Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 070


__ADS_3

Verda mematut dirinya di depan cermin. Ia mengenakan gaun terusan bermodel kemben, berpotongan mermaid line, dengan belahan paha yang tinggi. Gaun itu makin menunjukkan lekuk tubuh Verda, membuat Vedra yang melihat langsung meneguk kembali ludahnya.


Verda benar-benar luar biasa seksi dan lagi-lagi membangkitkan gairahnya. Yah, resiko punya istri yang begitu cantik dan seksi ya seperti ini. Sangat meresahkan baik secara internal maupun eksternal.


Vedra segera berdiri di belakang Verda yang masih sibuk menyisir rambut panjangnya dengan jemarinya.


"Verda, bisakah kau ganti gaunmu ini?" tanya Vedra.


"Memangnya kenapa aku harus menggantinya?" tanya Verda.


"Verda, kalau kau menggunakan gaun ini hanya di depanku saja, sungguh tidak masalah," jawab Vedra.


"Tapi, kalau di depan orang lain, kenapa rasanya aku tidak terima ya?" tanya Vedra sambil menciumi bahu Verda yang terbuka.


"Ved," Verda mendorong Vedra yang mulai membangkitkan kembali gairahnya.


Bukannya menjauh, Vedra malah makin gencar menciumi Verda. Verda memejamkan matanya saat pria itu menjadikan lehernya sebagai sasaran.


Verda tak dapat menolaknya, Vedra menginginkannya dan ia pun begitu menginginkan Vedra.


Pria itu segera menurunkan gaun yang dikenakan Verda, lalu menjelma menjadi bayi besar yang kelaparan. Verda melenguh sebagai akibat dari perlakuan Vedra yang benar-benar membuatnya kembali terbakar.


Verda tersadar bahwa mereka tak boleh meneruskan kegiatan bakar-bakar kalori ini.


"Ved, nanti kita bisa terlambat," Verda meremas rambut Vedra.


Vedra tak peduli, ia benar-benar sudah terlanjur basah, tak bisa menahan hasrat yang menggelegak dalam setiap desir darah yang mengisi pembuluh darahnya.


"Ved!" Verda melenguh saat Vedra melanjutkan kembali petualangannya.


Menyasar lembah kenikmatan yang senantiasa terjaga kebugarannya.


"Tolong ganti gaunmu, Verda," pinta Vedra sambil meloloskan penutup segitiga berenda dari kedua kaki Verda.


"Ved, ini gaun yang membuatku terlihat cantik," sahut Verda mengabaikan permintaan Vedra.


"Verda, kau sudah begitu cantik, apa kau tahu, kau tampil tertutup saja sudah membuatku bergairah, apalagi terbuka seperti ini," tolak Vedra.


"Ved, aku bisa menutupnya dengan luaran," kata Verda.


Vedra merangkak naik di atas tubuh Verda yang sudah berada di bawah kungkungannya.


"Verda, sungguh, cukup aku saja yang bereaksi seperti ini terhadapmu," ucap Vedra sambil memainkan bibir Verda dengan bibirnya.


"Ved, nanti aku tidak cantik!" sungut Verda.


"Siapa yang bilang kau tidak cantik?" tanya Vedra sambil menghentikan aksi terornya.


Ia menatap mata Verda lekat-lekat. Verda memalingkan wajahnya. Seketika ia teringat akan kejadian-kejadian yang menimpanya.


Teriakan-teriakan penuh kemarahan dan sumpah serapah dari Abim menari-nari dalam benaknya.


"Kau itu tidak cantik, Verda! Kau itu tidak cantik! Lihat, tubuhmu begitu kurus! Dadamu bahkan seperti triplek! Berterima kasihlah aku mau menikah denganmu! Kalau bukan aku, memangnya siapa yang mau menikah denganmu?! Sadar diri kau, Verda! Sadar diri!" raung Abim.


"Apa kau pikir aku mau menikah denganmu karena jatuh cinta padamu?! Itu tidak mungkin!" teriak Abim.


"Cepat layani aku! Aku suamimu! Kau harus tunduk dan patuh padaku!" 


Tubuh Verda bergetar hebat, ketakutan seketika menerornya.


"Verda, Verda," Vedra mengecup kening Verda yang saat ini gemetaran.


Verda kembali menatap ke arah Vedra, air mata nampak menggenang di pelupuk matanya.


"Ved," Verda memeluk erat Vedra.


"Verda, maaf, maaf aku terkesan memaksakan kehendakku," ucap Vedra.


Verda menggeleng dalam pelukan Vedra.


"Maaf, Ved, tiba-tiba saja aku jadi teringat hal yang sesungguhnya tidak perlu kuingat lagi," Verda mengusap air matanya.

__ADS_1


Vedra menatap kembali Verda, berpikir mengapa Verda tiba-tiba saja seperti ini.


"Baiklah, terserah kau saja, Verda, kau mau pakai baju apa, tapi rasanya aku tidak rela membuat orang berfantasi tentangmu, cukup aku saja," ucap Vedra.


"Ved, apa aku sungguh begitu cantik di matamu?" tanya Verda.


Vedra menatap ke arah Verda yang terlihat mengalami krisis kepercayaan diri.


"Verda, kalau kau tampan, berarti kau laki-laki, dan hal yang harus kau garis bawahi adalah, aku tidak bercinta dengan laki-laki!" jawab Vedra dengan tegas.


"Ahaha!" Verda tertawa.


"Verda, asal kau tahu, aku sungguh sulit untuk menahan diriku saat bersamamu seperti ini," Vedra mengambil jemari Verda dan mengulumnya satu per satu.


Aksi Vedra sungguh seksi dan membuat gairah Verda kembali tersulut. 


"Verda, aku ingin cantikmu hanya untukku," bisik Vedra membawa kembali Verda ke bawah kungkungannya.


"Oh, Ved!" Verda melenguh hebat.


Jari pria itu benar-benar piawai dalam memainkan inti kenikmatan milik Verda.


"Verda," kata Vedra.


Verda menegang saat merasakan gerakan yang begitu cepat, membuatnya mempererat pelukannya pada Vedra.


"Ah, Ved," Verda kembali merasakan sensasi geli yang membuat sekujur tubuhnya merinding.


Vedra sungguh tidak tahan melihat Verda yang menarik sisi buasnya, ia mulai memompa kembali Verda yang mendesah penuh gairah. 


Peluh pun kembali menghujani mereka berdua.


"Ganti ya," pinta Vedra sambil memperlambat gerakannya.


"Ah, Ved!" Verda mengerang manja.


"Ganti gaunmu, Verda," pinta Vedra.


Verda menggigit bibir bawahnya, ia tidak bisa berpikir lagi, saat ini birahi sedang menguasainya.


Vedra mengulas senyumnya, mempercepat gerakannya. Verda yang menegang akhirnya terhempas lebih dulu. Vedra selalu merasa puas melihat Verda yang terkulai usai terkena badai kenikmatan. Selanjutnya, giliran Vedra yang melepaskan gelombang gairah yang begitu membara.


Vedra kembali mengecup bibir Verda yang merengut ke arahnya.


"Kenapa merengut seperti itu, Verda? Apa kau masih ingin lagi?" tanya Vedra menggoda Verda.


"Jadi mandi lagi kan!" Verda segera turun dari tempat tidur.


Vedra menyeringai, ia segera menggendong Verda menuju ke kamar mandi, lalu keduanya pun membersihkan diri bersama demi memanfaatkan waktu sebaik mungkin.


...*****...


Vedra menghentikan mobilnya di area parkir sebuah restoran yang merupakan restoran milik orang tua Verda. Vedra sungguh baru tahu bahwa restoran tersebut adalah restoran yang dikelola oleh orang tua Verda. Dulu ia kerap ke restoran tersebut bersama Silvia.


Restoran tersebut terbuka untuk semua kalangan, bahkan lebih murah dibandingkan dengan makan di mall. Restoran itu bernuansa etnik, di depan pintu masuk terdapat akuarium panjang berisi puluhan ekor ikan air tawar. Pembeli bisa langsung memilih ikan yang hendak disantap sebelum diolah di dapur restoran. Selain itu ada pula akuarium berisi udang air tawar.


Verda segera turun dari mobil, menggandeng erat tangan Vedra.


"Verda, aku mau ke toilet dulu," kata Vedra.


"Kenapa?" tanya Verda.


"Perutku kram," jawab Vedra.


"Kau pasti grogi ya?" tanya Verda.


"'Memang," jawab Vedra.


"Ya sudah, nanti langsung ke ruangan VIP saja," kata Verda.


Vedra mengangguk, ia segera menuju ke toilet, sementara Verda menuju ke ruangan VIP.

__ADS_1


"Kakak," Vivie segera menyambut kedatangan Verda.


Mereka segera berangkulan.


"Kakak terlihat berbeda sekali!" Vivie terperangah melihat penampilan Verda.


Verda mengenakan gaun hitam berlengan pendek dengan panjang melewati lutut dan rok yang mengembang.


"Kau pasti lama tidak melihatku!" Verda terkekeh.


"Tidak, Kakak terlihat begitu bersinar! Auranya beda!" sahut Vivie.


"Apa sih, Vie!" cibir Verda.


"Kak Verda," sapa Bian menghampiri mereka.


"Hai, Bian," sapa Verda.


"Kak Verda terlihat berbeda," ucap Bian.


"Jangan bicara yang aneh-aneh!" sungut Verda.


"Kak, mana Jehun kw?" tanya Vivie.


"Masih ke toilet," sahut Verda.


Verda segera menghampiri Pak Daus dan Bu Eva.


"Ibu," Verda memeluk ibunya.


"Ayah," Verda memeluk ayahnya. "Selamat ulang tahun, Ayah."


"Kau datang sendiri, Verda?" tanya ibu.


"Tidak Bu, suamiku masih ke belakang," jawab Verda.


Ayah memasang ekspresi masam mendengar Verda menyebut kata suami.


"Abim!" seru ayah langsung menyambut kedatangan Abim.


"Bapak, Ibu," Abim langsung menyalami kedua orang tua Verda.


Verda memasang ekspresi masam, mengapa kedua orang tuanya mengundang Abim?


"Verda," sapa Abim.


Verda tidak membalas sapaan Abim, ia hanya menyunggingkan senyum tipis.


"Bagaimana kabarmu, Verda? Kau terlihat luar biasa," puji Abim.


"Hm, ya," sahut Verda singkat.


"Verda, kok begitu sih?" tegur Ibu.


"Ayo duduk, kenapa masih berdiri begitu?" ajak Pak Daus.


Verda segera duduk di kursi. Matanya masih mencari-cari Vedra yang tak kunjung muncul.


...*****...


Sementara itu, Vedra segera menuju ke ruang VIP. Langkahnya terhenti saat melihat sosok yang ia kenali sebagai Pak Abimanyu dari PT BAS.


"Oh, hai, Jehun kw!" seorang wanita menyapa Vedra.


"Jehun kw?" pria di samping wanita itu bertanya.


"Kau sungguh bernyali besar ya datang kemari. Lihatlah, di dalam ada mantan suami kakakku yang ingin kembali rujuk. Aku sungguh ingin tahu apa yang akan kau lakukan," kata wanita itu.


Vedra hanya bisa terdiam.


Pak Abimanyu adalah mantan suami Verda?

__ADS_1


Lelucon macam apa ini?


...*****...


__ADS_2