
Selama berada di Paris, Abim hanya bersama dengan Ayu. Jauh lebih menyenangkan saat bersama Ayu, daripada saat bersama Verda yang selalu murung. Setiap siang ia bersama Ayu, namun saat malam Abim tetap harus bersama Verda. Ia tentu tidak mau gadis itu bicara macam-macam kepada orang tuanya.
"Verda, apa ada tempat yang ingin kau kunjungi? Besok kita sudah pulang ke tanah air," kata Abim.
"Tidak ada," jawab Verda singkat.
Usai makan malam, Verda kembali naik ke tempat tidur, berbaring memunggungi Abim.
Abim menghela napas berat, pengabaian dari Verda sungguh membuatnya merasa kesal.
...*****...
Abim membawa Verda ke rumah yang disiapkan oleh orang tuanya. Rumah bergaya minimalis itu dihuni oleh dua orang asisten rumah tangga, serta satu orang sopir yang merangkap sebagai tukang kebun.
Abim mempersilakan Verda untuk masuk ke kamar mereka. Saat ini dalam benak Abim terlintas rencana yang harus ia lakukan.
Jika ia ingin pergi ke Inggris tanpa harus diganggu oleh Verda, itu artinya satu-satunya cara agar Verda tidak ikut yakni mereka harus segera memiliki momongan. Dengan begitu, Verda tidak akan pergi ke Inggris karena disibukkan oleh anak mereka.
Abim segera menyergap Verda dari belakang, lalu melempar Verda ke tempat tidur.
"Kyaa!" Verda menjerit, terhempas ke atas ranjang.
Abim segera naik ke tubuh Verda, ia berusaha membuka pakaian yang dikenakan Verda secara paksa.
"Kak Abim! Apa yang kau lakukan?!" teriak Verda sekuat tenaga berusaha mendorong Abim menjauh darinya.
"Lepaskan aku, Kak Abim!" teriak Verda, meronta dalam kungkungan Abim.
"Verda! Kau ini istriku, kenapa aku tidak boleh melakukan yang harus kulakukan?" tanya Abim.
Abim menahan kedua tangan Verda di samping kepala Verda.
"Aku ini suamimu, Verda! Sudah seharusnya kau melayaniku!" kata Abim dengan nada memerintah.
"Tidak! Aku tidak mau!" pekik Verda.
Verda meronta sekuat tenaga, Abim tidak peduli, ia benar-benar harus menuntaskan rencananya yakni meniduri Verda sesegera mungkin.
Ia tidak punya waktu lebih lama untuk menunda-nunda persetubuhan tersebut. Begitu Verda dinyatakan hamil, saat itu pula Abim bisa pergi dengan tenang.
Abim bahkan tidak peduli meski Verda menangis, meronta dalam kungkungannya. Saat ini ia hanya peduli pada rencana yang telah disusunnya.
Bruk...!
Abim tersungkur, ia berguling ke sisi tempat tidur, meringis menahan rasa sakit akibat mendapat tendangan penalti dari Verda ke gawang miliknya.
Rasa sakit itu benar-benar membuat Abim seketika meringkuk.
"Verda!" raung Abim penuh kemarahan.
...*****...
Abim benar-benar tidak tahu, cara apa lagi yang harus ia lakukan untuk bisa meniduri Verda. Abim merasa harga dirinya sebagai seorang pria terkoyak lantaran Verda yang kerap menolaknya.
Bagaimana caranya Verda bisa hamil jika Abim tidak bisa menyentuhnya?
Meski Abim sudah meneriakkan sumpah serapah bernada ancaman, tetap saja Verda tidak bergeming. Meski Abim sudah menggedor dan mendobrak pintu, tetap saja Verda tidak bisa dijinakkan.
Abim yang sudah kehilangan kesabarannya segera menghubungi ayahnya. Ia mengajukan komplain atas penolakan yang kerap dilakukan oleh Verda.
"Verda tidak bersedia untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri yang harusnya memenuhi kebutuhan suaminya! Terlebih kebutuhan biologis! Kalau memang tidak mau melayani kewajiban sebagai istri, ya sudah, Verda tidak perlu menjadi istriku!" Abim melayangkan komplainnya.
Verda akhirnya dikembalikan ke orang tuanya, gugatan cerai dikabulkan oleh pihak pengadilan. Mereka pun secara resmi bercerai setelah satu bulan menikah.
__ADS_1
Padalah pihak pengadilan agama menawarkan mediasi kepada kedua belah pihak untuk saling introspeksi diri.
Namun Abim menolak dengan alasan bahwa ia punya harga diri yang harus dipertahankannya. Menjadikan alasan kebutuhan biologis yang tak terpenuhi membuat Abim dengan mudah menceraikan Verda.
...*****...
Abim yang telah resmi bercerai akhirnya pergi ke Inggris untuk menemui Ayu. Ia benar-benar sangat berterima kasih kepada Verda yang membantu memuluskan rencananya tanpa gadis itu tahu bahwa semua hanyalah rencana Abim.
Entah apa yang harus ia lakukan untuk membalas budi. Ia pantang berutang budi.
Yah, suatu saat nanti, akan kubayar utang budiku pada Verda, batin Abim.
Abim segera menuju ke apartemen Ayu. Ia datang satu minggu lebih cepat dari jadwal seharusnya lantaran ingin memberi kejutan pada Ayu. Sudah enam bulan sejak pertemuan terakhir mereka di Paris tentu membuat Abim benar-benar sangat merindukan Ayu dan kehangatan kekasihnya itu.
Abim membuka kunci apartemen Ayu menggunakan kunci yang diberikan Ayu saat mereka berpisah di Paris.
Abim tertegun saat mendengar suara erotis yang berasal dari kamar yang terbuka.
Dengan mata kepalanya sendiri, Abim menyaksikan Ayu sedang menunggangi pria bule yang sedang berusaha meraih kepuasan di tubuh Ayu.
Ayu terlihat meliuk-liukkan pinggang rampingnya, tangan pria itu meremas kencang bokongnya.
"'Oh yes, faster Baby!"
"Oh yes, Baby!"
Mereka berdialog sambil mempercepat tempo permainan panas mereka.
"Ayu!" Abim menyeruak masuk.
"Abim!" Ayu terperanjat melihat kedatangan Abim.
"'Oh Baby, please don't stop!" pasangan Ayu mengumpat marah.
Abim terkulai lemah, ia menutup pintu kamar tersebut, melangkah gontai dengan air mata berlinang.
...*****...
Sementara Ayu benar-benar tak percaya apa yang dilihatnya. Kehadiran Abim sungguh menjadi kejutan untuknya.
Ayu segera memakai handuk kimono untuk menutupi tubuh polosnya, ia meninggalkan pasangannya yang terlelap lebih dulu.
"Abim," kata Ayu menghampiri Abim yang termenung di sofa.
Ayu segera duduk di samping Abim, menatap Abim yang saat ini menatap dengan tatapan kosong.
"Abim, segala sesuatu yang terjadi pasti ada alasannya," kata Ayu.
"Kamu di sana menikah, aku di sini menunggu tanpa kepastian! Aku tidak bisa begitu, Bim," Ayu menjelaskan.
Abim begitu mencintai Ayu sehingga ia tidak bisa marah meski saat ini ia benar-benar kecewa pada Ayu yang sudah mengkhianatinya.
Lagipula pasangan Ayu saat ini adalah pria bule yang berwajah tampan dan berpenampilan keren. Abim cukup sadar diri bahwa ia tidak setampan pria bule itu.
"Ayu, kamu dan dia sudah berapa lama pacaran?" tanya Abim.
Ayu tidak menjawab dengan segera. Ia menatap Abim yang memasang ekspresi luar biasa kecewa.
"Sejak kau mengatakan bahwa kau sudah menikah, aku langsung kehilangan kepercayaan. Meski kau bilang kau tidak akan menyentuh istrimu, tapi siapa yang bisa menjamin Bim?"
"Ayu, kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" tanya Abim.
"Abim, hal yang paling menyedihkan itu adalah menunggu tanpa kepastian!" jawab Ayu.
__ADS_1
Abim menghela napas berat, ia melihat genangan air mata yang menumpuk di pelupuk mata Ayu. Abim sungguh tidak tega melihat Ayu meneteskan air mata. Abim sangat lemah jika berhadapan dengan orang yang sangat dicintainya.
"Baiklah, Ayu, aku hargai keputusanmu," kata Abim sambil menyeka air mata yang turun di pipi Ayu.
"I love you, Bim," kata Ayu.
" I do love you," sahut Abim.
Abim menangis, hubungannya dengan Ayu harus berakhir begitu saja. Tangisnya membuat Abim teringat akan tangisan Verda.
Tangis gadis itu bahkan menghantui tidurnya, menciptakan rasa bersalah yang makin membesar seiring berjalannya waktu.
Hingga akhirnya mereka bertemu kembali setelah sekian lama. Melihat perubahan Verda yang begitu drastis, Abim langsung bertekad untuk menebus semua kesalahan yang pernah ia lakukan terhadap Verda.
...*****...
"Pak Abim? Pak Abim!" panggil Hengki.
Abim tersadar dari lamunannya, menatap ke arah Hengki yang menghampirinya.
"Pak Abim, saya sungguh minta maaf belum bisa menemukan informasi tentang suami Bu Verda lantaran minimnya informasi terkait pria itu," Hengki menjelaskan.
"Suami Bu Verda hanyalah seorang model lepas yang bahkan tidak ada agensi yang menaungi, bahkan nama pun tidak ada. Saya sudah mencoba mencari semua model lepas namun tidak ada satu pun yang cocok dengan gambaran dari Bu Vivie," lanjut Hengki.
Abim menyugar rambutnya.
"Bagaimana bisa aku, Abimanyu Baskara, seorang pimpinan dari perusahaan bergengsi harus kalah dari seorang model lepas yang hanya bermodal tampang?!"
"Ini sungguh penghinaan yang luar biasa bagiku, seumur hidupku!"
Abim masih meluapkan kemarahannya. Hengki tidak bisa mengatakan apa pun karena kenyataannya memang seperti itu.
Menurut keterangan yang dihimpunnya, Verda memang menikah dengan seorang model lepas yang tampan dan misterius.
"Ck, Verda, Verda, sebegitu inginnya kau menghindariku, sampai menikah dengan pria kaleng-kaleng seperti itu! Sungguh menyebalkan sekali!"
Abim masih menyerukan kekesalannya. Ia sudah terlanjur malu, ia memutuskan mengakhiri hubungannya dengan wanita yang akan dinikahinya demi Verda. Namun mendadak Verda justru menikah dengan pria lain.
"Hengki, apa kau sungguh tidak bisa membawa masalah suami Verda ke meja hijau?" tanya Abim.
"Pak Abim, sebenarnya saya sendiri bingung, jika mau membawa masalah pernikahan Bu Vedra ke ranah hukum dengan menggunakan tuduhan apa?"
"Bu Verda dan suami menikah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Bu Verda sudah dewasa, bukan anak di bawah umur. Mau menuduh masalah perzinahan, Anda dan Bu Verda sudah bercerai lima belas tahun silam, Anda hanya mantan suami, tidak punya hak apa pun," Hengki menjelaskan.
"Kalau Anda tetap ngotot untuk membawa masalah Bu Verda ke meja hijau, malah Anda hanya akan menjadi bahan tertawaan," lanjut Hengki.
Abim merengut, ia memegangi dagunya, berpikir keras, mencerna semua perkataan Hengki yang benar-benar sangat masuk akal.
Abim hanyalah mantan suami yang tidak punya kuasa apa pun. Ia jelas akan menjadi bahan tertawaan karena dianggap sebagai mantan suami yang gagal move on jika tetap ngotot melaporkan masalah pernikahan Verda ke meja hijau.
"Begini saja, Pak, ada satu hal yang terpikir dalam benak saya," kata Hengki.
"Apa itu?" tanya Abim.
"Kita tantang saja pria itu secara jantan!" jawab Hengki diplomatis.
"Tujuannya tentu saja untuk memastikan dan membuktikan, siapa pria yang lebih layak untuk mendampingi Bu Verda!"
"Hmm, sepertinya sangat menarik," sahut Abim.
"Anda hanya perlu melakukan negosiasi dengan Pak Daus, maka hal ini akan menjadi jauh lebih menarik lagi," jawab Hengki tersenyum senang.
...*****...
__ADS_1