Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 094


__ADS_3

Vivie menekan bel yang ada di pintu masuk sebuah kamar hotel berbintang lima. Ia menunggu dengan sabar sampai terdengar bunyi pintu kamar tersebut dibuka.


"Vivie!" Verda langsung memeluk Vivie.


"Kakak," Vivie membalas pelukan kakaknya.


Verda segera mengajak Vivie untuk masuk ke kamar hotel tersebut.


"Kau bawa yang aku minta?" tanya Verda.


"Ini," jawab Vivie sambil menyodorkan tas yang dibawanya.


Verda mengulas senyumnya, membuka isi tas dan mengambil pakaian renang yang dibawakan Vivie.


"Kakak tidak bekerja?" tanya Vivie.


"Aku bolos," sahut Verda segera mengganti pakaiannya dengan pakaian renang yang dibawa Vivie.


Pakaian renang model bikini dengan warna hitam yang langsung melekat sempurna di tubuh Verda.


"Astaga, tumben," komentar Vivie. "Apa kakak bersama Jehun kw?" tanya Vivie sambil celingukan.


"Tidak, aku sendiri saja," jawab Verda singkat.


"Oh, Jehun kw sedang ada pemotretan, begitu?" tanya Vivie.


Verda tidak menjawab.


"Vie, ayo kita berenang," ajak Verda.


...*****...


Usai melakukan pemanasan singkat, Verda segera menceburkan diri ke dalam kolam renang yang menghadap langsung ke arah laut. Kebetulan tidak ada pengunjung yang menggunakan kolam renang tersebut membuat Verda dan Vivie seakan menggunakan kolam renang sebagai fasilitas pribadi mereka.


Biar kata Verda tidak bisa berenang, namun menikmati pemandangan laut yang tenang sambil bermain air sudah cukup membuatnya senang.


"Kak, Kakak sepertinya gendutan ya," komentar Vivie.


"Apa? Aku gendutan?" tanya Verda.


"Iya, lihat itu, lemak di perut Kakak sampai tumpah begitu!" ledek Vivie.


"Ah, perasaan kau saja itu, Vie!" cibir Verda.


"Terus, dada kakak juga sepertinya jadi lebih besar! sampai tumpah-tumpah!" Vivie terkekeh.


"Apa sih, Vie!" Verda mencipratkan air ke wajah Vivie.

__ADS_1


"Haha, makin senang dong Kak, si Jehun kw, pasti dia yang punya kerjaan kan tiap malam, pijat plus-plus, haha," Vivie kembali menggoda kakaknya.


Verda hanya mencebik, entah mengapa ia merasa kesal karena apa yang dikatakan Vivie adalah sebuah kebenaran.


"Hiihh, apa sih, Vie," gerutu Verda.


"Ada apa, Kak? Kakak ada masalah ya sama si Jehun kw?" tanya Vivie.


"Tidak ada, Vie," sahut Verda singkat.


Vivie memicingkan matanya, ia sangat tahu sikap kakaknya jika ada masalah yang tengah dipendam.


"Kak, apa Jehun kw selingkuh?" tanya Vivie.


"Ahaha, kalau dia sampai berani selingkuh, kupastikan bahwa yang kujambak adalah rambutnya, bukan selingkuhannya!" jawab Verda seraya tertawa.


Semakin mencurigakan! Batin Vivie.


"Jadi, kenapa Kakak dan Jehun kw sampai bertengkar?" Vivie kembali memancing Verda.


"Aku kesal padanya!" jawab Verda secara spontan.


Vivie menyeringai, Verda cepat-cepat menutup mulutnya, matanya berputar-putar cepat.


Keceplosan!


Verda merapatkan mulutnya, Vivie memang ahli sekali memancingnya.


"Kak, Jehun kw selingkuh kan? Mengaku saja, Kak, mau ditutupi seperti apa, aku sudah bisa melihat dengan jelas! Pria model Jehun kw itu ya memang tampang-tampang penjahat kelamin! Tipe pria yang habis manis sepah dibuang," cerocos Vivie.


Verda mendelik gusar mendengar cerocosan Vivie.


"Vie, sungguh bukan karena itu," potong Verda.


"Kalau bukan karena itu, terus karena apa?" tanya Vivie.


"Kak, maaf ya, bukan bermaksud mendiskreditkan Kakak, tapi Kakak kan tidak banyak mengenal pria sebelum mendadak menikah dengan si Jehun kw. Kakak hanya mengenal Jehun dan anggotanya yang bahkan tidak Kakak kenal sampai ke jeroan-jeroannya. Intinya Kakak itu benar-benar tidak mengetahui secara persis pria macam apa si Jehun kw, begitu kan?" Vivie mencoba menebak-nebak.


"'Vie, please, aku sungguh tidak ingin membahas masalahku dan suamiku! Aku sedang tidak ingin memikirkan masalah itu! Sungguh aku hanya ingin memberi waktu bagi diriku sendiri untuk berpikir dengan tenang," tukas Verda.


"Kakak," Vivie menatap Verda.


"Ada apa sih, Kak, coba Kakak cerita, jangan disimpan sendiri begitu. Dalam setiap pernikahan, pertengkaran itu hal yang wajar dan sudah biasa terjadi, namanya juga menyatukan dua pemikiran yang berbeda. Apa Kakak pikir aku dan Bian selama ini hanya adem ayem saja? Tidak Kak, kami juga sering ribut, tapi setelah itu kami saling menyadari kesalahan masing-masing dan akhirnya saling memaafkan. Itulah yang membuat ikatan kami makin kuat, Kak," Vivie menjelaskan.


Verda termenung.


"Kak, cinta saja tidak cukup untuk modal dalam menjalani kehidupan pernikahan. Dan ketampanan si Jehun kw tidak bisa menjadi jaminan bahwa pria itu akan tetap mencintai Kakak," lanjut Vivie.

__ADS_1


Verda kembali termenung. Satu kata dari Vivie membuatnya seketika galau.


Cinta.


Ia bahkan tidak tahu bagaimana perasaannya pada Vedra.


"Kakak!" Vivie menyipratkan air ke wajah Vedra yang melamun.


"Aduh, apa sih, Vie!" keluh Verda.


"Cie, langsung kangen nih sama si Jehun kw?" Goda Vivie.


"Haha," Verda tertawa sambil mendorong Vivie ke dalam air.


"Ih, apa sih, Kak!" Vivie balas mendorong Verda.


Mereka pun akhirnya tertawa bersama-sama lantaran saling dorong.


...*****...


Seharian ini, Verda menghabiskan waktunya berdua dengan Vivie. Mereka berdua pergi ke spa dan salon bersama. Verda memang tidak terlalu banyak memiliki teman dekat. Pernikahan dini yang dilakukannya dulu membuatnya menjadi pribadi yang rendah diri alias minder. Belum lagi ditambah dengan predikat sebagai "anak orang kaya" membuat Verda tidak memiliki teman yang benar-benar dekat dengannya. Semua orang terkesan takut untuk bergaul dengannya lantaran merasa tidak setara dengan Verda.


Tak heran hanya Vivie-lah yang benar-benar dekat dengannya. Meski usia mereka terpaut delapan tahun, namun itu semua sama sekali tak menjadi masalah karena pada akhirnya mereka tumbuh bersama. 


"Kak, coba lihat, ada tempat wisata baru yang sedang hits, namanya Bukit Embun," Vivie menyodorkan gawai cerdasnya ke arah Verda.


Verda yang saat ini sedang melakukan hair spa hanya menoleh sekilas.


"Pemandangannya bagus sekali, aku jadi ingin pergi ke sana," kata Vivie.


"Khukhu...," Verda tertawa angkuh. 


"Maaf ya, Vie, aku sudah pernah ke sana, tempat itu benar-benar sangat bagus, seakan kau sedang berada di surga," kata Verda.


"Heh? Serius Kakak sudah pergi ke sana? Kapan?" tanya Vivie keheranan.


"Aku sudah pergi ke sana beberapa waktu yang lalu bersama suamiku," jawab Verda dengan rasa bangga.


"Ih, serius, Kak? Kok tidak ajak-ajak sih?!" cibir Vivie.


"Hmm, kami perginya juga mendadak kok. Suamiku mengajakku pergi ke sana karena katanya mainku kurang jauh," kata Verda antusias.


Namun tiba-tiba air matanya mengalir begitu saja lantaran mengingat banyaknya kenangan manis yang ia lalui bersama Vedra. 


Kemesraan yang kerap mereka lakukan saat bersama, berpetualang ke tempat baru yang belum pernah dikunjungi Verda, bercanda tawa bersama saat mereka berdua, semuanya membuat Verda merasa bahwa pria itu benar-benar menorehkan hal nyata yang membuat Verda merasa bahagia.


Rasanya sungguh kekanak-kanakan sekali mereka bertengkar seperti itu kan?

__ADS_1


...*****...


__ADS_2