
Hari masih begitu pagi ketika Verda membuka mata. Wajah seorang pria yang saat ini masih terlelap di sampingnya adalah pemandangan pertama yang ia saksikan. Rasanya sungguh aneh karena setelah sekian lama ia selalu tidur sendiri, kini ia kembali berbagi tempat tidur dengan seorang pria.
Verda mengamati lebih dekat wajah pria itu. Tanpa ada kacamata yang bertengger, hidungnya ternyata mancung dengan sudut tajam. Terlihat bulu-bulu halus dari kumisnya bermunculan. Bibir pria itu tidak tebal dan juga tidak tipis, sesuai saja dengan bentuk wajahnya yang memiliki rahang tegas. Belum lagi ia juga memiliki kulit yang bersih dan cerah. Sepertinya Verda menyadari bahwa pria ini memiliki warna kulit yang sama dengan Acil Fadlun.
Verda mendekat ke arah si pria, tangan kirinya mengambil tangan kanan pria itu dan meletakkannya di pinggangnya. Verda membenamkan wajahnya di ceruk leher pria itu sambil mendengarkan deru napas teratur si pria. Entah mengapa Verda merasa nyaman berada sangat dekat dengan Vedra. Kenyamanan itu membuat Verda kembali memejamkan matanya.
...*****...
Bunyi alarm membuat Vedra terbangun dari tidur. Pria itu menggeliat pelan untuk membangunkan semua bagian tubuhnya. Masih dalam keadaan terpejam, bagian tubuhnya yang menegang tiba-tiba tersentuh sesuatu yang terasa lembut dan hangat.
Mata Vedra segera terbuka dan benar saja, saat ini ia terbangun dalam keadaan memeluk tubuh Verda. Vedra benar-benar menegang, entah bagaimana ia bisa terbangun dalam posisi meresahkan seperti ini. Pelan-pelan, Vedra menyingkirkan tangannya yang melingkari pinggang Verda, juga kakinya yang entah bagaimana ikut nyangkut di tubuh Verda.
Oh tidak! Batinnya menjerit.
Vedra berguling dengan cepat hingga tubuhnya terhempas ke lantai.
"Aduhh," gumamnya kesakitan.
Ia sungguh tidak habis pikir, bagaimana bisa tubuhnya kembali hilang kendali seperti itu?
Apa ini efek karena berbagi tempat tidur dengan Verda?
Tapi tempat tidur ini kan milikku! Aku berhak tidur di tempat tidurku yang nyaman daripada tidur di lantai!
Tapi, ini sungguh berbahaya! Bagaimana jika tubuhnya menuntut lebih dari sekadar "memeluk guling"?
Yang awalnya hanya sekadar pelukan, semakin hari level tuntutannya semakin liar. Sebagai seorang pria, jelas keteguhannya sedang diuji dengan kehadiran seorang wanita seksi yang kerap tidur mengenakan pakaian minim.
Pemerkosaan itu terjadi karena ada kesempatan dalam kesempitan!
Alam bawah sadarnya mengajaknya untuk berandai-andai. Bagaimana jika tangan Vedra mulai melucuti semua benang yang menutupi tubuh Verda?
Tubuh Verda yang begitu seksi jelas sangat menggugah sisi maskulin Vedra. Sungguh munafik jika Vedra mengatakan bahwa ia tidak tergiur pada tubuh Verda yang benar-benar menggiurkan. Dada yang kenyal dan padat, pinggang ramping, dan bokong sintal itu benar-benar seakan memanggil Vedra.
Ayo jamah aku, Ved, begitulah dua bukit kembar itu menggoda Vedra.
Kotor! Kotor! Vedra mengumpat sambil membenturkan kepalanya ke lantai.
Aduh, sakit!
...*****...
"Aduh, Ved! Kenapa kau tidak membangunkanku?!"
__ADS_1
Seruan Verda dari arah kamar membuat Vedra yang saat ini sedang menyantap makan paginya dengan tenang menjadi terganggu.
Verda keluar dari kamar, setengah berlari keluar dari rumah untuk mengambil handuk yang dijemur di depan teras.
"Maaf, habisnya kupikir kau masih tidak enak badan," sahut Vedra.
"'Hari ini kau sudah masuk kantor?" tanya Verda sambil menilik penampilan Vedra.
Vedra mengenakan kemeja biru gelap dengan celana panjang berwarna hitam. Parfum beraroma maskulin menguar dari tubuhnya.
"Ya, hari ini aku harus masuk kantor, sepuluh menit lagi aku akan berangkat," sahut Vedra sambil melirik jam tangannya.
"Kau pasti bercanda kan, Ved?!" sergah Verda.
"Tidak, aku serius, kau harus segera bersiap, jika tidak, kau benar-benar harus pergi sendiri," sahut Vedra.
Verda mendelik gusar, ia berlari ke kamar mandi. Ia hanya mencuci wajah dan menggosok giginya saja. Lagipula semalam ia sudah mandi kan?
Verda segera mencari pakaian yang akan dipakainya. Little black dress tanpa lengan disambarnya dari dalam koper, serta blazer berwarna merah muda lembut.
"Verda, ayo kita pergi sekarang," seru Vedra begitu ia selesai memakai sepatu.
"Ved, tunggu! Aku belum berdandan!" sergah Verda.
"Untuk apa kau berdandan, Verda? Kau terlihat baik-baik saja, meski tidak memakai riasan," tukas Vedra.
"Apa maksudmu dengan mengatakan aku terlihat baik-baik saja meski tanpa riasan? Mukaku masih muka bantal begini!" sergah Verda.
"Maksudku, kau tetap terlihat cantik dalam keadaan apa pun," sahut Vedra.
"Sialan! Kau pasti mengejekku, kan!" cibir Verda.
Namun dalam hati, Verda merasa sangat berbunga-bunga. Perutnya bahkan terasa geli seakan ada ribuan kupu-kupu sedang beterbangan ke segala arah.
"Ayo kita pergi," Verda menyambar tasnya lalu memakai jepit anti badai di rambutnya.
Pagi ini petualangannya menuju ke kantor kembali dimulai. Begitu mendekati halte terdekat biasanya Verda akan segera turun dan menunggu ojek daring yang telah dipesannya.
"Tidak apa, kita ke kantor bersama saja, kalau kebetulan bertemu dengan orang kantor, cukup katakan bahwa aku memberimu tumpangan saat kita bertemu di jalan. Lagipula kalau menunggu ojek daring lagi, kau pasti akan terlambat," Vedra menjelaskan.
"Huh, memangnya kau pikir gara-gara siapa aku harus bangun kesiangan seperti ini," cibir Verda sambil menepuk lembut spon cushion ke wajahnya.
Dasar tangan bodoh, kenapa malah memeluknya dan melanjutkan tidur lagi sih? Verda mengumpat kesal dalam hati.
__ADS_1
"Ya, maaf, aku pikir kau masih kurang enak badan, makanya aku tidak membangunkanmu," sahut Vedra.
Kalau dia tahu aku memeluknya saat tidur, dia pasti marah kan? pikir Vedra.
"Hah," keduanya saling menghela napas berat bersamaan.
...*****...
"Verda!"
Seruan seorang pria di tempat parkir langsung membuat Verda yang turun dari mobil Vedra terkesiap. Ican baru saja memarkirkan sepeda motornya dan langsung menghampiri Verda.
"Oh, hai, Ican!" kata Verda.
Ican langsung melemparkan tatapan penuh tanda tanya kepada dua orang yang datang bersamaan.
"Aku duluan," Vedra bergegas pergi lebih dulu.
"Tumben, kalian datang bersama," kata Ican.
"Iya, kebetulan kami bertemu di jalan," sahut Verda.
"Begitukah?" tanya Ican penuh selidik.
"Can, ayo cepat, terlambat potong gaji loh," Verda mempercepat langkahnya.
Mereka segera memasuki lift, di dalam lift sudah ada Vedra yang berdiri.
"Verda, mobilmu masih rusak?" tanya Ican.
"Hmm, ya, masih," sahut Verda.
"Kenapa kau tidak meneleponku? Aku siap mengantar dan menjemputmu," kata Ican.
"Haha, Ican, memangnya kau itu ojek daring," Verda tertawa.
"Ya tidak masalah kan? Daripada kau dibawa lari sama tukang ojek, mending lari sama aku saja lah! Aku siap sekalian halalin kamu," kata Ican seraya terkekeh.
Verda mengerutkan keningnya, matanya menangkap bayangan Vedra yang terpantul di cermin yang melapisi dinding lift.
"Halal? Sangkamu aku ini babi, Can? Sana, nikahin babi, biar babinya jadi halal! Ahaha," Verda tertawa.
"Hih, nih anak, diajak serius malah bercanda," cibir Ican.
__ADS_1
...*****...