
Abim mengerutkan keningnya sembari menatap layar ponsel. Berkali-kali ia mencoba menghubungi ponsel Verda, namun tidak ada jawaban.
"Hengki, sepertinya lebih baik kita langsung menjemput Verda di kantornya," Abim memutuskan mengakhiri panggilan telepon.
"Pak Abim, saya rasa Bu Verda masih sibuk bekerja, rasanya tidak enak jika harus mengganggu beliau," sahut Hengki.
"Jam berapa ini, masa iya masih kerja?" keluh Abim sambil melihat jam tangannya.
"Kalau Verda sudah jadi istriku, tak akan kubiarkan dia tetap bekerja! Kasihan sekali Verda harus bekerja membanting tulang seperti ini! Suami Verda sungguh tidak bertanggung jawab!" Abim masih mengeluh.
"Pak Abim, suami Bu Verda hanya seorang model lepas dengan penghasilan tak menentu. Wajar saja Bu Verda harus bekerja keras," Hengki mencoba menenangkan Abim.
"Cih, dasar pria tidak tahu diri! Sungguh pria modal ***** yang begitu angkuh! Akan tamat riwayatnya begitu kompetisi ini berakhir!" tandas Abim.
Abim segera turun dari mobil mewah sambil merapikan setelan jasnya.
Hengki buru-buru mengikuti bosnya.
"Hengki, ayo kita susul Verda, sungguh tidak betah aku menunggu di sini," ajak Abim.
"Baik, Pak," jawab Hengki sambil mengikuti Abim.
...*****...
"Ved, kau benar-benar harus memenangkan kompetisi ya," kata Verda sambil menyuapkan potongan lontong sate ke mulut Vedra.
Vedra mengunyah secara perlahan lontong sate yang menjadi makan malam mereka di pantri kantor. Vedra menelan dengan cepat lalu menatap Verda.
"Verda, apa kau tahu, saat ini rasanya aku merasa salah cari musuh?" tanya Vedra gantian menyuapkan lontong sate ke mulut Verda.
Verda melotot ke arah Vedra, terdengar wanita itu mengomel dengan mulut penuh lontong.
"Kunyah dulu, telan, baru bicara," kata Vedra.
"Ved, kenapa kau bicara begitu?" tanya Verda.
"Verda, aku hanya bersikap realistis. Pak Abim dari PT BAS itu rekanan kita, kalau sampai beliau mengetahui hubungan kita, bisa-bisa proyek kerja sama yang baru dimulai akan dibatalkan," sahut Vedra.
"Ved, mana bisa batal kalau sudah terikat kontrak!" sergah Verda.
"Ya, tapi dengan kuasa yang dimiliki oleh beliau, terlebih orang macam Pak Abim itu kan tipe orang yang sangat menjaga harga diri. Lebih baik kalah uang, daripada malu, kan seperti itu," sahut Vedra.
"Ved, tidak peduli Abim mau pakai cara apa, yang pasti dalam kompetisi ini kau harus menang secara jujur dan adil," kata Verda sambil menodongkan garpu ke arah Vedra.
"Ya, ya, baiklah, Tuan Putri," sahut Vedra sambil menyeringai lalu menurunkan garpu yang ditodongkan Verda ke arahnya.
Vedra menyeringai saat Verda segera naik ke pangkuannya.
"Ved," kata Verda.
"Hmm," sahut Vedra sambil membuka satu per satu kancing kemeja Verda.
Pria itu segera menyusupkan tangannya ke belakang tubuh Verda untuk membuka pengait yang menyangga bukit kembar Verda.
Verda segera mendesis saat pria itu melahap bukit kembarnya yang menegang. Verda yang sudah tidak tahan segera meminta pria itu untuk tidak berlama-lama dan membuang-buang waktu untuk kembali terbakar gairah.
"Ved, kita bisa didemo kalau ketahuan bercinta di atas meja pantri seperti ini," kata Verda sambil menatap Vedra.
Mata pria itu segera terbuka, menatap lekat-lekat Verda yang saat ini sedang menggeliat di bawah kendalinya.
"Hmm, ya mereka jangan sampai tahu," katanya singkat.
"'Haha," Verda tertawa.
Vedra segera menghentikan tawa Verda dengan ciumannya.
...*****...
Usai merapikan kembali dirinya, Vedra segera melangkah keluar dari pantri untuk kembali ke ruangan kerja. Namun langkahnya terhenti saat melihat sosok dua orang pria yang sedang menunggu di lobi depan kantornya.
Pak Abim dan Pak Hengki!
"Pak Vedra," sapa Hengki begitu melihat Vedra.
"Oh, Pak Hengki, Pak Abimanyu," Vedra balas menyapa pria itu.
"Selamat malam, Pak," sapa Abim.
"Selamat malam, Pak," balas Vedra.
Vedra benar-benar tak tahu harus berbuat apa, saat ini ia berharap penampilannya sebagai suami Verda tidak dikenali oleh Abim.
"Silakan duduk, Pak, sungguh mengejutkan Anda datang kemari," kata Vedra.
"Saya hanya mampir untuk menjemput seseorang," sahut Abim.
"Menjemput seseorang?" tanya Vedra.
__ADS_1
"Iya, saya coba hubungi berkali-kali tidak ada jawaban, jadi saya langsung datang kemari," jawab Abim.
"Oh, memangnya siapa yang Anda cari? Saya rasa semua pegawai sudah pulang," kata Vedra.
"Oh begitu, tapi Verda belum pulang," kata Abim.
"Verda?" tanya Vedra.
"Ya, saya menunggu Verda," jawab Abim.
"Oh, begitu," sahut Vedra.
"Anda tidak penasaran mengapa saya mencari Verda?" tanya Abim.
"Tidak, itu urusan Anda," jawab Vedra.
"Wah, saya suka tipe orang seperti Anda, tidak kepo, hehe," Abim tertawa.
"Kalau begitu saya permisi, masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan," kata Vedra.
"Oh ya, silakan, kami akan tunggu di sini saja," sahut Abim ramah.
Vedra kembali ke ruangan kerjanya. Ia sungguh berharap bahwa Verda tidak menemui Abim. Ia benar-benar merasa kesal karena Abim sampai menjemput Verda seperti ini, tadi pagi bahkan pria itu juga mengantar Verda ke kantor.
Verda yang baru saja keluar dari pantri, seketika langsung kembali masuk ke pantri begitu melihat Abim dan Hengki di lobi depan.
Mau apa pria itu kemari?!
Verda merangkak, menuju ke kubikelnya. Verda mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Vedra.
Verda : Kau bertemu Abim?
Vedra : Ya
Verda : Mau apa dia?
Vedra : Menjemputmu
Verda memutar bola matanya. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Verda : Apa dia mengenalimu?
Vedra : Ya
Jantung Verda seakan berhenti berdetak.
Vedra : Sepertinya belum
Verda mendelik gusar.
Abim sialan! Maki Verda dalam hati.
Ponsel Verda berdering, nomor tidak dikenal yang mencoba menghubunginya berkali-kali itu kembali muncul.
"Verda!" Abim melambaikan tangan ke arah kubikel Verda.
Verda merapikan meja kerjanya, rasa was-was segera menghinggapinya. Jangan sampai Abim mengetahui identitas Vedra, itu sama saja dengan melakukan tendangan bunuh diri.
"Pak, saya duluan ya," Verda berpamitan di depan ruangan Vedra.
"Ya, silakan," sahut Vedra.
Verda segera menghampiri Abim dan Hengki.
"Abim, bukankah sudah kukatakan tidak perlu repot-repot menjemputku?" kata Verda sambil mengulas senyum ramah yang dipaksakannya.
"Verda, aku hanya mencoba menepati janjiku, itu saja," sahut Abim.
"Ya ampun, Abim, aku sungguh jadi merasa tidak enak," kata Verda.
"Tidak apa-apa, Verda, sungguh," kata Abim.
"Maaf ya, kau jadi menunggu lama sekali ya?" tanya Verda.
"Tidak, kami baru saja menunggu sekitar lima menit," jawab Abim sambil melihat jam tangannya sekilas.
"Ya ampun, aku benar-benar membuang waktumu selama lima menit," kata Verda.
Apa sungguh dia baru datang lima menit? Verda membatin.
"Aku bahkan bersedia menunggu seumur hidupku, asalkan yang kutunggu adalah kau, Verda," sahut Abim.
"Haha, ya ampun, Abim, aku jadi terharu sekali," seloroh Verda.
Verda segera melangkah meninggalkan kantornya. Abim mengikuti lalu menyamakan langkahnya dengan Verda sementara Hengki mengekori dari belakang.
Sementara itu Vedra yang berada di ruangan kerjanya merasa kesal mendengar obrolan Verda dan Abim yang terdengar begitu akrab. Vedra bahkan masih bisa merasakan hangat tubuh Verda, namun wanita itu sekarang sudah bersama pria lain.
__ADS_1
Ngenes sih, tapi mau bagaimana lagi? Vedra tak punya kuasa untuk menunjukkan siapa dia pada Abim.
Verda memasuki lift bersama Abim dan Hengki.
"Aku sungguh kaget, kau sampai tahu kantorku, Bim," tukas Verda.
"Verda, mudah saja bagiku untuk menemukan tempat kerjamu, toh, perusahaanku sedang menjalin kerja sama dengan Valid Corp. Apa kau tahu alasan mengapa aku memilih Valid Corp. dari sekian banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaanku?" tanya Abim.
"Karena lebih unggul daripada perusahaan lain," jawab Verda diplomatis.
Abim menggeleng pelan sambil mengulas senyum ramah.
"Karena ada kau, Verda," jawab Abim.
Verda mengulas senyum kecut.
"Verda, kau sudah makan? Mau makan malam bersama?" tanya Abim.
"Aku mau langsung pulang. Aku merasa sangat lelah," jawab Verda.
"Verda, jangan menolakku begitu. Kalau kau pulang dalam keadaan lapar, nanti apa kata ayahmu terhadapku? Nanti ayahmu berpikir aku adalah pria pelit yang bahkan tidak bisa sekadar membelikanmu nasi goreng," kata Abim.
"Abim," sergah Verda.
"Verda, please, tolong jangan menolak kemurahan hatiku," pinta Abim.
Verda mengulas senyum namun dalam hati ia mengumpat kesal. Ia hanya ingin pulang ke rumah dan tidur, ia sudah terlalu lelah.
...*****...
"'Abim, terima kasih sudah mengantar Verda pulang."
Bu Eva dan Pak Daus menyambut senang kedatangan Verda dan Abim.
"Ibu, saya kan sudah berjanji akan mengantar dan menjemput Verda hari ini," kata Abim.
"Abim, mau minum teh dulu?" tanya Pak Daus.
"Terima kasih, Pak, ini sudah malam, lain kali saja," jawab Abim.
"Oh begitu, ya sudah," kata Pak Daus.
"Kalau begitu, saya pamit ya, Bapak, Ibu, selamat beristirahat," Abim berpamitan.
Verda tidak mengatakan apapun, ia segera bergegas menuju ke kamarnya.
"Verda, tunggu," kata Pak Daus.
"Ada apa, Ayah?" tanya Verda bertepatan dengan langkahnya yang terhenti.
"Verda, coba kau pikir-pikir lagi, Abim sungguh jauh lebih baik daripada pria yang kau pilih," kata Pak Daus.
"Verda, coba katakan pada kami, sebenarnya apa yang kau inginkan dari Abim? Abim bisa lebih membahagiakanmu daripada lelaki lain," bujuk Bu Eva.
"Verda, daripada repot-repot berkompetisi dan mempermalukan pria itu dengan kekalahannya, lebih baik minta pria itu untuk mundur demi kebaikannya juga," kata Pak Daus.
Verda mengulas senyumnya.
"Ayah, Ibu, apa kalian begitu yakin bahwa suamiku akan kalah dalam kompetisi yang Ayah siapkan?" Verda melemparkan pertanyaan kepada kedua orang tuanya.
"Verda, Ayah tidak akan menantang pria itu untuk ikut berkompetisi jika tidak yakin bahwa Abim akan menang," jawab Pak Daus.
"Ayah, kita bahkan tidak tahu hasil kompetisi sebelum kompetisi itu dilakukan," kata Verda menantang ayahnya.
"Verda, Ayah sungguh serius mengatakan ini. Jika pria itu kalah, dia harus meninggalkanmu. Dan kau harus rujuk kembali dengan Abim," kata Pak Daus.
"Ayah, yang akan berkompetisi adalah Abim dan suamiku, jadi, aku serahkan pada suamiku," sahut Verda.
"Ayah, Ibu, aku lelah, aku ke kamar ya," Verda berpamitan.
Pak Daus dan Bu Eva kembali saling berpandangan.
Pak Daus jelas harus memikirkan kompetisi yang benar-benar jujur dan adil untuk memisahkan Verda dari sang suami yang tak jelas juntrungannya itu.
Kompetisi apa yang kiranya cocok untuk menantang dua pria itu?
Pak Daus benar-benar harus memikirkannya demi Verda yang begitu ia sayangi.
...*****...
Nah kompetisi apakah itu?
Bersambung di episode selanjutnya ya..
Selamat tahun baru Imlek..
Gong Xi Fat Cai 🐯
__ADS_1