Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 098


__ADS_3

Vivie, Bian, Pak Daus, dan Bu Eva begitu panik saat menyusuri koridor sebuah rumah sakit. Mereka berempat segera meluncur ke rumah sakit swasta begitu mendapat telepon dari pihak kepolisian yang menginformasikan bahwa Verda mengalami kecelakaan lalu lintas.


Bu Eva langsung menangis histeris, begitu juga dengan Vivie yang tak kuasa menahan tangisnya. Sungguh kejadian yang begitu mengejutkan mereka semua.


Bian dan Pak Daus segera menemui pihak kepolisian demi meminta keterangan perihal penyebab kecelakaan yang dialami oleh Verda. Menurut keterangan dari beberapa saksi di tempat kejadian perkara, Verda mengalami kecelakaan tunggal lantaran menghindari mobil yang melintas dari arah berlawanan.


Pak Daus dan Bian pun akhirnya kembali bergabung dengan Vivie dan Bu Eva yang menunggu di depan ruang ICU. Verda dipindahkan dari IGD ke ruang ICU lantaran mengalami koma.


"Bagaimana bisa Verda menggunakan mobilnya, padahal Ayah masih menyita mobilnya?" Pak Daus terlihat frustrasi.


Pria paruh baya itu terduduk sambil mengusap wajahnya dengan gusar.


"A-ayah, maafkan aku," Vivie menangis terisak-isak. "Pagi ini Kak Verda meneleponku, memintaku untuk mengantarkan mobilnya. Seharian ini kami bahkan menghabiskan waktu bersama," Vivie menjelaskan.


"Lalu, di mana sekarang pria yang mengaku sebagai suaminya Verda itu?! Kenapa tidak terlihat batang hidungnya?!" Pak Daus meraung murka.


"Ayah, bagaimana kita bisa menghubungi suami Kak Verda? Kita bahkan tidak punya kontak pria itu," jawab Vivie.


Mereka semua terdiam, hanya terdengar isak tangis dari Bu Eva yang setiap detiknya semakin mengkhawatirkan.


"Ayah, kenapa ini bisa terjadi pada Verda?" Bu Eva memeluk erat Pak Daus.


Pak Daus tak kuasa membendung air matanya. Pria paruh baya itu pun menangis sambil memeluk istrinya. Pak Daus benar-benar merasa terpukul karena anak perempuan yang paling disayanginya saat ini sedang meregang nyawa, berjuang antara hidup dan mati.


Vivie hanya bisa menangis dalam pelukan Bian. Rasa bersalah benar-benar menderanya. Seandainya saja ia menolak permintaan Verda agar mobilnya diantar oleh Vivie, saat ini kakaknya tidak mungkin terbaring koma di ruang ICU.


"Bi, ini salah aku! Hiks," Vivie menangis dengan rasa penyesalan tak terkira.


"Vie, ini bukan salahmu, jangan menyalahkan siapapun, kita doakan saja yang terbaik untuk Kak Verda," Bian mengusap lembut rambut Vivie.


"Sekarang yang lebih penting adalah bagaimana cara kita menghubungi suami Kak Verda. Kita tidak tahu, apakah pria itu sudah mendengar mengenai kejadian ini atau tidak. Kita bahkan tidak bisa menghubungi pria itu," kata Bian.


"Iya, Bi, aku rasa kecelakaan Kak Verda ada sangkut pautnya dengan si Jehun kw itu!" ucap Vivie.


"Apa maksudmu, Vie?" tanya Bian.


"Bi, kamu pasti tahu kan, Kak Verda orang yang sangat tertutup jika menyangkut kehidupan pribadinya! Aku sungguh yakin, ada masalah yang sedang dialami Kak Verda dengan si Jehun kw itu!" jawab Vivie.


"Vie, daripada kau memikirkan hal seperti itu, lebih baik kita berdoa bersama-sama, keselamatan Kak Verda saat ini menjadi prioritas utama, jadi lebih baik kesampingkan saja dulu masalah Kak Verda dengan suaminya," kata Bian.


"Kak Verda, hiks," Vivie kembali menangis sesenggukan.


Vivie pun pada akhirnya mulai tenang, Bian melihat mertuanya yang masih berdiri di depan pintu ruang ICU, menunggu berita baik dari kondisi kakak iparnya.


Bian berjalan menghampiri kedua mertuanya.


"Ayah, Ibu, lebih baik kalian pulang dan beristirahat, biar aku dan Vivie yang berjaga," kata Bian.


"Tidak, Bian, lebih baik kau yang pulang dan beristirahat, bukankah kau besok harus bekerja?" tanya Bu Eva.


"Biar kami yang berjaga malam ini, Bian, rasanya Ayah tidak tenang sebelum mendapat kabar Verda siuman," kata Pak Daus.


"Ayah, Ibu, bukannya apa, aku hanya mencemaskan kesehatan Ayah dan Ibu. Tidak lucu kan, jika kita sekeluarga sampai jatuh sakit berjamaah," ujar Bian.


"Begini saja, Ayah, Ibu, dan Vivie pulang saja, biar aku dan Pak Yanto yang malam ini berjaga, kalau ada apa-apa pasti akan segera kukabari," kata Bian.


"Bian," sergah Vivie.

__ADS_1


"Vie, tidak apa-apa, toh ada Pak Yanto yang menemaniku, sebenarnya lebih bagus lagi kalau ada suami Kak Verda di sini," kata Bian meyakinkan.


Pak Daus benar-benar sangat menyayangi Bian. Menantunya itu sungguh perhatian dan dapat diandalkan.


"Ya sudah, kalau begitu, Ibu dan Vivie akan pulang bersama Ayah, besok kita gantian berjaga," usul Pak Daus.


"Bian, terima kasih," ucap Vivie sambil berbisik.


"Tidak masalah, Vie," sahut Bian.


...*****...


Vedra terbangun dari tidurnya, saat membuka mata biasanya ada sosok Verda yang masih terlelap di sisinya. Namun kini lagi-lagi sisi itu kosong. Ia mengusap wajah, lalu menggapai rak di kepala tempat tidur untuk mengambil gawai cerdasnya yang ternyata kehabisan daya.


Yah, semalam begitu pulang ke rumah, Vedra memang langsung mandi lalu pergi tidur. Suasana hatinya terasa begitu buruk sebagai dampak dari pertengkarannya dengan Verda.


Vedra segera mengisi daya ponselnya lalu bergegas menuju ke kamar mandi. Begitu memasuki kamar mandi, ia termenung di depan perlengkapan mandi milik Verda. Ia mengambil sikat gigi berwarna merah muda yang bulu halusnya sudah kering kerontang menandakan bahwa sikat gigi itu sudah tidak dipakai dalam beberapa waktu.


Dalam benaknya terlintas saat Verda menyikat giginya sedangkan Vedra sibuk bercukur, lalu mereka berdua saling berebut cermin dan kemudian tertawa bersama-sama.


Rindu.


Satu kata itu menyusup dalam benak Vedra. Satu kata yang membuat dadanya langsung terasa nyeri.


Cepat-cepat ia menepis semua itu. Melamun hanya membuang-buang waktunya.


Usai mandi dan berpakaian, ia pun segera bersiap-siap ke kantor. Langkahnya terhenti di depan ruang penyimpanan barang-barang milik Verda.


Ruangan itu selalu dan senantiasa berantakan. Koper-koper yang memuntahkan isinya hingga berserakan di lantai jelas mengganggu pemandangan.


"Sudahlah, nanti saja kubereskan," gumam Vedra.


...*****...


Vedra melirik jam tangannya, mengedarkan pandangan ke ruang kerja yang masih sepi begitu ia membuka pintu kantor.


Sepertinya aku datang terlalu pagi, batinnya.


Ia segera melangkah menuju ruang kerjanya, matanya melirik ke meja kerja Verda yang nampak dipenuhi dokumen. 


Apa dia hari ini tidak masuk kerja lagi? pikirnya.


Vedra memasuki ruang kerjanya, meletakkan tas di dalam lemari penyimpanan yang terletak di bawah meja kerjanya.


Kring..


Telepon di meja kerjanya berdering bersamaan dengan bunyi telepon di meja kerja Nita. Nita biasa bertugas sebagai operator yang menyambungkan panggilan telepon dari resepsionis yang berada di lantai dasar.


"Valid Corp, selamat pagi dengan saya Vedra," jawab Vedra.


"'Selamat pagi, Pak Vedra, ada telepon untuk Valid  Corp," kata si resepsionis.


"Baik, silakan," sahut Vedra.


"Baik," sahut si resepsionis sebelum menyambungkan telepon yang masuk.


"Ha-halo," terdengar suara wanita di seberang sana.

__ADS_1


"Selamat pagi dengan saya Vedra, ada yang bisa saya bantu?" tanya Vedra.


"Sa-saya Vivie, saya adik dari Verda, Verdanica," jawab wanita itu.


Vedra tertegun.


"Saya mau menginformasikan, kakak saya semalam mengalami kecelakaan lalu lintas," Vivie menjelaskan.


Vedra merasa jantungnya berhenti berdetak.


"Saat ini kondisi kakak saya sedang mengalami koma," terdengar isakan tangis dari Vivie.


"Mohon maaf sebelumnya, sebagai rekan kerja, apakah Anda tahu kontak dari suami kakak saya?"  tanya Vivie. "Saya ingin menghubungi kakak ipar saya tapi tidak punya kontak beliau."


"Di-di mana?" tanya Vedra.


"'Eh, apa?" tanya Vivie.


"Di mana, di mana Verda dirawat?" tanya Vedra.


"Di Rumah Sakit Swasta P," jawab Vivie.


"Oh, begitu," kata Vedra.


"Jadi, apa Anda punya kontak suami Kak Verda?" tanya Vivie.


"Baiklah, nanti saya bantu cari," jawab Vedra.


"Oh begitu, Anda boleh menghubungi nomor ponsel saya, tolong dicatat ya," kata Vivie.


"Baik," jawab Vedra sambil mencatat nomor telepon Vivie.


"Sekali lagi, saya minta tolong kepada Anda, kakak saya pasti membutuhkan suami yang sangat dicintainya agar berada di sisinya," kata Vivie.


"Baik, saya mengerti, terima kasih atas informasi Anda."


Vedra menutup teleponnya, saat ini jantungnya bergemuruh, rasa sesak memenuhi dadanya. 


Ia mengambil dan mengaktifkan kembali gawai cerdasnya yang semalam kehabisan daya.


Ketika benda itu kembali menyala, muncul banyak notifikasi panggilan tak terjawab dari Verda.


...*****...


Sekilas curhat Acil author ya..


Acil author dulu sering banget deh hp dibiarin baterainya sakaratul maut bahkan sampai benar-benar habis. Suatu hari acil mendapat teguran, handphone acil sama sekali nggak bisa diselamatkan. Sering mengisi hp yang baterainya habis total itu tidak baik karena menyebabkan kerusakan pada komponen baterai yang mempersingkat umur pemakaian baterai pada gawai cerdas.


Jadi, tips agar masa baterai handphone awet adalah segera isi baterai sebelum benar-benar habis total. Sekian tips dari author, nggak penting-penting amat tapi semoga bermanfaat.


Yuk ikuti terus perjuangan kisah cinta Verda dan Vedra.


Acil author usahakan untuk up setiap ada waktu luang.


Sampai jumpa di episode selanjutnya.


You are my favorite 💜

__ADS_1


__ADS_2