
Kedai Manja kopi menjadi tempat pertama yang dikunjungi oleh Verda begitu ia turun dari mobil daring yang ia tumpangi untuk sampai ke kantornya. Verda segera menuju ke toilet di kedai itu usai memesan green tea latte panas pada Desta, sang barista yang sudah hafal dengan pesanan Verda.
Verda melepas sepatu pump berhak sepuluh senti miliknya yang kini belepotan lumpur. Verda sungguh tidak menyadari bahwa akses jalan menuju ke rumah Vedra masih berupa tanah liat yang membuat hak sepatu Verda terperangkap. Semalam kondisi jalan terlalu gelap dan Verda tidak terlalu memerhatikan medan jalan tersebut.
Pagi ini barulah Verda menyadari bahwa rumah Vedra adalah replika dari kampung halaman pria itu. Rumah pria itu rupanya dikelilingi kebun singkong, kebun pisang, dan tumbuhan ilalang yang tingginya mencapai pinggang orang dewasa. Kawasan tersebut rupanya juga dijadikan tempat pemeliharaan sapi lantaran puluhan ekor sapi nampak merumput bersama penggembalanya.
Verda menghela napas, tinggal di tempat seperti ini jelas membuatnya tidak bisa membawa mobil pribadinya yang berjenis city car. Honda Jazz-nya benar-benar akan jadi odong-odong jika melalui medan jalan seperti itu.
Verda segera mengelap sepatunya dengan tisu basah dan membilasnya dengan air yang mengalir.
"Bagaimana bisa dia tinggal di tempat seperti itu sih?" Verda merutuki Vedra dengan perasaan kesal yang bergejolak.
"Kau harus bertahan untuk tinggal bersamanya sampai kau mendapatkan photo card yang saat ini pasti disembunyikan di suatu tempat yang ada di rumah itu!" Verda bermonolog sendiri.
Semalam Verda gagal melakukan misinya untuk mencari photo card karena ia tertidur akibat kelelahan selama perjalanan pulang dari kampung halaman Vedra.
Verda harus masuk kantor hari ini, sementara Vedra hanya bisa mengantar Verda ke halte terdekat agar wanita itu bisa melanjutkan perjalanannya ke kantor.
...*****...
Verda sudah tiba di meja kerjanya, ia meletakkan gelas kertas berisi green tea latte hangat di atas meja kerja lalu menyalakan komputernya. Sebelum memulai pekerjaannya, ia biasa mengecek akun sosial media untuk mengetahui berita terbaru dari akun fanbase Fancy.
Pada akun fanbase biasanya para penggemar mengunggah kembali seluruh kegiatan member Fancy. Mulai dari sekadar update sosial media, membagikan aktivitas siaran langsung, hingga potongan-potongan acara jumpa fans secara virtual.
Verda terpana melihat foto terbaru yang diunggah oleh sang idola di akun media sosialnya. Jehun sang idola memakai pakaian mewah dengan riasan yang membuat pria itu terlihat seperti pangeran dari kerajaan Eropa abad ketujuh belas.
Verda jelas harus memuji tim stylist karna telah membuat anggota Fancy yang sudah tampan sejak janin itu jadi makin berkilau dan bersinar-sinar.
"Jehun benar-benar sangat tampan! Seandainya saja Jehun menjadi suamiku ya, pasti akan sungguh luar biasa sekali hidupku ini!" ceplos Verda sambil terkekeh.
Cekikikan ala Verda terdengar begitu genit membuat rekan-rekan kerja yang mendengar tergugah untuk menjulidinya.
"Aduh, aduh, pagi-pagi sudah halu," Teti menghampiri meja kerja Verda.
"Haha, halu kan gratis, Tet!" sahut Verda seraya tertawa.
"Oh ya, ini dokumen dari Pak Handoko," Teti meletakkan setumpuk dokumen yang dititipkan Pak Handoko untuk Verda.
"Banyak sekali, Teti," keluh Verda.
"Iya, itu pekerjaan Vedra yang harus kau garap selama menggantikan pria itu cuti," sahut Teti.
__ADS_1
"Oh wah, Vedra yang begitu saja sudah menikah, jadi kapan kau menyusul, Ican?" sahut Nita dari kubikelnya.
Nita menyenggol Ican, pria lajang yang meja kerjanya berada di samping meja kerja Vedra.
"Yee, salah pertanyaanmu, Nit, harusnya kau tanya dulu pada senior Verda! Aku ini masih di bawah umur!" Ican menyahut dari kubikelnya.
"Ahaha! Di bawah umur gigimu, Can!" sewot Nita.
"Jadi bagaimana, Verda, kapan kau menyusul?" tanya Teti.
"Ahaha!" Verda tertawa. "'Tet, bujang-bujang peliharaanku ini jauh lebih menarik!" Verda menunjukkan album terbaru Fancy.
"Ahaha! Verda kau berkata seperti itu macam tante girang saja!" Teti tertawa.
"Fungsi para bujang kan memang untuk membuat tante senang! Haha," Verda tertawa.
"Setuju!" sahut Nita cekikikan.
"Verda, Verda! Bagaimana kau bisa dapat jodoh kalau seleramu terlalu tinggi, mana ada pria di kehidupan nyata seperti itu! Halu, ih," Ican menimpali.
"Hei Can, bisa-bisanya kau bicara begitu padaku padahal kau sendiri juga belum dapat jodoh! Ahaha," Verda tergelak lagi.
"Ya mana mau aku sama kamu, mukamu loh muka kentang! Ahaha!" Verda kembali tertawa.
"Ahaha," Ican ikut tertawa.
"Lagian Can, kau jangan mau sama aku! Aku loh sudah menikah! Nanti kau disebut pebinor! Ahaha," Verda tergelak lagi.
"Ya,ya, selamat atas penikahanmu dengan bujang-bujang peliharaanmu itu, Verda," Nita menimpali.
"Oh ya, ngomong-ngomong, kalian semua sudah mengucapkan selamat atas pernikahan Vedra?" tanya Teti.
"Belum, Tet, tunggu orangnya datang saja," sahut Ican.
"Bagaimana kalau kita patungan untuk memberi Vedra kado pernikahan?" usul Nita.
"Hmm, ya, aku rasa itu ide yang bagus. Hadiah kejutan saat dia kembali sehabis cuti," kata Teti.
"Jadi, kira-kira kado apa yang akan kita berikan?" tanya Nita.
"Apa ya yang harus kita berikan untuk Vedra yang sudah tajir melintir begitu?" Ican bertanya-tanya.
__ADS_1
"Hmm, kau benar, Can, susah ya, Vedra loh mobilnya saja Pajeroh, tas dan sepatunya Prada, masa iya, kita beri dia kado barang-barang dari toko kelontong serba lima ribu?" Nita menimpali.
"Eh, tapi sungguh aku penasaran sekali dengan siapa Vedra menikah! Wanita seperti apa ya yang menikah dengan pria itu?" Teti melemparkan pertanyaan.
"Kok ada ya, wanita yang mau menikah dengan pria yang tidak asyik macam Vedra? Bagaimana Verda, kau kan rekan satu timnya Vedra?" tanya Nita.
Verda terkesiap mendengar pertanyaan Nita.
"Ahaha, tidak tahu!" jawab Verda seraya tertawa.
"Yee, kau ini bagaimana sih, Verda, kau bahkan menjadi orang pertama yang tahu bahwa Vedra akan menikah!" tukas Nita.
"Ahaha, ya, aku tahu karena Vedra memberitahuku," sahut Verda.
"Berarti kau tahu juga dong, siapa wanita yang menikah Vedra?" tanya Teti penuh selidik.
Jangan sampai mereka tahu bahwa wanita itu adalah aku, batin Verda.
"Hmm, yang pasti Vedra menikah dengan seorang perempuan lah!" sahut Verda seraya terkekeh.
"Yee, maksudnya kan, supaya ada gambaran begitu, siapa tahu istrinya doyan masak, jadi bisa dibelikan peralatan masak," Teti menyahut.
"Kalau doyan berondong tampan, apa akan disiapkan berondong tampan?" tanya Verda seraya terkekeh.
"Yee, berondong tampan mah maunya kamu, Verda!" celetuk Nita seraya tertawa.
"Ahaha," Verda menanggapi dengan tawa sumringah.
"Bagaimana kalau dikumpulkan dulu sumbangannya? Setelah dananya terkumpul baru diputuskan mau dibelikan apa," usul Ican.
"Wah, ide yang bagus, Can, kalau begitu kau saja, ya, yang pungut sumbangan ke semua orang," sahut Nita.
"'Yaah," Ican melengos.
Dalam hati ia merutuk mengapa ia mengusulkan ide tersebut kalau ujung-ujungnya dia juga yang harus direpotkan untuk mengumpulkan sumbangan.
Verda terdiam, sebisa mungkin ia harus menutup rapat-rapat mengenai pernikahannya dengan Vedra demi melindungi karirnya. Begitulah kesepakatan antara Verda dan Vedra.
...*****...
Pembaca setia sampai jumpa di episode selanjutnya. 💜
__ADS_1