Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 099


__ADS_3

Vivie menutup teleponnya dengan perasaan cemas, ia berharap semoga rekan kerja kakaknya bisa membantu menemukan kakak iparnya yang begitu misterius. Setidaknya pria itu benar-benar harus tahu kondisi kakaknya yang saat ini masih terbaring koma.


"Pagi, Mbak Vie," sapa Pak Yanto yang nampak sigap menyambut kedatangan Vivie.


"Pak Yanto bisa pulang dulu untuk beristirahat," kata Vivie.


"Tidak apa-apa, Mbak Vie," tolak Pak Yanto.


"Pak Yanto, nanti malam giliran Pak Yanto lagi loh," kata Vivie.


Pak Yanto menggaruk kepalanya sambil menunduk.


"Baiklah, Mbak, kalau begitu saya pulang dulu," kata Pak Yanto berpamitan.


Vivie mengangguk lalu beralih pada Bian yang masih tertidur di kursi.


"Bi," Vivie menepuk lembut bahu Bian.


"Hmm, Vie," Bian terbangun lalu menguap lebar.


Pria itu mengusap wajahnya, masih merasa pusing.


"Bi, kamu istirahat di rumah saja ya, sebentar aku panggilkan taksi daring," kata Vivie.


"Kok kamu sudah datang, Vie?" tanya Bian keheranan.


"Tidak apa-apa, Bi, aku malah tidak bisa tidur nyenyak di rumah, jadi aku duluan datang kemari, nanti ayah dan ibu akan menyusul," jawab Vivie.


Bian melirik jam tangannya.


"Aku sepertinya harus ke kantor, Vie, masih ada urusan," kata Bian.


"Bi, apa perlu aku yang minta izin ke kantormu?" tanya Vivie.


"Tidak apa, Vie, aku bisa masuk agak siang, yang penting hadir," jawab Bian.


Vivie mengulas senyumnya melihat Bian yang menyeringai.


"Suamiku ini memang karyawan teladan. Harusnya kamu sudah diangkat jadi manajer," Vivie bergelayut manja di lengan Bian.


...*****...


Vedra duduk terdiam di belakang meja kerjanya. Sudah lewat tengah hari dan ia masih mematung. Ia bahkan tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja.


Rasa terkejutnya belum hilang setelah mendengar berita bahwa Verda mengalami kecelakaan.


Ini pasti bohong! Ini bohong!


Semalam mereka bahkan masih bertemu dan terlibat cekcok.


Apa ini hanya akal-akalan Verda saja untuk sekadar mencari perhatiannya?


Apa ini hanya sandiwara Verda saja?


Pertanyaan itu bermunculan dalam benak Vedra. Vedra memandangi gawai cerdasnya, melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Verda yang membuatnya gemetaran. Ia menekan tombol panggil yang kemudian langsung dijawab oleh operator seluler.

__ADS_1


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi."


Tut.. Tut..


"Nomor yang Anda tuju..."


Vedra mengakhiri panggilan teleponnya, membuka aplikasi pesan, dan membuka kontak Verda.


Pukul sepuluh malam, Verda terakhir beraktivitas.


Verda, katakan bahwa kau hanya ngambek seperti biasanya! Batinnya gelisah.


Bohong, tidak mungkin Verda kecelakaan!


"Ved!" 


Vedra tersentak kaget melihat Teti yang sudah berdiri di depan meja kerjanya.


"Ved, aku dapat telepon dari pihak HR pusat, ini sudah dua hari Verda tidak masuk kerja tanpa keterangan, besok kalau dia masih belum masuk tanpa keterangan akan dianggap mengundurkan diri," kata Teti. 


"Apa kau tidak dapat info ke mana Verda?" tanya Teti.


Vedra merasa tenggorokannya tercekat, bibirnya mendadak kelu untuk mengucapkan sesuatu yang ia sendiri belum yakin dengan kebenarannya.


"Akan kucari tahu," jawab Vedra.


"Yah, kau memang harus mencari tahu, secara kau kan penanggung jawab semua karyawan Valid cabang ini," sahut Teti.


"Hm, ya, itu memang tanggung jawabku," kata Vedra.


Vedra menghela napas berat.


Saat ini pikirannya benar-benar kacau. Percuma setengah hari ia berusaha untuk memfokuskan pikiran demi pekerjaannya.


Namun begitu pandangannya teralih pada meja kerja Verda yang kosong, hatinya seakan mencelos. Setengah hari bertanya-tanya ke manakah gerangan pemilik meja kerja yang dipenuhi dengan foto polaroid Jehun, hingga stiker yang memenuhi dinding kubikel.


...*****...


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, satu per satu karyawan meninggalkan meja kerja mereka. Vedra menjadi orang terakhir yang keluar dari gedung kantor Valid corp. 


Jantungnya bergemuruh kencang seiring dengan langkahnya menyusuri area parkir menuju ke mobilnya.


Ia mengemudikan mobil menuju ke rumah orang tua Verda. Ia tentu tidak bisa serta merta percaya dengan telepon pagi-pagi yang bisa saja merupakan perbuatan orang iseng.


Ia harus memastikan bahwa Verda mungkin sedang berada di rumah mewah itu. Siapa yang tahu jika ternyata saat ini Verda sedang berada di kamarnya, menari dengan diiringi lagu-lagu Fancy yang membahana seperti yang biasa dilakukan oleh wanita itu.


Sesampainya di kediaman orang tua Verda, Vedra segera turun dari mobil.


Ia menekan bel yang berada di luar gerbang. Ia menunggu hingga wanita paruh baya yang dipanggil Bi Sri itu berlari tergopoh-gopoh membukakan pintu gerbang.


"Selamat sore, Bi Sri," sapa Vedra.


Bi Sri mengerutkan keningnya saat melihat sosok pria yang baginya sangat asing.


"Sore, Mas cari siapa ya?" tanya Bi Sri.

__ADS_1


"Apa Verda ada di rumah?" tanya Vedra.


"'Mas ini siapa ya, cari-cari Mbak Verda?" Bi Sri balik bertanya.


Vedra sadar bahwa penampilannya pasti tidak dikenali oleh Bi Sri lantaran ia tidak berdandan ala Jehun.


"Saya teman satu kantor Verda," jawab Vedra singkat.


"Oh, teman kantor, begini, Mbak Ver semalam mengalami kecelakaan lalu lintas, sekarang sedang koma, sampai sekarang belum juga sadar, begitu kata Pak Yanto," cerocos Bi Sri.


Vedra merasa tubuhnya mendadak lemas mendengar cerocosan Bi Sri.


Ia benar-benar masih belum bisa memercayai semua ini.


Omong kosong! Ini tidak mungkin!


"Bi Sri, baik, terima kasih, saya pergi dulu," Vedra berpamitan.


"Iya, Mas," sahut Bi Sri.


Bi Sri tertegun, tiba-tiba wanita paruh baya itu mendadak sadar akan sesuatu.


"Lho, Mas itu kok tahu namaku ya? Padahal kami tidak ada berkenalan?" Bi Sri bermonolog.


Vedra memasuki mobilnya, ia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Ia segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit sesuai dengan informasi Vivie.


Sesampainya di rumah sakit, ia bergegas menuju ke meja informasi, menghampiri petugas yang berjaga.


"Selamat sore, saya mencari pasien atas nama Verdanica," kata Vedra.


"Verdanica," ulang petugas tersebut.


"Ya, Verdanica," kata Vedra.


"Verdanica saat ini masih di ruang ICU," ucap petugas itu.


Deg...


Jantung Vedra seakan berhenti berdetak. Seketika pikirannya kosong.


Senyum, canda, dan tawa Verda berputar-putar dalam benaknya dengan cepat dan digantikan oleh kemarahan, tangis, dan air mata Verda.


Verda!


Vedra langsung berlari mencari ruang ICU. 


Ini pasti bohong kan?!


Tidak, Verda! Tidak!


Langkah Vedra terhenti di depan ruang ICU. Matanya langsung menangkap keluarga Verda yang berkumpul di depan ruangan tersebut. Bu Eva dan Vivie yang menangis sambil berangkulan, Bian yang terlihat menenangkan Bu Eva dan Vivie, lalu Pak Daus yang kini mengarahkan pandangan ke arahnya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2