Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 006


__ADS_3

Vedra segera turun dari pesawat yang membawanya ke kota tempat kedua orang tua Silvia tinggal. Penerbangan pertama ia pilih agar ia bisa segera menemui kedua orang tua Silvia. Ia segera menumpang taksi bandara yang langsung membawanya menuju ke rumah orang tua Silvia.


Taksi yang ditumpangi Vedra terhenti di depan gang yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Sepanjang gang itu merupakan rumah kos yang dihuni oleh para mahasiswa. Lokasi rumah kos tersebut dekat dengan salah satu kampus ternama. Kampus yang juga tempat Vedra meraih gelar sarjananya. Salah satu kamar yang ada di rumah kos ini menjadi kamar kos Vedra.


Vedra melangkah menuju ke rumah induk yang terletak di depan gang masuk. Vedra sangat hafal karena pemilik rumah kos tersebut adalah orang tua Silvia.


Silvia adalah wanita cantik berusia dua puluh lima tahun. Ia memiliki senyum manis, berkulit kuning langsat yang menawan dengan rambut lurus sebahu.


Vedra tidak menyangka bahwa ia bisa mengencani Silvia. Silvia adalah anak dari juragan kos ketika Vedra masih kuliah. Gadis itu masih duduk di bangku SMP saat Vedra menjadi guru les privat matematikanya. Bertahun-tahun kemudian mereka bertemu kembali dan akhirnya menjadi sepasang kekasih.


Vedra cukup percaya diri saat meminang Silvia karena merasa sudah mengenal keluarga Silvia sejak lama. Vedra juga sangat tahu bahwa keluarga Silvia masih memegang teguh warisan budaya leluhur. Keluarga itu sangat percaya dengan hal-hal klenik di luar logika Vedra. Hanya gara-gara ramalan, Silvia membatalkan pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.


Pernikahan ini tidak boleh dibatalkan begitu saja. Selain banyaknya dana yang sudah dikeluarkan, orang tua yang sudah begitu bahagia menyambut pernikahan tersebut, Vedra juga harus membuktikan bahwa ramalan buruk tentangnya itu sungguh tidak benar.


Pak Haryo dan Bu Sifa menyambut dingin kedatangan Vedra di kediaman mereka.


"Pak, Ibu, saya mohon kebijaksanaan kalian, saya sungguh serius untuk menikah dengan Silvia," Vedra memohon kepada kedua orang tua Silvia.


Kedua orang tua Silvia memasang ekspresi berat saat Vedra datang menghadap kepada mereka. Pak Haryo dan Bu Sifa saling bertukar pandang.


"Vedra," kata Pak Haryo menatap Vedra lekat-lekat.


"Bapak tahu, kamu serius dengan Silvia, hanya saja, Bapak tidak bisa menyerahkan Silvia kepadamu begitu mendapat hasil ramalan buruk tentang kehidupan kalian nanti," lanjut Pak Haryo.


"Vedra, kami sungguh minta maaf, tolong hargai keputusan kami. Jika kamu memang mencintai Silvia, batalkan pernikahanmu dengan Silvia," Pak Haryo bersungguh-sungguh menatap Vedra.


"Vedra, Silvia bukan jodohmu, kamu carilah jodoh yang lain, ya," pinta Bu Sifa.


"Bapak, Ibu, apa mahar yang saya berikan kurang? Akan saya tambah lagi biayanya! Berapa pun akan saya berikan, asalkan Silvia menjadi istri saya," kata Vedra.

__ADS_1


"Vedra, sungguh ini bukan masalah biaya! Bukan masalah materi, ini masalah kehidupan Silvia! Kami tidak mungkin berani mempertaruhkan hidup Silvia hanya karena melanggar hasil ramalan kehidupan kalian!" Bu Sifa mulai meneteskan air mata.


"Untuk masalah biaya, kamu tenang saja, Bapak akan mengganti semua yang kau keluarkan untuk acara di sini," kata Pak Haryo.


"Pak, sebelumnya saya minta maaf, saya mohon dengan sangat, kenapa Bapak dan Ibu begitu percaya dengan ramalan manusia? Bukankah Tuhan sudah menetapkan garis takdir setiap manusia yang lahir ke dunia ini?" kata Vedra.


"Ramalan itu hanya prediksi yang belum tentu benar!" kata Vedra lagi.


"Vedra, kami hanya menjalankan tradisi yang ada di keluarga kami," kata Pak Haryo.


"Kami mohon hargai tradisi keluarga kami," kata Bu Sifa.


...*****...


Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, hampir seluruh karyawan sudah meninggalkan meja kerja masing-masing. Vedra masih duduk dengan tenang di kursinya. Pria itu menyeruput kopi dalam tumbler kedap panasnya. Matanya masih menatap ke arah layar monitor yang menampilkan angka-angka. Pekerjaan sebagai seorang akuntan jelas membuatnya harus berkutat di depan angka-angka. Saat ini tubuhnya memang sedang berada di ruang kerja yang nampak sepi namun pikirannya melanglang buana entah ke mana.


Rencana pernikahannya dengan Silvia yang harus dibatalkan jelas membuat hidup Vedra terasa jungkir balik. Rasanya semua hal indah dalam hidupnya seketika sirna, yang tersisa hanyalah keputusasaan yang membuncah di dadanya.


Lamunan Vedra seketika buyar ketika melihat sosok wanita yang menghampiri meja kerjanya. Gayanya terlihat menantang dengan kedua tangannya terlipat di depan dada.


Wanita itu melemparkan tatapan skeptis ke arah Vedra, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki pria itu. 


"Sepertinya kau memakai sepatu baru ya?" tanya Verda.


"Brushed leather laced dearby shoes by Prada," tebak Verda.


Vedra segera membetulkan posisi duduknya yang tadinya merosot dengan kaki panjangnya yang terjulur keluar.


"Backpack Prada-mu juga sepertinya baru," Verda kembali melotot ke arah tas hitam di bawah meja Vedra.

__ADS_1


"Ini bukan baru, hanya baru kupakai ke kantor," tukas Vedra.


Alis Verda terangkat sebelah.


"Wah, wah, kau bisa membeli sepatu dan tas baru, tapi kau belum memenuhi ganti rugimu padaku!" Verda melemparkan tatapan mengintimidasi.


Pria itu menghela napas berat, memasang ekspresi masam seakan sedang mengulum mangga muda.


"Verda, aku sudah mengatakan padamu bahwa aku akan mengganti rugi tapi tidak sekarang! Dan jika kau mempermasalahkan tas dan sepatu baruku, ini sudah lama kubeli dan baru kupakai!" kata Vedra.


"Ah ya, Tuan Prada! Kau pakai sepatu dan tasmu karena kau baru memilikinya dengan kata lain kau membelinya! Apa kau kira aku tidak tahu harga barang-barang high yang selalu kau gunakan?" tanya Verda.


"Apa kau mau aku memberimu tas dan sepatuku untuk menukar barangmu yang hilang, agar kau puas?" tanya Vedra.


"Oh, tidak bisa! Sepatumu hanya akan menjadi pengganjal pintu kamarku! Aku juga tidak perlu tasmu, aku tidak tertarik dengan model tasmu!" sahut Verda.


"Aku sungguh berharap kau segera bertanggung jawab, ganti rugi dengan barang yang sama juga! Kalau mengganti dengan mentahnya saja, jelas aku merugi dua kali lipat!" Verda menambahkan.


"Astaga, yang benar saja! Apa kau mencoba memerasku?" tanya Vedra.


"Memerasmu?! Jika kau tidak percaya, aku akan memberimu daftar photo card langka yang hilang! Kau bisa mencarinya sendiri! Kau harus mencari, menemukan, dan mendapatkannya! Pastikan bahwa semua photo card itu orisinil, bukan replika, like ori, ataupun kw super!" tandas Verda.


"Aku harap kau segera mencari, menemukan, dan mendapatkannya, karena harganya semakin lama semakin naik!" 


Verda mendengus sambil melangkah menuju ke meja kerjanya lagi.


Melemparkan tatapan sinisnya ke arah pria yang saat ini terlihat memijat pelipisnya.


Yah, beban Vedra bertambah lagi.

__ADS_1


Sudah gagal menikah, ia juga harus ganti rugi. Sungguh nasib buruk sepertinya memang sedang menimpanya. 


...*****...


__ADS_2