
Vedra memarkirkan mobilnya di pekarangan rumahnya. Ia baru saja kembali dari mengantar Verda yang pagi ini sudah harus masuk kerja. Vedra tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghabiskan masa cutinya. Selama hampir tiga tahun bekerja, pria itu memang tidak pernah mengambil cuti. Ia pikir untuk apa cuti jika tidak ada kepentingan yang mendesak.
Pria itu termenung sendiri menatap kamar tidur yang harus ia rapikan. Merapikan tempat tidurnya, menata kembali bantal dan guling ke tempat semula.
Dalam diamnya, pria itu melamunkan hal-hal manis yang harusnya dialaminya saat ini. Harusnya saat ini ia menikmati masa-masa bulan madu yang penuh gairah.
Ketika terbangun dari tidurnya, ada sosok Silvia yang berada dalam pelukannya. Menghabiskan waktu untuk berada di atas tempat tidur seharian dengan penuh canda, tawa, dan kemesraan ala pengantin baru.
Idealnya ya seperti itu, namun takdir harus berkata lain. Semua rencana tinggal wacana. Yang ada Vedra harus membereskan rumahnya yang berantakan.
Vedra mengangkat kardus-kardus yang ada di ruang tengah untuk dipindahkan ke ruangan yang harusnya menjadi kamar untuk Verda. Namun wanita itu menolak dengan alasan tidak ada tempat tidur dan AC.
Vedra mendengus melihat betapa berantakannya ruangan itu. Koper-koper yang menganga dan memuntahkan isinya, mulai dari pakaian, hingga pakaian dalam yang berceceran di lantai.
Vedra benar-benar tidak bisa tinggal diam melihat kekacauan di ruangan itu. Nalurinya sebagai orang yang suka kebersihan dan kerapian jelas meronta-ronta.
Ia merapikan kembali isi koper yang berantakan, tangannya gemetaran saat mengambil tumpukan kutang berenda yang membuat Vedra menahan napasnya. Juga segitiga penutup yang membuat Vedra jadi membayangkan sesuatu yang mendadak muncul dalam benaknya.
Bayangan Verda tanpa busana, menari-nari liar dalam benaknya.
Bukit kembar yang berukuran besar, dengan belahan yang dalam, terlihat menantang gairah sang pria kesepian yang begitu mendambakan belaian wanita.
Sial! Dasar cabul! Batin Vedra meronta sambil melempar semua benda-benda sakral itu ke dalam koper lalu menutupnya dengan cepat.
Verda sungguh membuatnya resah dan gelisah.
Saat ini Vedra sungguh panik! Birahinya naik! Ia harus melakukan sesuatu untuk mendistraksi pikiran liarnya itu.
Vedra pun segera mengambil sapu, menyapu lantai rumahnya hingga bersih. Mengepel lantai hingga mengilap, lalu membersihkan semua kaca jendela rumahnya.
Peluh segera membasahi sekujur tubuhnya, ia pergi ke halaman belakang dengan membawa tumpukan pakaian kotor lalu mulai mencuci. Mengucek satu per satu kemeja bermerknya dengan hati-hati di dalam ember berisi busa deterjen yang melimpah. Menjemur semua pakaiannya di bawah sinar matahari yang mulai memanas.
Krucuk..
__ADS_1
Perutnya berbunyi, menandakan ia benar-benar sangat lapar karena melewatkan sarapan.
Pria itu segera menuju ke kebun singkong dan mulai meramban daun-daun singkong yang masih muda. Kebanyakan para pemilik lahan memang memilih untuk menjadikan lahan mereka sebagai tempat untuk bercocok tanam.
Vedra sungguh senang tinggal di kawasan ini karena tersedia bahan pangan segar yang bisa diperolehnya secara langsung bahkan tanpa perlu izin.
Harga daun singkong dan daun pepaya di pasar tergolong mahal namun Vedra bisa mendapatkannya secara gratis. Vedra hanya perlu bersaing dengan sapi-sapi yang merumput memakan daun-daun singkong itu.
Usai meramban daun singkong, pria itu segera ke dapur dan mulai menyiapkan menu makan siangnya.
Vedra tertegun melihat beras di rumahnya yang sudah mulai menipis, minyak goreng yang tersisa juga tinggal beberapa mili. Di dalam lemari es, stok makanan juga mulai menipis.
"Bisa cukup sampai gajian nanti tidak, ya?" Vedra bertanya-tanya sendiri.
Vedra segera menjerang air dalam panci di atas kompor untuk merebus daun singkong. Ia juga menggoreng ikan asin sebagai lauknya.
"Tanggal tua, tanggal tua, cepatlah tanggal muda!" pria itu bersenandung sambil menyiapkan cacahan bawang merah dan cabai sebagai pelengkap untuk ikan asinnya.
Usai menyiapkan makan siang, pria itu pun segera memasuki kamar mandi.
"Ya ampun, sampoku bahkan juga habis," keluh pria itu.
Vedra membuka tutup botol sampo dan menuangkan air secukupnya, mengocok sebentar agar air dan sisa sampo dalam botol bercampur.
"Ahaa!" pria itu bersorak kecil karena masih bisa memakai samponya.
...*****...
Vedra sudah selesai mandi dan berpakaian. Ia kemudian menyantap makan siangnya. Memang waktu makan terbaik adalah ketika merasa lapar.
Dalam keheningannya pria itu kembali berpikir. Seandainya saja saat ini wanita yang menikah dengannya adalah Silvia, saat ini mereka pasti sedang menghabiskan makan siang bersama. Makan sepiring berdua sambil bersuap-suap manja.
Padahal ia berharap dengan menikahi Silvia, hidup bersama Silvia, akan mengubah kehidupannya. Yah, setidaknya dengan hidup bersama Silvia, ia bisa membagi semua hal, termasuk kondisi finansialnya yang saat ini sedang berada di bawah garis kekurangan.
__ADS_1
Uang tabungan yang habis, cicilan yang banyak, sungguh membuat pria itu sakit kepala. Entah bagaimana ia bisa bertahan hidup hingga gajian di awal bulan berikutnya.
Vedra mengambil gawai cerdas berlogo apel tergigit seri terbaru yang ia beli secara kredit untuk berselancar di dunia maya, mulai mencari-cari photo card yang kini menjadi beban baru hidupnya selain cicilan tanah, rumah, dan mobil.
"Siree find Jehun," perintah Vedra pada gawai cerdasnya.
Layar gawai cerdasnya menampilkan sosok pria muda yang menjadi idaman Verda. Sosok pria tampan berkulit seputih salju yang terlihat bersinar-sinar dengan suntingan yang berlebihan, membuat pria tampan itu terlihat seperti bukan manusia.
"Mengapa wanita itu tergila-gila pada bocah ini, ya?" ucap Vedra sambil mengusap turun layar gawai cerdasnya, membaca biodata dari sang mega bintang yang baru berusia dua puluh empat tahun.
Ada empat hingga sepuluh alasan mengapa Jehun disebut sebagai anggota boyband Fancy yang memiliki penggemar terbanyak.
"Selain tampan, pintar, dan berbakat, Jehun juga memiliki kepribadian yang baik, sopan, hangat, serta memiliki selera humor yang baik, berikut kumpulan videonya," Vedra membaca rangkuman artikel yang beredar di internet.
Alis Vedra berkerut melihat banyaknya pose-pose imut yang ditampilkan oleh Jehun.
"Astaga, apa dia benar-benar seorang pria? Di mana harga dirinya? Apa dia tidak geli berpose begitu?" celetuk Vedra dengan nyinyirnya.
"Jehun memiliki visual serbuk berlian, ketampanan tanpa pertentangan, ketampanan khas dari penghuni surga, sosok pacar idaman," Vedra lanjut membaca artikel tersebut.
Pria itu masih mencebik dan jelas tidak setuju dengan opini dari sang penulis artikel yang terlihat jelas begitu memuja Jehun.
"Yah, begini-begini, Ibuku bilang akulah pria paling tampan sedunia," gumam Vedra.
Memang ya, tidak ada kecap nomor dua. Bagi seorang ibu, pria paling tampan di dunia adalah anak laki-lakinya.
"Kenapa aku jadi kepo dengan si Jehun ini? Hih!" Vedra bergidik ngeri, keluar dari situs tersebut.
Pria itu membuka sosial medianya. Sebagai pengguna pasif, ia hanya menggunakan sosial media untuk melihat mode terbaru.
Ia membuka profil media sosial Silvia. Ia sungguh merindukan Silvia yang kerap meminta dirinya untuk memotret Silvia.
Jantung Vedra seakan berhenti berdetak saat melihat foto yang diunggah di laman sosial media Silvia. Potret Silvia dengan seorang pria yang membuat Vedra seketika bertanya-tanya.
__ADS_1
Siapa lelaki itu?!
...*****...