Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 045


__ADS_3

Verda mematut dirinya di depan cermin. Entah mengapa ia merasa tegang sendiri lantaran akan membawa Vedra dan memperkenalkan pria itu ke hadapan keluarganya. Yah, selama ini Verda memang tidak pernah membawa dan mengenalkan pria mana pun pasca bercerai dari Abim.


Verda memang tidak pernah menjalin hubungan dengan pria sampai saat ini karena ia memang tidak tertarik. Baginya sosok pria yang sangat didambakannya adalah para anggota grup boyband. Para pria yang menurut Verda sangatlah menghiburnya.


Para pria dengan paras rupawan serta berkepribadian baik, lalu mimpi-mimpi besar mereka yang perlu didukung penuh oleh para penggemarnya.


Namun kini Verda justru malah akan membawa seorang pria yang kini telah menjadi suaminya, meski pernikahan mereka hanya sebatas jaminan, tetap saja mereka telah menikah secara resmi sesuai dengan ketetapan hukum yang berlaku.


Pria itu memakai kemeja berwarna abu-abu yang dipasangkan dengan celana hitam formal. Ia menyisir rambutnya dengan jemari untuk menyapukan gel rambut.


"Ved, kau ini mau ke kantor ya?" tanya Verda.


"Memangnya ada yang salah dengan penampilanku?" Vedra balik bertanya.


Pria itu masih menyisir rambutnya hingga klimis, lalat pun sepertinya akan jatuh tergelincir jika mendarat di rambutnya.


"Ved, apa minus matamu terlalu tinggi hingga kau tidak pernah melepas kacamatamu?" tanya Verda.


"Mataku baik-baik saja," jawab Vedra.


"Lantas kenapa kau memakai kacamata kalau matamu baik-baik saja?" tanya Verda.


"Ini kacamata anti radiasi, anti sinar UVA dan UVB, juga sebagai filter dari sinar biru yang dipancarkan oleh gawai cerdas," jawab Vedra diplomatis.


"Ved, tapi sekarang kau tidak sedang menatap layar komputer ataupun gawai cerdas kan?" ucap Verda.


Vedra mengalihkan pandangannya ke arah Verda.


"Kacamata sudah menjadi aksesorisku, sama seperti halnya memakai jam tangan, ketika kau tiba-tiba tidak memakai jam tangan, rasanya pasti ada yang kurang," kata Vedra.


Tiba-tiba Verda merampas kacamata Vedra, lalu memakainya.


"Wah, memakai kacamatamu membuatku terlihat pintar," Verda terkekeh mengamati pantulan bayangannya di depan cermin.


"Ck, Verda," Vedra berdecak.


Verda menyeringai, menyibak rambutnya lalu berpose menantang di depan cermin. Gaun berwarna merah muda dengan model mengembang di atas lutut itu diangkatnya sedikit lebih tinggi, membuat Vedra yang melihat harus menahan napasnya.


"Apa aku sudah terlihat seperti sekretaris seksi?" tanya Verda.


"'Kau bukan sekretaris, kau itu staff accounting," sahut Vedra terdengar sinis.


"Ahaha, Ved, jangan julid begitu," Verda tertawa sambil mengacak rambut Vedra.


"Verda," Vedra mendelik gusar karena rambutnya kembali berantakan.


"Aku rasa potongan rambut model undercut cocok untukmu, Ved," komentar Verda.


Vedra tidak menanggapi komentar Verda, ia kembali menyisir rambutnya dengan sisir kecil bergigi rapat.


"Ahaha!" Verda tertawa terbahak-bahak melihat style rambut Vedra yang nampak luar biasa culun.


Verda gemas, ia kembali mengacak rambut Vedra.


"Verda, hentikan!" gerutu Vedra.

__ADS_1


"Ahaha, Ved, kau itu sudah terlihat culun, keculunanmu meningkat seratus delapan puluh persen!" Verda tertawa.


Vedra hanya memasang wajah datar menanggapi ejekan Verda.


"Jangan seperti itu, lebih baik seperti ini," Verda menyisir rambut Vedra dengan jemarinya.


Tangan Verda terhenti karena Vedra menahan tangannya, tatapan mereka saling bertumbukan. Untuk sejenak, Verda merasa waktu sedang berhenti berjalan. Di saat yang bersamaan, debar jantung Verda yang tadinya berdetak dengan irama normal, kini meningkat dua kali lipat.


Wajah Vedra mendekat ke wajah Verda, tangan pria itu seakan hendak meraih wajah Verda. Dengan cepat, Vedra membuka kacamata yang bertengger di hidung Verda.


"Aku tidak terbiasa tanpa kacamata ini," ucap Vedra.


Vedra kembali memakai kacamatanya, Verda merasa wajahnya memanas, entah mengapa ia salah tingkah sendiri karena sempat berpikir bahwa Vedra akan menciumnya.


Tiba-tiba ponsel Vedra berdering di atas rak yang berada di kepala tempat tidur. Vedra tertegun melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.


Silvia.


...*****...


"Verda, maaf, aku pasti akan menemui orang tuamu, tapi tidak sekarang," kata Vedra.


"Ya, tidak masalah, toh urusanmu jauh lebih penting," tukas Verda.


"Terima kasih, nanti aku akan menjemputmu," kata Vedra.


Verda segera turun dari mobil Vedra begitu tiba di halte terdekat untuk menunggu mobil daring yang dipesannya datang.


Verda menyadari bahwa ia tidak punya hak untuk memaksa Vedra menemui orang tuanya. Toh, pernikahan yang sedang mengikat mereka hanya sebatas pernikahan jaminan.


...*****...


Vivie segera menyambut kehadiran Verda.


"Kak Verda!" Vivie langsung memeluk erat kakaknya.


"Vivie! Kulitmu jadi gosong begini?" Verda terperangah.


"Ih, kok gosong sih?! Kulitku ini jadi eksotis! Biar kelihatan kalau aku habis pulang liburan!" gerutu Vivie.


"Verda," Ibu langsung memberi rangkulan pada Verda.


"Ibu," Verda memeluk Ibunya dengan erat.


"Verda, Verda, kamu pasti kesepian kan, makanya pakai kabur segala," kata Ibu.


"Aku tidak kabur kok, Bu," sahut Verda.


"Tapi kata Bi Sri, selama ini kamu tidak ada pulang ke rumah," tukas Ibu.


"Yee, Bi Sri saja yang tidak ada muncul," sungut Verda.


"Sudah, ayo masuk," kata Ibu.


Verda segera menuju ke ruang keluarga bersama Vivie dan Ibunya. Tiba-tiba langkah Verda terhenti lantaran melihat ayahnya yang sedang berbincang-bincang dengan seseorang.

__ADS_1


"Verda, akhirnya kamu datang juga," Ayah menyambut kedatangan Verda.


"Ayo duduk dulu, Verda," ajak Ibu.


Verda segera duduk di sofa, di samping Ibu dan Vivie. Matanya tak lepas menatap ke arah pria yang saat ini mengulas senyum ramah padanya.


"Verda," sapa Abim.


"Abim datang untuk mampir, sudah lama tidak kemari," Ayah menjelaskan.


"Ya, ada pekerjaan yang harus kutangani," lanjut Abim.


Verda tidak berkomentar apa pun, ia memilih untuk diam.


"Loh, Vie, mana Bian?" tanya Verda.


"Bian dinas ke luar kota bersama bosnya," jawab Vivie.


"Sebaiknya kita sekarang makan dulu, itu Bi Sri sudah selesai menyiapkan makanan," kata Ibu mengajak semua orang menuju ke ruang makan.


"Ayo Bim, kita makan sama-sama," ajak Ayah Verda 


"Waduh, maaf Pak, Bu, saya jadi merepotkan," kata Abim.


"Merepotkan apanya, Bim? Justru Ayah dan Ibu yang merepotkan orang tua Abim selama liburan kemarin," kata Ibu.


"Ayo Verda, Vivie," ajak Ayah.


"Aku dan Vivie menyusul," sahut Verda langsung mengajak Vivie pergi.


Verda membawa Vivie ke ruangan lain agar mereka bisa berbincang.


"Vie, kok kamu tidak bilang ada Abim datang?" tanya Verda.


"Aku juga tidak tahu, Kak, Kak Abim datangnya mendadak begitu," jawab Vivie.


"Mau apa dia datang kemari?" tanya Verda.


Verda yakin pasti Vivie sudah mengetahui sesuatu karena Vivie adalah informan Verda.


"Ayah dan Ibu pasti sudah merencanakan sesuatu selama liburan kan? Terlebih mereka liburan bersama keluarga Abim!" todong Verda.


Vivie menghela napas berat.


"Kak Abim serius mau rujuk," ucap Vivie.


"Haha," Verda tertawa renyah. "Huh, rujak, rujuk! Sudah tidak ada tempat untuk mantan! Aku ini sudah menikah, Vie!" 


"Kak, berhenti menghalu deh," keluh Vivie.


"Kok menghalu sih, Vie? Aku benar-benar sudah menikah!" tandas Verda.


"Kak, kalau Kakak begini terus, jangan salahkan kalau Ayah dan Ibu menerima permintaan rujuk dari Abim. Tidak pernah ada laki-laki nyata yang Kakak datangkan ke rumah ini, bagaimana Kakak bisa mengaku sudah menikah?" tanya Vivie.


Verda mendelik gusar, sepertinya sia-sia saja ia mengaku telah menikah. Ini sama saja seperti Nabi yang harus menunjukkan mukjizat di hadapan para kaum pembangkang.

__ADS_1


"Ayo kita makan, aku sudah lapar, Kak," ajak Vivie.


...*****...


__ADS_2