
Wanita bertubuh kurus itu terlihat kuyu, pucat, dengan tulang-tulangnya yang tampak jelas. Wanita itu mengenakan baju terusan bergambar bunga-bunga besar, membuatnya bagai akan tenggelam dalam pakaiannya. Siti berjalan dengan langkah tertatih-tatih membawa tubuhnya yang nampak ringkih seakan angin dapat menerbangkan tubuh kurus wanita itu.
"Vedra, kenapa kau menikah dengan perempuan seperti itu?" tanya Siti. "Perempuan macam itu sungguh tidak pantas untukmu."
"Akulah yang pantas untuk mendampingimu! Aku yang pantas menjadi istrimu, Vedra! Hanya aku!" tandas Siti tanpa basa basi.
Vedra menghela napas berat, entah sudah berapa kali Siti mengatakan hal yang sama setiap kali mereka bertemu. Entah kehabisan bahan omongan, atau memang hanya itu saja yang bisa disampaikan oleh Siti secara konsisten.
Siti hanya perlu meyakinkan Vedra bahwa dirinya-lah wanita yang pantas untuk menjadi istri pria itu, sesuai dengan ramalan dari orang pintar asal desa seberang yang meramalkan bahwa Siti dan Vedra berjodoh. Berdasarkan dari penerawangan itulah makanya Siti selalu mengatakan hal tersebut untuk meyakinkan Vedra.
"Aku sungguh tidak tahu, mengapa kau justru kepincut dengan wanita yang berpenampilan seperti perempuan nakal itu! Dia tidak pantas untukmu, Ved! Wanita yang menjadi takdirmu adalah aku!" lanjut Siti.
"Siti, aku lebih berterima kasih padamu jika kau tidak mencampuri urusan pribadiku," ucap Vedra.
"Vedra, apa kau sungguh tidak menyadari bahwa kau kerap gagal menikah karena semua wanita itu bukanlah jodohmu?" sergah Siti.
Siti menatap Vedra yang terlihat selalu dan senantiasa memasang tampang datar.
"Vedra, untuk apa kau jauh-jauh cari jodoh, padahal ada aku yang selalu menunggumu dengan setia! Kenapa kau malah menikahi wanita seperti itu?! Apa karena dada besarnya yang diumbar?!" cecar Siti.
"Siti, cukup!" tukas Vedra.
"Vedra! Kumohon, Vedra! Akulah jodohmu! Akulah yang pantas untukmu!" Siti menarik tangan Vedra dan mencengkeram dengan kuat.
"Siti, tolong lepaskan aku!" pinta Vedra.
"Tidak! Aku tidak mau melepaskanmu! Kau adalah milikku, Vedra! Kau milikku!" teriak Siti.
"Lepaskan tanganmu dari suamiku!" tukas Verda yang datang dan langsung mencengkeram erat tangan Siti.
"Kyaa!" jerit Siti.
"Lepaskan!" Verda mendorong keras tubuh Siti.
Bruk..!
Siti jatuh terjerembab ke tanah sementara Verda menatap sinis wanita itu. Vedra tertegun melihat kejadian yang berlangsung terlalu cepat di depan matanya.
"Aduh... sakit!" raung Siti.
Siti melemparkan tatapan penuh kemarahan pada Verda. Siti mencoba bangkit meski dalam keadaan terhuyung.
"Dasar perempuan binal! Berani-beraninya kau mendorongku seperti itu!" pekik Siti.
__ADS_1
"Perempuan binal? Bukankah yang binal itu justru kau! Bisa-bisanya kau pegang-pegang suami orang sembarangan! Apa kau meninggalkan telingamu di rumah sehingga kau tidak dengar suamiku sudah memintamu secara baik-baik untuk melepaskannya?!" cecar Verda pada Siti.
Keributan antara Verda dan Siti segera mengundang perhatian orang-orang yang mulai berdatangan menghampiri mereka.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut begini?" Bu Fadlun menghampiri mereka.
"Acil! Menantu pian ini sungguh kejam! Berani-beraninya mendorongku sampai aku terjatuh!" kata Siti.
"Aku tidak mendorongmu sampai jatuh, kau jatuh sendiri!" sahut Verda dengan cepat.
"Siti, aku minta maaf," kata Vedra.
Verda melotot ke arah Vedra. Mengapa pria ini justru minta maaf pada Siti?
"Siti, maaf ya," Bu Fadlun segera ikut meminta maaf.
Kenapa mereka semua meminta maaf kepada Siti? Seolah-olah mereka semua menyalahkan aku! Geram Verda.
"Huuh!" dengus Siti dengan kesalnya.
"Minggir!" Bentak Siti segera membelah kerumunan di depannya.
Dasar wanita kampung gila! Geram Verda dalam hati.
Verda benar-benar merasa kesal melihat Vedra yang sepertinya hanya bisa diam saja padahal wanita gila bernama Siti itu jelas mengganggunya. Menjadi orang pendiam itu tidak sepenuhnya bagus!
Bu Fadlun melemparkan tatapan kesal pada Verda yang dianggapnya sudah mencari gara-gara dengan Siti. Sudah pasti masalah ini akan segera tersebar di kampungnya.
"Ibu, Bapak, kalau begitu kami pamit dulu," Vedra berpamitan kepada kedua orang tuanya.
Pria itu segera mengecup punggung tangan dan memberi rangkulan singkat untuk ayah dan ibunya juga kepada keluarganya yang lain.
Verda hendak mengikuti namun melihat sikap keluarga Vedra yang terkesan antipati padanya membuat Verda mengurungkan niat.
"Hati-hati di jalan. Nanti begitu sampai langsung telepon Ibu," pesan Bu Fadlun pada Vedra.
"Baik, Bu," jawab Vedra.
"Hati-hati mengemudinya, Ved. Kalau lelah segera istirahat," pesan Pak Padri.
"Baik, Pak," jawab Vedra.
Verda segera memasuki mobil, diikuti Vedra yang segera duduk di belakang kemudi, memasang sabuk pengaman dan mulai menyalakan mesin mobil.
__ADS_1
Mobil pun bergerak meninggalkan pekarangan rumah orang tua Vedra diiringi lambaian tangan mereka.
...*****...
"Wanita bernama Siti itu, dia mantan pacarmu ya, makanya kau sampai tidak berani bersikap tegas pada wanita itu? Dia yang salah, tapi justru kau dan ibumu yang minta maaf! Sungguh aneh sekali! Aku sungguh tidak mengerti bagaimana cara berpikir orang kampung!" Verda akhirnya buka suara setelah cukup lama mereka berdua terjebak dalam keheningan.
"Siti bukan mantan pacarku," jawab Vedra dengan tegas.
Pria itu masih fokus mengemudikan mobilnya.
"Aku bukannya tidak berani bersikap tegas, aku hanya menghindari keributan yang tidak diperlukan," lanjut Vedra.
"Sungguh tidak baik ribut dengan tetangga. Biar bagaimana pun tetangga itu adalah saudara yang terdekat. Kalau ada apa-apa, yang bisa dimintai tolong untuk membantu adalah tetangga," Vedra menambahkan.
"Ya, tapi punya tetangga beracun macam Siti itu pasti menyebalkan sekali! Bisa-bisanya dia mengataiku perempuan nakal! Dia bahkan tidak mengenalku! Bagaimana dia bisa menghakimiku seperti itu?! Apa dia merasa menjadi manusia yang paling baik dan paling benar?!" cecar Verda.
Vedra terdiam mendengar cecaran Verda. Wanita itu masih meluapkan semua unek-uneknya.
"Orang-orang di kampungmu itu sungguh semuanya macam katak dalam tempurung! Yah, harusnya pemikiran mereka itu di-upgrade! Mereka semua macam orang-orang yang masih hidup di zaman orde lama! Apa jangan-jangan mereka semua adalah orang-orang yang terjebak di masa lalu?! Orang-orang berpikiran sempit sesempit kampung mereka?!" Verda terus memuntahkan semua kekesalannya.
Vedra masih tetap fokus mengemudikan mobil. Sudah dua jam berkendara membuat pria itu harus ekstra hati-hati lantaran Verda lanjut mengomel tentang dengungan nyamuk yang semalam menyerangnya.
Jujur saja Vedra tidak bisa tidur nyenyak meski sudah menggunakan berbagai macam metode mulai dari metode menghitung domba hingga dombanya kabur semua, sampai latihan olah pernapasan yang merupakan teknik rahasia para tentara agar langsung tertidur dalam dua menit. Hanya saja, ujian yang menguji naluri lelakinya terlalu berat. Seorang wanita tanpa busana tertidur pulas sungguh membangunkan sesuatu dalam dirinya yang membuat Vedra harus menahan diri supaya tidak lepas kontrol.
Ia memang bukan pria murahan yang dapat dengan mudah tergoda hanya karena disodori wanita telanjang. Tapi tetap saja ia adalah pria yang normal dan sehat, sudah sewajarnya dia terangsang seperti itu.
Ah, sial, kenapa aku jadi memikirkannya lagi? Batin Vedra bergelut.
Vedra memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah masjid kecil yang ada di pinggir jalan.
"Kita istirahat sebentar ya, aku merasa mengantuk," kata Vedra.
"Kalau kau mau tidur, harusnya kau ke hotel, bukannya malah ke masjid!" cibir Verda.
"Awasi barang-barang bawaanmu," kata Vedra.
Vedra segera turun dari mobil dan menuju ke tempat wudhu. Ia segera membasuh wajahnya dengan air untuk menenangkan dirinya yang begitu berhasrat dengan wanita itu.
Ini salah, ini tidak benar! Tuhan, tolong lindungi aku, Vedra memanjatkan doa dalam sujudnya.
...*****...
Pembaca setia yang baik hati.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca sampai episode ini.
Sampai jumpa di episode selanjutnya 💜