Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 092


__ADS_3

Ctik... ctik...


Bunyi jemari yang beradu di atas papan tombol terdengar menggema memenuhi ruang kerja. Semua mata tertuju ke arah kubikel yang diduga kuat sebagai sumber kebisingan di ruangan kerja yang nampak senyap usai jam makan siang.


Bekerja selepas jam makan siang menjadi tantangan terberat bagi sebagian besar pegawai yang harus bertarung melawan rasa kantuk yang menyerang tanpa ampun.


Namun sepertinya hal itu tidak berlaku bagi Verda yang kini masih menekan dengan keras setiap tombol yang ada pada keyboard. Emosi jelas menguasai wanita itu sepanjang hari.


Tak ada senyum yang biasa menghiasi wajahnya, tak ada tegur, salam, sapa manja yang terlontar dari bibirnya yang terkatup rapat seakan sedang disegel gaib.


Ican menghampiri meja kerja Verda, bergelayut di sisi kubikel dengan rasa gentar yang kentara.


"Verda, ngetiknya biasa saja dong. Nanti itu keyboard jebol loh," celetuk Ican.


Verda mengabaikan celetukan Ican, saat ini kemarahan sedang menguasainya.


"Hmm, Verda, kau mau minum apa? Aku traktir deh, mau green tea latte yang panas, atau yang dingin, atau yang panas dingin?" tanya Ican.


Ican merasa panas dingin dengan sikap Verda yang sungguh tidak seperti biasanya. Diabaikan seperti ini membuat hati Ican nelangsa.


Verda beranjak dari kursi, berjalan cepat ke mesin fotokopi menunggu mesin itu bekerja untuk mencetak lembaran dokumennya. Begitu semua dokumen telah tercetak, Verda kembali melanjutkan langkahnya.


Tok..


Ia mengetuk sekilas pintu ruang kerja Vedra. Lalu meletakkan laporan tersebut ke meja kerja pria itu.


Tanpa mengucapkan sepatah kata, Verda segera keluar dari ruangan tersebut untuk kembali ke meja kerjanya.


Verda bahkan belum duduk saat telepon di meja kerjanya kemudian berdering.


"Ke ruangan saya sekarang."


Verda menghempas gagang telepon yang otomatis kembali mengejutkan orang-orang yang bekerja di sekitarnya.


"Hihh, Verda kenapa sih?" Ican bertanya-tanya keheranan.


Verda kembali masuk ke ruang kerja Vedra, memasang sikap defensif kepada pria yang saat ini memasang ekspresi datar tak tertebak.


"Verda, berapa kali harus saya katakan padamu, tolong diperiksa baik-baik laporan yang kau kerjakan sebelum kau serahkan kepada saya," tukas Vedra.


"Kau seperti mengerjakan asal-asalan, asal selesai dengan cepat, sudah selesai urusan," lanjut Vedra.


"Jadi ini salahku lagi?" tanya Verda. "Ya, terus saja kau menyalahkanku! Aku yang salah! Aku yang tidak becus! Kau yang paling benar dan merasa paling benar atas semua yang telah kau lakukan!" cecar Verda dengan emosi yang tersulut sempurna.


"Verda?" Vedra terperangah.


"Apa? Kau mau menyalahkanku lagi?! Ya, salahkan saja terus! Aku memang tidak pernah benar di matamu! Tidak pernah sekalipun!" sergah Verda.

__ADS_1


Verda mengambil laporannya, dengan perasaan kesal yang berkecamuk ia meremas dan merobek-robek kertas itu.


"Aku yang salah! Aku yang salah wahai tuan yang merasa paling benar!" tandas Verda sebelum keluar dari ruang kerja Vedra.


Semua orang yang tadinya mencuri dengar pertengkaran antara Verda dan Vedra seketika langsung kembali duduk di kursi mereka masing-masing.


Saat mulut tak bisa berucap, maka jari mereka yang menari-nari di atas layar datar gawai pintar mereka untuk membicarakan Verda yang mengamuk di hadapan Vedra.


Vedra menghela napas berat, Verda yang meledak seperti itu jelas membuatnya merasa makin bersalah. Verda seakan tak bisa bersikap profesional dalam menyikapi masalah internal mereka berdua dengan masalah pekerjaan.


Namun kalau masalah ini dibiarkan berlarut-larut tentu saja tidak baik juga bagi mereka berdua. Itulah yang saat ini ada dalam benak Vedra. 


...*****...


Verda masih berkutat di layar monitor komputernya. Mengamati semua angka-angka yang saat ini tengah mengejeknya.


"Ayo temukan selisihku di mana?"


"Kau tidak boleh pulang kalau belum ketemu!"


Verda memijat pelipisnya, ia merasa lelah dan penat.


"Verda."


Suara berat dan dalam itu membuat Verda menoleh. Di sampingnya duduk di kursi yang kosong seorang pria yang saat ini sedang tidak ingin dilihatnya. Pria itu menyodorkan segelas green tea latte panas dan sepotong kue red velvet untuknya.


"Tidak perlu," sahut Verda dengan ketusnya.


"Apa perlu kusuapi?" tanya Vedra.


"Ih, apa sih?" dengus Verda.


"Verda, kumohon, jangan seperti ini," ucap Vedra.


"'Bisakah kita membicarakan masalah ini dengan pikiran yang lebih terbuka?" tanya Vedra.


"Ved, aku tidak mau bicara denganmu!" jawab Verda.


"'Kenapa kau tidak mau bicara denganku?" tanya Vedra.


"Aku tidak mau bicara denganmu karena aku tidak mau kau menganggapku salah lalu menyalahkanku!" jawab Verda.


"Verda," ucap Vedra tertahan.


Verda kembali berkutat di depan monitornya, Vedra pun kembali bernapas berat. 


"Kalau kau memang lelah, lebih baik pulang dan beristirahat," kata Vedra.

__ADS_1


"Tidak!" tandas Verda.


"Baiklah, terserah kau saja," sahut Vedra segera beranjak dari samping Verda.


Vedra merasa frustrasi dengan sikap Verda yang uring-uringan.


Apa yang harus ia lakukan supaya Verda berhenti bersikap seperti itu?


Apa sebaiknya mereka pergi ke dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih detail?


...*****...


"'Nyonya Verdanica."


Verda langsung disambut ramah oleh perawat yang membukakan pintu ruang pemeriksaan salah seorang dokter kandungan. 


Vedra menoleh ke kiri dan ke kanan sebelum ikut menyelinap masuk ke ruangan tersebut. Dokter kandungan yang dipilih oleh Vedra bukanlah dokter paling populer di kota, sehingga tempat praktek yang mereka kunjungi tidak terlalu ramai.


Dokter Herman, pria berusia sepuh itu merupakan salah satu dokter yang ternama dua dekade lalu, setidaknya begitulah informasi yang diterima Vedra dari sebuah forum komunitas ibu hamil yang beredar di internet.


Verda segera naik ke tempat tidur untuk melakukan prosedur pemeriksaan menggunakan alat usg abdominal. Perawat mengoleskan gel bening kebiruan ke bagian bawah perut Verda. Sensasi dingin dan geli jelas membuat Verda gemetar sendiri.


Dokter Herman segera menempelkan alat usg sambil memerhatikan layar monitor. Verda benar-benar merasa sangat tegang, seperti juga Vedra saat ini.


"Dokter, apa saya sedang mengandung?" tanya Verda hati-hati.


Dokter Herman tidak segera menjawab, mata beliau masih mengamati secara saksama hasil pemindaian di layar monitor yang menampilkan gambar hitam putih.


"Saya belum melihat adanya kantong kehamilan yang terbentuk di rahim Anda," jawab Dokter Herman.


"Maksudnya, Dokter?" tanya Vedra.


Dokter Herman menghentikan pemeriksaannya, pria sepuh itu segera kembali duduk di belakang meja kerjanya.


Verda bergabung di meja tersebut usai perawat membersihkan sisa gel yang menempel di perutnya.


"Saya hanya melihat adanya gumpalan dalam rahim, gumpalan ini jika berkembang bisa menjadi janin, namun jika tidak, maka akan luruh dengan sendirinya," jawab Dokter Herman.


Verda dan Vedra tertegun mendengar penjelasan dari Dokter Herman.


"Oleh karena itu, silakan kembali tiga minggu lagi untuk jadwal konsultasi selanjutnya, untuk saat ini, saya akan memberi resep vitamin," lanjut Dokter Herman.


"Jadi, saya ini sebenarnya hamil atau tidak, Dokter?" tanya Verda.


"Ibu, saya tidak bisa mengatakan saat ini Anda hamil atau tidak, karena semua masih berupa prediksi, prakiraan, terlebih kehamilan setiap calon ibu sungguh berbeda-beda. Dan cara untuk memastikannya adalah dengan pemeriksaan lebih lanjut setelah tiga minggu lagi," Dokter Herman menjelaskan.


Verda dan Vedra kembali saling melemparkan pandangan mendapat jawaban mengambang seperti itu. Keduanya pun kembali merasakan keresahan dan kegelisahan yang sama. Kegelisahan dampak perbuatan mereka yang sesungguhnya belum siap untuk mereka hadapi.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2