Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 034


__ADS_3

Usai mandi dan berpakaian, Verda kembali berbaring di tempat tidurnya. Seharian hanya berbaring di tempat tidur sambil menahan rasa sakit saat kram haid tentu saja menjadi masa-masa yang membuatnya begitu menderita setiap bulannya.


Ponsel Verda berdering lagi, kali ini nama Vivie yang muncul.


"Iya halo, Vie," Verda menyahut.


"Kak Verda, kenapa masih belum juga memilih gambar yang beberapa hari lalu kukirim? Aku dan Bian sudah mau pulang dari Bali, kami mau lanjut ke Jogja menyusul Ayah dan Ibu," cerocos Vivie.


"Gambar?" tanya Verda.


"Hihhh, Kakak ini, tas, sepatu, dan dress pantai untuk oleh-oleh!" sahut Vivie begitu gemas.


"Oh, ya ampun! Maaf, Vie, aku benar-benar lupa!" Verda menepuk keningnya.


Vivie mendelik gusar mendengar Verda terkekeh di seberang sana.


"Kakak ini, yang diingat dan dipikirkan hanya Jehun saja!" gerutu Vivie.


"Aduh maaf, Vie, aku benar-benar begitu sibuk. Belum lagi aku sekarang sedang datang bulan. Aku sungguh merana," keluh Verda.


"Ya ampun, Kak! Terus Kakak bagaimana sekarang?" tanya Vivie seketika panik.


Vivie tahu betul bagaimana Verda harus berjuang ketika sedang datang bulan. Biasanya Vivie-lah yang mengurus Verda ketika sakit bulanan itu muncul dan menyiksa Verda.


"Sudah mendingan," jawab Verda.


"Kakak serius? Apa perlu aku pulang sekarang?" tanya Vivie.


"Tenang saja, Vie, aku sudah merasa jauh lebih baik, tidak perlu cemas berlebihan begitu," sahut Verda.


"Tapi Kak, siapa yang akan mengurus Kak Verda sedangkan Kakak sekarang sendirian! Kakak bahkan tidak bisa berjalan saat sedang datang bulan!" sergah Vivie.


"Vie, kau tenang saja, aku baik-baik saja, ada suami yang mengurusku," Verda berusaha menenangkan Vivie.


Vivie memutar bola matanya, sempat-sempatnya kakaknya berhalusinasi ketika sedang sakit begini.


"Aduh, Kak! Tolong dikurangi menghalunya!" cibir Vivie.


"Ahaha, Vivie, tenang saja, sungguh tidak perlu cemas, lanjutkan liburanmu dan Bian, bawakan aku banyak oleh-oleh!" kata Verda seraya tertawa.


"Ih, Kakak ini, aku benar-benar cemas, Kak Verda malah berhaha-hihi!" sungut Vivie.


"Sudah ya, aku mau istirahat lagi, sebentar aku pilih mana yang aku mau," sahut Verda sebelum menutup teleponnya.


Verda melayangkan pandangannya ke luar jendela kamar, melihat Vedra yang saat ini sedang menjemur pakaian di tengah teriknya matahari.


Pria itu memeras air yang masih tersisa di kemejanya, mengibaskan ke udara sebelum menjemur kemejanya pada seutas tali yang terbentang. Tangan pria itu terlihat begitu kokoh, otot-otot tangannya yang berlumuran air terlihat begitu seksi di mata Verda.


Sial! Verda mengumpat sambil berguling menyamping.


Bagaimana ada pria yang memeras pakaian basah bisa terlihat begitu seksi?


Verda kembali berguling, tidak membiarkan matanya menikmati pertunjukan keseksian pria itu. Namun rupanya matanya tidak bisa diajak berkompromi. Matanya masih saja melotot ke arah pria itu.


Tangan kanan Verda meraih bantal berwajah Jehun dan menjadikan bantal itu sebagai penghalang agar Verda berhenti menjadikan Vedra sebagai tontonannya. Namun tiba-tiba tangan kiri Verda melempar bantal berwajah Jehun jauh-jauh.


Tangan kanan Verda kembali menarik selimut bergambar wajah Jehun untuk menutupi kepala Verda, namun lagi-lagi tangan kiri Verda menarik dan melempar selimut itu hingga teronggok di lantai.

__ADS_1


Kedua tangan Verda seakan saling bertengkar. Tangan kanan mewakili rasa cinta Verda pada Jehun namun tangan kiri Verda mewakili hasrat terpendam Verda sebagai seorang wanita yang butuh belaian nyata dari seorang pria yang juga nyata.


"Verda! Jangan tergoda lelaki! Cintamu hanya untuk Jehun!" tangan kanan angkat bicara


"Pria nyata dengan keseksian nyata! Segeralah berada dalam pelukannya!" tangan kiri berargumen.


"Verda! Kamu jangan gatal ya?! Nanti kau benar-henar dianggapnya sebagai janda gatal!" sergah tangan kanan.


"Tidak apa gatal! Itu memang sudah naluri! Lebih baik menikmati lelaki yang ada dan nyata daripada lelaki di atas kertas yang hanya bisa dipandang! Ayo, Verda, panggil dia! Minta dia memelukmu! Laki-laki itu tidak akan menolak! Dia sudah menjaminkan dirinya untukmu!" cecar tangan kiri.


"Aaaa! Hentikaan!" teriak Verda menghentikan pergulatan batinnya.


Mendengar teriakan Verda, sontak Vedra bergegas kembali ke dalam rumah menghampiri Verda.


"Verda, ada apa?" tanya Vedra.


Verda meringkuk lagi di atas tempat tidur. Vedra segera memungut bantal dan selimut Verda yang terjatuh di lantai.


"Verda?" tanya Vedra.


Verda benar-benar merasa salah tingkah, mana mungkin ia mengaku bahwa batinnya sedang berkonflik gara-gara keseksian Vedra.


"Apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya Vedra.


" Tidak, aku tidak apa-apa," jawab Verda.


Vedra menghela napas berat.


"Apa kau lapar?" tanya Vedra.


"Kau mau makan apa? Sebentar aku siapkan."


...*****...


"Ved," seru Verda.


Vedra yang sedang mencuci piring-piring kotor bekas makan siang mereka segera menyahut.


"Ya, sebentar," Vedra mengeringkan tangannya.


"Ved, kakiku kram," Verda menunjuk kedua kakinya yang kesemutan.


Vedra duduk di tepi tempat tidur.


"Kemarikan kakimu, biar kupijat," tawar Vedra.


Verda menyerahkan kedua kakinya pada Vedra.


"Kau terlalu banyak berbaring, peredaran darahmu jadi kurang lancar," kata Vedra sambil memijat telapak kaki Verda.


"Aduduh, kakiku benar-benar kesemutan, Ved!" keluh Verda.


"Ya, namanya peredaran darah tidak lancar ya begitu," sahut Vedra.


"Ved, kau bisa memijat ya?" tanya Verda.


"Waktu masih kecil, Ibuku sering memintaku memijat kakinya," jawab Vedra.

__ADS_1


"Oh begitu, apa kau juga memijat kaki Silvia seperti ini?" tanya Verda.


"Tidak," jawab Vedra dengan cepat.


"Oh benarkah? Kalau bukan kaki, berarti kau memijat yang lainnya?" tanya Verda.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku bukan tukang pijat," sahut Vedra.


"Oh, haha," Verda terkekeh geli.


Entah mengapa pengakuan Vedra membuat Verda merasa senang.


"Ved, tolong agak naik sedikit," pinta Verda.


Tangan Vedra menyusuri betis Verda, memberikan tekanan-tekanan lembut namun bertenaga.


"Verda, apa kau tidak lelah mengenakan sepatu berhak tinggi yang biasa kau gunakan?" tanya Vedra.


"Tidak, aku sudah biasa, yah awalnya memang sih ya, sakit sekali, tapi lama-lama enak saja kok," jawab Verda.


"Kenapa kau memakai sepatu tinggi seperti itu? Apa kau tidak takut jatuh dan mematahkan kakimu?" tanya Vedra.


"Ya aku mau terlihat tinggi makanya pakai sepatu tinggi." 


"Oh," sahut Vedra.


"Oke, cukup, aku rasa kakiku tidak kesemutan lagi," Verda menarik kakinya.


"Apa kau perlu air panas untuk kompres lagi?" tanya Vedra.


"Hmm, ya boleh," jawab Verda.


Vedra segera ke dapur dan membawa mangkuk berisi air panas. Verda lalu memakai kembali kompres handuk hangat yang ia selipkan di bawah kamisolnya.


"Ved," kata Verda.


"Ada apa?" tanya Vedra.


"Aku mau membalas chat, bisakah kau pegangi kompresanku ini?" tanya Verda.


"Kalau posisiku telentang lagi, nanti kram kakiku kambuh," kata Verda mengubah posisinya menjadi miring ke kanan.


"Baiklah," sahut Vedra.


Vedra menghela napasnya, memegangi selimut yang menutupi kompresan yang ada di perut Verda. Vedra memperbaiki posisi duduknya, duduk membelakangi Verda dengan satu tangannya memegangi selimut Verda, membuat tangannya kram.


Ia pun segera berbaring di belakang Verda. Matanya mengawasi Verda yang saat ini terlalu asyik membalas chat.


Verda tertegun saat merasa ada napas yang menyapu tengkuk belakang lehernya. 


Verda menoleh sekilas, melihat Vedra yang terlelap di belakangnya. Deru napas pria itu begitu teratur.


Verda meletakkan ponselnya, kedua tangannya langsung menarik tangan pria itu untuk memeluknya. Entah mengapa pelukan pria itu membuatnya merasa nyaman.


Tidak, ini benar-benar nyaman sekali.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2