
Verda memutar-mutar spaghetti dengan garpunya tanpa selera. Saat ini pikirannya jauh lebih semrawut dibandingkan dengan isi piringnya.
Vedra menyadari bahwa Verda benar-benar hanya berdiam diri sejak tadi siang. Bahkan Verda nampak enggan untuk berbicara maupun diajak bicara.
"Verda, ada apa?" tanya Vedra.
Vedra berusaha mencairkan suasana yang terasa begitu menegangkan di antara mereka berdua.
"Apa masakanku tidak enak?" tanya Vedra.
"Apa kau mau makan yang lain selain spaghetti?" tanya Vedra lagi.
Verda masih mengatupkan bibirnya dengan erat.
"Verda, ada apa? Tolong bicara padaku dengan jelas! Aku ini tidak punya kekuatan super untuk membaca pikiran orang!" tukas Vedra tanpa mengalihkan atensinya dari Verda.
Verda menghela napas berat sebelum akhirnya mulai bicara.
"Ved, aku belum datang bulan," jawab Verda.
Vedra tertegun mendengar pengakuan Verda.
"Bulan ini, aku sungguh belum menunjukkan tanda-tanda akan datang bulan! Biasanya aku sudah merasa perutku kram tiga hari sebelum datang bulan!" keluh Verda.
Ekspresi Verda menunjukkan dengan sangat jelas bahwa ia sedang kebingungan dan juga ketakutan. Air mata nampak menggenang di pelupuk mata Verda. Kegelisahan sungguh membuatnya ingin meluruhkan air matanya.
"Ba-bagaimana jika aku hamil, Ved?" tanya Verda dengan air mata yang mulai mengalir turun membasahi pipinya.
"Verda," Vedra mengambil tangan Verda yang gemetaran.
"Ved, aku, aku tidak siap untuk hamil, Ved, hiks, aku belum siap!"
"Verda, tenang dulu," kata Vedra.
"Ved, bagaimana aku bisa tenang?! Kau mungkin bisa merasa tenang karena kau tidak hamil! Aku benar-benar tidak siap untuk hamil, Ved!" sergah Verda.
"Verda!" suara Vedra meninggi setengah oktaf.
Verda tertegun mendengar bentakan Vedra. Vedra terdiam, memandangi wajah Verda, ia segera mengusap air mata di pipi Verda.
"Maaf, Verda, aku tidak bermaksud membentakmu," kata Vedra. "Aku hanya ingin kau lebih tenang dan jangan terbawa emosi, oke?"
__ADS_1
Verda menyentak tangan Vedra, ia segera beranjak dari kursi lalu memasuki kamar.
Vedra menghela napas berat, sepertinya lebih baik ia memberi ruang untuk Verda.
Vedra kembali melanjutkan menyantap makan malamnya. Rasa spaghetti bolognese itu terasa pahit di lidah, seketika ia merasa kehilangan selera makannya.
Pengakuan Verda mengenai kemungkinan wanita itu hamil jelas membuat Vedra jadi kepikiran juga. Verda yang mengaku tidak siap hamil. Mereka berdua juga telah sepakat menutupi pernikahan demi melindungi karir mereka. Kalau mendadak Verda hamil sementara semua orang tahu bahwa Verda masih berstatus lajang, tentu akan menyulitkan posisi Verda. Verda pasti akan dituding perempuan tidak benar dan skandal perselingkuhan yang menyandung mereka berdua pasti akan mencuat kembali.
Vedra bisa membayangkan bagaimana Teti akan berkoar-koar heboh dan menyudutkan mereka sebagai pasangan pezina. Jika Vedra sampai melakukan klarifikasi bahwa mereka bukan pasangan pezina melainkan pasangan suami istri yang sah, itu sama saja mereka melakukan tendangan bunuh diri.
Belum lagi saat ini kondisi finansial Vedra masih belum stabil bahkan masih berada di bawah garis kekurangan. Mempunyai anak jelas membuatnya harus menyiapkan dana lebih.
Vedra memijat kepalanya yang langsung terasa pening, lagi-lagi ia merasa bahwa beban tak terduganya kembali bertambah.
...*****...
Verda termenung, pandangannya kosong, pikirannya melayang entah ke mana. Saat ini Verda memang merasa galau, gundah gulana. Bertanya-tanya, apakah ia memang sedang hamil?
Verda jelas tidak siap untuk hamil. Ia tidak siap jika harus mengorbankan tubuh indahnya yang akan berubah lantaran hormon kehamilan. Belum lagi harus menjalani masa kehamilan yang kata kebanyakan orang amatlah berat. Harus mengalami mual dan muntah, penurunan ataupun kenaikan selera makan yang berlebihan, bahkan diwajibkan mengurangi penggunaan produk perawatan kulit. Tak terbayangkan oleh Verda, ia harus tampil sepuluh tahun lebih tua lantaran tidak lagi mengenakan produk perawatan anti penuaan kulitnya.
Jika ia sedang mengandung, itu artinya ia tidak bisa menyaksikan konser jika Fancy mengadakan tur lagi.
Bukankah itu sangat menyedihkan?
Vedra memasuki kamar, duduk di tepi tempat tidur, memandangi Verda yang nampak meringkuk dan terisak-isak lirih.
Vedra segera berbaring, berguling dan langsung memeluk erat Verda dari belakang. Verda terkesiap, ia mendorong Vedra menjauh darinya, namun Vedra justru memeluknya lebih erat.
"Verda," bisiknya lembut.
"Hiks, Ved," Verda menangis lirih.
"Verda, menangislah, menangis saja sampai kau lelah," kata Vedra. "Setelah kau merasa lelah, kau bisa tertidur nyenyak."
"Ved! Apa sekarang adalah hal yang tepat untuk membahas masalah tidur?!" cibir Verda.
"Ya, lebih baik tidur saja dulu, kau pasti sudah lelah kan?" tanya Vedra.
Verda berbalik, memandangi Vedra yang mengulas senyum lembut, lalu menariknya ke dalam pelukannya.
...*****...
__ADS_1
Tangan Verda gemetaran saat menyobek bungkus test pack, mengeluarkan batang mungil yang harus ia celupkan dalam cairan urin pertama yang diambilnya dalam wadah plastik.
Dua menit harus ditunggunya sesuai petunjuk penggunaan tercetak dalam kemasan test pack yang pagi-pagi sekali sudah dibeli oleh Vedra di apotek terdekat yang beroperasi selama dua puluh empat jam dalam sehari.
Verda keluar dari kamar mandi, memperlihatkan hasil test pack yang masih menunjukkan garis satu dari tiga buah test pack dengan merek berbeda.
Vedra tidak tahu harus merasa lega ataukah makin was-was seperti Verda saat ini.
"Hasilnya negatif, tapi kenapa aku masih belum datang bulan juga ya?" Verda bertanya-tanya.
"Apa test packnya tidak akurat?" Verda bertanya lagi.
"Verda, apa kau sudah memakainya sesuai petunjuk?" tanya Vedra.
"Ved, aku tidak buta huruf!" sergah Verda.
"Ved, kau tidak membeli alat test pack yang rusak kan?" tanya Verda penuh selidik.
"Verda, aku membeli test pack sesuai dengan rekomendasi yang paling populer!" jawab Vedra.
"Apa gunanya merek populer kalau test pack yang kau beli ini rusak, Ved?!" sergah Verda.
"Verda, kalau kau memang tidak yakin dengan alat test pack ini, lebih baik sekalian saja periksa ke dokter kandungan," usul Vedra.
Verda tak menyahut, saat ini ia benar-benar sedang galau. Ia benar-benar meragukan hasil test pack yang tingkat kemungkinan salahnya lebih besar.
Apa ia harus periksa ke dokter kandungan?
"Verda, begini saja, menurutku, lebih baik kita melakukan observasi mandiri saja dulu. Kita tunggu apakah ada tanda-tanda kehamilan yang terlihat jelas. Jadi menurutku, jangan terlalu gegabah, dan jangan terlalu berpikir berlebihan," kata Vedra.
"Ved, adikku pernah mengalami keguguran hanya karena dia tidak menyadari kehamilannya!" sergah Verda.
"Dan kata dokter, kehamilan setiap wanita itu berbeda-beda, tidak bisa disamakan!"
Verda masih mempertahankan rasa kesalnya pada Vedra.
"Ved, kau sih enak saja sedikit-sedikit bilang tenang saja, tenang saja! Apa kau sungguh tidak memikirkan bagaimana jika sekarang kau ada di posisiku?! Ini semua gara-gara kau yang tidak memakai pengaman dengan baik dan benar! Kau benar-benar bodoh, Ved! Kau bodoh dan egois!" cecar Verda.
Vedra lagi-lagi hanya bisa menarik napasnya lalu melangkah keluar rumah untuk menghirup udara pagi yang masih segar demi menenangkan pikirannya daripada ikut tersulut api kemarahan seperti Verda.
...*****...
__ADS_1
Pembaca setia, acil kembali menyapa. Acil masih dalam kondisi kurang fit, masih batuk ringan yang mengganggu. Cuaca ekstrem banget, sebentar hujan, sebentar panas, galau banget lah pokoknya.
Sampai jumpa di episode selanjutnya. 🥰