Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 013


__ADS_3

"Ibu, di mana Ibu menyimpan semua dokumen keluarga?" tanya Verda.


Verda berdiri di ambang pintu kamar orang tuanya. Ibu yang saat ini sedang sibuk mengepak barang-barang untuk dibawa liburan menghentikan kegiatannya. Dokumen keluarga yang dimaksud oleh Verda adalah dokumen seperti kartu keluarga, akta kelahiran, bahkan ijazah seluruh anggota keluarga berikut dengan surat-surat berharga lain yang disimpan dalam satu tempat dengan tujuan keamanan.


"Coba tanya Ayahmu," jawab Ibu.


"Untuk apa kamu membutuhkan dokumen itu?" tanya Ayah yang juga sibuk mengepak barang-barang pribadi beliau.


"Keperluan administrasi untuk menikah," jawab Verda seraya terkekeh.


"Haha! Ya ampun, Kak Verda!" Vivie tergelak heboh.


Vivie baru saja melintas keluar dari kamarnya, ia kebetulan mendengar ucapan Verda.


"Apa menikah dengan Jehun perlu dokumen administrasi juga?" pertanyaan Vivie terdengar begitu mengejek Verda.


"Menikah secara hukum yang berlaku tentu harus ada dokumen pendukungnya," sahut Verda.


Vivie dan kedua orang tuanya saling bertukar pandang. Saat ini mereka jelas tengah mengasihani Verda yang sedang berhalu tingkat nasional.


"Ayah, akta perceraianku dengan Abim masih disimpan juga kan?" tanya Verda.


Pak Daus memutar bola matanya.


"Ayaah!" desak Verda.


"Iya, iya, masih ada, masih ada," Pak Daus segera mengambil sebuah tas besar dari dalam lemari penyimpanan pakaiannya.


Verda segera membuka isi tas dan mencari dokumen yang ia perlukan.


"Kak Verda, apa Kak Verda tidak takut diamuk para penggemar fanatik yang tidak sudi Jehun menikah dengan Kak Verda?" tanya Vivie dengan nada mengejek yang kentara.


"Saat ini Jehun kan sedang berada di puncak karirnya! Menikah dengan Kak Verda jelas akan menimbulkan skandal!"


"Ya, kalau begitu para penggemarnya jangan sampai tahu!" sahut Verda dengan cueknya.


"Ahaha!" Vivie tertawa terbahak-bahak.


Kakaknya memang sudah benar-benar gila karena overdosis Jehun. Mungkin ini yang dinamakan ter-Jehun-Jehun. Sungguh kasihan kakaknya sampai menghalu tingkat alam semesta seperti itu. 


"Jadi, kapan Kakak akan menikah dengan Jehun?" tanya Vivie.

__ADS_1


"Minggu depan aku akan menikah. Tidak apa-apa kan, Ayah, Ibu?" tanya Verda.


Ayah dan Ibu terdiam namun kemudian Vivie kembali tertawa terbahak-bahak.


"Ahaha, terserah Kak Verda saja, yang penting Kak Verda senang, benar kan, Ayah, Ibu?" sahut Vivie.


"Ya, terserah kau saja, Verda," Ayah menyengir.


"Iya, terserah, kamu mau nikah sama Jehun, bihun, atau soun," Ibu menimpali.


"Kak Verda benar-benar sudah stres!" Vivie kembali terkekeh geli.


Verda segera mengambil dokumen yang ia butuhkan, bersama copy dokumen yang tersedia dalam tas tersebut.


"Terima kasih sudah mendukungku Ayah, Ibu, Vivie. Oh ya, yang akan menikah denganku, namanya Vedra, bukan Jehun, bihun, atau pun soun," Verda segera ngeloyor pergi.


"Ahaha! Ya ampun, siapa lagi Vedra itu? Apa dia member baru Fancy?" Vivie tergelak heboh.


...*****...


"Vedra, kamu kapan mengirimkan undangan? Semua tetangga sudah bertanya-tanya."


Vedra menghela napas panjang mendengar suara Ibunya melalui sepasang earphone nirkabel yang terpasang di kedua telinganya.


"Ibu, apa sudah tidak ada lagi tambahan tamu yang akan diundang?" tanya Vedra.


"Sudah tidak ada lagi! Lekas kamu kirimkan, jadi bisa segera Ibu sebarkan undanganmu! Tenda sudah mulai dipasang, tapi undangan masih juga belum kunjung Ibu terima!" cerocos Ibu Vedra.


"Baik Bu, aku sudah menghubungi pihak percetakan, akan langsung kukirimkan begitu semua sudah selesai," sahut Vedra.


"Ya, segera ya!" ujar Ibu Vedra terdengar begitu antusias.


Tut.. tut..


Sambungan telepon terputus bersamaan dengan helaan napas panjang Vedra.


Vedra melepas earphone berwarna putih itu lalu meletakkannya bersisian dengan ponselnya yang berada di atas meja kerja yang kini dipenuhi tumpukan undangan pernikahannya.


Satu per satu Vedra membuka undangan yang sudah terbungkus rapi dalam plastik yang sudah diberi stiker nama penerima undangan. Vedra dengan telaten menempelkan stiker untuk menutup nama calon mempelai wanita yang akan dinikahinya.


Nama Silvia Haryo, putri dari Bapak Haryo dan Ibu Sifa harus digantikan oleh Verdanica, putri dari Bapak Firdaus dan Ibu Eva.

__ADS_1


Vedra tidak mungkin mencetak ulang undangan yang sudah selesai karena jelas akan memakan biaya lebih banyak sehingga lebih baik Vedra mengakalinya dengan menempelkan stiker yang jauh lebih praktis, mudah, dan murah. Toh, tidak akan ada orang yang memerhatikan undangan secara detail. 


Undangan itu terlihat sederhana, berwarna merah muda lembut dengan motif bunga sakura. Bunga yang menjadi kesukaan Silvia. Mereka bahkan sudah berencana untuk mengumpulkan uang agar bisa pergi ke Jepang. Menghadiri Festival Hanami yakni festival yang diadakan ketika bunga sakura bermekaran di musim semi. 


Vedra merasa hatinya sangat sakit, setiap kali menempelkan stiker untuk menggantikan nama Silvia. Ia masih tidak percaya bahwa hubungannya dengan Silvia benar-benar sudah berakhir dan bukannya berakhir di pelaminan.


Vedra teringat dua bulan yang lalu saat ia melamar Silvia. Vedra bukanlah orang yang romantis, namun demi Silvia ia rela mengumpulkan semua dialog-dialog dari film-film romantis yang disukai oleh Silvia.


Silvia menyambut dengan tangis haru saat Vedra melamarnya. Kemudian Vedra datang membawa serta kedua orang tuanya untuk menemui keluarga besar Silvia dalam rangka lamaran.


Acara lamaran mereka sangat sederhana, dengan dekorasi yang sederhana pula. Vedra jelas harus sangat cermat dalam membuat anggaran pernikahannya.


"Lebih baik budget foto pre-wedding kita alihkan untuk bulan madu saja," usul Vedra.


"Tapi, foto pre-wedding akan sangat bagus dipajang, seperti pasangan lain," kata Silvia.


"Silvia, menurutmu, mana yang lebih penting, sebelum kita menikah ataukah setelah kita menikah?" tanya Vedra.


"Setelah kita menikah," jawab Silvia. 


Vedra mengangguk, lumayan, bisa menghemat pengeluaran untuk hal tidak penting.


"Ved, untuk perias, aku ingin menggunakan jasa perias nomor satu di kota ini, hasilnya sangat bagus, sangat manglingi," kata Silvia.


Vedra meneguk ludahnya melihat daftar harga perias yang diinginkan oleh Silvia. Untuk satu kali rias mengeluarkan uang hingga belasan juta!


"Silvia, kamu sudah cantik, Sayang, untuk apa memerlukan jasa rias yang berlebihan? Kalau kamu berniat ingin tampil berbeda hingga tidak ada yang mengenalimu, lantas aku menikah dengan siapa?" tanya Vedra.


"Iih.. Vedra, kok begitu sih!" keluh Silvia.


"Silvia, jangan berdandan yang terlalu luar biasa cantik, nanti kamu dibawa lari orang dari pelaminan!" tukas Vedra.


Silvia tertawa, Vedra sungguh lucu kalau sedang cemburu.


"Gunakan jasa perias yang standar saja. Siapa pun periasnya, kalau dasarnya sudah cantik, hasilnya pasti luar biasa," ucap Vedra.


Lamunan Vedra seketika buyar. Ia harus kembali fokus menyelesaikan tugasnya untuk menempelkan semua stiker di undangan pernikahannya.


Undangan pernikahan ini jelas akan menjadi awal kehidupannya bersama seorang wanita yang akan menggantikan posisi Silvia di pelaminan namun bukan di hatinya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2