Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 097


__ADS_3

"Hai, Ved," Ican menyapa Vedra yang baru saja akan keluar dari restoran.


"Ican," ucap Vedra.


"Hai, Mbak cantik," sapa Ican pada wanita di samping Vedra.


Wanita berparas cantik itu hanya mengulas senyumnya.


"Kalian sudah mau pulang? Wah sayang sekali Verda sudah pulang duluan, padahal kan asyik kalau kita kencan ganda, hehe," cerocos Ican seraya terkekeh.


Oh, jadi kau yang mengajak Verda kemari, batin Vedra.


"Can, kalau begitu, aku permisi," Vedra berpamitan.


"Ya, hati-hati, Ved, bye Mbak cantik!" Ican melambaikan tangannya.


Ican masih menatap kepergian Vedra dan wanita cantik itu dengan perasaan nelangsa.


"Hih, beruntungnya Vedra bisa punya istri cantik begitu," gerutu Ican.


Sementara itu Vedra segera membukakan pintu mobilnya untuk Silvia.


"Ved, kau tidak perlu mengantarku pulang, aku bisa pulang sendiri," kata Silvia.


"Tidak apa-apa, Silvia, ini sudah malam, lebih baik aku yang mengantarmu pulang," kata Vedra.


Vedra mempersilakan Silvia untuk masuk ke mobilnya. Ia pun segera masuk dan duduk di kursi kemudi.


Silvia mencuri pandang ke arah Vedra, selepas kembali dari toilet, pria itu benar-benar hanya berdiam diri. Yah, pada dasarnya setahu Silvia, Vedra kan memang pendiam. Tak banyak bicara kecuali pembicaraan itu benar-benar penting.


Silvia merasa dadanya sesak lantaran atmosfer yang terasa begitu berat di sekitar mereka. Rasanya begitu berat untuk menerima kenyataan bahwa hubungan mereka yang tinggal selangkah lagi akan menuju ke jenjang pernikahan harus berakhir seperti ini.


Vedra bahkan tetap menikah dengan wanita lain yang hingga kini identitasnya tidak diketahui oleh Silvia. Silvia malas untuk kepo lantaran merasa begitu sakit dengan kenyataan bahwa ia dan Vedra tidak bisa bersatu.


"Ved, apakah kau bahagia menikah dengan wanita itu?"


Silvia tak kuasa membendung rasa ingin tahunya.


"Hm, ya, aku bahagia," jawab Vedra masih fokus mengemudi.


Silvia merasa hatinya kembali berdarah. Ia menyesal sudah bertanya seperti itu.


"Ved, syukurlah, aku lega mendengarnya," kata Silvia dengan nada penuh kegetiran.


"Hm, ya, aku pun merasa lega bahwa ramalan buruk yang dituliskan oleh para peramal mengenai diriku, semuanya hanyalah sekadar omong kosong," kata Vedra.


Silvia tertegun melihat senyum yang tersungging di sudut bibir Vedra.


"Sungguh, dalam hidupku, baru kali ini aku merasa begitu bahagia, menikah dengan wanita yang bersedia menerimaku tanpa peduli dengan ramalan buruk tentangku," kata Vedra.


Silvia kembali merasakan sesak memukul-mukul dadanya. Rasa sakit yang kian menjalar itu mencambuki setiap sel-sel tubuhnya.

__ADS_1


"Jadi, Silvia, aku harap kau mendapatkan pria yang benar-benar pantas untukmu. Pria yang memiliki hasil ramalan baik untuk hidupmu," kata Vedra.


Silvia hanya bisa terdiam, dalam hati ia benar-benar hanya bisa meratapi rasa sakitnya.


Vedra segera menghentikan mobilnya begitu tiba di depan rumah kontrakan Silvia.


"Terima kasih sudah mengantar, Ved," kata Silvia.


Silvia segera turun dari mobil, air mata pun membanjiri pipinya seiring dengan langkahnya.


Vedra terdiam sambil kembali mengemudikan mobilnya. Entah mengapa ia merasa menyesal sudah mengatakan hal yang jelas bertolak belakang dengan kondisinya saat ini.


Vedra memang merasakan kebahagiaan saat bersama Verda, namun kebahagiaan itu terasa begitu semu.


Tidak seharusnya ia mencicipi kebahagiaan semu tersebut karena kini justru berbalik menyulitkan mereka berdua.


...*****...


Verda masih mencoba menenangkan diri. Pandangannya berkabut, ia menyeka air mata yang mengalir membasahi pipinya.


Verda sungguh tak menyangka bahwa Vedra benar-benar telah bersikap skeptis padanya dan juga hubungan mereka.


Dalam benak Verda saat ini terlintas semua hal yang ia dan Vedra lalui bersama. Semuanya sungguh terasa begitu manis. Mungkin karena Vedra adalah pria nyata pertama yang masuk dalam kehidupannya.


Verda benar-benar merasa menyesal karena sudah mengucapkan hal yang justru membuat Vedra tersinggung berat.


Dan kini pria itu seakan hendak mengakhiri semua yang telah mereka lakukan lantaran merasa bahwa mereka selama ini sudah melenceng jauh dari kesepakatan awal.


Sebatas pelampiasan nafsu semata? Ataukah sebatas saling memuaskan hasrat masing-masing?


Semua pertanyaan itu berkecamuk dalam benak Verda. Rasanya sungguh menyakitkan jika mereka harus kembali seperti semula.


Semua yang mereka lakukan terlalu manis jika hanya untuk sekadar dikenang.


Verda mengambil ponselnya yang ia letakkan di kursi depan. Ia segera menghubungi Vedra.


Terdengar nada sambung saat Verda mengaktifkan pengeras suara. Nada sambung itu membuat Verda yang saat ini mengemudikan mobilnya merasa tak tenang.


"Jawab teleponku, Ved! Please!" Verda memohon.


"Nomor yang Anda tuju tidak menjawab, silakan tinggalkan pesan setelah nada sambung," kata operator menjawab telepon Verda.


Verda mencoba menelepon Vedra lagi.


Entah apa yang sedang dilakukan oleh pria itu hingga tidak menjawab telepon Verda.


Terlintas dalam benak Verda bahwa pria itu mengaku akan mengantar Silvia pulang.


Deg..


Dada Verda terasa nyeri saat membayangkan bahwa Vedra mengantar Silvia ke hotel. Vedra tidak menjawab telepon karena saat ini pria itu sedang asyik bercumbu rayu dengan Silvia.

__ADS_1


Vedra dan Silvia, dua orang yang berencana menikah, sudah pasti keduanya adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Mereka berdua berpisah lantaran Silvia yang mendadak memutuskan hubungan mereka secara sepihak.


Tanpa cinta saja, Vedra bisa melampiaskan hasratnya kepada Verda, apalagi dengan Silvia yang nyata dicintai oleh pria itu.


Apa sungguh pria itu hanya menganggap Verda sebagai boneka pemuas hasratnya saja?


Hanya sebagai rekan yang memanaskan ranjang pria itu saja?


Hanya sebatas itukah hubungan mereka?


Pikiran Verda saat ini dipenuhi dengan gambaran-gambaran kemesraan antara Vedra dan Silvia yang benar-benar membuat darahnya mendidih hanya dengan membayangkannya saja.


Pandangan Verda yang berkabut membuatnya tak fokus mengemudikan mobil.


Tiba-tiba saja sebuah mobil dari arah berlawanan mendekat, Verda membanting setir mobilnya ke kiri dengan keras.


Brak...!


Bunyi raungan mesin mobil disertai pecahan kaca membahana mengguncang semesta.


Banyak orang berlarian ke arah mobil yang menghantam pembatas jalan. Mobil tersebut berada dalam posisi terbalik.


Semua orang dengan segera mengarahkan kamera ponsel mereka, mengabadikan momen kecelakaan tersebut.


"Telepon polisi!"


"Telepon ambulans!"


"Ada seseorang di dalam mobil!"


"Ayo segera bantu keluarkan!"


"Apa dia terjepit?!"


Verda masih bisa mendengar suara-suara yang setiap detiknya terdengar sayup-sayup.


Verda tak tahu, saat ini ia merasa tidak bisa menggerakkan tubuhnya yang bermandikan pecahan kaca.


Air matanya mengalir makin deras.


Apakah ini akhir dari hidupnya? 


Tidak, ini bukan akhir hidup yang indah. Ia ingin hidupnya berakhir dalam pelukan pria yang ia cintai dan mencintainya hingga akhir hayatnya.


Bukan di tempat yang keras dan dingin, dipenuhi suara teriakan kepanikan yang bercampur dengan suara raungan sirene.


Menit-menit yang berlalu membuat Verda kehilangan kesadarannya.


Para petugas medis pun berdatangan, mereka nampak berusaha mengeluarkan sesosok wanita yang bersimbah darah. Gaun putihnya bermandikan darah yang keluar dari tubuhnya. 


Bak setangkai mawar putih yang jatuh di atas genangan darah.

__ADS_1



__ADS_2