Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 066


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, satu per satu para pegawai berpamitan, meninggalkan kantor.


Verda masih berkutat di depan komputernya. Seharian ini konsentrasinya kabur entah ke mana membuat pekerjaannya terbengkalai. Saat ini rasa kesal sedang menyelimuti setiap sel-sel tubuhnya. Ia marah, kesal, dan kecewa pada Vedra. Laki-laki itu bersikap seakan tidak ada sesuatu yang spesial yang telah terjadi di antara mereka. Laki-laki itu sungguh terkesan macam laki-laki biadap yang telah merenggut mahkotanya namun justru bisa bersikap santuy.


"Verda," seruan Ican membuyarkan lamunan Verda.


"Ada apa, Can?" tanya Verda.


Ican bersandar di sudut kubikel Verda, ia memicingkan matanya.


"Verda, seharian ini kuperhatikan kau terus menatap ke ruangan Vedra," tukas Ican.


"Ah, perasaanmu saja itu, Can," sahut Verda sekenanya.


"Verda, apa kau terpesona pada Ved karena dia jago belah duren?" tanya Ican.


Mendengar pertanyaan Ican, seketika Verda jadi teringat kembali betapa perkasanya pria itu saat menggagahinya.


"Apa sih, Can!" gerutu Verda, segera ia memalingkan wajahnya yang memanas.


"Verda, kau jangan naksir Ved, dia sudah punya istri! Daripada naksir Ved, lebih baik sama aku saja!" tukas Ican penuh percaya diri.


"Ahaha!" Verda tertawa renyah. 


"Mau ya, sama aku ya," bujuk Ican.


"Ogah! Sudah sana kembali ke meja kerjamu, atau sekalian saja kau pulang! Pekerjaanku masih banyak," sahut Verda.


"Sudah mau pulang, Ved?" tanya Ican begitu melihat Vedra keluar dari ruangannya.


Vedra hanya memberi anggukan ringan.


"Widiw wadaw, mentang-mentang sudah punya istri, maunya pulang cepat terus," cerocos Ican.


Vedra tak menghiraukan cerocosan Ican. Ia bergegas karena harus pergi nge-gym. Sungguh sayang membership selama satu tahun terbuang percuma jika Vedra tidak pergi nge-gym.


"Verda, kalau pekerjaanmu sudah selesai, kita makan malam bareng yuk," ajak Ican.


"Can, jangan ngoceh terus, aku mau kerja nih," keluh Verda.


"Oke oke, bos!" sahut Ican segera kembali ke meja kerjanya.


...*****...


Ican memarkirkan sepeda motornya di area parkir sebuah kedai makan yang berada di pinggir pantai. Kawasan tersebut merupakan pusat kuliner hidangan coto Makassar. Ican sungguh berbunga-bunga saat membonceng Verda.


Verda dan Ican memasuki kedai paling populer milik Haji Juddin yang selalu dipenuhi pengunjung. Mereka segera duduk di meja panjang, bergabung bersama pengunjung lain.


"Makannya apa?" tanya pelayan segera menghampiri mereka.


"Daging saja," jawab Verda.


"Aku pokoknya selain daging, tapi jangan hati, aku tidak makan hati, nanti makin kurus," jawab Ican.


"Satu daging, satu bukan daging bukan hati, minumnya apa?" tanya pelayan.


"Es jeruk," sahut Ican.


"'Jeruk hangat," jawab Verda.


Ponsel Verda berdering, ia melirik sekilas, namun memilih untuk mengabaikan telepon dari Vedra.


"Kerupuknya, Om," bocah penjaja kerupuk menghampiri mereka.


"Berapa kerupuknya?" tanya Verda.


"Satu lima belas ribu, ambil dua, dua puluh lima ribu, Tante," jawab si bocah.


Verda merengut karena bocah itu memanggilnya tante.


"Lewat saja," cibir Verda.


"Kenapa tidak beli, Verda?" tanya Ican.


"Dia panggil aku tante sih," keluh Verda.


Ican tertawa, Verda sungguh baper kalau disebut tante.


"Beli empat deh," Ican menyodorkan uang kepada si bocah.

__ADS_1


"Makasih, Om," sahut si bocah.


"Ican, apa aku terlihat setua itu ya?" keluh Verda.


"Ya elah, Verda, aku baru umur lima tahun saja sudah jadi om-om loh, karena keponakanku sudah lahir," sahut Ican.


"Ih, serius kau, Can?" tanya Verda.


"Iya, kakakku yang tertua nikah umur tujuh belas tahun! Jadi, ya aku otomatis langsung jadi om dong! Ahaha," Ican tertawa.


Tawa Ican terhenti saat mendengar dering ponselnya berbunyi. Ia segera menggeser panel hijau.


"Halo, Ved," sahut Ican. "Verda? Ada, kenapakah?" tanya Ican.


"Laporan yang dia kirim ada selisih," jawab Vedra.


"Loh, Ved, kau balik ke kantor lagi?" tanya Ican.


"Ya," sahut Vedra singkat.


"Aduh, tapi nanti ya, kita lagi makan malam nih," sahut Ican.


"Kalian makan malam di mana?" tanya Vedra.


"Kita lagi makan coto Haji Juddin, kau mau ke sini?" tanya Ican.


"Oh, oke," sahut Vedra sebelum menutup teleponnya.


"Kenapa, Can?" tanya Verda.


"Itu, laporanmu kata Ved ada selisih, hih, dia itu loh ya, jam segini masih juga bahas kerjaan," jawab Ican.


Tak berapa lama menunggu Vedra bergabung di meja yang sama dengan Verda dan Ican. Sebenarnya posisi Vedra saat menelepon Ican tak jauh dari lokasi tempat mereka bertemu.


Verda berusaha tidak menunjukkan ekspresi kesalnya pada Vedra.


"Dari mana kau, Ved?" tanya Ican keheranan melihat penampilan Vedra yang lebih santai, hanya mengenakan kaus hitam longgar.


"Nge-gym," sahut Vedra singkat.


"Ooh, jadi itu toh, rahasia badan kau. Nge-gym di mana kau?" tanya Ican.


"Wuih, mahal dong," seru Ican.


"Tidak, ikut membership per tahun jauh lebih murah," sahut Vedra.


"Ini daging saja, ini bukan daging," pelayan meletakkan pesanan Verda dan Ican.


"Makannya apa?" tanya pelayan pada Vedra.


"Daging saja," jawab Vedra.


"'Minumnya?" 


"Air mineral biasa," jawab Vedra.


"Can, serius kau makan bukan daging?" tanya Verda melongok ke mangkuk Ican.


"Iya, aku kurang suka daging, sering nyangkut di gigi, aku sukanya ini loh," Ican menciduk isi mangkuknya.


"Apa itu?" tanya Verda.


"Ini lidah! Lidah sapi saja seenak ini, apalagi lidah manusia, hihi, bagaimana, Ved? Lidah istrimu enak kan?" Ican terkekeh.


Vedra terdiam, tak berkomentar. Sementara Verda merasa wajahnya memanas seketika.


"Kau mau coba, Verda?" tanya Ican.


"Tidak," sahut Verda.


"Kalau lidahku bagaimana? Mau?" tanya Ican.


Verda mengerutkan keningnya, sekilas ia bersitatap dengan Vedra. 


"Tenang saja, Verda, lidahmu tidak akan kumakan kok! Hihi...," Ican terkekeh lagi.


Pelayan segera mengantarkan pesanan Vedra. 


"Verda, berapa banyak biasanya kau bisa makan ketupat ini?" tanya Ican mengambil satu ketupat dari tumpukan yang ada di depan mereka.

__ADS_1


"Paling banyak satu," jawab Verda.


"Aku bisa habis tiga loh," sahut Ican.


"Wah, banyak sekali, Can," ceplos Verda.


"Ved, bagaimana kalau kita lomba banyak-banyakkan makan ketupat? Yang kalah harus bayar semua ini," tantang Ican.


"Boleh," sahut Vedra.


Beberapa saat kemudian, Ican harus menerima kekalahannya. Empat ketupat yang dimakan Ican, membuat pria itu nyaris muntah. Sementara Vedra dengan santai menghabiskan ketupat ketujuhnya.


"Curang kau, Ved! Kau kan habis nge-gym!" gerutu Ican.


"Ican, kalah tetaplah kalah," kata Vedra menanggapi gerutuan Ican.


Vedra mencuri pandang ke arah Verda yang terlihat masih memasang ekspresi masam setiap kali melihatnya. Sungguh membuat Vedra bertanya-tanya mengapa Verda bersikap seperti itu padanya.


Jreng...


Seorang pengamen datang dan mulai memetik gitar sambil bernyanyi.


"... Kutanya siang, kau jawab malam, kutanya malam, kau jawab siang, ada apa denganmu..."


Verda mencuri pandang ke arah Vedra, Verda segera mengalihkan pandangannya saat tatapan mata mereka saling bertabrakan.


Entah mengapa lirik yang dinyanyikan oleh si pengamen membuat mereka berdua salah tingkah sendiri.


"Permisi... permisi," si pengamen menyodorkan topi, memungut recehan dari pengunjung.


"Mas, nyanyi yang benar dong!" tukas Ican. "Masa iya lagunya Peter Pan jadi absurd begitu!" keluh Ican.


"Maaf, Mas, ini lagunya Peter Panci bukan Peter Pan, hehe," pengamen itu terkekeh.


"Huu!" cibir Ican.


Verda menyeruput jeruk hangatnya, berusaha mengabaikan Vedra yang kini menatapnya lurus.


"Jadi, kalian mau balik ke kantor lagi?" tanya Ican.


"Tidak bisa besok saja, Ved?" tanya Verda.


"Besok sebelum jam sembilan sudah harus disubmit," jawab Vedra.


"Verda, akan kuantar," kata Ican.


"Ican, kau pulang saja, toh kami ke kantor bersama," kata Vedra.


"Oh begitu, baiklah sampai besok," Ican berpamitan.


Vedra kembali memandangi Verda yang mendengus kesal begitu memasuki mobil Vedra.


Vedra segera mengemudikan mobilnya, namun pria itu tidak menuju ke arah kantor, melainkan pulang ke rumahnya.


Vedra jelas hanya menjadikan pekerjaan sebagai alasan agar bisa menjemput Verda tanpa perlu dicurigai oleh Ican.


"Verda," kata Vedra begitu mereka memasuki rumah.


Verda mengabaikan Vedra, ia menuju ke ruangan barang-barang miliknya.


"Verda, tunggu," cegah Vedra.


"Ada apa, Ved?" tanya Verda.


Vedra membuka kausnya, menunjuk bekas lebam yang ada di sekitar dadanya.


"Ini sungguh perbuatanmu?" tanya Vedra.


Verda menatap ke arah Vedra yang nampak memasang ekspresi tak percaya. Verda memilih menghindar.


"Verda," kata Vedra menahan kedua lengan Verda.


Verda menepis tangan Vedra, rasa kesal kembali menguasainya.


Pria di hadapannya ini sungguh benar-benar membuatnya tak bisa menahan rasa kesal yang berkecamuk dalam dadanya.


Verda membuka kancing kemejanya, menunjukkan kepada Vedra, apa yang sudah dilakukan oleh pria itu kepadanya. 


...*****...

__ADS_1


__ADS_2