Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 032


__ADS_3

Verda masih mengawasi Vedra yang nampak memasang ekspresi cemberut sepanjang perjalanan menuju kembali ke rumah Vedra.


Pria itu langsung memasuki kamarnya begitu tiba di rumah. Verda mengerutkan keningnya, sepertinya ia bisa menebak apa kira-kira yang terjadi pada Vedra pasca bertemu dengan seorang wanita yang menurut dugaan Verda adalah kekasih dari pria itu.


"Ved!" panggil Verda dari luar kamar Vedra.


"Vedra! Vedra!"


Tak ada jawaban dari pria itu.


"Huhh! Apa dia sedang menangis tersedu-sedu?" gumam Verda bertanya-tanya.


Verda segera menuju ke ruangan tempat barang-barangnya disimpan. Beberapa hari ini ia terlalu sibuk dan lelah hingga belum juga membongkar  barang-barang yang dibawanya.


Verda membuka salah satu dus, lalu mengeluarkan sebuah selimut dengan wajah sang idola yang tercetak sempurna. Begitu juga sebuah bantal dengan wajah Jehun yang menatap begitu lembut. Tatapan yang selalu sukses membuat Verda menjerit histeris.


"Jehunku!" seru Verda sambil memeluk erat bantal tampannya.


Verda juga mengeluarkan beberapa pipa berisi gulungan poster yang menjadi bonus setiap kali mengikuti pembelian pre-order album Fancy.


Setiap kali album Fancy rilis terdapat dua hingga tiga versi dengan konsep yang berbeda membuat Verda harus membeli semua album idolanya demi mendapatkan koleksi photo card sang bias tercinta yakni Jehun. Namun tidak selamanya Verda bisa mendapat photo card Jehun, otomatis Verda harus mencari toko daring yang menjual photo card sang idola yang harganya bisa lebih mahal dari harga album fisik.


"Sepertinya aku harus menempelkan semua poster ini di dinding ruangan ini. Sayang sekali ruangan ini tidak ada AC-nya, nanti semua posterku berdebu," Verda bermonolog.


Verda mengintip ke arah kamar Vedra, belum ada tanda-tanda pria itu akan keluar dari kamar tersebut. Padahal Verda harus memasuki kamar itu untuk melanjutkan pencarian koleksi photo card Jehun yang diyakini Verda telah disembunyikan dengan begitu rapi oleh Vedra.


"Tapi bagaimana caraku bisa masuk ke kamar pria itu sedangkan dia masih belum kunjung keluar?" keluh Verda.


"Lebih baik aku mandi dulu, akhir pekan saja kugarap semua ini," gumam Verda.


...*****...


Verda sudah selesai mandi dan melakukan ritual memakai rangkaian perawatan kulit wajahnya. Tak lupa ia memutar musik berupa kumpulan lagu milik Fancy yang berirama energik. Verda bersenandung kecil dengan mengikuti lirik dari lagu yang sedang didengarnya. Meski pelafalan bahasa Koreanya sangat amburadul, asalkan percaya diri itu sudah lebih dari cukup.


Vedra keluar dari kamarnya, pria itu melangkah gontai menuju ke dapur untuk mengambil segelas air minum. Ia menarik kursi yang tersedia di meja makan, duduk di samping Verda yang masih sibuk mengaplikasikan rangkaian perawatan kulit wajahnya.


"Wanita tadi, kekasih yang mencampakkanmu ya?" tanya Verda.


Vedra tidak menjawab, pria itu masih tetap terdiam.


"Kenapa kalian batal menikah?" tanya Verda lagi.


"Kenapa dulu kau bercerai dari suamimu?" Vedra balik bertanya.


Verda terkesiap mendengar pertanyaan yang dilemparkan oleh Vedra.


"Apakah karena suamimu berselingkuh?" tanya Vedra lagi.

__ADS_1


Verda memutar bola matanya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Verda.


"Aku hanya bertanya karena kau lebih dulu bertanya," jawab Vedra.


"Ya, aku bertanya karena aku ingin tahu jawaban darimu," tukas Verda.


Mereka berdua saling melemparkan pandangan yang menuntut jawaban.


"Aku sungguh tidak tahu mengapa Silvia membatalkan pernikahan kami secara sepihak," kata Vedra pada akhirnya menjawab pertanyaan Verda.


Oh jadi namanya Silvia, batin Verda sambil melemparkan tatapan skeptis.


"Omong kosong macam apa itu?" tanya Verda.


"Aku tidak bicara omong kosong. Kenyataannya memang seperti itu. Tiba-tiba saja Silvia membatalkan rencana pernikahan kami tanpa alasan yang jelas dan masuk akal. Aku bahkan jadi berpikir kemungkinan bahwa Silvia berselingkuh di belakangku," jawab Vedra.


"Begitukah? Memangnya kau punya bukti bahwa kekasihmu itu berselingkuh?" tanya Verda.


"Dulu kekasihku juga berselingkuh dariku, makanya kami batal menikah," jawab Vedra sambil menatap kosong gelas berisi air minumnya.


"Oh," mulut Verda membulat.


"Tapi di situ aku merasa lega karena setidaknya mantan kekasihku itu mengaku bahwa dia berselingkuh makanya hubungan kami harus berakhir. Sementara Silvia, dia bahkan tidak menjelaskan apapun ketika mengakhiri hubungan kami secara sepihak. Membuatku jadi bertanya-tanya, sebenarnya apa salah dan kurangku padanya?"


"Ya mungkin karena kau kurang tampan dan kurang tajir melintir! Seandainya saja kau setampan Jehun, wanita mana yang akan sanggup menolakmu!" sahut Verda.


Verda mengulas senyumnya, melihat pria di sampingnya yang sekarang terlihat jelas sedang meluapkan semua unek-unek yang selama ini dipendamnya.


"Maaf, Verda, aku jadi terbawa emosi," lanjut Vedra lalu meneguk habis isi gelasnya.


"Wah, Ved, kau sih playboy! Makanya kau pada akhirnya dipermainkan!" Verda menanggapi.


"Apa? Aku plaboy?" tanya Vedra.


"Ya, kau playboy! Di kampungmu sana bahkan ada wanita bernama Siti, lalu Silvia, belum lagi mantan-mantan kekasihmu yang lain! Kau sungguh luar biasa, Ved! Padahal kau tidak punya tampang-tampang playboy! Tapi ternyata kau gatal juga!" cerocos Verda.


"Apa?!" Vedra terperangah.


"Lantas bagaimana denganmu? Kau bahkan melakukan pernikahan dini. Kau bahkan juga menjanda di usia dini, sekarang siapa yang lebih gatal di antara kita?" tanya Vedra.


"Apa?! Aku gatal?" Verda mendelik gusar.


Ia dan Vedra saling melemparkan tatap skeptis.


"Asal kau tahu ya, aku terlibat pernikahan dini karena dijodohkan oleh orang tuaku! Bukan karena mengikuti tren hamil di luar nikah!" tukas Verda dengan sengitnya.

__ADS_1


"Kalau saja dulu aku tidak dipaksa menikah karena kemauan orang tuaku, aku pasti tidak akan menjadi seorang janda!" lanjut Verda.


Vedra terdiam karena cecaran Verda yang begitu sengit.


"Dan perlu kau garis bawahi, biar kata aku ini janda, aku mana mungkin mau menikah dengan pria sembarangan! Aku memang mau menikah denganmu tapi hanya sebatas jaminan sampai tanggung jawabmu untuk mencari dan mendapatkan kembali semua koleksi photo cardku tuntas!"


"Jujur saya ya, kau itu tipe pria yang membosankan! Tidak asyik! Kau juga tidak tampan! Jadi wajar saja kalau kau dicampakkan!" tandas Verda.


Perkataan Verda sungguh menohok hati Vedra. Kalau saja hatinya terbuat dari kaca, pasti sudah hancur berkeping-keping.


"Aku mengantuk! Mau tidur!" Verda beranjak dari tempat duduknya.


Ia segera memasuki kamar Vedra dengan membawa serta bantal dan selimut gantengnya.


Verda segera naik ke atas tempat tidur dan menyelimuti dirinya dengan selimut bergambar wajah Jehun.


"Huhh dasar laki-laki murahan! Bisa-bisanya mengataiku perempuan gatal! Padahal dia sendiri playboy gatal!" gerutu Verda.


Verda segera mengambil gawai cerdasnya, memasang earphone nirkabel di kedua telinga lalu menyaksikan video musik Fancy untuk mengurangi rasa kesal yang membuncah dalam dadanya.


Vedra menyusul masuk ke kamar, ada rasa bersalah yang kini menderanya. Ia merasa sangat keterlaluan lantaran mengatai Verda sebagai janda gatal. Sungguh wajar wanita itu begitu marah pada Vedra.


Vedra segera duduk di tepi tempat tidur, menoleh ke arah Verda yang terlihat sibuk di depan gawai cerdasnya. Vedra menunduk, menarik napasnya lalu memberanikan diri untuk bicara.


"Verda, aku minta maaf," kata Vedra.


Verda masih mengabaikan Vedra.


"Aku sungguh-sungguh minta maaf, maaf aku sudah mengataimu janda gatal. Perkataanku sungguh tidak pantas," lanjut Vedra.


Vedra menoleh ke arah Verda yang mengabaikannya. Melihat sepasang earphone nirkabel terpasang di telinga Verda membuat Vedra mendelik gusar.


Vedra langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur di samping Verda.


Verda tersentak kaget karena Vedra sudah berbaring dalam posisi telungkup di samping Verda.


"Kenapa kau tidur di sini?" tanya Verda.


Vedra tidak menyahut, ia kesal karena permintaan maafnya diabaikan oleh Verda.


"Ved!" sergah Verda.


"Kenapa? Ini kan kamarku. Ini tempat tidurku," sahut Vedra merajuk.


"Ya, tapi kenapa kau tidur di sini? Apa kau bermaksud agar janda gatal sepertiku menggodamu?" tanya Verda dengan nada begitu sinis.


"Terserah," sahut Vedra sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"Ih, apa sih ini orang!" sungut Verda.


...*****...


__ADS_2