Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 083


__ADS_3

"Bian, nyetir yang benar," Vivie menegur Bian yang berkali-kali mencuri pandang ke spion belakang mobilnya.


Orang yang menumpang mobilnya jelas terlihat begitu keren. Pria itu mengenakan kaus hitam, jaket bertudung, dan celana jeans. Tak lupa kacamata hitam besar menutupi wajahnya, juga earphone nirkabel terpasang di kedua telinganya.


Terlihat sungguh sangat bergaya, macam pria-pria yang dipuja oleh kakak iparnya.


"Iya, Vie," sahut Bian kembali berkonsentrasi.


Vivie dan Bian mendapat tugas untuk mengantar seorang kompetitor ke tempat kompetisi. Bak mengantarkan seorang gladiator untuk bertarung sengit di arena pertarungan.


Pak Daus sangat merahasiakan kompetisi macam apa yang disiapkannya untuk menguji dua orang kontestan yang sedang mempertaruhkan harga diri mereka sebagai seorang laki-laki sejati. 


Abim sang pemain lama, mantan suami Verda yang bersikeras untuk rujuk kembali dengan Verda akan melawan pria bermodal tampang yang saat ini merupakan suami sah Verda.


Bian jelas sudah tak sabar untuk menyaksikan duel sengit tersebut. Apakah akan ada pertumpahan darah?


Ah, seandainya saja bosnya bisa ikut berkompetisi pasti akan lebih seru lagi, itulah yang ada dalam benak Bian saat ini.


...*****...


Setelah berkendara selama hampir dua jam, akhirnya Bian menghentikan mobilnya di area parkir sebuah pemancingan yang berada di luar kota.


Pemancingan yang hari ini dipesan khusus oleh Pak Daus untuk menjadi arena kompetisi. Pak Daus sudah menunggu di gazebo terbesar, menyambut kedua kontestan yang siap untuk diadu.


"Selamat datang, Abim," Pak Daus menyambut hangat Abim dengan satu pelukan.


"Terima kasih sudah datang ya, Abim," Bu Eva merangkul Abim.


"Saya sungguh senang bisa berkumpul seperti ini di hari libur, Bapak, Ibu," sahut Abim.


Vedra membuka kacamata hitamnya, menyapa kedua orang tua Verda dengan sebuah bungkukan ringan yang begitu jelas diabaikan oleh kedua orang tua Verda.


Verda mengulas senyumnya ke arah Vedra sambil mengacungkan jempolnya. Verda senang melihat hasil riasan Vedra. Pria itu benar-benar merias wajahnya sendiri seusai dengan instruksi dari Verda karena biasanya Verda-lah yang merias pria itu agar nampak macam anggota boyband.


Abim mengulas senyum sinis saat melihat penampilan suami Verda. Sungguh tipikal pria yang suka mempermainkan wanita.


Tamat riwayatmu kali ini, batin Abim.


Vedra merasa sangat terintimidasi dengan tatapan sinis yang dilemparkan oleh Abim. Namun yang lebih membuat Vedra cemas adalah kalau-kalau Abim dan Hengki menyadari identitas aslinya sebagai Vedra dari Valid Corp.


"Baiklah, saya akan menjelaskan secara singkat mengenai kompetisi yang akan kalian jalani," Pak Daus mengarahkan pandangannya kepada dua orang pria yang berada di hadapannya.


"'Kalian harus menangkap ikan yang ada di kolam pemancingan lalu mengolahnya menjadi hidangan makan siang. Batas waktu adalah dua jam," kata Pak Daus menjelaskan.


Verda terperangah mendengar kompetisi yang disampaikan oleh ayahnya. 


Apa ayahnya tidak salah mengadakan kompetisi seperti ini?


"Oh waah, sungguh kompetisi yang menarik sekali, Pak," komentar Abim.


Abim merasa berada di atas angin. Memancing memang sudah menjadi salah satu hobinya untuk mengisi waktu luang.


Wah, mertuaku memang sangat bermurah hati padaku, pikir Abim.


"Tapi, kalian berdua harus menangkap ikan dengan tangan kosong," lanjut Pak Daus.


Pak Daus menyembunyikan senyumnya saat melihat wajah dua kontestan yang nampak menegang.


Huhu, materi kompetisi ini sudah kupikirkan selama tujuh hari tujuh malam! Pria metropolitan seperti suami Verda pasti tidak pernah melakukan kegiatan macam ini kan? Pria pesolek yang jelas tidak mungkin bisa melakukan semua ini! Menangkap ikan lalu memasaknya tentu saja hal yang tidak mungkin bisa dia lakukan! Haha! Pak Daus bersorak bangga dalam hatinya.

__ADS_1


Ingin rasanya pria paruh baya itu berjoget di aplikasi Tiktik untuk merayakan kekalahan pria pesolek itu.


Sungguh kumerasa resah untuk menilai sesuatu yang indah! Jeng jeng!


"Apakah ada pertanyaan sebelum dimulai?" tanya Pak Daus.


Vedra mengangkat tangan kanannya.


"Kau mau bertanya apa?" tanya Pak Daus dengan nada dingin dan menusuk.


"Apa saja aspek penilaiannya?" tanya Vedra.


"Maksudnya?" Pak Daus balik bertanya.


"Maksud saya, penilaian berdasakan jumlah ikan yang ditangkap, berat ikan yang ditangkap, atau jumlah hidangan yang disajikan?" tanya Vedra sedetail mungkin.


Jangan sampai sistem penilaian hanyalah suka-suka Pak Daus saja. Sistem penilaian seperti itu jelas sangat merugikan.


"Ya, terserah kau saja, itu pun kalau kau bisa menangkap ikannya," sahut Pak Daus dengan nada super skeptis.


Verda, Vivie, Bian, Bu Eva, bahkan Hengki terlihat begitu tegang. 


"Baiklah, apa ada pertanyaan lagi?" tanya Pak Daus.


Pak Daus mengedarkan pandangannya, semua orang nampak terdiam.


"Ingat ya, patuhi peraturan! Jika ada yang melanggar, akan langsung didiskualifikasi dan dinyatakan kalah!" imbau Pak Daus dengan nada mengancam.


"Bian," panggil Pak Daus.


"Iya, Ayah," sahut Bian.


"Baik, Ayah," sahut Bian.


"'Kalau begitu, kompetisinya bisa dimulai dari sekarang," kata Pak Daus.


Abim membuka jasnya, menggulung lengan kemeja dan juga celana panjangnya dibantu oleh Hengki.


"Pak Abim, ini sungguh mudah untuk Anda," kata Hengki memberi semangat.


"Tentu saja, Hengki!" Abim terkekeh.


"Pak Yanto, awasi pria itu," perintah Pak Daus kepada Pak Yanto.


"Baik, Pak," sahut Pak Yanto segera mengekori Vedra.


"Kau mau ke mana?" tanya Pak Yanto pada Vedra.


"Mau ganti celana, Pak," jawab Vedra.


...*****...


Verda sungguh tidak tahu harus bereaksi apa. Ia pikir ayahnya akan mengadakan kompetisi macam pertarungan para gladiator yang akan saling mengincar nyawa masing-masing demi bertahan hidup. Atau mungkin menjinakkan bom aktif yang akan meledak dalam dua jam.


Namun siapa sangka bahwa ayahnya justru mengadakan kompetisi menangkap ikan dan memasak hasil tangkapan.


Entah mengapa menyembunyikan identitas Vedra kepada keluarganya sungguh memberi keuntungan untuk pria itu. Harusnya ayahnya melakukan riset ataupun penyelidikan mendalam mengenai calon kontestannya sebelum memutuskan kegiatan apa yang benar-benar pas untuk dijadikan kompetisi.


Ini sama saja seperti seorang penyanyi profesional mengikuti blind audition kompetisi menyanyi tingkat nasional.

__ADS_1


Verda duduk di gazebo bersama Vivie dan ibunya. Pak Daus berada di pinggir gazebo, bersama Bian, Hengki dan Pak Yanto, mengawasi dua orang kontestan yang sudah menceburkan diri ke kolam dengan air berwarna kecokelatan yang berasal dari lumpur dasar kolam.


Kedua peserta kompetisi menangkap ikan itu seperti orang yang berjalan di tempat gelap, meraba-raba dalam air yang keruh.


Byur..


Abim berkali-kali terpeleset, tercebur dalam kolam ikan. 


"Pak Abim! Anda baik-baik saja?!" seru Hengki.


Abim mengacungkan jempolnya, namun dalam hati mengumpat kesal. Menangkap ikan dengan tangan kosong ternyata begitu sulit.


"'Kasihan sekali, Abim. Ibu tidak tega melihatnya begitu," kata Bu Eva.


"Haha," Verda dan Vivie serempak tertawa.


Vedra menyembunyikan senyumnya, sesungguhnya ini benar-benar sangat mudah untuknya. 


Saat masih kecil, ia bahkan selalu bermain di sungai, menangkap ikan dengan tangan kosong bukan hal yang baru baginya. Hanya saja ia tidak boleh menunjukkan hal tersebut secara terang-terangan mengingat lawannya ternyata tak sebanding dengannya.


Berjalan di atas lumpur yang licin saja pria itu sudah terjatuh, payah sekali, batin Vedra.


Vedra terdiam, duduk bersila menenggelamkan sebagian tubuhnya, menjadikan kaus longgar yang ia kenakan sebagai jaring.


Ketenangan adalah hal yang diperlukan untuk menangkap ikan.


Seekor ikan berhasil ditangkapnya, cepat-cepat ia mengambil ember berisi air yang sudah ia siapkan di pinggir kolam. Ia melakukan hal yang sama untuk menangkap ikan selanjutnya. 


Pak Daus menghampiri keluarganya.


"Verda, coba kau lihat baik-baik, mana orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh dan orang yang hanya duduk diam-diam seperti itu," Pak Daus menunjuk ke arah Abim dan Vedra secara bergantian.


Verda mengulas senyumnya.


"Wah, Abim sungguh menunjukkan tekad yang luar biasa ya, Ayah!" Verda mengulas seringaian lebar.


Ingin rasanya ia tertawa keras-keras melihat betapa konyolnya Abim yang persis seperti orang gila, mengejar dan menangkap sesuatu yang tak terlihat. Lucu sekaligus miris karena pria itu terlihat tak berhasil mendapatkan seekor ikan pun. Berkali-kali Abim tercebur hingga basah kuyup dan kotor.


Vedra kembali mendapatkan ikan dan langsung memindahkannya ke dalam ember. Sepertinya ia sudah cukup mendapatkan ikan yang ia butuhkan untuk dimasak.


Vedra beranjak dari kolam, membawa ember berisi ikan ke tempat untuk memasak. Namun sebelum itu, ia harus berganti pakaian lagi.


Verda mengulas senyumnya melihat Vedra yang mengacungkan jempol ke arahnya. Verda balas mengacungkan jempol dan telunjuknya dengan bentuk hati.


...*****...


Halo pembaca setia..


Terima kasih sudah membaca sampai episode ini.


Semoga terhibur ya.


Acil author masih sibuk di dunia nyata. Harus jaga kondisi gara-gara ancaman gelombang ke 3 pandemi yang nggak kelar-kelar.


Uyuh!


Hehe...


Yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Ved dan Ver yang penuh drama ala-ala Romeo dan Juliet versi Acil author.

__ADS_1


Sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2