
Tak.. Tak..
Suara langkah kaki menggema di tangga darurat. Mereka segera menyudahi ciuman yang begitu menggebu.
"Nanti kita lanjutkan lagi," kata Vedra segera keluar dari tangga darurat lebih dulu.
Verda menyusul beberapa saat kemudian. Ia tidak jadi membeli green tea latte dan lebih memilih untuk duduk di belakang meja kerjanya. Ciuman dari Vedra sudah cukup untuk menjadi mood boosternya pagi ini.
"Loh, Verda, kau tidak jadi beli minum?" tanya Ican.
"Tidak, nanti saja," sahut Verda.
Verda mencuri pandang ke arah Vedra yang saat ini sudah berada di ruangannya. Pria itu sudah kembali bekerja, berusaha menyelesaikan semua pekerjaannya.
"Hari ini makan apa lagi ya? Bosen nih, pesan antar terus," keluh Teti dari kubikelnya.
"Can, coba kau bicara pada Vedra," perintah Nita.
"Yee, kok aku sih?" keluh Ican.
"Pastikan jam satu kalian sudah ada di meja masing-masing!" sahut Vedra keluar dari ruangan kerjanya.
"Oke, oke, Ved!"
Vedra meletakkan setumpuk dokumen yang dibawanya ke meja kerja Verda. Verda mengulas senyumnya saat pria itu mengedipkan sebelah matanya.
Iih! Dasar ganjen! Cibir Verda.
...*****...
"Atas nama Verda!"
Seruan itu membuat Verda memutar bola matanya. Verda beranjak dari kursinya dengan malas menuju ke lobi depan, menyambut lagi tukang ojek daring yang mengantarkan makanan untuknya. Dalang dari semua tukang ojek daring yang datang mengantar semua makanan itu tak lain adalah Abim.
"Aku tahu kau pasti akan menolak saat kuajak makan siang, jadi, terima saja makanan yang kukirimkan, makanlah bersama-sama rekan kantormu," begitulah kata Abim yang lagi-lagi membuat Verda meradang.
Semakin Verda menolak tukang ojek yang datang, semakin banyak pula tukang ojek yang datang mengantarkan makanan sampai Verda menerima semua makanan tersebut.
"Wah, kali ini menu makanan timur tengah," Teti menyambut bungkusan plastik dari para tukang ojek.
"Verda, apa semua makanan ini merupakan makanan kiriman dari pria yang tadi pagi mengantarmu ke kantor?" tanya Ican.
Verda hanya menyeringai.
"Coba sini kulangkahi dulu semua makanannya supaya jampi-jampinya hilang!" tukas Ican.
"Ican, please deh! Apa sempat tukang masak dari restoran ternama akan memberi jampi-jampi secara personal?" celetuk Teti.
Ican mencibir kesal, sepertinya pria yang mengincar Verda bukanlah pria kaleng-kaleng. Mendatangkan puluhan tukang ojek daring untuk mengantarkan semua makanan ini jelas membutuhkan dana yang tidak sedikit.
"Wah, wah, Verda, luar biasa sekali ya, gebetanmu pria berduit," Nita menimpali seraya terkekeh.
"Haha, apa sih, Nit," Verda hanya bisa terkekeh.
Dalam hati, Verda jelas mengumpat kesal pada Abim.
Vedra yang keluar dari ruang kerjanya dan menuju ke pantri hanya bisa mendelik gusar saat melihat tumpukan makanan di atas meja. Makanan yang dikirimkan oleh pria yang saat ini jelas sedang menantang Vedra sebagai suami Verda yang sah.
__ADS_1
"Sudah, sudah, daripada semua makanan ini mubazir, lebih baik segera kita makan saja!" Nita memberi komando begitu memasuki pantri.
"Ayo, Verda, kita makan sama-sama saja, lebihnya bisa kami bungkus untuk dibawa pulang," sahut Teti.
"Bagaimana, Ved? Lumayan kan, hari ini kita dapat makan gratis," Nita melemparkan pertanyaan pada Vedra.
"Hmm, ya, silakan," sahut Vedra.
"Ayo kita makan! Can, panggil teman-teman yang lain! Hari ini kita pesta!" Teti memberi komando.
Verda menatap Vedra yang kembali ke meja kerja dengan membawa nasi kotak jatah makan siangnya.
"Wah, ada pesta ya?" teman-teman kerja Verda berdatangan memenuhi pantri.
"Ayo, semuanya, silakan dimakan!" ajak Teti.
Di saat semua orang begitu sibuk menyantap makan siang, Verda menyelinap keluar dari pantri. Ia memasuki ruang kerja Vedra.
"Ved," kata Verda.
Vedra terlihat nampak memasang ekspresi datar. Verda segera duduk di depan meja kerja Vedra.
"Ved," kata Verda.
"Verda, aku sungguh tidak mengerti makna netralitas yang disyaratkan oleh ayahmu untukku," kata Vedra.
Verda tertegun mendengar perkataan Vedra.
"'Pria itu boleh mengantarmu ke kantor, boleh mengirimimu makan siang, apa jangan-jangan ayahmu juga mengizinkan dia untuk menginap di rumahmu?" tanya Vedra.
"Ved!" sergah Verda.
"Jika ayahmu memang sudah memberi tahu pria itu tentang materi kompetisi nanti, itu sama saja aku akan kalah sebelum berperang kan?"
Verda beranjak dari tempat duduknya menuju ke luar ruangan Vedra, namun Vedra menarik tangan Verda, menutup pintu di belakang wanita itu.
"Verda, jangan pergi, pembicaraan kita belum selesai," kata Vedra sambil menatap Verda lekat-lekat.
"Ved, apa kau sungguh tidak percaya padaku?" tanya Verda.
"Aku percaya pada ayahku, Ved. Ayahku adalah pria yang pantang menarik perkataan beliau. Ayahku pasti menjaga netralitas. Aku bahkan sama sekali tidak mendengar apakah Abim mendapatkan bocoran kompetisi dari ayahku," kata Vedra.
"Abim bahkan mengatakan padaku, meski tanpa kisi-kisi, dia merasa yakin akan menang," lanjut Verda.
Mereka saling menatap, Vedra membelai lembut wajah Verda. Entah sejak kapan ia merasa begitu mendambakan Verda. Kening mereka saling bertaut. Verda memejamkan matanya, ia pun benar-benar sangat merindukan Vedra. Belaian dan sentuhan lembut pria itu benar-benar selalu sukses memabukkannya.
Tanpa perlu berlama-lama, bibir mereka kembali saling bertaut. Mencecap rasa manis yang begitu menggoda dan tak tertahankan.
"Ved," Verda melepaskan ciumannya.
"Ada apa, Verda?" tanya Vedra.
"Di luar banyak orang," kata Verda.
"'Terus?" tanya Vedra lagi.
"Bagaimana kalau ada yang memergoki kita?" tanya Verda.
__ADS_1
"Selama kau tidak menjerit, aku rasa tidak akan masalah," jawab Vedra.
Verda mengulas senyumnya sebelum membenamkan kembali bibir mereka. Verda benar-benar tidak tahan dengan kondisi dirinya yang sudah basah akibat buaian Vedra.
Tok..Tok..
Terdengar ketukan dari arah luar pintu ruang kerja Vedra membuat Vedra dan Verda terlonjak bersamaan.
"Ved, makan bareng yuk!" ajak Ican.
Vedra mendelik gusar, saat ini gairahnya yang sudah berada di ubun-ubun harus surut lantaran terkejut.
Saat ini menyantap tubuh Verda jelas menjadi prioritasnya. Verda mengulas senyumnya ke arah Vedra yang nampak bimbang.
Meneruskan kegiatan mereka dengan resiko tertangkap basah, atau menghentikannya.
"Ayo kita makan sama-sama," bisik Verda.
"Makan makanan yang dikirim oleh pria yang hendak merebutmu dariku?" bisik Vedra.
"Ved, makanannya tidak bersalah, anggap saja rezeki," kata Verda.
"Hmm, tidak," Vedra berkeras.
Vedra punya harga diri yang harus dijaganya.
Vedra segera membuka pintu ruang kerjanya lalu mempersilakan Verda keluar.
Verda pun bergabung bersama rekan-rekannya untuk menyantap hidangan yang tersaji di atas meja.
"Verda, sering-sering saja suruh gebetanmu mengirimkan semua makanan ini," ceplos Teti.
"Hei, hei, kalian ini sungguh tidak menjaga perasaanku ya?" seloroh Ican.
"Can, namanya laki-laki harus berani modal duit, bukan cuma modal cinta. Makan cinta mana kenyang!" Nita menimpali.
"Teman-teman, lima menit lagi sudah jam satu! Segera kembali bekerja!" tukas Vedra yang tiba-tiba muncul di pantri.
"Ya elah, Ved! Sekali-sekali!" cibir Teti.
"Segera kembali ke meja masing-masing! Jangan lupa bereskan semua makanan yang ada!" perintah Vedra dengan tegas.
...*****...
Halo pembaca setia di mana pun pembaca berada. Otor ucapkan terima kasih banyak sudah membaca sampai episode ini.
Otor agak slow update karena sedang sibuk di real life dan akhir-akhir ini lagi terserang yang namanya writer block. Tetiba ide berhenti, mandek, stop, nggak bisa nulis apapun gara-gara kesibukan di dunia nyata.
Hehe..
Manusiawi, iya, namanya juga manusia.
Sudah jadi resiko juga, hehe..
C'est la vie ( Inilah hidup )
Oke, sekian curhatan otor kali ini, sampai jumpa di episode selanjutnya.
__ADS_1
...*****...