
"Kak, berhenti mondar-mandir seperti itu! Pusing aku melihatmu!" tegur Vivie.
Verda melemparkan tatapan kesal ke arah Vivie. Vivie menyeretnya dan mereka terkurung bersama di kamar Verda, sementara Vedra sedang menjalani acara penghakiman bersama ayahnya dan juga Abim.
Vivie hanya tidak mau jika kakaknya malah bertindak ceroboh dan memperkeruh suasana. Kemarahan ayah mereka dan ambisi Abim adalah dua hal yang harus dihadapi dengan kepala dingin. Kalau perlu dihindari saja demi kebaikan mereka bersama.
"Vie, memangnya apa yang salah dengan suamiku? Suamiku bukan pelaku tindak kriminal yang sedang buron! Kami menikah sesuai dengan hukum yang berlaku! Lantas di mana masalahnya?" tanya Verda.
"Kenapa pernikahanku benar-benar dipermasalahkan seperti ini?!"
Vivie mendelik gusar ke arah kakaknya yang masih mondar-mandir dan ngedumel sendiri.
"Kakak menikah tanpa restu orang tua, itu kesalahan yang menurutku sangatlah fatal," jawab Vivie diplomatis.
Verda memutar bola matanya, ia segera menjatuhkan bokongnya di sofa. Duduk sambil melipat kedua tangannya di samping Vivie.
"Vie, bukankah aku sudah mengatakan dengan jelas bahwa aku akan menikah? Bukankah saat itu ayah dan ibu mengiyakan?" Verda membela diri.
"Kakak, ayah dan ibu mengiyakan karena mereka pikir Kakak hanya bercanda! Tidak pernah ada pria nyata yang Kakak perkenalkan, pria nyata yang menjalin hubungan yang nyata dengan Kakak! Tentu saja kami semua menganggap bahwa Kakak hanya berhalusinasi!" beber Vivie.
"Vivie," kata Verda.
"Kakak, pernikahan itu tidak hanya menyatukan dua manusia yang berbeda jenis kelaminnya, tapi menyatukan dua keluarga. Kami bahkan tidak tahu orang macam apa si Jehun Kw itu. Bagaimana latar belakangnya dan bagaimana keluarganya," Vivie menjelaskan.
Verda terdiam, ia memandangi Vivie yang mengutarakan pendapatnya.
"Bagiku, pernikahan mendadak Kakak ini terkesan seakan hanya asal-asalan!" tandas Vivie.
"Asal-asalan?" Verda mengerutkan keningnya.
"Asalkan pria itu mirip Jehun, asalkan bisa menikahi Kakak, asalkan Kakak bisa lepas dari keinginan Kak Abim untuk rujuk dengan Kakak!" lanjut Vivie.
"Vie, aku menikah dengan suamiku sesuai dengan kesepakatan. Kami sepakat menikah. Tidak ada unsur paksaan ataupun asal-asalan. Aku yang memilih untuk menerima pernikahan ini saat dia melamarku," Verda mencoba menjelaskan.
"Begitu-begitu, suamiku melamarku loh! Hihi," Verda terkekeh genit.
Lubang hidung Vivie membesar melihat kakaknya yang bertingkah genit seperti itu.
"Suamiku sungguh memperlakukanku dengan sangat baik. Dia membuatku menjadi ratu dalam hidupnya," lanjut Verda.
Vivie mengerutkan keningnya melihat tatapan mata kakaknya yang dipenuhi dengan binar kebahagiaan.
__ADS_1
"Kakak, lantas bagaimana dengan Jehun?" tanya Vivie.
Verda menatap Vivie yang memancingnya.
"Jehun?" Verda balik bertanya.
"Ya, Jehun yang itu! Bagaiman dengan cinta Kakak kepada Jehun yang itu?" Vivie menunjuk ke arah poster besar Jehun di tembok kamar Verda.
Verda menyeringai, memamerkan deretan giginya yang rapi.
"Vie, Jehun tetap ada di hatiku, tapi pikiran dan tubuhku lebih menginginkan suamiku, hihi," jawab Verda seraya terkekeh genit.
"Ih, Kakak! Bagaimana bisa Kakak semesum itu?" cibir Vivie sambil mencubit lengan Verda.
"Haha, Vie, jangan munafik begitu!" Verda tertawa sambil balas mencubit Vivie.
"Hmm, ya, ya, pengantin baru kan memang seperti itu! Masih serakah-serakahnya!" cibir Vivie.
"Vie, sungguh, aku merasa sangat bahagia. Pernikahanku saat ini sungguh berbeda dengan pernikahanku yang lalu," Verda tersenyum senang.
"Aku merasa telah menemukan rekan yang cocok," kata Verda lagi.
"Huh, yah semua pernikahan awalnya memang seperti itu, Kak. Semua terasa manis, namanya juga masih fase bulan madu. Coba saja jalani lebih lama, yang ada justru jadi bulan-bulanan," sahut Vivie skeptis.
Vivie tidak menjawab pertanyaan kakaknya.
"Vie?" tanya Verda.
"Kak, Bian hanya merasa kecewa padaku, karena Kakak justru telah menikah. Bian sungguh tidak enak karena sudah merekomendasikan Kak Verda kepada bosnya," jawab Vivie.
"Astaga, Bian!" Verda terperangah.
"Aku sudah mengatakan pada Bian agar tidak perlu ikut campur dengan mengaturkan perjodohan untuk Kak Verda. Kak, niat Bian sungguh baik dengan mencarikan Kak Verda jodoh," kata Vivie.
"Huh, kalian ini, sudah berapa kali kukatakan untuk tidak perlu mencarikanku jodoh? Aku bisa cari sendiri kok," sungut Verda.
"Ya, aku sudah bilang begitu, tapi Bian saja yang ngeyel," sungut Vivie.
"Jadi kalian bertengkar karena itu?" tanya Verda.
"Hmm, ya, begitulah," sahut Vivie.
__ADS_1
"Dasar kalian ini!" keluh Verda.
"Hehe," Vivie terkekeh.
...*****...
Suasana di ruang tamu masih begitu tegang. Ketegangan yang berasal dari tiga orang pria yang saat ini sedang terdiam. Pak Daus dan Abim saling bertukar pandang.
Abim merasa jengah melihat pria yang nampak tak berekspresi, duduk diam mematung sambil menunduk menatap lurus cangkir kopinya. Ia terus berupaya mengintimidasi pria tersebut. Pria yang benar-benar kurang ajar karena sudah berani merebut Verda di saat ia lengah.
Vedra mengambil cangkir kopinya, menyeruput sedikit untuk menghilangkan rasa gentar yang kini membuat perutnya terasa kram. Tatapan mata tak bersahabat dari ayah Verda dan pandangan dari mantan suami Verda yang seakan hendak mencincang-cincang tubuhnya sungguh membuatnya merasa gentar.
"Bagi saya, semua keputusan ada di tangan Verda," kata Vedra dengan singkat dan serendah mungkin.
"Apa?!" hardik Abim.
Darah pria itu menggelegak seketika, emosinya meninggi.
"Bisa-bisanya kau menyerahkan keputusan di tangan Verda! Kau pasti sudah tahu bahwa Verda tidak mungkin memilihku, begitu kan maksudmu?!" sergah Abim.
Pintar! Batin Vedra.
"Bagi saya, keputusan Verda jauh lebih penting. Saya selalu menghargai dan menghormati Verda, karena hanya itulah yang bisa saya lakukan demi Verda," Vedra menjelaskan.
Vedra cukup santun untuk menghadapi pria yang menurut Vedra sungguh tidak tahu diri. Terlintas dalam benak Vedra, kisah Verda yang mengalami kekerasan fisik ketika masih berumah tangga dengan pria itu. Bagaimana pria itu mencekik Verda hanya karena ingin memuaskan hasratnya.
Vedra sungguh tidak menyukai kekerasan, terlebih dalam rumah tangga. Seorang pria sejati bertugas untuk melindungi, bukannya menakuti wanita dengan ajang pamer kekuatan.
"Pak Daus, saya sungguh merasa kasihan kepada Verda karena Verda jatuh ke pelukan pria yang salah. Rasanya sebagai seorang pria yang pernah terikat tali pernikahan dengan Verda, saya sungguh menyayangkan hal tersebut lantaran merasa bahwa saya jelas jauh lebih unggul segalanya dari pria ini, benar begitu kan Pak?" Abim melayangkan tatapan skeptis pada Vedra.
Saat ini sejujurnya Pak Daus merasa bimbang menghadapi dua orang pria dalam hidup Verda. Kebijaksanaannya sebagai seorang ayah yang ingin agar anak perempuannya bahagia sedang dituntut.
Abim, selaku mantan suami Verda, ingin kembali pada Verda demi menebus semua kesalahan di masa lalu. Pria yang sudah dikenalnya selama puluhan tahun karena orang tua Abim yang berteman baik dengan beliau. Kegagalan rumah tangga Verda dan Abim terjadi karena saat itu mereka masih terlalu muda untuk membina hubungan pernikahan. Pak Daus memaklumi hal tersebut, bersedia memberikan kesempatan kedua bagi Abim.
Setiap manusia pernah melakukan kesalahan dan berhak diberi kesempatan lagi, itulah alasan Pak Daus berkenan menyetujui keinginan Abim untuk rujuk. Namun Verda berkeras menolak untuk rujuk dengan Abim.
Sementara itu ada seorang pria kini mendadak menjadi suami Verda. Pria dengan latar belakang keluarga dan pendidikan yang tidak jelas. Pekerjaannya hanya sebagai model lepas yang penghasilannya juga tidak jelas. Hanya karena pria itu berpenampilan seperti idola yang digilai Verda, maka otomatis Verda tergila-gila pada pria itu. Pria yang dipilih oleh Verda, pria yang membuat Verda nampak begitu bahagia.
"Begini saja, bagaimana jika kalian berdua melakukan kompetisi yang lebih sehat?" ucap Pak Daus.
"Kompetisi yang jujur dan adil!" jawab Pak Daus dengan tegas.
__ADS_1
...*****...