Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 054


__ADS_3

Hari masih begitu pagi saat Verda terbangun dari tidur lantaran mendengar bunyi alarm pada ponselnya.


Verda begitu antusias menyambut pagi, membuatnya sangat bersemangat. Ia meminum air hangat yang diberi perasan jeruk lemon dan satu buah apel yang ia jadikan sebagai sarapannya.


Kemudian ia kembali ke kamar, mendapati Vedra yang masih tertidur pulas.


Verda mengambil photo card yang ia simpan di bawah bantalnya. Ia terlalu takut jika photo card itu lenyap hanya karena ia tinggal tidur. Musuh dalam selimut perlu diwaspadai.


"Jehunku, ayo kita pulang ke rumah!" Verda terkekeh.


Verda membawa photo card Jehun ke ruangan penyimpanan barang-barangnya. Verda mengambil sebuah binder yang menjadi tempat penyimpanan koleksi photo card-nya. Ia memasukkan photo card Jehun dari koleksi brand Sleepwear yang berkolaborasi dengan Fancy ke dalam slot plastik pada binder.


Ada rasa bangga yang bergemuruh dalam dadanya. Rasa senang yang membuat Verda merasa menjadi orang yang saat ini sedang berbahagia di muka bumi. Energi Verda saat ini sedang meluap-luap, ia membutuhkan sesuatu yang bisa membuatnya tenang. Diambilnya gulungan matras yoga miliknya dan direntangkannya di ruang tengah.


Verda dulu aktif mengikuti kelas yoga, selain untuk menenangkan diri, menjaga kebugaran tubuh, juga untuk membentuk tubuh guna meningkatkan kepercayaan dirinya.


Verda memulai latihan dengan pose-pose dasar. Keringat pun mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya.


Sementara itu Vedra baru saja terbangun dari tidur lantaran terganggu dengan suara alarm dari gawai cerdasnya. Ia masih mengantuk lantaran semalam tidak bisa tidur. Efek menerima kecupan di pipinya, belum lagi sepanjang malam Verda menjadikannya guling, tentu membuat Vedra rasanya jungkir balik sendiri.


Pria itu segera turun dari tempat tidur, keluar dari kamar, melangkah gontai menuju ke dapur. Ia mengambil satu gelas air hangat dari dalam termos air panas yang selalu ia isi ulang setiap malam.


Byur..


Air muncrat dari mulut Vedra, bukannya tanpa alasan. Masalahnya, ia benar-benar salah fokus saat melihat Verda yang tengah melakukan pose yang begitu menantang. Bukit kembar yang terlihat begitu ranum, menggantung dengan belahan yang dalam. Tubuh Verda berbalut pakaian olahraga berwarna merah muda berpotongan crop, menyuguhkan perut Verda yang rata, ditambah bokong sintal dan padat, membuat Vedra benar-benar jadi salah fokus. Keringat yang merembes keluar dari pori-pori Verda membuat Vedra membayangkan, bagaimana seandainya jika ia yang menjadi keringat itu?


Oh sial! Vedra memaki dalam hati.


Ia segera berpaling namun terlambat, Verda sudah mengulas senyum ke arahnya.


"Ved, tumben kau baru bangun!" sapa Verda.


"Hmm, ya, kau juga tumben bangun pagi," sahut Vedra.


"Ya, aku merasa sangat bersemangat, karena berhasil mendapatkan photo card Jehun dari Sleepwear!" sahut Verda begitu antusias.


"Oh begitu, silakan lanjutkan," sahut Vedra.


Vedra segera mengambil handuk yang ia jemur di teras. Matanya kembali mencuri pandang ke arah Verda yang kini kembali berpose yang menurut Vedra terlihat bak anjing laut.


Penampakan Verda sungguh membuat batin Vedra terasa begitu lapar. Ingin rasanya ia menelan Verda bulat-bulat. Bak ular piton yang sedang melakukan proses pemangsaan. Perlahan tapi pasti.


Entah apa yang mendorongnya untuk menghampiri Verda. Dengan segera ia meringkus Verda dari belakang.


"Ved!" Verda terkesiap karena Vedra mendaratkan kecupan-kecupan lembut di belakang lehernya.


"Hmm... Verda," Vedra menggeram.


Geraman buas dari seekor serigala berbulu domba yang sedang kelaparan. Ingin melahap, menyantap buruan yang sudah berada dalam cengkeraman yang penuh gairah dan bergelora. Keinginan untuk mengenyangkan batin yang begitu haus sentuhan jasmani.


Duak...!


"Aduhh!"


Vedra berseru sebelum akhirnya memijat kepalanya yang membentur jendela kaca di hadapannya.


"Ahaha! Apa yang kau lakukan, Ved? Apa kau sedang mempraktekkan ilmu menembus dinding?" Verda tertawa karena kebetulan melihat Vedra yang sedari tadi bengong.

__ADS_1


Pria itu berjalan lurus dengan tatapan kosong sebelum akhirnya menabrak jendela kaca. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu sampai menabrak jendela kaca.


Vedra memasang tampang datarnya, mengumpat dalam hati mengapa ia bisa berfantasi seliar itu terhadap Verda.


Verda sungguh meresahkan, bund!


...*****...


"Ved!" seru Verda begitu memasuki kamar.


Ia menghampiri Vedra yang saat ini sedang berkutat di depan cermin yang ada di depan pintu lemarinya untuk menata rambut.


"Ada apa, Verda?" tanya Vedra tanpa menoleh.


Tiba-tiba Vedra terkesiap lantaran melihat pantulan Verda dari cermin di hadapannya. Verda hanya mengenakan handuk yang terlilit menutupi dada hingga sebatas pahanya. 


"Ved, pakaianku belum kembali dari penatu. Tolong setrika lagi pakaianku ya," pinta Verda sambil membawa kemeja dan roknya yang kusut.


"Verda, kau bisa setrika sendiri kan?" tanya Vedra.


"Aku tidak bisa, makanya aku meminta tolong padamu lagi!" sahut Verda.


Vedra memutar bola matanya.


"Verda, aku harus membuat sarapan pagi," sahut Vedra.


"Kau tidak perlu membuat sarapan pagi, nanti aku yang traktir!" sahut Verda.


"Verda, kenapa kau tidak belajar menyetrika sendiri?" tanya Vedra.


"Bu-bukan begitu! Kau bisa ditangkap polisi atas tuduhan sakit jiwa kalau bugil begitu!" sergah Vedra.


Verda mengerutkan keningnya.


"Ved, maksudku adalah aku tidak mungkin memakai pakaian yang tidak rapi ke kantor! Aku tidak mengatakan akan berbugil ria! Aku bukan orang gila, Ved!" ucap Verda.


"Baiklah, baiklah! Aku akan membantumu," sahut Vedra menutupi salah tingkahnya.


Vedra mulai menyetrika kemeja berwarna kuning lembut milik Verda, sementara Verda mengawasi sambil memakai rangkaian produk perawatan kulitnya.


"Verda, menurutku, alangkah baiknya kalau kau belajar menyetrika sendiri," kata Vedra.


"Ved, kau ini tidak ikhlas membantuku ya?" tanya Verda.


"Verda, apa kau sungguh tidak bisa menyetrika? Menyetrika itu hal yang sangat mudah. Semua orang bisa melakukannya," sahut Vedra.


"Ved, kalau memang menyetrika itu mudah, kenapa orang pergi ke penatu?" tanya Verda.


"Ya, karena mereka hanya tidak punya waktu untuk menyetrika. Bukan berarti tidak bisa menyetrika," sahut Vedra.


"Ya sudah, kalau ada orang yang bisa melakukannya, mengapa harus aku?" tanya Verda.


"Verda, kau harus punya kemampuan dasar untuk dapat bertahan hidup tanpa bergantung pada orang lain. Agar suatu saat ketika tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bergantung, kau akan bisa mengandalkan dirimu sendiri," jawab Vedra diplomatis.


Verda melemparkan tatapan skeptis ke arah Vedra.


"Verda, aku bisa membantu mengajarimu menyetrika, apa kau mau mencoba?" tanya Vedra.

__ADS_1


Verda terprovokasi sikap Vedra yang seolah menganggapnya bodoh karena tidak bisa menyetrika.


"Verda, hati-hati, jangan sampai anggota tubuhmu terkena setrika!" Vedra mengawasi Verda yang mulai memegang setrika.


"Pegangnya seperti ini, jadi tidak akan mengenaimu," Vedra membenarkan posisi tangan Verda.


Tangan mereka saling bersentuhan, Vedra kembali merasakan sengatan listrik yang membuat tubuhnya merinding. Aroma sabun yang begitu segar dan lembut menguar dari tubuh Verda, menggelitik penciuman Vedra.


Verda tertegun, ia merasakan rasa geli di tengkuknya. Deru napas Vedra menyapu sekitar lehernya.


Verda memejamkan matanya, merasakan sapuan lembut bibir Vedra yang menyusuri lehernya. Verda merasakan jemari pria itu sudah merengkuh wajahnya, menyapu bibir Verda dengan jemarinya. Pria itu menyusuri rahang Verda dengan bibirnya.


"Ah...,"


Verda melenguh menikmati sentuhan pria yang saat ini memutar tubuh Verda dan menghirup aroma tulang selangka Verda.


Verda meremas rambut pria yang saat ini sedang menjadikan leher Verda sebagai sasarannya. 


Aroma sampo Vedra tercium jelas di hidung Verda. Aroma yang disukai Verda, aroma mint yang segar dan wangi bunga.


"Hmm, Verda," Vedra memutar tubuh Verda.


Menciumi punggung Verda yang terbuka. Aroma Verda sungguh memabukkannya. Perlahan tangannya melepas handuk yang melilit tubuh Verda.


Handuk yang terlepas membuatnya makin mudah mengakses setiap jengkal kulit Verda.


Ia ingin lebih, lebih, dan lebih dari sekadar menikmati aroma kulit Verda.


"Hmm, Ved," lenguh Verda.


Mereka saling berpandangan, seakan tubuh mereka adalah dua kutub magnet yang berbeda. Verda reflek mengalungkan tangannya ke leher Vedra saat membiarkan pria itu menciumi rahangnya, bergulir ke dagu Verda, mengincar bibir Verda yang terlihat ranum.


Namun mereka terhenti saat menghirup aroma yang menyengat.


Aroma gosong dari sesuatu yang terbakar.


"Ved!" Verda menepuk punggung Vedra.


Vedra tersentak kaget, melepaskan pelukannya dari Verda.


"Astaga! Kemejaku gosong, Ved!" seru Verda.


"Oh tidak!" Vedra cepat-cepat mencabut kabel setrika dari stop kontak.


Vedra dan Verda saling berpandangan, seketika mereka berdua salah tingkah.


Verda buru-buru mengambil handuknya yang terjatuh di lantai. Ia melangkah cepat memasuki ruangan penyimpanan barang-barangnya.


Vedra terpaku, masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. 


Ini pasti hanya khayalannya saja kan?


Tapi kalau hanya khayalannya saja, kemeja Verda tidak akan gosong begini kan?! Batin pria itu bergelut.


Oh tidak! Apa yang sudah kulakukan?!


...*****...

__ADS_1


__ADS_2