Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 096


__ADS_3

"Verda, kau di mana? Kalau ada waktu, yuk singgah ke restoran  A, aku yang traktir," Verda membaca pesan dari Ican.


Verda mendelik gusar, mengapa justru Ican yang mengiriminya pesan. 


Ke mana Vedra? Kenapa pria itu tidak menjawab teleponku?! Verda membatin gusar.


Sudah tiga kali Verda menelepon pria itu, namun Vedra belum juga menjawab telepon Verda.


"Apa dia masih di kantor?" Verda bertanya-tanya sambil melihat jam tangannya.


Yuk, ke sini, jadi kita bisa double date bareng Vedra.


Pesan masuk dari Ican kali ini dilengkapi sebuah foto yang diambil Ican secara candid.


Verda merasa ada petir yang menyambar dalam kepalanya saat melihat foto yang dikirimkan oleh Ican.


"Can, share location," balas Verda mengetik pesan.


Verda merasa darahnya mendidih melihat foto tersebut. Terlihat jelas Vedra bersama Silvia sedang makan malam berdua.


"Dasar playboy itu! Baru juga ditinggal sehari!" geram Verda sambil memukul kemudi mobilnya dengan gemas.


Verda segera mengemudikan mobilnya menuju ke restoran yang lokasinya dikirimkan oleh Ican.


Ican merasa berbunga-bunga, sepertinya ia tidak perlu menjadi obat nyamuk lebih lama karena sebentar lagi Verda akan datang.


...*****...


Verda memasuki restoran, matanya mencari-cari Ican yang langsung melambaikan tangan ke arahnya.


"Verda!" 


Verda segera menuju ke meja tempat Ican dan teman-teman pria itu berkumpul. Ican melongo seperti halnya teman-temannya saat melihat sosok Verda yang memukau.


Verda mencuri-curi pandang ke arah pengunjung lain, mencari sosok Vedra.


"Hai, Can, halo semua," Verda menyapa teman-teman Ican.


"Hei, gaes!" Ican menggebrak meja, membuat semua teman-temannya tersadar.


"Ha-halo!" sahut mereka salah tingkah.


Verda mengulas senyumnya kepada semua mata yang tertuju padanya. Verda segera duduk di samping Ican.


"Teman-teman, ini Verda, temanku yang rencananya mau kujadikan teman hidup, hehe," Ican memperkenalkan Verda.


"Haha, ya ampun, Can," Verda mencubit lengan Ican.


"Haha," Ican tertawa, cubitan Verda sungguh terasa geli.


"Permisi ya, aku mau ke toilet dulu," Verda berpamitan.


"Silakan!" seru mereka.


"Waah, serius, Can?!" Yaser terperangah.


"Buset, Ican dapat bidadari!" Robi menimpali.


"Haha, doakan yang baik saja ya, teman-teman," Ican tertawa penuh kebanggaan.


Sementara itu Verda segera mencari Vedra. Darahnya berdesir cepat, mengumpat dan memaki-maki Vedra. Pria itu tidak menjawab teleponnya karena sedang bersama wanita lain yang tak lain adalah Silvia.


Daebak! Daebak, Ved!

__ADS_1


Ingin rasanya Verda bertepuk tangan seolah Vedra baru saja memenangkan penghargaan nasional.


Verda menghentikan langkahnya begitu tiba di meja Vedra dan Silvia.


"Loh, Vedra!" 


Vedra tertegun mendengar suara seseorang memanggilnya.


"Oh, ya ampun, sungguh kebetulan sekali kita bertemu di sini," Verda mengulas senyum ramah.


"Verda," kata Vedra tertahan.


Verda kembali mengulas senyumnya, masih tetap bersikap tenang seperti istri sholeha yang memergoki suaminya berselingkuh dengan wanita lain.


"Wah, kau sedang makan malam romantis dengan istrimu ya?" tanya Verda.


Raut wajah Silvia seketika menegang, Silvia menunduk, hatinya tersayat pada kenyataan bahwa ia bukanlah istri Vedra.


"Verda, kau datang sendiri?" tanya Vedra mengalihkan pertanyaan Verda.


"Oh, tidak, aku datang bersama teman-teman," jawab Verda.


"Oh begitu," kata Vedra.


"Ved, kau tidak memperkenalkan istrimu yang cantik ini?" tanya Verda.


Vedra menegang, Silvia menunduk makin dalam.


"Oh, ya ampun, maaf ya, aku mengganggu kalian, kalau begitu permisi," Verda berpamitan.


Verda melangkah pergi menuju ke toilet.


Klang..!


Sendok Vedra jatuh dan isi makanan mengotori bajunya.


Silvia tidak menjawab, ia masih menunduk.


Sementara itu Verda langsung menggiring Vedra yang menghampirinya di toilet. Mereka menuju ke halaman belakang restoran melalui pintu belakang.


"Bagus, Ved! Bagus sekali! Aku berkali-kali meneleponmu, ternyata ini alasan kau tidak menjawab telepon dariku!" cecar Verda.


Vedra hanya diam mendengarkan.


"Kau ternyata menemui Silvia dan makan malam romantis bersama! Huh! Apa setelah ini kalian akan check in ke hotel? Atau kau justru membawa Silvia ke rumahmu, mentang-mentang aku tidak ada di rumahmu?!" cecar Verda.


"Jawab aku, Ved!" teriak Verda penuh kemurkaan.


"Verda, jika kau berpikir seperti itu maka pemikiranmu sungguh salah," kata Vedra.


"Huh, begitu ya, oh, iya, iya, aku lupa, kau kan tuan yang selalu merasa benar!" Verda tertawa sinis.


"Verda, aku punya alasan mengapa aku tidak menjawab teleponmu," kata Vedra berusaha tenang.


"Karena ada Silvia, makanya kau tidak mau menjawab teleponku! Itu kan alasanmu?!" Verda menatap sinis ke arah Vedra.


"Verda, aku tidak menjawab teleponmu, karena aku tidak ingin kau meneleponku hanya untuk membahas masalah photo card Jehun! Pagi-pagi kau menghilang dan meninggalkan daftar photo card Jehun lalu memintaku untuk mendapatkan semua itu! Berapa kali harus kukatakan padamu agar kau mengerti bahwa aku belum bisa memenuhi keinginan atas obsesi berlebihanmu pada Jehun?" ucap Vedra.


"Apa?! Kau berpikir bahwa aku meneleponmu untuk membahas photo card Jehun?" tanya Verda.


"Memangnya apa lagi yang ingin kau minta dariku selain photo card Jehun?" tanya Vedra.


"Ved, apa kau tidak berpikir bahwa bisa saja aku meneleponmu untuk masalah lain?" Verda balik bertanya.

__ADS_1


"Verda, jika kau ingin membahas tentang kesalahanku yang sudah menghamilimu, bukankah aku sudah menawarkan bahwa aku bersedia bertanggung jawab terhadap benih yang kutanam? Hanya saja sepertinya kau tidak bersedia mengandung benihku, jadi aku bisa berbuat apa?"


"Atau kau mau membahas mengenai betapa menyesalnya dirimu karena telah menikah denganku?"


Verda terperangah mendengar semua yang dilontarkan oleh Vedra.


"Ved, bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?" tanya Verda.


"Aku bisa berpikir seperti itu, karena kau yang membuatku berpikir seperti itu, Verda! Kau bahkan menuduhku melakukan perselingkuhan yang bahkan tidak kulakukan!" jawab Vedra.


Verda merasa dadanya begitu sesak.


"Verda, aku benar-benar minta maaf, jika memang kau merasa menyesal menikah denganku, baiklah, aku terima. Bahkan jika kau memang benar-benar hamil namun kau tidak menerima kehadiran benih yang kutanamkan dalam rahimmu, tidak masalah, kau bisa menggugurkannya bahkan tanpa perlu persetujuanku," kata Vedra.


"A-apa?" Verda menegang.


"Aku sungguh tidak ingin membuatmu sulit, Verda," kata Vedra.


"Verda, aku sadar bahwa selama ini kita sudah terlalu jauh melanggar kesepakatan yang kita buat sendiri sebelum menikah, hingga akhirnya malah menyulitkan posisi kita berdua."


"Verda, aku janji akan mencari, menemukan, dan mendapatkan photo card Jehun dalam dua tahun. Jika memang kau tidak bisa menunggu selama dua tahun, baiklah, aku akan mengusahakan secepat mungkin untuk mencari dana, meski harus menjual mobilku. Jadi tunggulah, aku tidak akan ke mana-mana karena aku sudah menjaminkan diriku."


"Jika tidak ada hal yang ingin kau bicarakan lagi, aku harus kembali," Vedra melirik jam tangannya.


"Ini sudah mendekati jam malam Silvia, aku harus mengantar Silvia pulang," Vedra berpamitan.


"Ved," sergah Verda menahan kepergian Vedra.


"Apa Silvia jauh lebih penting dari aku?" tanya Verda.


"Verda," kata Vedra.


"Apa mengantar Silvia pulang menjadi prioritas utamamu daripada aku?" tanya Verda.


"Verda," kata Vedra.


Verda menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Ved, apakah menurutmu hubungan kita selama ini tidaklah penting? Apa menurutmu hubungan kita akan berakhir saat kau memberiku semua photo card Jehun yang telah kau dapatkan?"


Verda mencecar Vedra dengan pertanyaan-pertanyaan yang keluar begitu saja dari mulut Verda.


"Verda, bukankah tujuan pernikahan kita memang seperti itu? Aku menjaminkan diriku untuk mencari, menemukan, dan mendapatkan photo card idolamu," tukas Vedra.


"Hanya itu?" tanya Verda.


"Verda, memangnya apa yang bisa kuharapkan dari pernikahan kita?" Vedra balik bertanya.


Vedra menghela napasnya, Verda benar-benar pandai memancing emosinya. Ia sungguh tidak ingin mengatakan hal yang makin memperkeruh konflik internal mereka.


"Verda, aku akan menjemputmu setelah mengantar Silvia pulang, aku akan meneleponmu," kata Vedra.


"Kau tidak perlu menjemputku," Verda mengulas senyumnya.


Ia segera meninggalkan Vedra, ia melangkah menuju ke meja tempat Ican berkumpul bersama teman-temannya.


"Can, aku balik duluan ya," kata Verda berpamitan.


"Loh, Verda, kau baru saja datang, kau bahkan belum pesan makanan," cegah Ican.


"Aku ada urusan mendadak, lain kali saja ya," Verda mengulas senyumnya.


Ia bergegas keluar dari restoran, memasuki mobil, terdiam mematung dengan air mata yang langsung membanjiri pipinya.

__ADS_1


...*****...


Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Sesabar-sabarnya seseorang pasti bakal meledak juga.


__ADS_2