Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 040


__ADS_3

Verda turun dari mobil daring yang mengantarnya pulang ke kediaman orang tuanya. Ia membuka pintu rumah dengan kunci yang selalu dibawanya.


"Bi Sri ke mana sih?" gerutu Verda sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Verda segera menaiki tangga menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Ia segera membaringkan diri di atas tempat tidur. Ia mengambil remote untuk menyalakan televisi. Video musik dari boyband kesayangannya langsung menyemarakkan suasana kamarnya yang sepi.


Dinding kamarnya dipasangi peredam suara agar tidak mengganggu siapa pun ketika Verda menyaksikan penampilan boyband kesayangannya yang sedang beraksi.


Verda mengambil ponselnya, memesan makanan secara daring lantaran ia baru merasa lapar. Seharian ini Verda memang tidak makan, selera makannya seakan menghilang entah ke mana.


Verda menatap layar televisi, menayangkan wajah-wajah pria tampan yang sedang menari sambil bernyanyi. Jehun yang begitu terlihat tampan dan keren pun saat ini tidak bisa membuat kekesalan dalam hati Verda mereda.


...*****...


Vedra membuka gawai cerdasnya, belum juga ada jawaban dari Verda atas pesan yang ia kirimkan. Dua centang abu-abu yang telah berlalu selama tiga jam tanpa balasan.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan ia hanya seorang diri. Usai merapikan kembali meja kerjanya, ia segera meninggalkan ruang kerja.


Vedra masih menunggu balasan pesan yang ia kirimkan untuk Verda.


"Memangnya dia belanja ke mana sih?" gumam Vedra.


Vedra segera menelepon Verda. Ia sudah berjanji untuk menjemput Verda, sehingga ia harus memenuhi janjinya.


Vedra menutup teleponnya, tidak ada jawaban dari Verda meski ia sudah menghubungi sebanyak tiga kali.


"Ya sudahlah, mungkin dia sedang sibuk," Vedra segera menyalakan mesin mobilnya.


...*****...


Sementara itu Verda masih menatap kosong layar gawai cerdasnya, tiga kali nama pria itu muncul, membuat ponsel berdering, sungguh deringan yang berusaha untuk diabaikan olehnya.


Malas, bete, kesal, begitulah perasaan yang saat ini masih menyelimuti Verda. Meski ia sudah mandi, berganti pakaian yang nyaman, dan menyantap makan malam sendirian.


Saat ini ego Verda sedang terluka sebagai seorang senior yang dilampaui oleh juniornya.


Verda, kau pulang jam berapa? Nanti akan kujemput.


Pesan dari Vedra kembali muncul di layar gawai cerdas Verda.

__ADS_1


Verda mengabaikan pesan itu, saat ini matanya tertuju pada layar televisi yang tengah menayangkan acara reality show boyband Fancy.


Acara tentang bagaimana sembilan pemuda tampan yang sedang digandrungi oleh kebanyakan gadis-gadis muda itu sedang menghabiskan liburan mereka. Tingkah mereka mengundang gelak tawa para penonton yang menyaksikan bagaimana ke sembilan pemuda tampan berlomba dengan para staf untuk mendapatkan camilan dan makan siang. Kemudian bagaimana para pemuda itu bersaing dengan sengit untuk memperebutkan kamar tidur yang jumlahnya terbatas.


"Haha," Verda tertawa menyaksikan keseruan para bujang kesayangannya.


Namun entah mengapa hatinya masih tidak sinkron dengan apa yang ada di dalam otaknya. Rasa sepi menyelimutinya begitu erat. Biasanya akan ada Vedra yang menemaninya makan, bahkan berbaring di sampingnya lalu memeluknya begitu erat seakan tidak membiarkan Verda sendirian.


"Ugh! Sial! Kenapa aku jadi memikirkan dia sih? Dia bahkan tidak mungkin memikirkanku!" Verda mengumpat kesal.


Ia mengambil bantalnya, tenggelam dalam kekesalannya.


Dari arah televisi yang menyala terdengar suara tawa para member Fancy. Verda menoleh lantaran mendengar suara tawa Jehun yang menggema memenuhi kamarnya. Seketika Verda teringat dengan kumpulan photo card Jehun yang harus ia dapatkan kembali.


Verda cepat-cepat mengambil ponselnya, ia segera membalas pesan dari Vedra.


Aku di rumah orang tuaku, jemput aku sekarang.


...*****...


Vedra segera membawa masuk barang-barang yang dibawa Verda ke dalam mobilnya.


"Apa masih ada lagi?" tanya Vedra.


Verda segera memasuki mobil Vedra, duduk tenang di kursi depan sambil memasang sabuk pengaman.


"Apa kau sudah makan?" tanya Vedra.


Verda tidak menyahut, ia membuang pandangannya ke luar jendela mobil.


"Kalau begitu, kita mampir makan dulu ya," kata Vedra.


Vedra menepikan mobilnya di sebuah warung tenda di pinggir jalan. Ia lebih memilih untuk membeli makanan daripada harus memasak lagi di rumah.


"Aku mau beli lalapan ayam goreng, apa kau mau juga?" tanya Vedra pada Verda.


"Tidak," sahut Verda singkat.


"Oh begitu, aku mau makan di tempat, kau mau menunggu di mobil atau ikut?" tanya Vedra.

__ADS_1


"Kenapa kau mau makan di tempat? Kenapa tidak makan di rumah saja?" tanya Verda.


"Verda, kalau makan di tempat begitu sampai di rumah tidak perlu cuci piring lagi," jawab Vedra.


Verda masih memasang ekspresi kesal, padahal ia ingin segera sampai di rumah Vedra untuk melakukan pencarian photo card miliknya. Beberapa hari yang lalu ia hanya menemukan foto gandeng pria itu bersama kekasihnya.


"Verda, apa kau sungguh marah padaku?" tanya Vedra.


Verda tidak menyahut, dari ekspresi wajahnya sudah terlihat jelas bahwa Verda kesal pada Vedra.


"Apa kau marah padaku karena aku mendapatkan posisi manajer cabang?" tanya Vedra lagi.


Verda masih tidak menyahut, namun kali ini ia melemparkan tatapan skeptis ke arah Vedra.


Vedra menghela napas berat, rupanya apa yang dikatakan oleh Ican ada benarnya.


"Verda, aku paham bagaimana perasaanmu sebagai pegawai yang lebih senior, kau pasti merasa berhak untuk mendapatkan posisi itu. Tapi kau dengar sendiri kan bahwa promosi jabatan yang kudapatkan adalah keputusan dari pihak manajemen, sehingga menurutku saat ini jika kau marah padaku, rasanya kurang tepat," Vedra menjelaskan.


"Ved, ada dua hal yang membuatku kesal karena kau mendapatkan posisi itu. Yang pertama adalah fakta bahwa aku lebih senior namun aku tidak terpilih, dan yang kedua adalah aku harus mengambil alih pekerjaaanmu! Apa kau tahu, tiga tahun yang lalu aku meminta agar aku mendapat rekan kerja yang kiranya bisa membuatku membagi pekerjaanku? Namun kini pekerjaan itu kembali padaku!" beber Verda.


"Ini tuh sama saja seperti harus berurusan lagi dengan mantan yang menyebalkan!" sungut Verda.


Vedra menghela napas berat. 


"Verda, sebagai seorang karyawan, rasanya tidak etis jika kita memilih-milih pekerjaan yang diberikan oleh pihak manajemen. Lain halnya kalau kau punya perusahaan sendiri. Terserah kau mau menggarap proyek mana yang kau inginkan selagi menghasilkan keuntungan," ucap Vedra.


"Kalau kau memang tidak mau bekerja lagi, tidak masalah, kau bisa mengundurkan diri kapan saja," lanjut Vedra.


"Apa? Mengundurkan diri?!" Verda terperangah.


"Ya, masih banyak orang di luar sana yang mencari pekerjaan, orang-orang yang siap bekerja karena mereka benar-benar membutuhkan pekerjaan," tukas Vedra.


"Haha! Yang benar saja! Mana bisa aku mengundurkan diri semudah itu!" sergah Verda. "Kau sungguh tidak tahu bagaimana perjuanganku selama ini, lalu dengan mudahnya kau menyuruhku mundur! Benar-benar gila!" 


"Ya, maka dari itu, bekerjalah dengan baik dan benar! Luruskan kembali niatmu mengapa kau mau bekerja!" tukas Vedra.


"Lagipula, jika aku mendapatkan posisi manajer, otomatis aku mendapatkan penghasilan yang jelas lebih dari yang kuterima saat ini. Dengan begitu, aku bisa mengumpulkan uang dengan lebih cepat untuk mencari, menemukan, dan membeli photo card pria idamanmu itu. Bukankah itu yang kau inginkan?" tanya Vedra.


"Jadi Verda, berhentilah merajuk padaku, dan mulailah kembali bekerja dengan baik. Jangan seperti seharian ini, kau bengong dan membuat pekerjaanmu menumpuk."

__ADS_1


Vedra yang tadinya berpikir untuk makan malam di luar, berubah haluan. Lebih baik ia segera pulang dan beristirahat.


...*****...


__ADS_2