Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 058


__ADS_3

"Kak, serius pria itu suami kakak?" Vivie berbisik saat merangkul lengan Verda.


"Memangnya aku ada bilang bercanda?" Verda balik bertanya.


Mereka berdua mengikuti langkah ayah dan ibu, menaiki tangga lantai dua untuk menuju ke ruang santai yang berada di lantai tersebut. Ruang santai tersebut dulunya adalah ruangan belajar untuk Verda dan Vivie agar ayah dan ibu mudah mengawasi mereka.


Di ruangan tersebut sofa berwarna merah ditata setengah lingkaran dan di dindingnya berhiaskan bunga-bunga kristal koleksi Bu Eva.


Verda segera duduk bersama Vivie, sementara ayah dan ibu mereka memasang ekspresi yang sulit untuk dilukiskan.


"Verda, bagaimana bisa tiba-tiba saja kau sudah menikah dengan pria itu?" tanya ibu.


"Ibu, Ayah, bukankah aku sudah mengatakan akan menikah?" Verda menatap ayah dan ibunya bergantian.


Pak Daus dan Bu Eva kembali saling melemparkan pandangan.


"Kakak, kalau memang Kakak sudah menikah, kenapa mendadak sekali?" tanya Vivie.


"Vie, aku tidak menikah secara mendadak, bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku akan menikah? Tapi sepertinya kau yang tidak percaya kalau aku sudah menikah, Vie," jawab Verda.


"Kak Verda, tentu saja aku tidak percaya Kakak benar-benar menikah! Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba Kakak bawa laki-laki pulang ke rumah!" sergah Vivie.


"Vie, bukankah kau yang memintaku untuk membawakan laki-laki yang menjadi suamiku agar datang ke rumah ini?" sergah Verda. "Aku bahkan sudah menunjukkan bukti otentik bahwa aku dan Vedra sudah resmi menikah, memangnya butuh bukti apa lagi?" tanya Verda.


"Tidak bisa, Verda!" sergah ayah dengan suara yang meninggi, menghentikan perseteruan antara kedua anak perempuannya.


Verda dan Vivie terdiam. Pak Daus menghela napas berat.


"Tidak bisa begini, Verda! Tidak bisa!" Pak Daus mengulangi perkataannya.


"Memangnya tidak bisa apa, Ayah?" tanya Verda.


"Verda, pernikahanmu ini jelas tidak bisa Ayah terima!" kata Pak Daus.


Verda terdiam, menatap sorot mata ayahnya yang berkilat-kilat marah. 


"Ayah," Bu Eva menepuk lembut lengan suaminya, berharap suaminya bisa mengontrol emosinya.


"Kenapa Ayah tidak bisa menerima pernikahanku?" tanya Verda.


"Verda, bagaimana bisa Ayah menerima pernikahanmu sedangkan ayah tidak pernah tahu pria macam apa suamimu itu?" Pak Daus memberi penekanan pada setiap kata yang beliau ucapkan.


"Verda, apa yang dikatakan Ayahmu benar. Mana bisa kamu menikah dengan seorang pria yang tidak jelas asal usulnya. Pria yang tidak Ayah dan Ibu kenal dengan baik, baik latar belakangnya hingga keluarganya. Jangan seperti orang yang membeli kucing dalam karung," Bu Eva melemparkan pendapat beliau.


"Ibu, Ayah, aku sungguh tidak peduli dengan latar belakang, toh selama ini Vedra bersikap baik padaku, itu sudah cukup," kata Verda.

__ADS_1


"Ayah, Ibu, aku sudah dewasa, dan aku berhak memilih dan menentukan sendiri siapa pria yang kuinginkan untuk menjadi suamiku," lanjut Verda.


"Lah, terus Abim bagaimana?" tanya Bu Eva. "Abim bahkan bersedia membatalkan pernikahannya demi kamu, Verda."


"Ibu, itu urusan Abim, bukan urusanku," jawab Verda.


Bu Eva dan Pak Daus kembali berpandangan.


"Kak, apa Kakak menikahi laki-laki itu karena tidak mau rujuk dengan Kak Abim?" tanya Vivie.


"Vie, berapa kali harus kukatakan agar kau mengerti? Tidak ada tempat untuk mantan!" jawab Verda dengan tegas.


Pak Daus menatap Verda yang terlihat bersikeras dengan pilihannya. Sepertinya akan sangat percuma jika mereka harus saling berkeras seperti ini.


"Baiklah, Verda, Ayah akan menghormati pilihanmu, tapi itu tidak berarti Ayah menerima pernikahanmu,"  kata Pak Daus.


"Apa maksud, Ayah?" tanya Verda.


"Ayah mau tahu, sebagus apa pria yang kamu pilih sampai kamu tidak bersedia menerima pilihan Ayah," jawab Pak Daus.


"Ayah!" sergah Verda.


"Ibu, minta tolong siapkan makan siang, kita makan siang bersama-sama dengan pria pilihan Verda," pinta Pak Daus.


Verda menegang, entah apa yang sedang direncanakan oleh ayahnya.


Tak akan kubiarkan pria itu memiliki anak perempuan yang paling kusayangi!


Kemudian diiringi latar musik berupa genderang yang bertalu-talu beserta petir yang menggelegar, ditutup dengan potongan lagu kumenangis membayangkan betapa kejamnya dirimu.


...*****...


Terdapat sebuah gazebo di atas petak-petak kolam ikan. Di sayap kiri gazebo terdapat kolam ikan hias berisi ikan koi berukuran besar dengan aneka warna, sibuk berenang-renang dengan tenang di sekitar miniatur air mancur. Sementara di sayap kanan, terlihat puluhan ekor ikan air tawar, mulai dari ikan mas, ikan nila, dengan berbagai ukuran berenang dalam kolam dengan hiasan air terjun.


Vedra tentu saja terpana dengan konsep taman belakang rumah orang tua Verda. Rumput-rumput yang tertata rapi dengan banyak koleksi tanaman hias yang nilainya ditaksir mencapai puluhan juta.


Sungguh hal yang wajar karena keluarga Verda berasal dari kalangan berada. Entah mengapa Vedra menjadi insecure dengan kesenjangan sosial ini.


Begitu Bi Sri selesai menata hidangan di tengah gazebo, Pak Daus beserta Bu Eva segera duduk di gazebo, disusul Verda dan Vivie.


"Duduk," kata Pak Daus dengan nada memerintah ke arah Vedra.


"Baik, Pak," ucap Vedra.


"Tidak perlu memanggilku Bapak, aku bukan Bapakmu," sahut Pak Daus dengan nada ketus.

__ADS_1


"Ayah," Verda melotot ke arah Pak Daus.


"Ada apa, Verda? Toh memang benar kan, Ayahmu ini bukan bapaknya dia!" cibir Pak Daus.


Vedra segera melepas sepatunya dan segera duduk bersila. Pandangannya saat ini terpaku pada aneka hidangan yang tersaji di hadapannya. 


"Siapa namamu?" tanya Pak Daus sambil melayangkan tatapan dingin ke arah Vedra.


"Nama saya Vedra," jawab Vedra.


"Wah, nama dia mirip kak Verda," ceplos Vivie.


Ya, nama mereka memang mirip, dulu bahkan mereka dikira orang yang sama.


"Apa pekerjaanmu?" tanya Pak Daus.


Verda melemparkan tatapan ke arah Vedra.


Jangan sampai mereka tahu kita satu kantor! 


Begitulah arti tatapan Verda yang ditangkap oleh Vedra.


"Vedra ini model freelance, Ayah," jawab Verda dengan cepat.


Vedra tertegun mendengar perkataan Verda.


"'Model?" tanya Bu Eva.


"'Model majalah aneka satwa?! Khukhu!" cibir Pak Daus begitu sinis.


"Haha, ya ampun, Ayah ini!" Verda tertawa sambil melotot ke arah Pak Daus.


"Memangnya kau model apa?" tanya Vivie ingin tahu.


Vedra tidak tahu harus menjawab apa. Kenapa juga Verda sampai menjawab sembarangan begitu?


"Model freelance, Vie!" sahut Verda.


"Ya, maksudnya model lepas itu apa? Model majalah dewasa kan model juga!" tukas Vivie.


"Vivie!" Verda melotot ke arah Vivie.


Bu Eva dan Pak Daus terkejut mendengar perkataan Vivie.


"Model majalah dewasa?!" sembur Pak Daus.

__ADS_1


Vedra tertegun, saat ini pikirannya seketika kosong.


...*****...


__ADS_2