Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 044


__ADS_3

Verda menggeliat pelan, membuka mata sambil meregangkan tubuhnya. Kepalanya masih terasa pusing lantaran semalam ia baru tidur pukul tiga dini hari.


Alasan Verda begadang seperti itu lantaran mengikuti sesi fanwar alias perang penggemar yang terjadi lantaran tak terima idola mereka diserang oleh haters. Haters alias para pembenci, seakan sudah didapuk untuk menebarkan keburukan dan kebencian untuk para idola.


Jehun, sang idola Verda tersandung skandal mengencani seorang idola cantik dari girl grup. Penggemar fanatik dari idola cantik tersebut tidak terima bias mereka dikabarkan berkencan dengan Jehun. Mereka menganggap Jehun tidak pantas untuk sang idola cantik. Begitu pula dengan penggemar fanatik Jehun yang merasa bahwa sang idola terlalu bagus untuk sang idola wanita.


Verda menguap lebar, matanya memandang ke sekeliling kamar yang kosong. Ia turun dari tempat tidur, membuka pintu geser, mengedarkan pandangan ke rumah yang nampak kosong.


"Ved?" seru Verda.


Tidak ada jawaban dari pria itu.


"Vedra!" serunya lagi.


Verda melihat ke arah pekarangan, tidak ada mobil yang parkir.


"Cih! Ke mana ya pria itu?" dengusnya.


Verda menuju ke dapur, mencari makanan yang bisa dimakannya karena saat ini ia merasa lapar. Tak ada makanan, hanya segelas air putih yang bisa diminumnya.


"Lebih baik aku mandi dulu," gumam Verda.


Selesai mandi, Verda kembali ke kamar dengan handuk yang masih melilit dadanya. Ia membuka ponselnya yang berisi banyak pemberitahuan. Terutama aplikasi Ensta miliknya yang kini banjir pemberitahuan tentang skandal yang menyandung Jehun.


Agensi Jehun mengungkapkan bahwa tidak ada hubungan antara Jehun dan Miss Y seperti yang diberitakan semalam. Jehun tidak mengencani siapa pun karena saat ini sang idola memutuskan untuk fokus berkarir dan berkarya.


"Nah, apa kubilang! Jehun bukan laki-laki seperti itu! Jehun itu anak baik!" seru Verda kegirangan.


"Cinta seorang idola hanya untuk penggemarnya! I love you, Jehun!" seru Verda lagi.


Dering ponsel Verda memenuhi kamar, ia segera melompat ke tempat tidur dan menjawabnya.


"Iya halo, Vie," sahut Verda menjawab telepon dari Vivie.


Ia segera menyandarkan tubuhnya di tumpukan bantal.


"Kak Verda di mana?" tanya Vivie.


"Di mana? Ya di rumah lah!" sahut Verda.


"Di rumah?" tanya Vivie.


"Ya, aku di rumah, kenapa, Vie?" Verda balik bertanya.


"Kak Verda, jangan bercanda, aku sedang berada di kamar Kakak, dan Kakak tidak ada," jawab Vivie.


"Oh, kamu sudah pulang, Vie?" tanya Verda.


"Kakak! Kakak sembunyi di mana?" tanya Vivie.


"Aku tidak sedang bersembunyi, aku benar-benar sedang di rumah suamiku," jawab Verda.

__ADS_1


"Aduh, Kak Verda, orang lagi serius kakak malah bercanda," cibir Vivie.


"Siapa yang bercanda sih, Vie?" Verda balik bertanya. "'Aku serius sedang berada di rumah suamiku."


Vivie mendelik gusar.


"Kak, tukar panggilan video saja ya," pinta Vivie.


"Sebentar, Vie, aku baru selesai mandi, belum ganti baju," sergah Verda.


Terlambat, Vivie sudah meminta panggilan video. Verda menggeser panel hijau di layar, wajah Vivie langsung memenuhi layar gawai cerdas Verda.


"'Hihh, anak ini," cibir Verda.


"Kakak di mana?" tanya Vivie lagi.


"Aku di rumah suamiku," jawab Verda.


Vivie memutar bola matanya, rupanya halusinasi kakaknya sungguh makin tak terkendali.


"Terserah Kakak sedang berada di mana sekarang, tapi lebih baik Kakak segera pulang. Jangan mentang-mentang tidak ada orang di rumah lantas Kakak keluyuran begini," Vivie mengomel.


"Verda, lekas pulang," Ibu muncul di samping Vivie.


"Kamu jangan ngambek begitu hanya karena kami meninggalkanmu sendiri," lanjut Ibu. "Ini, Ibu bawakan banyak oleh-oleh."


"Ya, nanti aku akan pulang, tapi tunggu suamiku dulu ya, Bu," sahut Verda.


"Aduh, Verda! Sudah-sudah bercandanya tentang suami-suamian! Lekas pulang sekarang," kata Ibu dengan nada memerintah.


"Haha! Ya sudah, Kakak sekarang pulang ke rumah dan bawa itu suami Kakak!" tantang Vivie.


Vivie menutup panggilan videonya, ia melihat Ibunya yang nampak tertegun.


"Ada apa, Bu?" tanya Vivie.


"Vie, kakakmu kok makin aneh ya? Bicaranya makin ngelantur begitu? Ibu jadi takut," jawab Ibu.


"Aduh, Ibu, mungkin tingkat kehaluan Kak Verda makin menjadi-jadi, kelamaan jomblo, kelamaan tidak dibelai laki-laki ya gitu jadinya!" 


"Ya sudah, kita tunggu saja Kakakmu pulang," sahut Ibu.


...*****...


"Ved! Kau dari mana saja? Kenapa jam segini baru pulang?"


Verda dengan kedua tangan terlipat di depan dada melayangkan tatapan skeptis ke arah Vedra yang baru saja memasuki rumah. Pria itu segera mengangkat satu per satu dus ke dalam rumah dari bagasi mobilnya.


"Kau sungguh tega meninggalkanku sendirian!" cecar Verda.


Vedra mendelik gusar sambil menghela napasnya.

__ADS_1


"Aku pergi untuk belanja bulanan," jawab Vedra singkat.


"Kau pergi lama sekali! Aku sudah benar-benar lapar!" omel Verda.


"Iya, ini aku belikan kau apel," Vedra menyerahkan satu plastik apel ke arah Verda.


Verda merengut, namun tetap diambilnya apel sebanyak satu kilogram itu.


"Ada apa? Mau aku kupaskan kulitnya untukmu?" tamya Vedra.


"Tidak," Verda masih merengut.


Wanita itu ke dapur dan mencuci sebuah apel. Kemudian ia langsung menggigit apel itu dengan perasaan kesal.


Vedra mengeluarkan satu bungkus nasi padang yang tadi dibelinya ketika di perjalanan pulang. 


"Kenapa cuma beli sebungkus?" tanya Verda.


"Ya, aku tidak tahu, apa kau mau makan nasi padang," jawab Vedra.


"Kau kan bisa meneleponku, dan menanyakan apa aku mau makan nasi padang atau tidak," sungut Verda.


"Mana aku tahu kau sudah bangun atau belum," sahut Vedra.


"Ya, kau kan bisa meneleponku!" protes Verda.


"Verda, aku tidak mau mengganggu tidurmu. Bukankah kau semalam baru tidur pukul tiga dini hari?" balas Vedra.


Semalam Vedra terbangun karena mendengar omelan Verda saat jam menunjukkan hampir pukul tiga pagi.


Verda kembali cemberut, Vedra beranjak dari kursinya, menuju ke dapur untuk mengambil sendok lagi.


"Baiklah, mari kita makan bersama, itu pun jika kau tidak keberatan makan nasi padang. Lagipula kalau kau kubelikan tapi tidak dimakan, jadi mubazir kan," tukas Vedra.


"Anggap saja ini hidangan pembuka, kalau masih lapar nanti aku akan memasak lagi," lanjut Vedra.


Vedra segera menyuapkan nasi padang ke mulutnya, Verda pun ikut menyuap nasi padang.


"Hmm, enak sekali, kau beli di mana?" tanya Verda.


"Verda, makan apa pun saat kau merasa lapar, rasanya memang akan jauh lebih enak," sahut Vedra.


Verda mengulum senyumnya, menyuapkan sesendok demi sesendok nasi padang ke mulutnya. Pada suapan kelima Verda berhenti makan karena sudah merasa kenyang.


"Ved, nanti malam temui orang tuaku ya," kata Verda.


Vedra menelan nasi yang telah dikunyahnya.


"Menemui orang tuamu?" tanya Vedra.


"Ya, mereka ingin bertemu denganmu," jawab Verda.

__ADS_1


"Baiklah," sahut Vedra.


...*****...


__ADS_2