
Juliansyah, pria berusia dua puluh delapan tahun itu memiliki nama panggilan Ican. Perawakannya kurus, dengan kulit sawo matang, tingginya tidak sampai 170 cm. Pria itu memiliki kepribadian yang supel dan selalu nampak ceria. Kerap dijadikan objek perundungan oleh rekan-rekan kerjanya lantaran status jomblo karatan yang disandangnya. Bukan tanpa sebab ia dikatai seperti itu lantaran ia terlalu pemilih dalam mencari wanita.
Wanita itu haruslah luar biasa cantik, berkulit putih mulus, rambut panjang yang tergerai indah, dan bisa membuat orang berdecak kagum. Seperti itulah wanita yang menjadi idaman Ican. Namun saat ini begitu banyak wanita cantik dan berkulit putih mulus. Sehingga tak heran semua wanita dengan kriteria tersebut menjadi sosok wanita idaman Ican.
Ican mengikuti acara touring bersama pengendara sepeda motor berbody bongsor yang tergabung dalam perkumpulan pengendara motor Max-Max dengan tujuan Bukit Embun.
Rombongan touring beristirahat di sebuah rumah makan terbesar yang berada di daerah tersebut sebelum melanjutkan kembali perjalanan mereka.
Ican segera memasuki rumah makan, bersama rombongan yang hampir memenuhi semua meja yang ada di rumah makan tersebut.
Tiba-tiba mata Ican menangkap sosok yang dikenalnya di antara banyaknya pengunjung yang datang.
"Loh, Verda, Vedra!" sapa Ican.
Vedra dan Verda terkesiap melihat kehadiran Ican yang langsung duduk bergabung di meja mereka. Verda sungguh tak menyangka akan bertemu dengan Ican. Padahal ia dan Vedra bahkan sudah pergi jauh ke luar kota agar bisa berduaan dengan bebas tanpa ada yang mengenali mereka.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Ican.
Otak Verda cepat-cepat memikirkan alasan yang harus dikemukakannya. Ia mencuri pandang ke arah Vedra yang nampak tak berekspresi.
"Ada pekerjaan yang harus kami lakukan, Can," jawab Verda.
"Pekerjaan?" tanya Ican.
"Hm, ya, terkait adanya proyek baru yang harus disurvei," jawab Vedra.
"Oh, benarkah? Kok aku tidak tahu ya?" tanya Ican.
"Ican, namanya proyek baru, ya, belum tentu semua orang tahu," sahut Verda.
"Benar, dan belum tentu proyek tersebut bisa kita dapatkan, jadi harus disurvei dulu," Vedra menambahkan.
"Oh begitu, lantas kenapa kau mengajak Verda? Harus ya?" tanya Ican lagi.
"Aku melakukan survei ke supplier yang memberikan penawaran plat baja, karena aku tidak paham dengan plat-plat baja itu, makanya aku bertanya pada Vedra, jadi sekalian saja kami pergi bersama," Verda mencoba menjelaskan.
Verda kembali saling bersitatap dengan Vedra. Verda jelas berharap Ican menerima alasan kebersamaannya dengan Vedra terkait dengan pekerjaan.
"Ican, kau dari mana? Jaket kulitmu terlihat keren dan cocok sekali untukmu," Verda segera mengalihkan pembicaraan.
Memuji Ican dan selera fashionnya yang unik biasanya mampu untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Benarkah? Apa jaket kulit ini terlihat keren?" tanya Ican.
Verda menyeringai lebar, jaket kulit itu sejujurnya membuat Ican terlihat seperti tukang ojek di pangkalan.
"Apa jaketmu kulit asli?" tanya Vedra yang nampak paham dengan kode yang dilemparkan oleh Verda.
"Oh, jelas, ini kulit asli! Jaket kulit ini anti angin, jadi cocok untuk pergi touring seperti ini," sahut Ican antusias.
__ADS_1
"Oh, kau sedang mengikuti touring? Ke mana, Can?" tanya Verda.
"Aku mau pergi ke Bukit Embun," jawab Ican.
Nada bicaranya terdengar penuh kebanggaan.
"Bukit Embun? Di mana itu?" tanya Verda terperangah.
"Verda kau sungguh tidak tahu di mana Bukit Embun?" Ican balik bertanya.
"Ican, aku sungguh tidak tahu, aku mainnya kurang jauh sih, haha," Verda tertawa.
"Bukit Embun tidak terlalu jauh dari sini, dua jam perjalanan kalau tidak ada masalah," sahut Ican.
Verda mendengarkan penuturan Ican dengan antusias, tujuannya jelas untuk mendistraksi pikiran pria itu.
"Bukit Embun itu tempat yang sedang viral, kau harus pergi ke sana, Verda! Pemandangannya macam kau berada di surga," cerocos Ican sambil menikmati soto yang dipesannya.
"Oh wah, aku tidak bisa membayangkannya, aku belum pernah ke surga sih, Can, hehe," Verda terkekeh menanggapi Ican.
Yah, lain halnya dengan menikmati surga dunia, haha.
Verda mencuri pandang ke arah Vedra yang nampak berusaha memasang tampang sedatar mungkin. Verda membuka sepatunya dan memainkan kakinya ke kaki Vedra di bawah meja. Vedra menjatuhkan sendoknya, sengaja menunduk untuk menangkap kaki Verda.
Verda terkesiap saat betisnya mendapat ciuman dan jilatan kilat yang membuatnya seakan tersengat aliran listrik voltase tinggi. Seketika Verda merasa kembali bergairah.
"Verda, kau baik-baik saja?" tanya Ican.
"Eh, yah, aku baik-baik saja," jawab Verda seraya terkekeh.
"Ican! Ayo buruan! Kita jalan lagi!" seruan itu membuat Ican terkesiap.
"Sebentar dong! Masih makan nih!" sahut Ican menanggapi seruan rekan touringnya.
Ican cepat-cepat menghabiskan makanannya.
"Oh ya, apa kalian mau ikut ke Bukit Embun?" tanya Ican.
Ican menoleh ke arah Verda yang nampak menggigit bibir bawahnya.
"Verda?" kata Ican.
"Eh, apa, Can?!" Verda terkesiap.
Verda kehilangan fokusnya lantaran di bawah meja, Vedra menggelitiki kakinya, memberi sentuhan-sentuhan lembut yang membuat Verda gagal fokus.
"Verda, sepertinya kau lelah ya? Segeralah pulang dan beristirahat," kata Ican.
"Iya, aku juga berpikir begitu. Aku mau pulang dan langsung tidur," sahut Verda.
__ADS_1
"Ican! Buruan! Sudah mau jalan nih!"
"Oke, oke!" seru Ican.
"Gaes, aku pergi dulu ya, sampai ketemu di kantor!" Ican berpamitan.
"Hati-hati, Can!" Verda melambaikan tangannya.
"Fokus berkendara," Vedra menambahkan.
Verda melemparkan pandangannya ke arah Vedra.
"Ved, kau benar-benar ingin membuatku ******* di sini?" tanya Verda.
"Verda, bukankah kau yang duluan menggodaku?" tanya Vedra.
Vedra menyeringai melihat Verda yang nampak memasang ekspresi gemas ke arahnya.
...*****...
Sementara itu, di kediaman orang tua Verda, Pak Daus, Bu Eva, dan Abim terlibat situasi yang menegangkan.
Pak Daus terlihat kesal dan marah usai Abim menemui pria paruh baya itu dan menanyakan kebenaran mengenai pernikahan yang dilakukan oleh Verda.
"'Maaf, Abim, Bapak juga sungguh tidak tahu menahu mengenai pernikahan Verda. Pernikahan itu begitu mendadak," kata Pak Daus.
"Pak, apa Verda mendadak menikah karena benar-benar tidak ingin kembali rujuk dengan saya?" tanya Abim.
"Abim," kata Pak Daus.
"Pak, jujur saja saya kecewa. Saya bahkan sudah membatalkan pernikahan saya demi Verda. Bagaimana bisa Verda melakukan hal ini kepada saya?" tanya Abim.
Abim mendesak Pak Daus, berharap ada solusi yang bisa ditawarkan oleh pria paruh baya itu.
"Siapa laki-laki yang menikahi Verda, Pak?" tanya Abim.
"Abim, Bapak bahkan tidak tahu siapa nama pria itu! Pria yang sudah seenaknya mencuri Verda!" jawab Pak Daus.
"Pak, bagaimana jika kita laporkan masalah ini ke pihak kepolisian?" tanya Abim.
"Kita bisa membuat tuduhan penculikan yang akan memberatkan pria itu!" usul Abim.
"Abim, jangan main lapor-lapor polisi, kesannya jelek sekali," sanggah Bu Eva.
"Ibu, tapi pria itu sungguh sudah mencuri Verda dari saya! Ini kejahatan!" tukas Abim.
Vivie yang mencuri dengar dari balik pintu mendelik gusar. Sepertinya ia harus menyampaikan kepada Verda tentang rencana gila Abim yang akan membawa masalah ini ke ranah hukum.
...*****...
__ADS_1