Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 059


__ADS_3

"Saya model lepas untuk pakaian-pakaian yang dijual di toko daring."


Jawaban itu terlontar begitu saja dari mulut Vedra. Setidaknya saat ini, mengaku sebagai model lepas lebih baik ketimbang disangka model majalah dewasa. Entahlah apa maksud Verda mengaku pekerjaan Vedra adalah model. Apa hanya karena Vedra memiliki tubuh tinggi menjulang?


Vedra yakin bahwa Verda mungkin sudah mempertimbangkan banyak hal sehingga yang harus ia lakukan adalah melakukan improvisasi yang serasi, selaras, dan seimbang, demi kebaikan mereka bersama.


"Oh, kau mengelola toko baju daring?" tanya Vivie.


"'Tidak, saya hanya model untuk pemotretan sesuai dengan konsep yang diperlukan oleh klien saya. Hanya saja, saya tidak tertarik jika melakukan pemotretan untuk katalog pakaian renang, atau pun pakaian dalam," jawab Vedra dengan tegas.


Semua orang masih menatap Vedra, terlihat wajah Pak Daus semakin masam.


"Pekerjaan sebagai model itu berarti tak luput dari kehidupan glamor. Setiap saat kau dikelilingi wanita cantik, tebar-tebar pesona, dan akhirnya bisa saja menjadi peselingkuh ulung?" Pak Daus kembali melayangkan tudingan.


Verda kembali melotot kepada ayahnya, namun Pak Daus balas melotot ke arah Verda.


"Apa kau sungguh hanya ingin menjadikan Verda sebagai mainanmu saja?!"


"Ayah!" potong Verda.


"Verda, diam!" sergah Pak Daus.


Pak Daus melemparkan pandangannya ke arah Verda.


"Verda, kalau tidak bisa diam, lebih baik kamu masuk saja ke dalam rumah!" tandas Pak Daus.


Vedra meneguk ludahnya, Pak Daus sungguh mengintimidasinya.


Pak Daus, pria berusia lebih dari enam puluh tahun itu melotot dengan matanya yang lebar. Pria paruh baya yang biasanya selalu tersenyum ramah itu memang nampak menakutkan saat sedang dalam tensi tinggi. Kumis tipisnya yang tertata rapi berkedut-kedut menahan emosi.


"Mohon maaf sebelumnya, saya rasa panjenengan salah jika menilai saya seperti itu," kata Vedra.


Panjenengan dalam tata bahasa krama Jawa halus berarti anda. Dulu Vedra menggunakan kata 'panjenengan' saat bersama Pak Haryo, ayah Silvia. Vedra memakai kata panjenengan untuk menyebut Pak Daus yang enggan dipanggil dengan sebutan 'pak' oleh Vedra.


"Saya bukan pria yang suka mempermainkan wanita karena menurut saya wanita bukanlah boneka," lanjut Vedra.


Pak Daus menyeringai masam, rupanya pria ini punya nyali yang besar untuk menantangnya seperti ini.


"Ayah, aku sudah lapar, mari hentikan sejenak wawancara ini," rengek Verda.


Pak Daus mengabaikan rengekan Verda dan masih tertuju pada Vedra.

__ADS_1


"Hei, Bung!" kata Pak Daus. "Apa kau tahu, persamaan dan perbedaan antara kau dan pencuri?" tanya Pak Daus.


Vedra tertegun mendengar pertanyaan Pak Daus, begitu pula dengan Verda, Vivie, dan Bu Eva.


Pak Daus masih mempertahankan senyum sinisnya.


"Bagi saya, kau itu tak ada bedanya dengan pencuri. Kau mengambil anak saya tanpa izin dari saya. Jangan mentang-mentang Verda ini janda lantas kau bisa seenaknya saja langsung mengambil Verda," kata Pak Daus dengan tenang namun memberi penekanan-penekanan yang menusuk.


Ingin rasanya Verda menyela ayahnya, namun Vivie langsung menahan tangan Verda.


"Kakak!" bisik Vivie.


"Apa kau sungguh meremehkan Verda? Hanya karena status Verda sudah janda, sehingga tidak ada itikad baikmu. Jangan mentang-mentang kau merasa tampan. Kau itu tampan karena masih muda. Coba kalau sudah tua, jelek juga kau itu," lanjut Pak Daus.


Tak ada nada ngegas dari ucapan Pak Daus, semua mengalir tenang namun tajam dan menusuk. Vedra mencuri pandang ke arah Verda. Verda terlihat mendelik gusar, ingin marah kepada ayahnya namun Vivie terus menahan Verda.


"Kau jangan memandang Verda sebelah mata hanya karena status Verda ini janda. Verda ini banyak yang mau. Kau jangan merasa karena sudah mendapatkan Verda lantas kau bisa bersikap seenaknya." 


Pak Daus mengalihkan pandangannya pada Verda.


"Verda, inilah alasan mengapa Ayah begitu mengkhawatirkanmu. Ayah tidak mau kamu asal-asalan memilih pria hanya karena pria itu berwajah tampan. Tampan saja tak bisa menjadi jaminan bahwa pria itu bisa membahagiakanmu." 


Vedra hanya terdiam, terserah ayah Verda mau mengatainya pencuri atau maling, ataupun perebut anak orang. Toh, pernikahan yang terjadi antara Verda dan Vedra hanya sekedar jaminan. Ketika semua koleksi foto card milik Verda berhasil terkumpul, mereka bisa berpisah baik-baik. Semakin cepat Vedra mendapatkan kembali kumpulan foto card itu, semakin cepat pula mereka berpisah. Terdengar mudah dan jauh dari kata rumit kan?


"Baik, Ayah," sahut Bu Eva.


Dengan sigap Bu Eva mengisi piring Pak Daus dengan nasi putih hangat yang asapnya masih mengepul.


Verda mendelik gusar ke arah ayahnya. Ia kesal karena ayahnya masih bisa mengajak makan bersama padahal rasanya selera makan Verda sudah nyaris hilang akibat siraman rohani dari ayahnya. Sementara itu Vedra hanya diam mematung, ia masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Kenapa kau tidak makan?" tanya Pak Daus ke arah Vedra. "Berterima kasihlah karena sebagai tuan rumah saya sudah bersedia mengajakmu untuk makan bersama keluarga saya."


"Terima kasih panjenengan sudah bersedia mengajak saya makan bersama keluarga panjenengan. Hanya saja, saya tidak mau panjenengan menganggap saya lancang karena makan tanpa dipersilakan," jawab Vedra.


"Saya tidak ingin panjenengan menganggap saya adalah tipe orang yang lancang. Saya sungguh minta maaf karena menurut panjenengan saya sudah lancang mengambil Verda tanpa permisi. Saya sadar bahwa hal itu sungguh kurang pantas. Pernikahan yang terjadi antara saya dan Verda murni kami lakukan atas kesepakatan bersama. Tanpa ada paksaan ataupun tekanan dari pihak mana pun," Vedra menjelaskan panjang lebar.


"Saya tidak pernah memaksa Verda untuk ikut bersama saya. Saya serahkan semuanya kepada Verda. Karena saya percaya pada keputusan yang dibuat oleh Verda."


Vedra punya harga diri yang harus dijaganya. Ia tidak mau dianggap sebagai maling anak orang. Vedra bahkan sudah menawarkan kepada Verda untuk menemui keluarga Verda sebelum pernikahan mereka berlangsung. Vedra merasa sudah berjalan di jalur yang benar, justru Verda-lah yang saat itu menganggap bahwa izin dari orang tua tidaklah penting.


"Khu khu," Pak Daus tertawa.

__ADS_1


Tawa pria paruh baya itu terdengar mencemooh. Pria muda di hadapannya ini seakan sedang mengejeknya karena dianggap tidak menghargai keputusan Verda.


"Baiklah, silakan saja kalian lanjutkan kawin lari kalian ini, toh, terus terang saja, saya belum menerima pernikahan kalian dan saya belum menganggapmu sebagai menantu saya," tandas Pak Daus.


"Ayah!" Verda kembali melotot ke arah ayahnya.


Pak Daus tersenyum masam ke arah Verda. 


"Terserah panjenengan saja, saya ini ikut saja apa pun keputusan panjenengan dan keputusan Verda," tukas Vedra santai.


Vedra segera mengisi piringnya dengan nasi putih hangat dan mulai menyantap hidangan yang tersaji di hadapannya.


Lumayan dapat makan gratis, kalau bisa sering-sering saja seperti ini, batinnya senang.


...*****...


Verda menghampiri Vedra yang saat ini sedang berdiri di pinggir kolam ikan air tawar yang berenang tanpa beban. Matanya mengamati puluhan ekor ikan berukuran besar yang begitu lincah dan aktif bergerak.


"Ved," kata Verda langsung merangkul pinggang Vedra.


"Verda," kata Vedra.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Verda.


"Aku sedang berpikir, ikan-ikan itu pasti enak sekali kalau digoreng kering dan disantap dengan sambal mangga muda," jawab Vedra.


Verda terperangah mendengar jawaban Vedra.


"Ahaha, Ved, apa kau tahu, aku sedang kepikiran dengan perkataan ayahku, tapi kau justru berpikir tentang memasak ikan?" Verda tergelak.


"Aku bahkan berpikir, bolehkah aku mengambil ikan-ikan ini untuk lauk makan malam kita? Lumayan kalau dapat dua karung, bisa untuk makan satu bulan," lanjut Vedra.


"Ahaha!" Verda tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Vedra.


Pak Daus dan Bu Eva yang melihat dari kejauhan saling bersitatap.


"Verda terlihat bahagia sekali ya, Ayah," kata Bu Eva.


Pak Daus enggan berkomentar menanggapi perkataan istrinya.


Sementara itu, Vivie yang melihat dari balkon kamarnya kini dipenuhi dengan rasa bersalah karena selama ini sudah menganggap kakaknya hanya berhalusinasi telah menikah.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2