
Hidangan yang disajikan Abim membuat semua orang mengerutkan kening mereka saat melihat ikan bakar yang benar-benar hanya dibakar di atas bara api yang menyala-nyala. Kondisi ikan yang gosong dan nampak mengenaskan itu jelas jauh dari kesan estetik.
"Hidangan ini terinspirasi dari jejak para petualang di alam liar! Semuanya kembali ke alam! Back to nature!" Abim menjelaskan dengan penuh percaya diri.
"Anda benar, Pak Abim! Sekarang kembali ke alam adalah yang terbaik!" sahut Hengki sambil bertepuk tangan heboh.
Tidak ada seorang pun selain Hengki yang bertepuk tangan, membuat pria itu jadi keki sendiri.
"Wah, Abim, melihatmu berjuang begitu keras, sungguh sangat inspiratif sekali," puji Bu Eva.
"Terima kasih, Bu," Abim mengulas senyum penuh kebanggaan.
"Mari kita cicipi," ajak Bu Eva.
"Abim, saya hargai seluruh kerja kerasmu, hanya saja, saya merasa bahwa hidangan ini kurang layak untuk disantap, mengapa demikian?" tanya Pak Daus.
Abim terdiam, saat ini otaknya secara mendadak mengalami pembekuan.
"Maaf, Pak, apa karena penampilannya yang tidak menarik? Gosong?" tanya Hengki.
Pak Daus menggeleng.
"Saya ini pengusaha rumah makan. Bagi saya hal paling mendasar dari semua aspek mulai dari persiapan, mengolah, hingga menyajikan makanan adalah dimulai dari kehigienisan," Pak Daus menjelaskan.
"Tapi, Pak, saya membersihkan ikan ini dengan baik sebelum mengolahnya. Lagipula dengan adanya proses memasak melalui pembakaran jelas mengurangi kadar bakteri dan kuman. Proses memasak dengan dibakar juga jauh lebih sehat ketimbang digoreng dengan menggunakan minyak," Abim membela dirinya.
"Saya tahu, Bim, hanya saja higienisasi tidak hanya dari bahan makanan, melainkan juga harus dilakukan oleh pengolah masakan itu sendiri," Pak Daus menjelaskan.
Abim kembali terdiam, menatap lurus Pak Daus.
"Kau tidak mengganti pakaianmu yang kotor dan langsung memasak, kau melewatkan proses higienisasi diri," lanjut Pak Daus.
"Sekarang saya tanya, apakah kau bersedia makan makanan yang diolah oleh orang yang melewatkan proses higienisasi?" Pak Daus bertanya lagi.
Abim menunduk, ia sungguh merasa bersalah telah melalaikan hal sepele itu. Ia terlalu terburu-buru, mengingat bahwa ia tidak memiliki banyak waktu yang tersisa.
"Namun, tentu saja, saya akan memberi poin atas usaha dan kegigihanmu!" kata Pak Daus.
"Terima kasih, Pak!" Abim bersorak kecil sambil melakukan tos dengan Hengki.
"Verda, seorang pria sejati, harus dilihat dari usaha dan kegigihannya dalam berjuang. Bukannya hanya duduk santai tanpa melakukan apa pun," kata Pak Daus.
"Hmm, iya, Ayah," sahut Verda.
Pak Daus kini beralih ke arah Vedra. Pria itu menghidangkan hidangan dalam batok kelapa muda yang langsung mengundang keingintahuan semua orang.
"Aku sungguh heran, bagaimana caramu bisa menangkap ikan hanya dengan berdiam diri?" tanya Pak Daus dengan nada sinis.
"Dengan tangan kosong," jawab Vedra singkat sambil mengangkat kedua tangannya yang kosong.
Pak Daus memasang ekspresi masam, sementara Verda berusaha untuk tidak tertawa.
"Jadi apa yang kau masak?" tanya Bu Eva ingin tahu.
__ADS_1
Vedra membuka penutup batok kelapa yang membuat Pak Daus dan Bu Eva langsung memeriksa masakan Vedra.
"Pindang patin," jawab Vedra.
Pak Daus mengambil sendok dan menuangkan masakan pria itu ke dalam mangkuk. Ekspresi Pak Daus menegang saat mencicipi hidangan tersebut. Begitu pula Bu Eva yang nampak tercengang usai mencicipi sesuap kuah berwarna kuning cerah itu.
Vedra menyembunyikan senyumnya, resep rahasia yang diturunkan secara turun temurun di keluarganya ini jelas menjadi salah satu resep andalan yang sangat dibanggakan oleh ibunya. Vedra bisa menghabiskan nasi sampai tiga piring penuh jika ibunya memasak hidangan tersebut.
Pak Daus enggan memberi komentar, pria itu segera menyeruput es kelapa muda dengan perahan jeruk nipis yang lagi-lagi menggoyang lidahnya.
Siapa sebenarnya pria ini? Batin Pak Daus bertanya-tanya.
"Aku mau mencicipi juga!" kata Vivie.
"Aku juga mau!" sahut Bian.
Vivie dan Bian mulai mencicipi. Keduanya terkejut bukan main dengan rasa yang begitu kaya dan menggoyang lidah mereka.
"Enak sekali, Bi! Ini enak sekali!" Vivie berdecak kagum.
"Sumpah, ini enak!" Bian ikut berkomentar.
Verda mengurai senyumnya ke arah Vedra, Vedra membalasnya dengan mengedipkan sebelah mata. Verda menahan tawanya, gemas melihat Vedra yang seperti itu.
Pak Daus rasanya masih terlalu sangsi untuk mengakui bahwa pria pesolek yang nampak tidak bisa melakukan apa pun ini ternyata malah melampaui ekspektasinya.
Pak Daus sungguh tak menyangka bahwa pria metroseksual itu dapat melakukan hal yang menurut Pak Daus tidak mungkin bisa dilakukan oleh pria yang hidup di kota besar. Pria dengan gaya hidup yang terlampau modern tentu tidak mungkin bisa melakukan hal-hal yang pasti akan dianggap remeh seperti menangkap ikan di kolam hingga memasak.
Lain halnya dengan Abim yang memang dimaklumi oleh Pak Daus karena Pak Daus sangat mengenal Abim. Latar belakang Abim yang sempurna tentu tidak bisa dibandingkan dengan pria tidak jelas yang dibawa Verda.
Hanya saja hasil kompetisi ini jelas menunjukkan bahwa pria tersebut lolos ujian yang diberikan Pak Daus.
Pak Daus tentu saja jadi kesal bukan main karena Abim yang dijagokannya justru mati kutu.
"Apa kalian mau makan dengan nasi? Nasinya sudah matang," kata Vedra kepada Vivie dan Bian.
"Sungguh? Kebetulan aku benar-benar sudah lapar!" Bian menimpali.
Vedra segera menyiapkan nasi yang sudah dimasaknya.
Vivie dan Bian menjadi orang pertama yang langsung menyambar nasi dan satu buah kelapa yang berisi ikan pindang.
Verda menghampiri Vedra, menyodorkan piringnya.
"Aku mau juga, Om," kata Verda.
"'Mau apa?" tanya Vedra.
"Mau kamu, Om," goda Verda seraya terkekeh.
"Ehem!" Bu Eva berdeham mendengar Verda menggoda pria itu.
"Eh, Ibu," Verda menyeringai.
__ADS_1
"Verda, ganjen amat sih!" keluh Bu Eva.
"Ibu, memangnya salah ya, ganjen sama suami sendiri?" tanya Verda.
Bu Eva mencubit lengan Verda dengan gemas.
"Kamu ini, belajar ganjen dari mana? Ibu tidak pernah mengajarimu ya!"
"Iya, Ibu tidak pernah mengajari, tapi aku pernah dengar ayah bilang Ibu ganjen kalau lagi ada maunya! Hihi!" Verda terkekeh.
"Verda!" Bu Eva melotot ke arah Verda.
"Bu Eva, mohon maaf sebelumnya, saya sungguh tidak keberatan Verda ganjen, asalkan hanya dengan saya saja," Vedra menyela.
"Naah, kan, Bu," Verda tergelak.
Bu Eva mendelik gusar sebelum meninggalkan Verda dan Vedra.
Abim dan Hengki menghampiri pasangan yang terlihat jelas sedang kasmaran hanya dari cara keduanya saling berpandangan.
"Abim, kau mau makan juga?" tanya Verda.
Abim mengulas senyum ramah.
"Terima kasih, aku sedang tidak berselera makan," jawab Abim.
Abim mengarahkan pandangannya pada Vedra.
"'Aku harus mengakui bahwa kau mungkin lebih unggul dariku kali ini. Tapi kupastikan bahwa aku tidak akan mengakui pencapaianmu ini sebagai kekalahanku," kata Abim dengan nada bicaranya yang terdengar begitu angkuh.
Abim beralih menghampiri Pak Daus dan Bu Eva.
"Bapak, Ibu, mohon maaf sebelumnya, saya tidak bisa bergabung lebih lama lagi lantaran masih ada urusan yang harus saya selesaikan, jadi saya pamit undur diri," kata Abim.
"Oh begitu, baiklah, Bim," kata Pak Daus.
"Hati-hati ya, Bim, sampai nanti," sahut Bu Eva.
"Permisi, Pak, Bu," Hengki ikut berpamitan.
Abim dan Hengki segera meninggalkan lokasi pemancingan diiringi tatapan skeptis dari Verda.
"Ayah, Ibu, ayo kita makan sama-sama," ajak Verda.
Pak Daus dan Bu Eva saling bertukar pandang sebelum akhirnya mereka menyantap makan siang bersama-sama.
...*****...
Hai pembaca semuanya..
Terima kasih sudah membaca sampai episode ini. Maaf ya up terseok-seok karena acil otor masih sibuk di real life. Apalagi kasus oh my cron ini melonjak lagi. Bener-bener harus jaga kondisi masing-masing. Banyak istirahat dan selalu happy.
Sampai jumpa di episode selanjutnya.
__ADS_1