Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 042


__ADS_3

"Ican! Aku sudah tahu akan memberi kado apa untuk Vedra!"


Verda menghampiri meja kerja Ican. Wajahnya tersenyum sumringah dan terlihat berbinar-binar. Seakan wanita itu baru saja mendapat wangsit setelah bermalam di pekuburan.


Ican menyambut dengan senang, dalam hati pria itu bersorak. Itu artinya ia dan Verda akan jalan bareng untuk mencari kado untuk Vedra.


"Jadi, kapan, di mana, dan jam berapa kita pergi?" tanya Ican antusias.


Apa sebaiknya kuajak sekalian pergi nonton film ya? Batin Ican.


Setelah nonton film, dilanjutkan makan malam romantis, hihi! Dalam hati Ican kembali bersorak.


"Kita cukup duduk, diam, transfer, lalu menunggu paket datang," jawab Verda.


Jdeng..


Nonton film dan makan malam romantis yang sudah ditulis oleh Ican dalam otaknya seketika bak dirobek-robek oleh Verda.


"Verda, apa kau bermaksud membeli kado di toko daring begitu?" tanya Ican ragu-ragu.


Verda mengangguk, senyumnya masih terpasang sempurna, ia bahkan terlihat begitu antusias.


"Oh begitu," kata Ican dengan nada kecewa yang harus disembunyikannya.


Kalau belanja di toko daring, itu artinya ia dan Verda gagal jalan bareng. Ican cepat-cepat berpikir, menggunakan otaknya yang rasanya sempat membeku.


"Tapi Verda, memangnya barang apa yang hendak kau beli? Bukankah lebih baik memilih secara langsung demi menghindari zonk?" kata Ican.


"Belum lagi kalau kau membeli barang pecah belah, biar kata sudah dibungkus bubble wrap super tebal, namanya di pengiriman biasa barang dilempar-lempar begitu, jadi rentan sekali pecah dan rusak, meski sudah ditempeli stiker fragile," Ican mengutarakan pendapatnya.


Verda mengerutkan keningnya mendengar cerocosan Ican.


"Ican, aku tidak berniat memberi kado barang pecah belah. Kau pikir ini tahun 90-an?" cibir Verda.


"Kita cari di Aceware atau Informi saja, Verda! Bukankah kau yang mengatakan bahwa ada beberapa hiasan dinding yang lucu dan imut?" tanya Ican.


"Ican, kita harus memberi Vedra kado pernikahan yang tak terlupakan. Jangan hanya berkiblat pada kado kebanyakan orang," sahut Verda.


"Aduh, ada apa sih, jomblo-jomblo ini, dari tadi kudengar kasak-kusuk begitu?" tanya Teti dari arah kubikelnya.


"Ini loh, Tet, masalah kado untuk Vedra," jawab Ican.


"Loh, kalian masih belum membeli kado untuk Vedra?" tanya Teti begitu terkejut.

__ADS_1


"Belum, Tet, masih bingung mau beli apa," sahut Ican.


"Hihh, kalau pengantin baru yang pasti seprai harus banyak. Kalau perlu kalian belikan satu lusin!" kata Teti.


"Buset, Tet! Sangkanya dikira dagang seprai!" cibir Verda.


Teti mengangkat telunjuknya, menggoyang-goyangkan ke arah Verda dan juga Ican.


"Ck..ck..,"wanita itu berdecak.


"Kalian ini, makanya segera menikah, jadi kalian tahu alasan mengapa pengantin baru perlu banyak seprai!" seloroh Teti.


"Serius kalian masih belum membeli kado untuk Vedra?" Nita menghampiri ketiga rekan kerjanya. "Dasar kalian ini bujang-bujang lamban! Makanya jodoh kalian juga jadinya lamban!"


"Aduh, Nita, kami sudah mencari, tapi belum ketemu yang pas, bingung mau beri Vedra kado apa!" Ican membela diri.


"Sudah, belikan saja itu satu set peralatan makan cantik, satu set peralatan memasak cantik! Begitu saja kok repot!" usul Nita.


"Ya, waktu itu kami sudah mencari yang cantik-cantik begitu, tapi Verda bilang kurang sreg!" kata Ican.


"Ya, kurang sreg soalnya kalau beli yang cantik-cantik begitu nantinya hanya akan dipajang, macam emak-emak yang koleksi taperwer tapi cuma disusun di lemari kaca!" ucap Verda.


"Ya ampun Verda, kenapa kau jadi berpikir begitu? Sebenarnya ini kado untuk Vedra atau untuk siapa sih? Sudah kasih saja yang ada, yang penting kita sudah menunjukan itikad baik sebagai rekan kerja," tukas Nita.


Memberi kode agar pria itu segera mengerti apa yang dimaksud Verda.


"Ya, ya, kalian tenang saja! Kami berani jamin, Vedra pasti akan sangat berterima kasih kepada kita semua!" tukas Ican sambil bertepuk tangan.


Begitu melihat Vedra keluar dari ruangan Pak Handoko,  mereka semua terdiam dan kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang terjeda.


...*****...


"Verda, paket!"


Verda menyambut senang kedatangan paket yang diantarkan oleh resepsionis ke meja kerjanya.


"Apa itu, Verda?" tanya Ican.


Sebuah kotak berukuran besar langsung mengundang perhatian pria itu. Kotak tersebut sudah terbungkus rapi dengan sampul kado berwarna biru langit.


"Ini hadiah untuk Vedra," jawab Verda.


"Wah, aku tidak menyangka datang secepat ini," kata Ican.

__ADS_1


"Ya, kebetulan aku kenal dengan penjualnya, jadi pastinya dikirim dengan sangat cepat, terlebih kita sudah bayar toh," sahut Verda.


"Oh, ini hadiah untuk Vedra ya?" Nita dan Teti segera menuju ke meja Verda.


"Kita berikan sekarang saja kalau begitu!" kata Teti.


Teti dan Nita langsung mengambil kado tersebut dan bergegas menuju ke meja Vedra. Keduanya menunggu Vedra keluar dari ruangan Pak Handoko. Menjelang pengambilalihan pekerjaan Pak Handoko membuat Vedra harus bolak-balik ke ruangan atasan mereka tersebut.


Begitu melihat Vedra keluar dari ruangan Pak Handoko, pria itu tetap memasang ekspresi datar meski Teti dan Nita sudah menyambutnya dengan begitu antusias.


Teti dan Nita jelas harus mulai mencari perhatian kepada atasan baru mereka ini demi kelancaran pekerjaan dan tentunya karir mereka.


"Vedra! Selamat atas pernikahanmu!" seru Nita dan Teti membentuk kelompok paduan suara dadakan.


"Ini kado dari kami semua, spesial untukmu!" kata Nita.


"Iya, kami sudah memilihkan yang terbaik dari yang terbaik khusus untukmu, sebagai bentuk perhatian kami yang teramat besar kepadamu!" cerocos Teti.


Verda mencebik melihat Nita dan Teti yang terlihat jelas sedang mencoba untuk menjilat Vedra. Yah, dalam lingkungan dunia kerja, menjilat atasan seakan menjadi aturan tak tertulis yang harus dilakukan demi menyelamatkan karir.


"Terima kasih," ucap Vedra masih dengan ekspresi datarnya.


Nita dan Teti merasa keki, mereka sudah menjadi tontonan semua orang namun pria di hadapan mereka sungguh tak menunjukkan reaksi apa pun.


Vedra mengambil kado tersebut dan meletakkannya di atas mejanya.


"Vedra, semoga kau dan istrimu berkenan dengan hadiah yang kami berikan," kata Teti.


"Semoga kalian menjadi pasangan suami istri yang sakinah, mawaddah, warahmah, di dunia dan di akhirat," Nita melanjutkan.


"Semoga cepat diberi momongan ya, Vedra," Teti menimpali.


Verda merasa geli sekali mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Nita dan Teti.


Momongan apanya? Jangan mengada-ada! Batin Verda.


"Ved, kado itu aku dan Verda loh yang mencarinya! Nanti kalau aku dan Verda menikah, giliranmu yang harus mencari kado! Hehe," Ican terkekeh.


"Hahaa! Ican! Mulutmu!" Verda menyahut seraya tertawa.


"Biarin lah, siapa tahu ada malaikat lewat yang mengamini!" Ican terkekeh.


"Malaikat, jangan aminkan ocehan Ican!" Verda menimpali seraya tertawa.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2