
Verda membuka jendela kamar dan menghirup udara pagi yang begitu segar, memenuhi paru-parunya sambil memandikan diri di bawah sinar matahari yang hangat menyapu kulitnya.
Kamar Vedra menghadap langsung ke pekarangan depan dari rumah orang tua Vedra yang sangat klasik. Bangunan dari kayu dengan kolong yang tidak terlalu tinggi. Sebagian atapnya masih menggunakan atap daun, sisanya menggunakan atap berbahan seng yang sudah teroksidasi.
Halaman rumah itu cukup luas dan berjarak cukup jauh dari rumah-rumah tetangga. Tenda di pekarangan masih belum dibongkar, menyisakan sisa-sisa kemeriahan resepsi pernikahan semalam. Bagi Verda resepsi pernikahan semalam sungguh jauh dari kata meriah dan mewah mengingat acara hanya diadakan di pekarangan rumah dan para tamu yang datang hanyalah penduduk di kampung ini saja. Tamu pejabat yang diundang juga cuma tingkat kelurahan saja.
Tidak ada tamu undangan yang mengenakan setelan jas atau gaun-gaun malam yang indah dan elegan. Verda menyadari bahwa penampilannya semalam jelas salah kostum namun daripada harus mengenakan busana pengantin yang dipilihkan oleh mertuanya yang jelas bukanlah selera Verda lebih baik ia memakai gaunnya sendiri.
Mata Verda tertuju pada Vedra yang saat ini sedang memanaskan mesin mobil sambil memeriksa kondisi kendaraan tersebut. Hari ini mereka sudah berencana untuk kembali ke kota karena besok Verda harus sudah kembali masuk kantor.
Memang melelahkan, tapi mau bagaimana lagi? Pekerjaan Verda jelas jauh lebih penting daripada acara resepsi pernikahan ini.
Pak Padri berjalan menghampiri Vedra.
"Kenapa buru-buru pulang, Ved? Apa tidak kerasan di sini?" tanya Pak Padri.
Pak Padri mengamati perubahan ekspresi anak laki-lakinya yang terlihat kebingungan memberikan jawaban.
"Apa karena Ibumu, jadi kamu tidak merasa enak?" tanya Pak Padri.
"Bukan begitu, Pak, aku dan Verda harus segera kembali karena urusan pekerjaan," jawab Vedra.
"Oh, begitu," Pak Padri mengangguk pelan. "Ved, kamu tidak usah terlalu memikirkan perkataan Ibumu, kamu fokus saja berumah tangga yang baik," Pak Padri menasehati Vedra.
"Iya Pak," jawab Vedra.
...*****...
Verda keluar dari kamar Vedra, disambut tatapan sinis yang langsung menghujam ke arah wanita itu. Verda hanya membalas semua itu dengan senyuman. Ia melintasi dapur untuk menuju ke kamar mandi.
"Umma ae, pamali perempuan bangun siang-siang begini! Jauh rejekinya!" ceplos Bu Fadlun.
"Apa perempuan kota besar memang suka bangun siang ya?" Acil Inam menimpali.
Verda mengulas senyumnya, ia merasa harus menanggapi sambutan dari keluarga Vedra.
"Hmm, saya biasa kalau hari libur bangunnya justru malam! Haha," sahut Verda seraya terkekeh.
Niat hati Verda ingin bercanda dan mencairkan suasana, namun reaksi dari para wanita sepuh itu justru makin sinis.
"Astaga! Kau itu macam perempuan nakal saja! Atau kau memang perempuan nakal?" nada bicara Acil Inam meninggi dua oktaf.
"'Aduh Bu, saya hanya bercanda. Tidak perlu baper begitu," Verda kembali mengulas senyum.
"Baper? Apa Baper?! Kau menghinaku mentang-mentang aku orang kampung?!" cecar Acil Inam ke arah Verda.
__ADS_1
"Ada apa, Cil? Kenapa ribut-ribut? Ada masalah apa?" tanya Vedra.
Vedra baru saja memasuki dapur melalui pintu belakang.
"Ved! Ini bini ikam perlu ditatar! Mentang-mentang Acil ini orang kampung, dikasihnya bahasa kota besar untuk mengolok!" Acil Inam bertolak pinggang, melotot geram dengan tangan kanan yang menunjuk ke arah Verda.
"Bahasa kota besar apa?" tanya Vedra keheranan.
"Istrimu mengatai Acilmu baper!" sahut Bu Fadlun.
Vedra menoleh ke arah Verda yang terlihat menggeleng pelan sambil mengedikkan bahu.
"Aku hanya bercanda," tukas Verda enteng.
Vedra dengan cepat bisa membaca situasi yang terjadi antara Verda dan keluarganya.
"Cil, baper itu artinya bawa perasaan, maksudnya segala sesuatu jangan dimasukkan ke dalam hati nanti malah jadi sakit hati," Vedra menjelaskan kepada Acil Inam.
"Oh, jadi maksud kamu, Acil ini orang yang suka baper, begitu?!" Acil Inam kembali emosi.
"Kak Inam, sudah, maafkan menantuku ya, namanya juga perempuan dari kota besar," sahut Bu Fadlun.
Verda bisa mendengar bahwa keluarga Vedra jelas sedang mendiskreditkannya. Orang-orang yang kerap termakan isu stereotipe terhadap orang-orang yang hidup di kota besar.
"Ved, ayo sarapan bersama, Ibu sudah siapkan sarapan untukmu," kata Bu Fadlun.
"Aku mau mandi dulu," sahut Verda.
...*****...
Usai mandi, Verda segera memakai pakaiannya. Ia memakai tank top putih dengan luaran berupa kemeja longgar berwarna biru muda dan celana denim berpinggang tinggi. Ia menata rambutnya dengan satu cepolan tinggi.
Ia segera keluar dari kamar dan menuju ke ruang keluarga. Vedra dan keluarga besar pria itu sudah berkumpul, menyantap sarapan pagi bersama. Menu yang dihidangkan berupa nasi kuning dan lontong sayur.
Verda segera bergabung di sisi Vedra yang tengah menyantap semangkuk lontong sayur. Verda mengulum senyumnya, diam-diam ia terkesan melihat cara makan Vedra yang nampak begitu menikmati apa saja yang disantap oleh pria itu. Seakan makanan apa pun yang dimakan olehnya sangatlah enak.
"Ada apa?" tanya Vedra ke arah Verda.
"Hmm, tidak," jawab Verda.
"Ayo dimakan, tidak selera ya makan makanan orang kampung?" tanya Bu Fadlun dengan nada menyindir.
Ini nenek sihir mau cari gara-gara lagi ya? Batin Verda sambil mengulas senyum cerah.
"Semua makanan ini terlihat enak, hanya saja saya tidak terbiasa makan makanan berat untuk sarapan pagi," jawab Verda.
__ADS_1
"Lakas bajapai, ikam kena kapuhuhan," Acil Inam menimpali.
Verda mengerutkan alisnya.
Wanita itu mengataiku menggunakan bahasa gaul dari kota, mencecarku seakan aku mengejeknya, padahal dia sendiri bahkan menggunakan bahasa daerah yang tidak kumengerti! Batin Verda.
Memang ya kuman di seberang lautan itu tampak!
"Verda, kalau tidak mau makan, minimal dicicipi saja, kalau tidak nanti bisa celaka," Vedra menjelaskan pada Verda.
"Jangan menakutiku seperti itu," Verda mencebik.
Vedra mengambilkan satu sendok nasi kuning ke arah Verda.
"Cicipi sedikit saja, atau mereka semua akan mengatakan hal yang lebih menakutkan lagi," kata Vedra.
Verda mengambil sendok dari tangan Vedra dan menyuapkan nasi kuning ke mulutnya. Verda benar-benar merasa ingin muntah karena tidak terbiasa menyantap makanan itu. Apalagi ada aroma amis dari ikan yang terasa menyengat di lidah Verda.
Vedra sebenarnya tidak percaya dengan hal-hal di luar logika manusia, hanya saja daripada para tetua di rumahnya mengatakan hal-hal yang bernuansa ancaman, alangkah baiknya dituruti saja demi kemaslahatan bersama.
Verda cepat-cepat menyambar teh hangat milik Vedra dan meneguk habis isinya, membiarkan satu sendok nasi kuning langsung meluncur turun ke lambungnya daripada menyiksa rongga mulut dan kerongkongannya.
...*****...
Usai menyantap sarapan, Vedra pun memasukkan semua barang yang akan dibawanya ke dalam mobil.
"Vedra."
Vedra menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.
"Siti," Vedra mengucapkan nama wanita itu.
...*****...
Catatan author
Lakasi : cepat, segera
Bajapai : cicipi
Ikam : kamu
Kapuhunan : malapetaka
Maafkan acil author kalau ada salah penerjemahan. Jika ada pembaca yang merupakan penutur asli, silakan koreksi author ya.
__ADS_1
Sampai jumpa di episode selanjutnya 🙏