Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 069


__ADS_3

Verda menatap Vedra yang saat ini sedang memasak makan malam. Pria itu hanya sedang memasak nasi goreng, namun entah mengapa terlihat begitu seksi di mata Verda.


Jehun sang idola Verda juga memiliki kemampuan memasak di atas rata-rata setiap anggota Fancy, dan bahkan didapuk sebagai juru masak andalan Fancy yang kerap kali memenangkan kompetisi memasak internal.


Lengan kokoh pria itu nampak begitu lincah menggoyang spatula di atas wajan penggorengan. Keringat yang menetes di sekitar wajahnya akibat pancaran radiasi panas dari kompor yang menyala sungguh menambah keseksian pria itu.


Lagi-lagi Verda merasa sangat bergairah, seperti kucing yang sedang birahi, hanya saja Verda tidak mengeong manja. Ia melangkah pelan, mengendap-endap lalu memeluk Vedra dari belakang.


"Ved," kata Verda.


"Ada apa, Verda?" tanya Vedra.


"Aku mau," Verda menyusupkan tangannya di balik kaus yang dikenakan Vedra.


"Verda," kata Vedra tertahan.


Ia terlalu menikmati sentuhan yang diberikan Verda untuk tubuhnya sehingga langsung membuat birahinya naik.


Verda mengulum senyum saat tangannya yang kini menyusup hingga ke bawah membuat benda yang dipegangnya itu seketika bereaksi.


Vedra mematikan kompor, bersandar pada dinding saat Verda berjongkok untuk mulai mengerjainya, membuka ritsleting celananya dan melahap apa yang ada di baliknya.


"Verda!" Vedra merintih menikmati apa yang dilakukan oleh Verda di bawah sana.


Setiap sel-sel syarafnya menegang, ia benar-benar tidak bisa menahan diri. Ia benar-benar blingsatan dengan perlakuan eksklusif dari Verda.


Verda menghentikan aksinya, menyeringai saat Vedra langsung menggendongnya dan memberikan ciuman yang menunjukkan betapa berhasratnya ia saat ini.


"Ved, aku tidak bisa bernapas," Verda menepuk punggung Vedra, melepaskan ciuman Vedra yang begitu dahsyat.


"Verda, jangan menggodaku seperti itu, kau pasti tahu akibatnya kan?" tanya Vedra sambil menatap Verda.


"Aku tidak menggodamu, Ved, tapi aku menginginkanmu," jawab Verda dengan manja.


Vedra mengulas senyumnya, entah mengapa ia merasa sangat senang dengan pengakuan Verda yang begitu terus terang.


Verda memejamkan matanya saat kepemilikan mereka kembali menyatu. ******* Verda yang begitu manja membuat Vedra makin tak bisa mengendalikan dirinya.


Saat hasrat sudah di ujung-ujung, siapa yang bisa sanggup menahannya? Saat birahi menguasai yang dibutuhkan hanyalah melepaskan n*afsu yang membuncah.


Verda sudah tak sanggup menahan gejolak dalam dirinya. Darah berdesir, napas memburu, dan tubuh yang terguncang gempa bumi lokal.


"Ved, aku mau keluar," rengek Verda.


"Bertahanlah sebentar lagi, Verda," Vedra memohon, masih tetap mempertahankan ritme yang begitu cepat pada Verda.


"Akh, Ved!" seruan Verda hilang karena Vedra langsung meringkusnya dengan sebuah ciuman.


Tubuh mereka berdua merosot ke lantai usai permainan singkat yang on poin. Mereka berdua sudah kecanduan dan tidak bisa menahan hasrat yang terlalu bergejolak dalam diri mereka.


"Verda, kau bisa mandi dulu, aku akan menyelesaikan masakanku."


"Kita mandi sama-sama saja," sahut Verda.


"Baiklah," sahut Vedra menyetujui.


...*****...


"Hmm, ini enak sekali, Ved, apa sebaiknya kau buka rumah makan saja ya?" kata Verda setelah menelan satu sendok penuh nasi goreng buatan Vedra.


"Verda, semua makanan akan terasa jauh lebih enak saat kau sedang lapar," Vedra menanggapi.


Verda menyeringai, ia kembali makan dengan lahapnya.


"Apa sebaiknya kau kurekomendasikan menjadi kepala koki di restoran orang tuaku?" tanya Verda.


"Verda, ayahmu bahkan tidak menerima pernikahan kita, bagaimana bisa kau berpikir untuk merekomendasikanku menjadi kepala koki di restoran mereka?" Vedra balik bertanya.


Verda mengulas senyumnya.


"Ved, apa kau ingin mendapatkan restu dari orang tuaku?" tanya Verda.


Vedra menatap ke arah Verda.


"Verda, aku sungguh tidak ingin dianggap sebagai pria yang membawa lari anak gadisnya orang," jawab Vedra.


"Ahaha," Verda tertawa.


"Apa aku mengatakan hal yang salah?" tanya Vedra.

__ADS_1


"Hmm, tidak, kau bukan membawa lari anak gadis orang, kau membawa kabur janda," sahut Verda.


"Tidak masalah janda, yang penting bukan istri orang," sahut Vedra.


"Ahaha," Verda tertawa lagi.


Tawa Verda terhenti saat ponsel Verda berdering. Ia segera menjawabnya.


"Halo, Vie," jawab Verda.


"Kak Verda, Kakak tidak lupa kan besok hari apa?" tanya Vivie di seberang sana.


"Besok hari Jum'at," jawab Verda.


"Kak, besok ayah ulang tahun," sahut Vivie.


"'Oh benarkah?! Kenapa kau baru bilang sekarang, Vie, aku belum menyiapkan kado untuk ayah!" sahut Verda.


"Yee, Kakak, ulang tahun Jehun saja sih yang dihafal," keluh Vivie.


"Maaf, maaf," sahut Verda.


"Kakak jangan lupa besok datang ke restoran pusat jam tujuh petang," kata Vivie.


"Vie, apa aku boleh membawa serta suamiku?" tanya Verda.


"Kak, bawa saja Jehun kw itu, kalau Kakak berani!" jawab Vivie seraya tertawa.


"Vie, aku serius! Kalau suamiku tidak datang, aku juga tidak akan datang!" kata Verda mengancam.


"Aduh, Kak! Jangan membuat keadaan makin rumit," keluh Vivie.


"Tidak, Vie, permintaanku simpel, itu saja," sahut Verda.


Vivie tidak segera menjawab, Verda menunggu sambil memandangi Vedra yang santai mengunyah nasi gorengnya.


"Baiklah, nanti akan kukabari," sahut Vivie.


"Oke, sampai jumpa, Vie," Verda menutup teleponnya.


"Ved, bagaimana jika besok kau mencoba untuk mendapatkan restu dari ayahku? Mumpung ayahku besok ulang tahun," kata Verda.


Verda mengulas senyumnya ke arah Vedra.


"Verda, makannya dihabiskan," tukas Verda.


"Iya," sahut Verda.


Verda merasa hatinya begitu berbunga-bunga. Ia merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya.


Verda sempat menutup diri dari pria, tidak ingin menjalin hubungan dengan pria pasca perceraiannya dari Abim. Menganggap bahwa semua pria sama saja, ya, sama seperti Abim.


Namun kehadiran Vedra sungguh memberikan gambaran berbeda tentang seorang pria di mata Verda.


...*****...


"Semuanya, duluan ya," Verda berpamitan, meninggalkan meja kerjanya lebih awal.


"Loh, Verda, pelanggaran! Ini baru jam lima kau sudah pulang?!" sergah Ican dari kubikelnya.


"Selamat berakhir pekan!" Verda melambaikan tangan dan bergegas pergi.


Vedra keluar dari ruangan kerjanya, ia juga bersiap untuk pulang.


"Loh, Ved?/Kau juga mau pulang?" tanya Ican.


"Ya," sahut Vedra singkat.


"Kau bakal balik ke kantor lagi?" tanya Ican.


"Tidak," sahut Vedra. "Permisi," Vedra berpamitan.


"Wah, tumben sekali Verda dan Vedra pulang cepat," ceplos Teti.


"Ya, sekali-sekali pulang lihat matahari masih ada," sahut Ican.


"Eh, tapi, aku perhatikan ada yang aneh dengan mereka," kata Nita.


"'Apa maksudmu, Nit?" tanya Ican.

__ADS_1


"Aroma Vedra, tercium sama dengan Verda," jawab Nita.


"Nit, please, jangan buat gosip yang tidak-tidak!" sungut Ican. "Lagian Verda kan memang suka pakai parfum pria! Tahu sendiri kan, parfum pria itu wanginya mirip-mirip semua!"


"Ih, masa sih, Nit?" tanya Teti.


"Hei, hei, kalian ini ya, jangan mulai-mulai! Verda bukan wanita penggoda!" seloroh Ican.


"Lagipula, Vedra itu sudah punya istri yang begitu cantik! Baru nikah, masih hangat-hangatnya, masa iya, sudah ganjen!" lanjut Ican.


"Can, zaman sekarang wanita cantik itu banyak sekali! Tapi wanita yang berani, jelas lebih unggul!" sahut Nita.


"Benar kau, Nit, apalagi Verda masih lajang, cantik, seksi, laki-laki mana yang tidak kepincut?" Teti menimpali.


"Apalagi perempuan zaman sekarang itu doyannya sama suami orang! Soalnya saingannya cuma satu! Beda dengan yang masih lajang, banyak yang rebutan!" lanjut Nita.


"Nita, please! Aku bujang dan lajang, tapi tidak ada tuh yang rebutan aku!" sanggah Ican.


"Yee, kau sih mainnya kurang jauh! Rute cuma dari rumah ke kantor! Bagaimana mau dapat jodoh?" celetuk Teti.


"Teti, ada Verda yang dekat, buat apa cari yang jauh?" sungut Ican.


"Ya, tapi Verda kan tidak mau sama kau, Can!" cibir Nita.


"Ya maka dari itu, kalian bantu aku, bagaimana caranya mendapatkan Verda!" pungkas Ican.


"Silakan berpikir sendiri, Can! Kita bantu doa saja!" sahut Teti.


"Ya, aku mau pulang! Bye!" Nita berpamitan.


...*****...


Nita dan Teti bergegas keluar dari lobi, menghampiri mobil daring yang dipesan Nita. Keduanya segera duduk di kursi penumpang dengan tenang sebelum mobil daring bergerak meninggalkan pelataran gedung.


"Nit, kenapa kau begitu yakin ada sesuatu yang aneh antara Ved dan Verda?" tanya Teti.


"Ya, aku merasa saja ada yang aneh dengan mereka berdua, sumpah, ya, hidung aku ini masih berfungsi dengan baik! Aku benar-benar mencium aroma yang sama dari Ved dan juga Verda!" jawab Nita.


"Aduh, Nit, aku tidak bisa komentar apa-apa ya, soalnya ya, aku tidak mencium apa yang kau cium," sahut Teti.


Teti segera beralih pada gawai cerdasnya sementara Nita membuang pandangannya ke luar jendela.


Mobil daring yang mereka tumpangi terhenti di depan sebuah tempat penatu.


"Maaf, Mbak, saya mau ambil pakaian saya di situ, sebentar ya," pengemudi mobil itu berpamitan.


"Ya elah, pakai acara ambil cucian segala," keluh Teti.


"Yah, cuma tinggal ambil saja itu, Tet," sahut Nita.


Tiba-tiba mata Nita tertuju pada dua orang yang dikenalnya. Keduanya keluar dari tempat penatu dengan membawa plastik besar.


Vedra terlihat memasukkan semua plastik besar itu ke dalam bagasi mobilnya, begitu pula Verda yang juga ikut membantunya.


"Tet! Teti!" Nita menepuk lengan Teti yang duduk di sampingnya.


"Apa sih, Nit?" tanya Teti tanpa teralih dari gawai cerdasnya.


"Itu Ved dan Verda!" seru Nita seketika heboh.


"Aduh, sebentar, Nit, aku masih balas chat nih," keluh Teti.


Nita merogoh tasnya, mencari ponsel. Ia harus mengabadikan momen tersebut.


"Aduh, ponselku mana sih?!" Nita membongkar isi tasnya.


Seketika ia panik dan gugup sendiri.


"Ya elah, Nit, kenapa isi tasmu dihambur begitu?" tanya Teti keheranan.


"Ponsel aku tidak ada, Tet!" keluh Nita.


"Coba cek di kantong blazermu!" sahut Teti.


"Oh, iya, ini dia," Nita terkekeh usai merogoh saku blazernya.


Baru saja ia akan mengarahkan kameranya untuk membidik momen kebersamaan Vedra dan Verda, Nita sudah kehilangan jejak dua orang itu.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2