Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 080


__ADS_3

"Selamat pagi, Verda."


Abim menyapa Verda yang memasuki ruang makan.


"Pagi," jawab Verda seraya menjatuhkan bokongnya di kursi.


Verda mendelik gusar ke arah Vivie yang saat ini sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya yang baru saja bergabung di meja makan. Bian sama seperti Verda, bertanya-tanya dalam hati mengapa ada Abim pagi-pagi bertandang ke rumah mereka.


"Ayo dimakan makanannya, Bim, maaf tidak bisa menyuguhkan apa-apa," kata Bu Eva mempersilakan.


Verda mencebik, lagi-lagi ibunya merendah dengan suguhan yang ada di meja makan. Padahal ada bubur ayam, lontong sayur, nasi kuning, roti panggang, salad sayuran, hingga potongan buah segar tersaji.


Verda mengambil potongan buah segar sebagai menu sarapannya.


"Oh ya, ngomong-ngomong, ada kepentingan apa ya kau datang kemari pagi-pagi begini, Bim?" tanya Verda.


"Aku mampir kemari untuk mengantarmu ke kantor," jawab Abim.


Pak Daus dan Bu Eva saling mencuri pandang. 


"Ya ampun, Abim! Kau begitu sibuk, untuk apa repot-repot mengantarku ke kantor? Apa kau ingin aku merasa bersalah karena sudah menyita waktumu?" tanya Verda.


"Tidak masalah, Verda, toh aku sekalian menemui klien," jawab Abim.


Verda mencebik, selama beberapa hari tinggal di rumah orang tuanya, ayahnya tiba-tiba menjadi sangat over protektif. Setiap hari orang yang diizinkan untuk mengantar dan menjemput Verda ke kantor adalah Pak Yanto.


"Verda, berterima kasihlah pada Abim, meski sibuk, Abim masih meluangkan waktu untukmu," kata Bu Eva.


"Lihat, betapa Abim sungguh peduli padamu, tidak seperti pria yang mengaku sebagai suamimu. Hingga hari ini batang hidungnya tidak kunjung terlihat," sahut Pak Daus.


Verda memutar bola matanya. Ayahnya bahkan hanya mengizinkan Verda untuk pergi ke kantor. Tujuan Pak Daus tentu saja untuk membatasi ruang gerak Verda agar Verda tidak menemui pria itu.


Verda mengunyah potongan pepaya cepat-cepat, meneguk habis segelas air putihnya.


"Aku sudah selesai," Verda beranjak dari kursinya.


"Loh, sudah selesai, Verda?" tanya Pak Daus.


"Sudah, Ayah, aku sudah hampir terlambat," Verda mengambil punggung tangan Pak Daus dan menciumnya singkat.


"Verda, nanti kamu sakit perut kalau tidak sarapan dengan benar," kata Bu Eva saat Verda mencium punggung tangan beliau.


"Tidak, Bu," sahut Verda.


Abim terburu-buru menyalami ayah dan ibu Verda kemudian mengejar langkah Verda.


Di teras rumah, Hengki segera menyambut Verda dan Abim.


"Pak Yanto, ayo kita berangkat," ajak Verda.


"Verda, kita pergi bersama ya," ajak Abim.


"Tidak, Bim," tolak Verda.

__ADS_1


"Verda, tolong jangan tolak itikad baikku," pinta Abim.


Verda melihat ayah dan ibunya menyusulnya hingga ke depan teras.


Bu Eva melotot ke arah Verda, berharap bahwa Verda tidak akan menolak kebaikan Abim.


Hengki cepat-cepat membukakan pintu mobil mewah dan mempersilakan Verda masuk.


...*****...


Sepanjang perjalanan, Verda hanya diam, memasang earphone nirkabel yang terkoneksi ke gawai cerdasnya.


Abim memerhatikan penampilan Verda yang memang terlihat memesona. Verda mengenakan kemeja berwarna putih gading yang begitu pas membungkus tubuhnya, dipadukan dengan rok pensil ketat berwarna hitam di atas lutut, memamerkan kaki Verda yang nampak jenjang, dilengkapi sepatu pump krem dengan hak mencapai dua belas sentimeter.


Verda mengikat rambutnya dengan gaya kuncir kuda lantaran malas menata rambut. Leher jenjang Verda jelas membuat Abim meneguk ludahnya. 


Abim sungguh tidak menyangka bahwa lima belas tahun yang lalu, bocah bau kencur yang selalu menangis meminta pengampunannya itu kini menjelma menjadi wanita yang luar biasa menawan. Sungguh membuat Abim ingin menafkahinya.


"Verda," kata Abim sambil mengambil tangan Verda.


"Eh, ada apa, Bim?" Verda menepis tangan Abim dengan cepat.


"Verda, kalau kau menikah denganku, sungguh aku akan menafkahimu, memberimu apapun yang kau inginkan. Kupastikan  bahwa kau mendapatkan materi yang berlebihan," kata Abim.


"Kau tidak perlu lagi bekerja, memakai pakaian yang begitu seksi seperti ini untuk memanjakan mata rekan-rekan kerjamu," lanjut Abim.


Abim melemparkan pandangannya ke arah Hengki yang duduk di samping sopir. Hengki mencuri pandang sambil mengangguk mengamini.


"Verda, tolong jangan mengungkit hal itu lagi," Abim memohon. 


"Verda, aku serius ingin memulai denganmu dari awal. Aku sungguh tidak keberatan jika harus menunggu masa idahmu selesai sehingga kita bisa melangsungkan pernikahan," ucap Abim.


Lengkungan senyum merekah di bibir Verda.


"Masa idah? Kau bicara seakan kau sudah memenangkan kompetisi, Bim," Verda tertawa sinis.


"Verda, aku tidak akan mengikuti kompetisi jika tidak yakin menang," sahut Abim penuh percaya diri.


Verda menyeringai mendengar kepercayaan diri Abim yang luar biasa besar.


"Abim, apa kau bicara begini padaku, karena sudah mendapat kisi-kisi kompetisi dari ayahku?" tanya Verda.


"Verda, aku sungguh tidak perlu kisi-kisi untuk mendapatkan kemenanganku. Jujur saja, tanpa perlu kompetisi ini, ayahmu sudah jelas memihakku. Kompetisi yang dibuat ayahmu jelas hanya bertujuan sebagai formalitas saja. Aku ini peserta tes bawaan orang dalam, bukan seperti suamimu yang hanya peserta biasa," jawab Abim panjang lebar.


Verda kembali mengulas senyumnya pada Abim, Abim benar-benar sangat menyukai senyum Verda.


"Aku sungguh tidak sabar untuk bisa memilikimu, Verda," Abim mengambil tangan Verda dan mengecupnya.


Verda menarik tangannya, ingin rasanya ia menampar Abim, namun sungguh berbahaya jika Abim menjadikan tamparan itu sebagai senjata untuk mengadu domba Verda dan ayahnya.


Hengki segera turun dari mobil, membukakan pintu untuk Verda.


"Terima kasih atas tumpangannya, Bim," kata Verda.

__ADS_1


"Aku akan menjemputmu saat pulang," sahut Abim.


Verda segera melangkah pergi memasuki gedung perkantoran tersebut. Tiba-tiba seseorang meringkusnya dari belakang.


"Eciee, siapa itu tadi yang mengantarmu, Verda?" Teti terkekeh.


Wanita itu kebetulan baru saja tiba saat melihat Verda turun dari mobil mewah.


"Haha," Verda hanya tertawa.


"Verda, apa aku harus beli mobil juga supaya bisa mengantar dan menjemputmu?" tanya Ican yang tiba-tiba muncul di belakang Verda.


"Astaga, Ican, sumpah! Kau mengagetkanku saja!" keluh Verda.


Verda, Teti, dan Ican segera menuju ke arah lift.


"Jadi, siapa yang tadi mengantarmu? Aku lihat loh! Mataku masih sehat, Verda!" desak Teti.


"Bukan siapa-siapa," sahut Verda.


"Verda, apa aku harus beli mobil itu juga?" Ican kembali merengek seperti bocah kehilangan permen.


"Haha," Verda tertawa.


Lift berhenti di lantai yang mereka tuju. Verda segera melangkah keluar dari lift bersama Teti dan Ican.


"Aku mau beli green tea dulu," Verda berpamitan usai melakukan finger scan.


Verda segera keluar dari kantornya, menuju ke lift. Tiba-tiba tangan Verda ditarik oleh seseorang yang membawanya ke tangga darurat.


Vedra!


Brak..!


Pintu di belakang Verda tertutup dengan keras. Verda terdesak di pintu saat Vedra mendorongnya.


"Verda," kata Vedra sambil menatap Verda.


Vedra melepas kacamatanya, menatap Verda dengan sorot mata yang memancarkan kemarahan.


Verda langsung mengalungkan tangannya ke leher Vedra.


Keduanya segera berpagutan, saling mencecap dengan gairah yang kembali menggebu-gebu.


Vedra melepaskan ciumannya.


"Verda, aku tidak suka melihatmu diantar pria itu," kata Vedra.


"Ved, apa kau pikir aku suka?" Verda balik bertanya.


Vedra tidak butuh jawaban dari Verda yang saat ini kembali menciumnya dengan begitu buas.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2