda mengulangi pertanyaannya.
Verda menarik Vedra ke sisinya membuat Vedra langsung menyesap kembali manis dan lembutnya bibir Verda.
Detik-detik yang berlalu membuat ciuman mereka makin intens. Verda menyusupkan tangannya untuk membuka kancing piyama Vedra.
Vedra menatap Verda dengan gairah yang tak dapat dibendungnya lagi. Ia segera melepas satu per satu kancing piyama Verda.
Verda sama sekali tak menolak saat pria itu meloloskan setiap apa pun yang melekat di tubuhnya.
Verda memejamkan matanya, merasakan panas tubuh pria itu yang benar-benar terbakar gairah saat memeluk tubuh polosnya.
Vedra menyapukan ciumannya ke kelopak mata Verda yang terpejam. Verda membuka matanya, menatap langsung mata pria yang saat ini terlihat jelas sangat menginginkannya.
Bibir mereka kembali bertaut, Verda membuka mulutnya, membiarkan pria itu mengeksplorasi dan mengeksploitasinya. Mereka saling mencecap tanpa berkesudahan.
"Aah!" Verda melenguh.
Ia benar-benar terbuai sensasi kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Meski ia pernah menikah, namun ia belum pernah merasakan hal ini.
"Ah-ah!"
Tanpa disadari oleh Verda, ******* keluar dari mulutnya, terlebih saat Vedra mulai menyusuri titik-titik sensitif miliknya.
"Ved, ha-ah!"
Verda meremas rambut Vedra yang saat ini sedang menyantap dengan lahap dua bukit kembar yang begitu menggodanya. Dahaga membuat pria itu begitu rakus menyantap dua benda padat, kenyal, dan mulus itu.
Setiap isapan yang semakin kuat, semakin keras juga Verda mendesah dan mengerang, menggeliat di bawah kungkungan pria itu.
Verda bisa merasakan ada sesuatu yang semakin mengeras di antara kedua pahanya. Ketika benda itu menggesek kepemilikannya, Verda menggeliat.
Ada aliran listrik yang saat ini sedang menyengatnya. Gairah yang berkobar dan hasrat yang sedang meninggi menggelapkan akal sehat.
Saat ini hanya ada satu tujuan yang harus mereka tuju bersama. Merasakan kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan dalam hidup mereka.
"Verda," Vedra berbisik di telinga Verda.
"Ah, Ved!" Verda menegang saat Vedra menyasar telinganya.
Verda menatap ke arah Vedra yang langsung kembali menautkan bibir mereka. Rasa manis yang sungguh memabukkan.
"Verda," Vedra menatap lekat-lekat Verda yang berada dalam kungkungannya.
"Ved."
Verda kembali menggeliat saat Vedra mengulum jemari tangannya. Tatapan mata pria itu berkobar penuh gairah, penggoda yang menggoda dan akhirnya tergoda.
"Ved!" Verda menarik tangannya lalu kembali menerima pria yang sungguh kehilangan jati dirinya.
Verda kembali memejamkan matanya, merasakan bibir Vedra yang saat ini sedang menyusuri punggungnya. Tangan pria itu masih begitu aktif mempermainkan bukit kembarnya yang menegang. Memberi penekanan lembut pada pucuk mungil yang memiliki warna senada dengan bibir Verda.
"Verda, aku menginginkanmu, aku sangat menginginkanmu," bisik Vedra sambil mengambil kembali bibir Verda dengan bibirnya.
"Aku juga sangat menginginkanmu," kata Verda.
Vedra membalik tubuh Verda, bibirnya kembali menyusuri lekuk tubuh Verda yang sudah mulai basah karena keringat.
Vedra mengecupi tengah dada, perut Verda yang ramping, hingga akhirnya tiba di area pribadi milik Verda yang belum pernah terjamah dan dijamah oleh siapa pun.
__ADS_1
"Oh, Ved!" Verda memekik, mencengkeram erat seprei.
Verda merasa sedang berada di awang-awang, saat merasakan kepemilikannya yang mendapat serbuan otot tak bertulang.
Verda meremas rambut Vedra, tubuhnya melengkung, menggeliat, terhempas saat merasakan sensasi asing yang bergejolak dalam dirinya.
"'Oh, Ved! No!"
Tubuh Verda menegang, ada yang keluar dari gua belut yang kini sedang dieksploitasi oleh Vedra. Dengan segera pria itu mencecap hingga habis tak tersisa. Rasa manis yang membuatnya makin mabuk kepayang.
Vedra merayap naik ke atas tubuh Verda, memberi kecupan lembut di kening Verda.
"Verda, akan kulakukan sekarang," kata Vedra.
Verda tidak menjawab, ia masih merasa tulang-tulangnya melunak pasca gelombang kenikmatan menghantamnya.
Vedra sudah memposisikan diri untuk menyatukan dirinya dengan Verda. Harusnya ini tidak akan terlalu sakit untuk Verda, toh ini pasti bukan pengalaman pertama Verda, itulah yang terlintas dalam benak Vedra.
Verda terperanjat saat benda pusaka itu perlahan memasuki dirinya yang tak pernah terjamah dan dijamah oleh siapa pun bahkan oleh Abim.
Vedra mengerutkan keningnya, ia merasa sakit saat mencoba memasuki ruang yang begitu sempit milik Verda.
Verda menegang saat milik pria itu perlahan-lahan memasuki miliknya, mengoyak selaput tipis yang menyimbolkan makna keperawanan.
"Ah!" pekik Verda.
"Sa-sakit, Ved! Sakit!" Verda memeluk erat tubuh Vedra.
"Verda, apa kau baik-baik saja?" tanya Vedra.
Verda diam dan menegang, merasakan miliknya yang kini menyatu sempurna dengan milik Vedra.
Vedra masih menatap Verda yang nampak terdiam mematung. Ia pun terdiam sambil menunggu hingga Verda terbiasa dengan posisi mereka yang sedang menyatu.
Mata Vedra tertuju pada noda darah yang merembes keluar dari tempat penyatuan mereka. Vedra sungguh tak menyangka bahwa Verda sungguh masih perawan.
"Verda," Vedra menggerakkan pinggulnya perlahan.
"Ved!" kata Verda sambil memeluk erat Vedra.
Rasa sakit yang dirasakan Verda mulai berubah menjadi rasa nikmat yang belum pernah ia rasakan.
Verda menatap Vedra yang bergerak dengan lembut dan teratur, mereka saling berpandangan diselingi dengan ciuman yang makin membara setiap detiknya.
Hosh..
Hosh..
Keringat mulai membanjiri dan deru napas mereka makin memburu.
"Verda, ini nikmat sekali," bisik Vedra mempercepat gerakannya.
"Ved! Ugh, ah!" Verda tak bisa berkata-kata.
Tubuhnya terguncang hebat, ia tak mampu menahan dirinya dan kembali tersapu gelombang kenikmatan.
Vedra memejamkan matanya, merasakan kehangatan milik Verda yang berkedut dan mencengkeram miliknya dengan kuat.
Rasanya ia sudah tak mampu menahan apa yang harus ia lepaskan. Bibir mereka kembali menyatu seiring dengan hempasan gelombang kenikmatan yang membuat Vedra seketika ambruk di atas tubuh Verda.
...*****...
__ADS_1