
"Aduduh, pelan-pelan, Verda," Vedra meringis kesakitan.
Pria itu sedang menahan rasa sakit, perih, dan terbakar saat Verda menyapukan larutan alkohol 70% pada luka Vedra. Wajah Vedra nampak lebam, sudut bibirnya pecah dan berdarah, pelipisnya terkoyak dan bengkak berwarna ungu kebiruan.
"Maaf ya, aku dulu kuliah jurusan akuntansi, bukan keperawatan," ucap Verda.
"Verda, latar belakang pendidikan sama sekali tidak berpengaruh pada kegiatan kemanusiaan! Tolong, pelan-pelan," pinta Vedra.
"Kenapa sih kau tidak mau ke rumah sakit saja? Di sana ada perawat yang lebih kompeten!" sahut Verda.
"Kalau saja asuransi kesehatan menanggung semua ini, aku pasti akan memilih ke rumah sakit!" gerutu Vedra.
"Haha!" Verda tertawa. "Rugi sekali asuransi kesehatan menanggung orang yang terluka akibat berkelahi karena memperebutkan wanita!" kata Verda dengan nada mengejek.
Vedra terdiam, memasang ekspresi luar biasa kecewa. Verda tersadar bahwa saat ini Vedra enggan diajak bercanda.
Pria itu beranjak dari kursi, tertatih-tatih melangkah menuju ke dapur, membuka lemari es untuk mengambil es batu lalu memasukkan es batu ke dalam kantong plastik yang akan ia gunakan untuk mengompres wajahnya yang babak belur.
Vedra memasuki kamar, membuka kemejanya, dan mengamati tubuhnya yang lebam dan memar karena dipukuli dan ditendangi secara brutal. Vedra teringat bahwa ini bukan pertama kalinya ia dipukuli hingga babak belur seperti ini. Saat masih tinggal di kampung halamannya, ia kerap menjadi kantong samsak Anwar.
Sejujurnya Vedra bukanlah orang yang suka dengan kekerasan. Ia cenderung lebih memilih menghindar daripada menimbulkan masalah yang lebih besar.
"Ved, apa kau sungguh tidak apa-apa?" tanya Verda menghampiri Vedra.
Verda tertegun melihat banyaknya lebam dan memar berwarna ungu kebiruan di tubuh Vedra yang kini bertelanjang dada.
"Jangan-jangan tulangmu ada yang retak? Tidakkah sebaiknya kau periksa ke rumah sakit?" tanya Verda.
Vedra tidak menjawab, pria itu membuka lemarinya dan mengambil selembar kaus.
"Sebentar, sepertinya aku punya sesuatu untuk mengatasi memarmu," Vedra bergegas keluar dari kamar.
Beberapa saat kemudian ia kembali ke kamar dan membawa obat berbentuk salep.
"Ini, pakailah, aku biasa memakai obat ini untuk mengatasi memar-memar yang muncul karena terlalu sering memakai sepatu hak tinggi," kata Verda.
"Ya, terima kasih," kata Vedra.
"Akan kubantu mengoleskan salep ini ke tubuhmu. Lihat, memar di punggungmu banyak sekali," kata Verda sambil menunjuk memar di tubuh Vedra.
"Baiklah," jawab Vedra.
Ia tidak punya pilihan untuk menolak bantuan Verda karena tangannya masih terasa sakit dan agak sulit digerakkan karena berusaha melindungi organ vital dari serangan Bayu.
Verda mulai menyapukan salep itu ke punggung Vedra. Vedra merinding sendiri karena sentuhan jari Verda yang mengenai kulitnya seakan menimbulkan sengatan listrik.
__ADS_1
Yah, ini pasti reaksi dari salep yang disapukan Verda ke lebam dan memarnya, itulah yang ada dalam pikiran Vedra. Mendistraksi pikiran liar yang berkelebat muncul dalam pikirannya.
"Kau menemui mantan kekasihmu, lalu terlibat perkelahian dengan kekasih mantanmu ya?" tanya Verda.
Vedra tidak menyahut, saat ini hatinya benar-benar terasa jauh lebih sakit daripada luka fisik yang diterimanya.
"Untung saja kau tidak dibunuh oleh kekasih mantanmu itu ya? Kalau kau sampai terbunuh dan mati, lantas bagaimana dengan nasib photo card Jehunku? Aku tidak mau loh ya, tanggung jawabmu dianggap selesai hanya karena kau sudah tewas," kata Verda.
Vedra segera berbalik menghadap ke arah Verda.
"Astaga, Verda! Apa kau tidak punya rasa simpati sedikit pun terhadapku? Aku babak belur seperti ini dan kau masih saja berpikir tentang photo card idolamu? Di mana hati nuranimu?" tanya Vedra.
"Hati nurani? Kau sendiri yang cari penyakit dengan datang menemui mantan kekasihmu! Kau sampai bonyok dihajar seperti ini pasti karena mencoba berbuat hal tidak senonoh kan?!" tandas Verda.
"A-apa? Aku berbuat tidak senonoh?" Vedra terperangah.
"Memangnya apa alasan seorang pria sampai membuatmu babak belur seperti ini selain terbakar api cemburu?" tanya Verda.
Vedra menatap lurus ke arah Verda yang jelas sedang mengejeknya.
"Verda, kau salah jika menganggapku seperti itu. Aku bukan pria seperti itu."
Jawaban Vedra sungguh singkat, padat, dan menggantung.
"Lantas kenapa kau sampai babak belur begini? Tidak akan ada asap kalau tidak ada orang yang bakar-bakar, Ved!" sergah Verda.
"Verda, aku menemui Silvia bukan karena hendak merebutnya dari pria lain. Aku hanya membutuhkan penjelasan mengapa Silvia memutuskan hubungan kami secara sepihak. Sungguh, hingga kini aku masih belum bisa menerima keputusan sepihak itu. Seakan waktu yang telah kami lalui bersama sama sekali tidak berharga," kata Vedra.
Vedra menunduk, matanya terasa memanas. Tidak mudah baginya untuk menerima keputusan sepihak Silvia. Di saat ia begitu mencintai Silvia, merencanakan masa depan bersama, membangun keluarga kecil yang bahagia, tiba-tiba semua itu harus berakhir bahkan sebelum mereka memulai segalanya.
Sakit, sungguh sakit.
Takdir seakan sedang mempermainkan Vedra. Membuat hidup pria itu harus jungkir balik seperti ini.
"Ved," kata Verda.
Vedra masih menunduk, genangan air mata mulai meleleh membasahi pipinya.
"Ved," panggil Verda.
Vedra menahan tangan Verda yang mengguncang bahunya.
"Jangan lihat aku," kata Vedra tertahan.
Vedra punya harga diri sebagai seorang pria yang harus dijaganya. Saat ini ia sedang merasa berada pada titik terbawah kehidupannya.
__ADS_1
Verda tertegun melihat tubuh Vedra yang bergetar. Rasa simpati mendorongnya untuk membawa pria itu ke dalam dekapannya. Verda mengusap lembut rambut pria yang kini balas memeluknya begitu erat.
...*****...
"Sepertinya aku tahu, kenapa kau sampai diputusin seperti itu, Ved."
Verda menatap Vedra yang saat ini berbaring di sampingnya.
"Apa?" tanya Vedra sambil menoleh ke arah Verda.
Verda mengambil bantal berwajah Jehun dari punggungnya, memamerkannya di depan Vedra.
"Kau tidak setampan Jehun!" jawab Verda. "Tidak akan ada wanita yang menolakmu kalau saja kau setampan Jehun!" Verda menunjuk-nunjuk bantal tampannya.
Vedra mencebik.
"Kalau aku setampan Jehun, mana mau aku berkencan dengan sembarang wanita! Terlebih jika harus menikah, mana mungkin aku mau menikah denganmu!" sahut Vedra.
"Haha! Apa kau bilang?" Verda tertawa.
"Ya, itu sudah jelas kan? Kalau aku kaya dan tampan, aku tidak mungkin mau menjaminkan diriku untuk menikahimu! Aku punya banyak uang yang bisa kuberikan padamu sebagai ganti rugi! Bahkan aku bisa memberimu sepuluh kali lipat kerugianmu!" kata Vedra.
"Ahaha!" Verda tertawa lagi. "Vedra, Vedra, pantas saja kau tidak diberi ketampanan dan kekayaan! Kau angkuh begitu! Ahaha," Verda tertawa lagi.
"Verda, apa aku mengatakan sesuatu yang salah? Kalau aku kaya dan tampan, aku tidak akan bekerja lembur bagai kuda! Pergi gelap, pulang gelap, nggak kaya-kaya!" sahut Vedra.
"Ahaha," Verda tertawa lagi sambil menepuk perut Vedra.
"Aduh, Verda! Sakit!" Vedra mengaduh.
"Maaf, maaf, sakit sekali ya?" Verda mengusap lembut perut Vedra.
"Verda, jangan begitu, geli," keluh Vedra.
"Ya, ya, baiklah," Verda menghindar, berguling ke sisi lain memunggungi Vedra.
"Aku lelah, mau tidur," ucap Verda.
Vedra menatap punggung Verda. Ia menggeser tubuhnya, mendekat lalu memeluk Verda dari belakang.
"Ved!" Verda terkesiap.
"Biarkan begini, sebentar saja," pinta Vedra.
Vedra membiarkan dirinya tenggelam dalam kenyamanan. Tubuh Verda yang hangat dan aroma shampo Verda sungguh memanjakannya, membuatnya lupa akan rasa sakit di tubuhnya.
__ADS_1
...*****...