Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 049


__ADS_3

"Vivie, Kakakmu kenapa belum pulang juga ya? Ibu jadi cemas."


Vivie berhenti mengunyah roti bakar yang menjadi menu sarapan pagi. Pak Daus melipat koran yang dibacanya, melemparkan pandangannya pada sang istri yang terlihat gelisah sejak semalam.


"Aku rasa Kak Verda ngambek karena kedatangan Kak Abim yang begitu mendadak," sahut Vivie.


"Ya, mau bagaimana lagi, namanya ada tamu masa iya harus ditolak," sahut Bu Eva.


"Ibu, Ayah, apa kalian serius mau menjodohkan kembali Kak Verda dan Kak Abim?" tanya Vivie.


"Vie, Abim begitu bersungguh-sungguh terhadap Verda, Abim bahkan membatalkan rencana pernikahannya demi keseriusannya pada Verda," sahut Bu Eva.


"Dulu Verda dan Abim kan masih begitu muda, masih begitu labil. Mereka belum bisa berpikir secara dewasa. Lain halnya dengan sekarang, mereka berdua sudah jauh lebih matang. Niat baik Abim untuk rujuk juga sudah didukung oleh keluarga besarnya," Pak Daus menjelaskan.


"Lebih baik Verda kembali rujuk, daripada dia semakin gila dengan para pria di atas kertas yang memenuhi dinding kamarnya," sahut Bu Eva.


"Ibu, tapi lihat sendiri kan, Kak Verda bahkan kabur seperti ini sebagai bentuk protesnya karena Kak Verda tidak mau rujuk lagi dengan Kak Abim," tukas Vivie.


Ayah dan Ibu kembali berpandangan.


"Vivie, memangnya Verda mau kabur ke mana? Dia tidak punya tempat yang bisa ditujunya," kata Ibu.


"Bi Sri," panggil Vivie.


"Iya, Mbak Vie," sahut Bi Sri yang segera datang begitu Vivie memanggilnya.


"Bi Sri, kata Bibi, selama kami pergi liburan, Kak Verda tidak pernah ada di rumah?"


Vivie sudah mengulik informasi dari Bi Sri dan ingin Bi Sri menyampaikan langsung di depan ayah dan ibunya.


"Iya betul, Mbak Vie, Mbak Verda tidak pernah pulang ke rumah, kamar beliau selalu rapi tidak seperti biasanya. Saya juga tidak ada mencuci pakaian Mbak Verda lagi," Bi Sri menjelaskan.


"Bi Sri, yang benar?" tanya Bu Eva penuh selidik.


"Benar, Bu, mobil Mbak Verda juga selalu ada di garasi, hanya Pak Yanto yang setiap hari memanaskan semua mesin mobil yang parkir di garasi," Bi Sri melanjutkan kembali kesaksiannya.


Pak Yanto sendiri adalah nama sopir keluarga Pak Daus.


"Ayah, Ibu, dengar sendiri kan?" kata Vivie.


"Vivie, kamu jangan menakuti begitu," kata Pak Daus.


"Vie, kamu jangan bikin Ibu tambah cemas dong," keluh Bu Eva.


"Ibu, aku hanya bicara apa adanya. Sepertinya Kak Verda memang kabur entah ke mana sebagai aksi protesnya karena tidak mau kembali rujuk dengan Kak Abim," Vivie menarik kesimpulan.


"Vie, begini saja, coba kamu temui kakakmu, ajak dia pulang," kata Pak Daus memberi perintah.


"Baik, Ayah," sahut Vivie.


"Ibu sudah, tenang saja, tidak usah terlalu cemas berlebih, Verda kan sudah dewasa," Pak Daus beralih ke istrinya.


"Bu, ayo kita ke warung, sudah lama rasanya kita tidak mengunjungi warung," kata Pak Daus.


"Ya sudah, Vie, Ibu dan Ayah pergi dulu, segera temui kakakmu ya," tukas Ibu.


Vivie masih menikmati sarapan pagi sementara ayah dan ibunya bersiap-siap menuju ke warung yang dikelola oleh kedua orang tuanya. Sebelum pensiun dari salah satu BUMN terbesar yang ada di tanah air, Pak Daus membuka usaha rumah makan yang kini sudah memiliki tiga cabang di kota ini.

__ADS_1


Vivie segera menghubungi kakaknya yang sejak semalam tidak juga mengangkat teleponnya.


"Kak Verda ke mana sih?" keluh Vivie.


"Apa sebaiknya aku datang ke kantornya saja ya?" tanya Vivie.


...*****...


Vivie memasuki sebuah gedung perkantoran yang berada di pusat kota. Seingat Vivie, Verda memang pernah menyebutkan nama perusahaan tempatnya bekerja.


Bagi Vivie, kakaknya itu sungguh aneh. Kakaknya rela bekerja di sebuah perusahaan hanya untuk mencari kesibukan. Padahal uang jajan yang diberikan oleh ayah mereka setiap bulannya jauh lebih banyak daripada gaji yang diterima oleh kakaknya. Sehingga kadang-kadang Vivie membantu mengawasi pegawai yang bekerja di rumah makan milik orang tua mereka.


"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" sapa resepsionis yang menyambut Vivie.


"Siang, saya mau bertemu dengan Kak Verda," jawab Vivie.


"Verda?" tanya resepsionis.


"Verdanica," jawab Vivie menyebutkan nama lengkap kakaknya.


"Permisi," seorang pria menyapa Vivie. "Anda mencari Verdanica dari Valid Corp.?"


"Iya, benar," jawab Vivie.


"Maaf, kalau boleh tahu dengan siapa ya saya bicara?" tanya pria itu ramah.


"Saya Vivie, adik dari Kak Verda," jawab Vivie.


Pria itu mengulas senyum cerah.


"Saya temannya Verda, nama saya Julian, panggil saja Ican," kata pria itu.


"Verda ada di kantor," jawab Ican.


"Oh begitu, apa Kak Verda begitu sibuk sampai tidak menjawab teleponnya ya?" tanya Vivie.


"Vivie mau ketemu Verda?" tanya Ican.


"Ya, aku ingin bertemu," jawab Vivie.


"Baiklah, kalau begitu ikutlah denganku," ajak Ican.


Vivie segera mengikuti Ican yang mengajaknya masuk ke dalam lift. Di dalam gedung pencakar langit itu terdapat banyak perusahaan. Begitu keluar dari lift, mereka berjalan melalui lorong dengan pembatas dinding-dinding kaca yang di kiri kanannya adalah area perkantoran. Di setiap dinding dipasangi plang besar bertuliskan nama perusahaan.


Ican mendorong pintu kaca dan mempersilakan Vivie masuk.


"Verda! Ada tamu untukmu," seru Ican.


Ia berharap Verda mendengar dan menyahut dari kubikelnya.


"Ada apa sih, Can, teriak-teriak begitu?!" sahut Teti mendongak dari kubikelnya.


Mata para pegawai menangkap sosok wanita berparas manis yang mengulas senyum ramah.


Nita beranjak dari kursinya dan menghampiri Ican. Mata Nita menelaah penampilan wanita muda yang terlihat cantik dalam balutan baju terusan dengan panjang medium berwarna kuning lembut itu.


"Verda masih di ruangan Pak Handoko bareng Vedra," sahut Nita.

__ADS_1


"Oh, begitu," sahut Ican.


"Oh ya, ngomong-ngomong, siapa yang kau bawa, Can?" tanya Nita.


"Ini adik iparku, Vivie," jawab Ican antusias.


"Ya ampun, Can, kau ketularan halu juga rupanya!" sahut  Nita.


"Yee, siapa tahu ada malaikat lewat yang mengamini!" cerocos Ican.


"Ada keperluan apa ya, sampai adiknya Verda kemari?" tanya Nita.


"Saya tidak bisa menghubungi Kak Verda, takut kenapa-kenapa jadi saya mampir ke kantornya," jawab Vivie.


"Verda!" seru Ican begitu melihat Verda keluar dari ruangan kerja Pak Handoko.


"Vivie?!" Verda terkejut melihat Vivie yang melambaikan tangan ke arahnya.


Verda segera menghampiri Vivie.


"Vie, kok kamu ada di sini?" tanya Verda keheranan.


"Habisnya Kak Verda tidak bisa dihubungi," sahut Vivie.


"Aduh maaf, Vie, aku benar-benar sibuk, sampai tidak ada pegang handphone," kata Verda.


"Kak Verda, ada yang harus kita bicarakan," kata Vivie.


Verda melihat jam tangannya. 


"Ya sudah, aku istirahat dulu ya, teman-teman," Verda berpamitan.


Ia segera mengajak Vivie keluar dari kantornya.


"Wih, Verda dan adiknya sama-sama cantik ya, luar biasa," puji Teti.


"Tapi memang lebih seksi Verda dari adiknya," sahut Nita.


"Adiknya Verda itu sungguh tipeku!" kata Ican.


"Ican, Ican, semua perempuan cantik sepertinya tipemu ya?!" ejek Teti.


"Ada yang tahu ke mana Verda?" tanya Vedra begitu keluar dari ruangan Pak Handoko.


"Oh, Verda istirahat duluan, adik iparku datang berkunjung, Ved," sahut Ican.


"Adik iparmu?" tanya Vedra sambil mengernyit.


"Iya, adik iparku cantik sekali loh, Ved! Istrimu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan adik iparku!" cerocos Ican dengan penuh kebanggaan.


"Oh," sahut Vedra.


"Oh ya Ved, ngomong-ngomong, kenapa wajahmu memar-memar begitu?" tanya Nita.


"Kau habis digampar sama istrimu pakai panci ya?" tanya Ican.


Vedra tidak menjawab pertanyaan rekan-rekannya. Ia lebih memilih untuk kembali mengerjakan tugasnya, mengabaikan rekan-rekannya yang terkesan kepo.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2