
"Abim, maaf ya, menu makan yang Ibu siapkan seadanya saja," kata Bu Eva mempersilakan Abim untuk menyantap sajian yang terhidang di meja makan.
"Terima kasih, Bu, maaf jadi merepotkan," kata Abim.
Verda mendelik gusar, makanan yang tersaji di meja sudah macam menu makanan di restoran prasmanan. Beraneka macam lauk-pauk mulai dari hidangan sari laut hingga panganan darat.
Ini sajian sudah macam menyambut tamu negara! Batin Verda gusar.
Abim mencuri pandang ke arah Verda yang terlihat hanya diam sambil menyantap hidangan yang tersaji.
"Sudah lama sekali ya, kita tidak pernah makan di meja yang sama, Verda," kata Abim. "Aku ingat betul, kau paling suka makan ayam goreng," lanjut Abim sambil mengambil sepotong ayam goreng dari piring yang ada di hadapan Verda.
Verda tidak menanggapi perkataan Abim. Dalam hati ia merasa kesal karena Abim seakan sedang terjebak dalam nostalgia. Nostalgia yang sungguh tidak ingin diingat Verda lagi.
"Verda, apa kesibukanmu akhir-akhir ini?" Abim kembali bertanya pada Verda.
Dalam hatinya, pria itu jelas merasa kesal karena Verda terkesan mengabaikannya.
"Verda sibuk bekerja, Bim," jawab Bu Eva.
"Kau bekerja di mana, Verda?" tanya Abim.
Verda hanya bungkam, menunjukkan bahwa ia sungguh tidak tertarik dengan basa-basinya Abim.
Bu Eva melotot ke arah Verda, begitu juga dengan Pak Daus. Merasa diabaikan, Bu Eva melotot ke arah Vivie.
Vivie menyenggol kaki Verda, berharap kakaknya itu menyadari kode yang ia berikan.
"Jangan diam saja, Kak," bisik Vivie.
"Verda bekerja di perusahaan, apa ya namanya, yang pasti sibuk sekali, sampai-sampai di rumah cuma numpang tidur," kata Pak Daus akhirnya menjawab pertanyaan Abim.
"Oh begitu, memangnya apa posisimu di perusahaan itu, Verda?" tanya Abim.
Verda mengambil gelas berisi air putih lalu meneguk isinya.
"Abim, apa kau akan bertanya juga mengenai berapa gaji yang kuterima setiap bulan?" Verda balik bertanya.
"Verda, Abim bertanya baik-baik, kenapa dijawab julid begitu," tegur Bu Eva.
"Ya, habisnya, kenapa coba Abim kepo begitu?" tukas Verda sambil mengulas senyum kecut.
"Verda, aku tidak kepo, hanya ingin tahu saja. Sudah lama kita tidak berbincang-bincang satu sama lain, anggaplah menyambung tali silaturahim yang sempat terputus," Abim menjelaskan dengan tenang.
"Hmm, Abim, aku sungguh tidak masalah jika tali itu terputus selama-lamanya, tidak perlu repot-repot disambung lagi, haha," Verda tertawa renyah.
Abim menegang mendengar perkataan Verda.
"Verda," tegur Pak Daus.
__ADS_1
Seketika suasana menegang, ucapan Verda dinilai memicu konfrontasi verbal yang jelas harus dihindari.
"Abim, maaf ya, Verda hanya bercanda," kata Bu Eva.
"Iya, Kak Abim, Kak Verda sekarang suka sekali bercanda, kadang candaannya suka keterlaluan," Vivie menimpali.
Verda memutar bola matanya, merasa jengah dengan sikap keluarganya yang jelas menyudutkannya.
"Haha, Verda sungguh banyak berubah. Selain makin cantik, selera humornya juga bagus," kata Abim melemparkan pujian untuk Verda.
Verda ingin tertawa keras-keras, menertawakan pria yang dulu bahkan melontarkan sumpah serapah dan ujaran kebencian yang membuat Verda hanya bisa menangis.
"Aku cantik?" tanya Verda dengan ekspresi kaget. "Abim, aku bahkan masih ingat bagaimana kau mengataiku bocah jelek dan bau kencur! Haha," Verda kembali tertawa dengan tawa yang dibuat-buat.
"Haha, ya ampun, itu pasti bukan aku, Verda," kata Abim ikut tertawa.
"Abim, aku tidak akan pernah melupakan semua ucapanmu yang begitu menyakitkan. Bahkan sampai di alam baka pun, aku tidak akan pernah melupakan itu," kata Verda sambil mengulum senyumnya.
Wajah Abim seketika memucat. Sungguh senyum Verda membuat jantungnya seakan terhunus seribu sembilu.
"Verda, aku sungguh minta maaf, aku mengaku salah, aku sungguh menyesali perbuatanku dan benar-benar ingin menebus semua kesalahan itu," kata Abim.
"Abim, maaf ya, masalahnya aku hanya manusia biasa dan bukannya Tuhan yang Maha Pemurah," Verda menanggapi permintaan maaf Abim.
"Verda, cukup, yang lalu biarlah berlalu, yang terpenting sekarang adalah saat ini dan masa depan yang akan datang," kata Pak Daus menengahi perang kata-kata antara Verda dan Abim.
Ponsel Verda bergetar, sebuah notifikasi pesan baru muncul di layar datar itu. Verda membacanya dan segera beranjak dari tempat duduknya.
"Loh, Verda, kau mau ke mana?" tanya Pak Daus dan Bu Eva kebingungan.
"Kak Verda mau ke mana?" tanya Vivie menahan kakaknya.
"Maaf, Vie, aku sedang buru-buru," tukas Verda.
Verda segera pergi dari ruang makan. Ia mengambil kunci mobilnya yang biasa disimpan di laci gantung yang berada di dekat pintu masuk.
"Verda!" seruan Bu Eva sama sekali tidak digubris oleh Verda.
...*****...
Verda tolong aku.
Pesan dari Vedra beserta lokasi pria itu berada membuat Verda bertanya-tanya sepanjang perjalanan menuju ke sebuah kafe.
Kenapa pria itu sampai minta tolong ya?
Verda mencoba menelepon pria itu, namun tidak ada jawaban.
Pria itu langsung saja membuat Verda cemas seketika.
__ADS_1
Verda menghentikan mobilnya begitu memasuki area parkir sebuah kafe. Langkahnya terhenti saat melihat banyak orang yang berkerumun di area parkir. Orang-orang berkerumun karena melihat seorang pria yang babak belur dengan wajah berdarah-darah.
"Vedra!" seru Verda.
Verda membelah kerumunan massa yang mengelilingi Vedra.
"Ve-Verda," kata Vedra tertahan.
"Ya ampun! Kau kenapa, Ved?! Kenapa bisa babak belur begini?!" seketika Verda panik.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang," ajak Verda.
Vedra menggeleng.
"Ved! Kau bonyok begini, masa iya tidak ke rumah sakit?!" tanya Verda.
"Kita pulang saja," kata Vedra.
"Ke rumah sakit!" tandas Verda.
"Pulang ke rumah saja, tolong," pinta Vedra.
"Baiklah, terserah kau!" kata Verda.
"Permisi," kata seorang pelayan menghampiri mereka. "Tolong, bill-nya dibayar dulu," pelayan itu menyerahkan selembar tagihan pada Verda.
"Mas, tolong antar dia ke mobil itu," kata Verda.
"Baik, Mbak," jawab si pelayan segera memapah Vedra.
Sementara itu Verda menuju ke meja kasir.
"Permisi, saya mau bayar tagihan ini," kata Verda.
"Baik," jawab si kasir.
"Oh ya, ada kejadian apa ya, sampai ada pengunjung yang babak belur begitu?" tanya Verda.
"Oh, tadi ada perkelahian, Mbak, dengar-dengar katanya rebutan wanita," jawab si kasir.
Verda tertegun mendengar pengakuan kasir tersebut.
Jadi Vedra babak belur karena berkelahi memperebutkan wanita? Batin Verda.
"Semuanya enam puluh dua ribu," kata kasir itu.
Verda mengeluarkan selembar uang pecahan seratus ribu dan menyerahkannya pada kasir.
"Kembaliannya ambil saja, tapi saya titip mobil saya yang warna putih itu sebentar ya, nanti akan saya ambil," kata Verda sambil menunjuk mobilnya yang terparkir di parkiran depan kafe.
__ADS_1
"Baik," jawab si kasir sambil menatap kepergian Verda.
...*****...