
Pria itu mengetuk-ngetukkan jarinya di atas kemudi. Berkali-kali ia menengok ke arah pintu masuk sebuah bank. Begitu melihat sosok seorang wanita keluar, dengan segera pria itu ikut keluar dari mobilnya dan menghampiri wanita tersebut.
"Silvia!"
Wanita itu menghentikan langkahnya lantaran sang pria menghadang jalannya.
"Silvia, aku ingin bicara denganmu," kata pria itu.
"Ved, aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi," tukas Silvia.
Vedra menghela napas berat, masih memandangi Silvia yang membuang pandangannya dari Vedra.
"Silvia, apa ramalan itu hanyalah sekadar alasan untuk memutus hubungan kita secara sepihak demi pria lain?" tanya Vedra.
"Apa?!" Silvia menoleh ke arah Vedra.
Silvia benar-benar terkejut mendengar tudingan dari Vedra. Silvia menoleh, melihat petugas keamanan yang mengawasinya. Rasanya tidak enak jika sampai menimbulkan masalah.
"Baiklah, Ved, mari kita bicara di tempat lain," kata Silvia.
...*****...
Vedra dan Silvia segera duduk di salah satu meja kosong food court yang ada di salah satu pusat perbelanjaan di Plaza C. Lokasinya yang kebetulan dekat dengan tempat bekerja Silvia membuat mereka sering mengunjungi tempat makan tersebut.
"Silvia, aku akan memesan makanan, kau mau makan apa?" tanya Vedra.
"Tidak, Ved, aku rasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk makan," jawab Silvia dingin.
"Baiklah, kalau begitu, kau mau minum apa? Aku akan memesannya untukmu," kata Vedra.
"Ved, aku sedang terburu-buru," Silvia menolak dengan tegas.
"Terburu-buru?" tanya Vedra. "Apa kau terburu-buru karena sudah punya janji dengan pria itu?"
"Vedra!" sergah Silvia.
"Silvia, siapa pria itu? Apakah pria itu yang membuatmu akhirnya membatalkan rencana pernikahan kita secara sepihak?"
Silvia bisa menduga bahwa pria yang dimaksud oleh Vedra pastilah pria yang fotonya diunggah Silvia di akun sosial medianya.
"Bayu adalah sepupuku, Ved," jawab Silvia.
"Sepupu?" tanya Vedra.
"Ya, dia sepupuku dan beberapa waktu yang lalu kami bertemu di acara keluarga," jawab Silvia.
Pandangan Vedra masih terlihat penuh selidik.
"Vedra, aku rasa kau tidak punya hak untuk perlu tahu tentangku lagi, siapa orang yang menemui dan kutemui! Kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi!" tukas Silvia dingin dan tegas.
__ADS_1
"Silvia, berapa kali harus kukatakan padamu, aku tidak menerima keputusan pembatalan pernikahan kita hanya karena ramalan konyol!" sergah Vedra.
Silvia menghela napas berat sambil memandangi wajah Vedra yang kini nampak memasang ekspresi kesal padahal biasanya pria itu selalu menampilkan wajah tanpa ekspresi.
"Silvia, kumohon jujurlah padaku, apa sebenarnya yang membuatmu mengambil keputusan sepihak seperti ini?" tanya Vedra.
Silvia terdiam, ia menunduk dalam. Entahlah bagaimana cara meyakinkan Vedra agar bisa menerima kenyataan pahit ini dengan lapang dada.
"Vedra, tolong jangan merasa menjadi orang yang paling menderita! Aku pun juga merasakan hal yang sama sepertimu! Aku sangat menderita, Ved, rasanya aku masih belum bisa memercayai bahwa hubungan yang selama ini kita bina, semua impian yang sudah kita impikan bersama, kini hanya tinggal wacana!"
Vedra menghela napasnya, Silvia nampak begitu terluka.
"Loh, Vedra?"
Sapaan seseorang membuat Vedra mengarahkan pandangannya pada orang yang memanggil namanya. Vedra terperangah karena melihat Ican dan Verda menghampiri meja tempatnya duduk.
"Ya ampun, tidak kusangka kita bisa bertemu di tempat ini!" Ican menyeringai, mengarahkan pandangannya pada wanita yang duduk di hadapan Vedra.
"Ican, Verda, apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Vedra.
"Kami mau pijat refleksi," jawab Verda dengan cepat.
Alis Vedra berkerut sementara Ican melengos mendengar jawaban Verda.
"Verda," Ican melotot.
"Ya elah, ini kan tempat makan, ya kami mau makan dong di sini," Verda mencebik.
"Oh ya, Ved, ngomong-ngomong kau tidak mau mengenalkan istrimu ya?" tanya Ican.
Silvia tertegun, ia merasa sedih karena semua orang yang mengenal Vedra pasti mengira bahwa ia adalah istri Vedra, mengingat mereka memang sudah hampir menikah.
"Wah, istrimu begitu cantik dan manis! Kok mau Mbak, sama Vedra? Di pelet ya? Hihi," Ican terkekeh.
Silvia mengulas senyumnya yang terasa berat. Sementara itu Verda melotot horor ke arah Ican tanpa disadari oleh pria itu. Perkataan Ican seolah mengejek Verda yang notabene adalah istri Vedra.
"Ved, aku kira kau ini bulan madu ke mana begitu, ternyata kita malah bertemu di sini!" cerocos Ican lagi.
Deg..
Jantung Silvia seakan berhenti berdetak.
Bulan madu? Batin Silvia sambil menatap Vedra.
Silvia mengarahkan pandangannya ke tangan Vedra, sebuah cincin melingkar di jari manis kanan pria itu. Silvia jelas mengenali cincin tersebut lantaran ia dan Vedra memilih sendiri cincin kawin mereka. Jika cincin itu dikenakan oleh Vedra, itu artinya Vedra telah menikah.
Jantung Silvia bergemuruh, ada rasa kecewa yang meronta-ronta dalam hatinya. Vedra mengatakan padanya tidak menerima pembatalan pernikahan mereka namun pria itu justru telah menikah.
"Silakan lanjutkan obrolan kalian, saya permisi," Silvia menyambar tas tangannya lalu beranjak dari kursinya.
__ADS_1
Silvia bergegas pergi usai berpamitan.
"Kalian berdua silakan lanjut," Vedra beranjak dari kursinya.
"Oh, o-oke," Ican tergagap.
Vedra bergegas menyusul Silvia. Pembicaraan mereka bahkan belum selesai.
"Ihiy, romantisnya ya, pengantin baru, dunia serasa milik berdua," kata Ican.
"Jadi kau iri, Can?" tanya Verda.
"Ya jelas! Vedra yang seperti itu saja bisa dapat istri yang cantik dan manis begitu! Pasti pakai pelet itu ya si Vedra! Aku harus tanya dukun mana yang dia datangi!" cerocos Ican.
"Ahaha," Verda tertawa lagi namun tawa Verda terdengar mengejek.
"Apa sih, Verda, ketawamu terdengar julid sekali," gerutu Ican.
"Apa kau yakin wanita itu adalah istrinya Vedra?" tanya Verda sambil mengulas senyum misterius.
"Verda, kau tidak usah pura-pura buta ya! Kau lihat sendiri kan, Vedra langsung menyusul istrinya begitu!" sahut Ican.
"Oh, begitu, jadi menurutmu, istri Vedra sangat cantik?" tanya Verda.
"Ya, istri Vedra sungguh cantik dan manis! Sungguh tipeku!" sahut Ican antusias.
"Bagaimana denganku? Apa aku ini tidak cantik dan manis?" tanya Verda.
"Verda, kau itu gorgeous!" jawab Ican.
...*****...
"Silvia! Tunggu!" Vedra setengah berlari mengejar langkah Silvia.
Silvia mengabaikan panggilan Vedra. Ada rasa kecewa yang tak bisa ditahan oleh Silvia. Vedra segera menghadang langkah Silvia.
"Ved, apa benar kau sudah menikah?" tanya Silvia.
Vedra tidak segera menjawab, tenggorokannya terasa tercekat. Namun tatapan Silvia menuntut jawaban Vedra.
"Ya, aku sudah menikah," jawab Vedra singkat.
Silvia terpukul mendengar pengakuan Vedra yang sungguh begitu mengejutkannya.
"Bagus sekali, Ved! Kau menuduhku membatalkan pernikahan kita karena pria lain, sementara kau sendiri justru telah menikah!" sergah Silvia.
"Silvia, aku bisa menjelaskan semua ini!" kata Vedra.
"Tidak, Ved, kau tidak perlu menjelaskan apa pun padaku! Bagiku semuanya sudah jelas! Semua ramalan itu terbukti benar, bahwa kau ternyata adalah pria yang brengsek!" geram Silvia.
__ADS_1
Silvia menyentak tangan Vedra yang menahannya untuk pergi. Silvia segera bergegas meninggalkan Vedra yang terpaku menatap kepergian Silvia tanpa sempat menjelaskan apa pun.
...*****...